The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XLVIII


__ADS_3

Xuan Chen membuka matanya perlahan. Keadaan di sekitarnya sangat hening dan sunyi, juga gelap. Namun pikirannya tak mengindahkan suara-suara dengkuran dari murid se-asramanya. Bayangan-bayangan menyedihkan itu kembali hadir dalam mimpinya


tiga kali? Bukankah terlalu berpotensi untuk menjadi kenyataan?


Tidak mungkin!


Dengan kegelapan di sekitarnya, Xuan Chen terduduk diam-diam. Melirik keaadaan sekitar yang sepi. Hanya diisi oleh suara-suara dengkuran adik atau kakak seperguruannya. Mereka sudah terlelap dalam tidurnya, mungkin ini sudah hampir tengah malam.


Diam-diam dia mengeluarkan gulungan yang tadi diambilnya dari paviliun Zhishi. Membukanya pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara yang bisa saja membangunkan satu atau dua dari mereka.


Setelah membacanya lamat-lamat dalam kegelapan, dia mendesah kasar. Kemudian mulai terbangun dan beranjak keluar. Dengan langkah yang diusahakan tanpa suara. Bahkan dia sangat berhati-hati ketika membuka pintu hingga berkeringat dingin.


Setelah itu dia kembali menutupnya dan berjalan menjauhi asrama. Masih dengan langkah tanpa suara. Khawatir ada penjaga patroli malam yang memergokinya bangun di tengah malam. Karena bagaimanapun, menurut mereka tidur terlalu malam akan mengganggu konsentrasi saat berlatih esok harinya.


Xuan Chen terus berjalan menyusuri lorong-lorong sepi asrama akademinya. Hingga sampai pada tempat terpencil dengan semak belukar yang begitu tinggi. Di sanalah tempat pintu rahasia berada.


Entah siapa yang berinisiatif membuatnya, dia pasti akan berterima kasih. Karena ini sangat menguntungkannya. Dan hanya segelintir orang yang tahu keberadaan tempat ini.


Setelah berjalan lebih jauh dari bangunan akademi, bersembunyi dari balik pohon-pohon besar yang rindang. Walaupun dingin menusuk di daerah puncak ini, Xuan Chen tetap bernekat. Tak takut jika hawa terlalu dingin ini akan membunuhnya.


Setelah terdiam di suatu tempat yang dikiranya aman, Xuan Chen mengeluarkan sebuah batu berbentuk oval dan berwarna putih susu. Dia segera menyuntikkan energi spiritualnya pada permata yang tertanam di tengah-tengahnya.


Hingga energi spiritual berubah menjadi warna putih menggulung di sekitar batu tersebut. Tak lama kemudian, sesosok gadis yang dikenalnya beberapa waktu muncul di hadapannya. Xuan Chen segera menghentikan penyuntikkannya dan menyembunyikan batu itu kembali.


"Apakah kau membutuhkan bantuan, murid akademi?" Tanya Yue Xingfei langsung pada intinya. Tak lupa dengan senyum sapa yang ramah.


Xuan Chen mengangguk kecil, malu-malu. "Benar, aku membutuhkan bantuan kakek bulan. Mohon pertemukan aku dengannya."


Tanpa berfikir panjang Yue Xingfei mengangguki keinginannya. "Baiklah, ikuti aku.."


.......


.......


.......


Kakek bulan terperanjat kaget sambil menatap Xuan Chen dengan ekspresi yang tidak percaya. Pria muda itu masih membungkuk di hadapannya. Membuat dia menghela nafas.


"Duduk dulu.." Perintahnya.


"Baiklah.."


Selagi Xuan Chen duduk, kakek bulan kembali berbicara. "Untuk apa kau berniat menemui Dewa Malam?" Tanyanya heran karena permintaan agak aneh dari Xuan Chen. Jarang-jarang seseorang meminta bertemu dengan Dewa malam lewat dirinya.


Dan satu poin terpenting. Sebenarnya kedatangan manusia ke alam langit tanpa di undang adalah hal yang paling tabu. Apalagi untuk bertemu dengan salah satu Dewa atau Dewi pengurus alam.


"Ini.."


Melihat kebingungan dan ketidak relaan -untuk memberi tahu, kakek bulan terkekeh pelan. "Baiklah, aku tidak akan menjadi kucing penasaran padamu."


Kemudian dia menoleh ke arah Hua Mu Dan yang berdiri tak jauh darinya. Yang di sampingnya terdapat Yue Xingfei juga. Mereka berdua pun berwajah sedikit heran dan bertanya-tanya. Tapi tak mempunyai hak untuk bertanya.


"Mu Dan, antarkan murid akademi ini menemui kakek bulan."


Tidak ada alasan bagi Hua Mu Dan untuk menolak, dia mengangguk patuh dan mengajak Xuan Chen meninggalkan paviliun perjodohan. Menuju tempat yang lebih dingin dari biasanya. Penuh dengan nuansa putih dengan sentuhan kebiruan.


Penjaga di istana Dewa malam tidak mencegah kedatangan mereka. Karena mereka mengenal sosok gadis yang tak lagi muda itu. Tentu, sosok Hua Mu Dan dikenal di seluruh istana alam langit. Selain cantik, dia juga ramah. Dan tak sedikit tuan muda yang datang ke paviliun perjodohan. Namun kakek bulan menolak mereka mentah-mentah.


Setelah melewati bangunan putih megah dengan sentuhan keemasan, juga taman-taman yang di penuhi dengan bunga malam, mereka menuju sebuah tempat yang terasa asri. Melewati jembatan dengan sungai kecil mengalir damai di bawahnya.


Kedatangan mereka berdua disambut oleh kolam biru yang memantulkan bintang-bintang berkelipan di atas langit yang tinggi. Lalu terdapat pohon yang penuh dengan bola-bola aneh. Rata-rata berwarna biru dan merah. Lalu kristal-kristal yang tampak bersinar terang.

__ADS_1


Di bawah pohon itu terdapat gazebo kecil yang hanya diisi satu meja dan dua kursi. Jelas di sana terdapat sosok yang Xuan Chen tahu dari kakek bulan saat perjamuan. Dewa Ye Wan, sang Dewa malam. Sosoknya sangat tenang menyesap teh sambil memandangi bintang. Ditemani dengan rusa putih dengan tanduk bak kristal terbaring nyaman di dekat kakinya.


Saat itu Hua Mu Dan yang terlebih dahulu berjalan, diikuti dengan Xuan Chen di belakangnya.


"Salam Dewa malam."


Sosok pria tua berjanggut putih itu menoleh ke arah Hua Mu Dan, bergantian dengan Xuan Chen. Sedetik kemudian dia tersenyum dan berdiri menyambut mereka.


"Ada apa gerangan nona Mu Dan datang kemari? Apakah kakek bulan mengutusmu?" Tanya Dewa malam terdengar begitu ramah.


"Jawab Dewa malam, dia adalah murid akademi Tianjin yang sempat datang memenuhi undangan permaisuri langit, murid ketujuh, Xuan Chen. Selain itu dia juga adalah teman baik kakek bulan."


Dewa malam tampak mengangguk-angguk selagi Xuan Chen membungkukkan badannya, "salam Dewa malam.."


"Tuan Xuan Chen ingin bertemu denganmu dan ada yang ingin sesuatu yang dibicarakan.." Sambung Hua Mu Dan yang di sambut oleh anggukan setuju.


"Baiklah, silahkan duduk murid akademi.." Ujar Dewa malam mempersilahkan tempat duduk.


"Tuan Xuan Chen, aku akan menunggu tak jauh dari sini."


"Baiklah."


Hua Mu Dan pergi meninggalkan mereka, sementara Xuan Chen duduk di kursi yang telah di sediakan. Begitupula dengan Dewa malam yang mulai menuangkan teh untuk Xuan Chen. Lalu menyodorkannya pada Xuan Chen yang masih tertunduk.


"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?"


.......


.......


.......


Gelak tawa memenuhi ruangan mewah bernuansa putih dan emas. Diiringi dengan suara percikan air yang keluar dari kendi menuju cawan anggur. Di tengah-tengah ruangan mewah nan megah itu, terdapat dua kursi yang diisi oleh dua orang. Lengkap dengan meja berisikan dua cawan anggur dan beberapa kendi arak.


"Berbicara hal itu.. aku jadi merindukan mendiang Baiyun Dijun." Ujar Dewa air dengan wajah yang seperti sedang di landa nestapa.


Gaoqing Dijun mengangguk setuju. "Ya, kau benar. Sosoknya memang sangat kukagumi." Dia tampak bernostalgia. "Bahkan berkatnya aku dapat menggantikan posisi tinggi ini."


"Selain itu, Baiyun Dijun selalu menginspirasi dunia." Sahut Dewa air sambil meneguk araknya.


"Benar, dia selalu menciptakan barang-barang aneh yang berakhir menjadi terlarang." Gaoqing Dijun tertawa di akhir kalimatnya.


"Terakhir kali dia membuat sihir ilmu lima awan. Yang menyebabkan kekacauan di daratan Zhenbei."


Mendengar hal itu Gaoqing Dijun terpancing untuk tertawa lagi. Namun sudut matanya menangkap salah seorang bawahannya di ambang pintu. Yang tampak gelisah dan tak sabar.


"Bahkan aku ingat.." Suara Dewa air kembali menyadarkannya. "Tetua klan rubah ekor sembilan, Yi Wutong hampir mati karena membantunya."


"Benar sekali.." Sahut Gaoqing Dijun walaupun pikirannya masih di bebani oleh apa yang akan di sampaikan bawahannya. Namun dia segera melanjutkan, "untungnya paman-paman klan rubah dapat menyembuhkannya tepat waktu."


Dewa air mengangguk-angguk. "Baiyun Dijun memang penuh pengorbanan." Lalu ia kembali meneguk araknya.


"Ya, jika dia tidak mengorbankan seluruh jiwa nya, mungkin alam fana akan mengalami kekacauan." Sahut Gaoqing Dijun sambil menuangkan arak.


"Bicara soal kekacauan, aku menjadi ingat alam peri yang musnah tak bersisa enam belas ribu tahun yang lalu."


Ucapan Dewa air membuat Gaoqing Dijun mengangkat pandangannya. Entah kenapa dia merasa tidak enak saat mendengar kata 'alam peri'. Mungkin mengingat dia sedang memburu pemimpin besar mereka. Yang bahkan belum di pastikan kebenarannya sama sekali.


"Oh ya, apakah ada kemungkinan besar Ratu Bai bertopeng itu kembali?" Tanya Dewa air tiba-tiba, membuat Gaoqing Dijun sedikit tidak enak. Namun dia masih menyembunyikannya


Gaoqing Dijun berdehem. "Aku tidak tahu. Jika kembali salah satu itu akan baik. Tapi, jika kembali dua-duanya akan sangat buruk."

__ADS_1


Dewa air mengangguk setuju. "Tapi aku berharap, saat bereinkarnasi mereka menjalin hubungan yang tak biasa. Misalnya menikah dan saling mencintai." Dewa air terkekeh pelan. "Mungkin ketika jiwa mereka bangkit, dunia ini akan aman."


Sempat terdiam, Gaoqing Dijun pun menjawab, "Raja Wu tetap saja masih terpengaruh oleh aura iblis yang entah datang dari mana itu." Dia menghela nafas. "Aku masih khawatir."


"Sudahlah!" Dewa air meletakkan cawan anggur itu dengan keras hingga menimbulkan suara ketukan. Kemudian dia berdiri dan hendak keluar dengan langkah yang sempoyongan. "Aku sudah mengantuk.." Lebih tepatnya, dia sudah mabuk.


Namun sang Dewa air kembali berbalik, ada hal yang dia lupakan. Yaitu memberi hormat pada sang raja besar. Setelah membungkuk pria itu berbalik pergi tanpa menghiraukannya lagi.


"Aku tidak mengantar, Dewa air." Itu adalah sapaan akhir Gaoqing Dijun. Kemudian dia menghela nafas lega. Menyelamatkan pikirannya yang berkecamuk setelah mendengar nama alam peri. Juga bawahannya yang seperti sedang terburu-buru.


Tak lama kemudian, bawahan Gaoqing Dijun itu berlari ke arahnya, selagi sang tuan duduk kembali. Dia memberi hormat sebelum akhirnya bicara, "Dijun, ada hal penting yang harus ku bicarakan."


Walaupun Gaoqing Dijun penasaran, dia tetap bersikap tenang. "Apa itu?"


"Pria itu.. pria itu.."


"Siapa?" Tanya Gaoqing Dijun sedikit jengkel.


"Pria yang selalu bersama gadis reinkarnasi Ratu Bai datang ke istana langit!"


Gaoqing Dijun menghela nafas. "Memangnya kenapa? Ku dengar dia memang berteman baik dengan kakek bulan. Wajar saja dia menemuinya."


"Haish!" Bawahan Gaoqing Dijun itu tampak frustasi. "Dia tidak menemui kakek bulan, melainkan Dewa malam dan Dewi Yuan Ji!"


Bawahan itu sudah capek-capek bersikap khawatir, tapi Gaoqing Dijun malah sebaliknya. "Memang apa masalahnya?"


"Dijun.." Dia berkata dengan sabar. "Bagaimana kalau dia mengetahui sesuatu tentang masa lalu Yi Changyin? Lalu menanyakannya pada Dewa malam atau Dewi Yuan Ji. Bukankah Dewi Yuan Ji Dewi takdir kehidupan? Selain itu, dia juga adalah Dewi kelahiran. Apakah kau tidak khawatir?" Beo nya panjang lebar.


"Kau terlalu berlebihan! Dewi Yuan Ji tidak mungkin membocorkan rahasia takdir!"


"Tapi.."


"Pergilah!"


Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi. Dengan tidak yakin pria itu pergi. Namun Gaoqing Dijun seperti telah mencerna ucapan bawahannya baik-baik, dia menjadi sedikit terbelalak.


"Tunggu!"


Membuat dia berbalik dengan ekspresi malas, yang sedikit di sembunyikan. "Dijun?"


"Siapa namanya?"


Pria itu menggaruk rambutnya yang tidak gatal, memikirkan siapa nama pria yang selalu dekat dengan target atasannya. Namun tiba-tiba dia berbinar. "Ya! Namanya Xuan Chen!"


Gaoqing Dijun mengangguk. "Tangkap dia kemari, jangan sampai kabur sebelum menemuiku!" Perintahnya dengan nada yang tegas.


Pria itu mengangguk, "baik, Dijun" Dan segera pergi dengan perasaan yang senang. Karena laporannya bisa di terima dengan baik oleh sang atasan.


Sementara Gaoqing Dijun memijit pelipisnya. "Sepertinya.. akan sulit."


.......


.......


.......


Yok Guys biasakan komen-komen biar jadi inspirasi dan semangat buat author remahan ini🤗


btw, jgn di skip-skip ya bacanya. Soalnya di bab ini walaupun rada gaje, ada poin penting yang nantinya jadi permasalahan di masa depan.


Thanks for reading:*

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2