The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CL - Kebahagiaan yang Kembali


__ADS_3

Bertahun-tahun kemudian...


Xuan Chen menghirup udara dingin saat melihat pemandangan di depannya. Melihat Sifeng dan Sijiu yang tertidur di sisi kanan kiri sambil memeluk ibunya.


Puluhan tahun sudah berlalu, Yi Changyin masih belum ada tanda-tanda terbangun. Dan baru kali ini Xuan Chen melihat anak kembarnya menangis karena lelah menunggu.


"Sifeng, Sijiu, anak ayah, ini sudah siang, waktunya makan." Bujuk Xuan Chen sambil mengelus-elus punggung Sifeng yang berada dekat dengannya.


"Aku ingin melihat ibu bangun dahulu, baru makan!" Ujar Sifeng ketus sambil menangis. Pria kecil itu selalu terlihat tegar dan kuat, tapi kali ini dia menangis.


Xuan Chen hendak menjawab tapi Sijiu segera memotongnya, "ayah... Aku hanya ingin ibu bangun. Tiga tahun lagi adalah ulang tahun kami tepat lima ratus tahun. Saat memasuki umur yang kesetengah milenium, aku ingin ibu mendampingi kami." Setelah mengatakan itu Sijiu menangis lagi.


Xuan Chen menghela nafas panjang. Matanya memerah karena menahan tangis. Dia sudah menjadi ayah, rasanya aneh jika menangis. Tapi melihat tingkah anaknya saat ini, hatinya sungguh tersayat ribuan belati.


"Sifeng, Sijiu, percayalah.. ibu tidak akan bangun jika kalian tidak makan." Ujar Xuan Chen dengan sabar.


"Ayah pikir kami bodoh? Mana mungkin hanya dengan kami makan ibu bisa bangun!" Sahut Sifeng dengan ketus.


"...." Xuan Chen ingin menangis tanpa air mata, tapi juga ingin tertawa. Benar, anaknya bukan bayi lagi sekarang. Tidak dapat dibodohi seperti dahulu.


"Kalau begitu makan dulu sedikit."


"Tidak mau!" Sahut keduanya serempak.


"Bagaimana kalau ibu kalian bangun siang ini? Lalu melihatmu belum makan sama sekali, dia pasti akan sedih bukan? Kalian mau melihat ibu kalian menangis?"


Mendengar hal itu Sifeng dan Sijiu termenung memikirkannya. Xuan Chen sedikit berharap kalau kedua anak kembarnya akan berubah pikiran.


Sedangkan yang ada dipikiran si kembar adalah tidak mau melihat ibunya sedih. Saat pertama kali bangun, mereka harus membuat sang ibu bahagia, bukan bersedih!


Setelah saling bersitatap, akhirnya mereka bangun dari tempat tidur. Turun perlahan. "Baiklah, kami ingin makan." Sifeng mewakili berbicara.


Xuan Chen akhirnya bisa bersorak dan mengajak mereka untuk makan. Sebelum menutup pintu, Xuan Chen sempat menatap Yi Changyin sesaat.

__ADS_1


Sebenarnya dia ingin tetap tinggal di kamar, tapi Xuan Chen bukan pria yang punya banyak waktu luang. Terlebih perkembangan anak-anaknya yang harus diawasi.


Setelah makan siang, Xuan Chen mengajak keduanya untuk belajar di halaman belakang. Yaitu halaman yang beralaskan kayu dan di bawahnya adalah danau.


Mereka belajar sambil melihat pemandangan air yang menghampar di depannya. Banyak sekali ikan yang berenang-renang. Membuat Sifeng memiliki ide jika malam ini ingin makan dengan bakar ikan. Xuan Chen mengiyakan dengan senang, setidaknya tidak akan membuat sikembar murung seperti tadi.


Tanpa di ketahui keduanya, seseorang yang berpakaian serba putih membuka pintu halaman belakang. Menyaksikan dua orang anak-anak dan satu orang pria yang memunggunginya.


Saat itu Xuan Chen hendak mengajak Sifeng dan Sijiu untuk menyiapkan alat-alat menangkap ikan. Saat berbalik, mereka tertegun melihat sosok yang berdiri di depan pintu. Kedua belah pihak itu saling menatap dengan tatapan yang tidak percaya.


Saat itu Sifeng dan Sijiu lah yang paling antusias. Keduanya tiba-tiba memiliki wajah jelek dan berlari menghampiri seseorang yang berada di ambang pintu itu.


"Ibu!!" Teriakan mereka dipenuhi dengan kebahagiaan. Sikembar langsung memeluk kaki wanita yang di panggil ibu itu.


Benar, dia adalah Yi Changyin. Bahkan Xuan Chen pun mematung di ujung halaman. Setelah ratusan tahun penantian, akhirnya wanita terkasihnya itu membuka mata. Kebahagiaan yang lama hilang telah kembali.


Yi Changyin merasa kebingungan dengan dua anak yang sekiranya kembar itu. Tiba-tiba memeluk dan memanggilnya ibu. Dia juga awalnya bingung dengan tempat yang dia tempati.


Dia berjongkok untuk melihat mereka berdua. Sifeng dan Sijiu tampak mengelap air matanya tapi masih terisak. Sekilas wajah kedua anak ini mirip dengannya, sekilas mirip Xuan Chen.


Yi Changyin berkata dengan suara yang bergetar, "kalian ini.."


"Ibu, aku adalah Sifeng, ini adikku Sijiu. Kami anak ibu." Sela Xuan Sifeng memperkenalkan diri. Anak yang memiliki perawakan tujuh tahun alam fana itu terlihat menggemaskan.


Yi Changyin merasa ini tidak mungkin. Dia mulai meneteskan air matanya. "Kalian sudah besar? Berapa lama aku pergi?" Katanya dengan suara tercekat. Sambil mengelus-elus keduanya dengan lembut. Rasanya tidak percaya melihat hal ini.


Yang dia ingat, selama ini Yi Changyin berada di tempat asing yang gelap. Sangat lama hingga ia tak bisa menghitung waktu.


Ingat terakhir kali dipeluk oleh Xuan Chen di pinggir sungai kelupaan, tapi tiba-tiba berada di tempat itu seperti tengah menunggu.


Ia sendiri merasa sedikit linglung, pikirannya kosong. Tidak tidur atau tidak makan. Hanya menunggu dan duduk. Dan kadang kali merasakan kehadiran Xuan Chen.


"Lima ratus tahun, kami menunggumu selama itu."

__ADS_1


Suara lembut Xuan Chen menyapa telinganya. Yi Changyin mendongkak, melihat pria itu yang sedang tersenyum dan berjalan ke arahnya. Selama penantian di tempat gelap itu, Yi Changyin sangat merindukannya.


Pernah sekali dia merasakan kehadirannya, auranya, tapi tiba-tiba menghilang entah kemana. Xuan Chen... Benarkah dia?


Akhirnya Yi Changyin mengesampingkan tentang anak-anaknya yang sudah besar. Dia segera berlari dan memeluk Xuan Chen dengan erat.


Menghirup aromanya dalam-dalam, aroma yang paling dirindukan. Xuan Chen pun sama seperti Yi Changyin. Pelukan mereka saling mengerat bak ingin menembus kulit.


Meluapkan kebahagiaan dengan tangisan dan memuaskan rasa rindu yang memberatkan bahu. Mereka telah saling merindukan selama ini. Satu di alam nyata, satu di alam bawah sadar. Sungguh jarak yang tak terhingga jauhnya.


"...." Sifeng dan Sijiu hanya terdiam sambil cemberut. Ibu dan ayah telah mengabaikannya.


"Aku merindukanmu.." Ujar Yi Changyin sambil terisak. "Kau pasti merindukanku juga, maafkan aku..."


Xuan Chen melepaskan pelukannya. Menatap mata penuh air Yi Changyin dalam-dalam. Mengapit pipinya dengan lembut.


"Yin'er..." Panggilnya lembut.


"Wajahmu tidak berubah." Ujar Yi Changyin sambil menekuri rahangnya yang tegas.


Sementara di belakang mereka wajah Sifeng dan Sijiu semakin menggelap. Keduanya tak menyadari hal itu, mereka hanya sibuk meluapkan rindu. Wajah Yi Changyin dan Xuan Chen perlahan mendekat untuk melakukan sesuatu yang pastinya dirindukan sejak lama.


Baru saja ciuman akan terjadi, tiba-tiba suara deheman dua anak kecil menyentakkan mereka berdua. Yi Changyin segera mendorong Xuan Chen menjauh dan menatap kedua anaknya dengan senyuman canggung.


Sifeng segera memberi protes dengan wajah marah, ""ketika ayah tidur, ayah sering memeluk ibu sampai pagi. Tapi ketika siang kami bahkan tidak diizinkan untuk menyentuh. Sekarang saat ibu bangun, ayah malah mengajaknya untuk bercinta. Dasar pelit!"


.......


.......


.......


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗

__ADS_1


__ADS_2