
"Kau yakin?" Shen Lan bertanya kembali.
Yi Changyin hanya tersenyum, matanya menerawang. "Walaupun harus mengorbankan impianku sejak lama, jika itu yang terbaik, maka aku yakin yakin saja.." Jawabnya yakin.
Kemudian dia melanjutkan, "lagipula, walaupun Yue Xingfei masih muda dan butuh pelajaran lebih tinggi, setidaknya ada keempat peri lain yang membantu."
"Aku mengerti hal itu." Sahut Shen Lan. "Tapi pernahkah kau berfikir? Lebih baik tidak pernah pergi dan menjalani ini semua tanpa harus berpisah terlebih dahulu?"
Yi Changyin menggeleng. "Bagaimanapun aku sudah berjanji untuk menyembuhkannya. Setelah itu mencari sesuatu untuk memutuskan tali kontrak dan kristal jiwaku yang terakhir."
Shen Lan kini mengangguk paham. Ia sudah tak bisa mencegah lagi jika sudah seperti ini. "Baiklah, aku ikut saja apa yang kau inginkan."
"Apakah kau tidak rela juga jika akan meninggalkan Xuan Rong kembali?" Tanya Yi Changyin dengan senyuman yang mengejek.
Namun sukses membuat wajah Shen Lan memerah dan tergagap. "Aku.. aku.." dia berusaha mencari pelarian. "Seseorang datang!" Serunya tiba-tiba dengan wajah yang masih memerah.
Dia menghilang di udara kosong entah pergi kemana. Pria itu lucu. Tapi ternyata apa yang di katakannya bukan kebohongan belaka. Saat itu Xuan Chen datang dengan rantang makanan di tangannya.
Pria itu mendatanginya dengan senyuman. Meletakan rantang di depan mereka sebelum akhirnya meraih tangan Yi Changyin dan menggenggamnya erat.
"Sarapan dahulu. Dari pagi kau belum makan apa-apa.." ujarnya dengan lembut. Yang artinya, Wu Yun telah tertidur kembali.
Yi Changyin tak menjawab sama sekali. Namun Xuan Chen tak menghiraukan itu seolah tak masalah. Pria itu mulai membongkar rantang yang isinya hanya semangkuk sup.
"Aku tahu kau tidak akan makan banyak. Tapi sup ini cukup mengenyangkan." Katanya sambil membuka tutup sup, menyendoknya, lalu meniupnya perlahan.
Diam-diam Yi Changyin memperhatikannya tanpa bersuara. Sampai Xuan Chen menyodorkan sesendok sup kepadanya.
"Xuan Chen.." Yi Changyin berkata dengan nada yang pelan, "katakan kepada kaisar.. pernikahan kita bisa di lakukan 40 hari setelah kematian Jinmi."
Xuan Chen mengangguk dengan senyuman. "Baiklah, aku mengerti. Tapi, makanlah sedikit.."
Yi Changyin menunduk sambil menggeleng.
"Masih ada yang mengganjal?" Tanya Xuan Chen lembut sambil mengelus-elus punggung tangannya.
Oh langit, mengapa pria ini begitu manis?!
"Tinggalkan aku sendiri." Hanya itu yang dapat Yi Changyin katakan. Namun tak menyurutkan semangat Xuan Chen untuk membujuknya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau makan." Xuan Chen tersenyum ke arahnya.
Sambil kembali menyodorkan sesendok sup, yang langsung dia terima pelan-pelan. Senyuman Xuan Chen semakin mengembang. Dan kembali menyendokkan sup untuk yang kedua kalinya.
Yi Changyin menolak dengan memalingkan wajahnya. Namun Xuan Chen masih saja membujuk dengan halus.
"Aku bilang tidak mau!" Yi Changyin menepis tangan Xuan Chen hingga sendoknya terjatuh ke atas tanah.
Xuan Chen hanya menghela nafas pasrah. Sementara ia sendiri merasa bersalah akan hal itu. Dan hanya bisa meminta maaf dalam hati, 'maafkan aku..'
"Baiklah.." Xuan Chen masih tersenyum. "Jika kau tidak mau, aku akan mencobanya lain kali." Katanya sambil membereskan sup ke dalam rantang.
Kemudian hendak memeluk Yi Changyin namun gadis itu menepisnya sebagai tanda penolakan. Xuan Chen sempat tertegun melihat sikap wanitanya.
"Apakah kau masih mengira aku yang meracuni ramuan itu, Yin'er?" Tanya Xuan Chen lirih.
Yi Changyin tidak menjawab.
"Beri aku waktu beberapa hari, aku akan membuktikan kalau prasangkamu itu salah."
__ADS_1
"Tidak perlu."
Alis Xuan Chen merajut, "kenapa?"
"Pangeran Zhaoyang, bisakah kita berbicara sebentar?" Tiba-tiba Shen Lan datang tanpa aba-aba. Menarik tatapan keduanya.
Xuan Chen segera berdiri dan berbalik. Tidak ada penolakan, dia menangguk menyetujui keinginan Shen Lan.
.......
.......
.......
"Sebaiknya kau jauhi saja Yi Changyin, jika tidak ingin sakit hati."
Kata-kata Shen Lan jelas membuat darahnya mendidih. "Maafkan aku, bukannya aku tidak mau menghormatimu.." Xuan Chen berkata dengan tatapan yang tajam. "Mulai sekarang, mohon jangan campuri urusan kami berdua."
Dia melanjutkan, "kau tidak berhak untuk mengatur sampai memisahkan hubungan kami berdua. Xuan Chen mengulanginya lagi dengan suara yang keras, "tidak berhak!"
Shen Lan tersenyum sambil mendesis. Pria itu sudah berani. "Aku hanya tak ingin kau menyakiti diri sendiri."
"Aku tak mengerti dengan hal ini." Xuan Chen mengangkat bahu. "Tapi aku sudah berjanji apapun yang terjadi, aku akan tetap berada di sisinya."
"Yi Changyin tidak mencintaimu, hanya merasa kasihan padamu dan berusaha membalaskan budi." Ujar Shen Lan dengan dingin.
Hatinya merasa tertohok, darahnya semakin mendidih. Namun dia rasa tidak percaya dengan apa yang di katakan Shen Lan.
"Kau pikir aku percaya dengan kata-katamu?" Xuan Chen menantang. "Jika merasa kasihan saja, dia tidak akan berani melahirkan Jinmi. Dan soal budi, aku sama sekali tidak mengerti."
"Tapi maaf.." sahut Shen Lan cepat. "Mungkin itu hanya separuh masa lalu yang kau lupakan. Tapi bagi Yi Changyin, itu adalah janjinya. Ya, walaupun dia sendiri melupakan kejadian itu karena ayahnya."
Shen Lan tersenyum kemudian menjelaskan, "sebelum tiba di kehidupan ini, kau pernah menjadi seorang pria buta. Kau menutup matamu setiap hari dan berlatih pedang."
Xuan Chen hanya terdiam mendengarkan cerita Shen Lan. Yang lama-kelamaan terdengar masuk akal.
"Saat itu nona Yi masih berusia lima belas ribu tahun. Masih bodoh dan polos. Masih tak serajin sekarang tapi berusaha menerobos ke alam fana tanpa sepengetahuan semua orang, termasuk diriku."
"Dia di serang oleh monster kuno di daratan Utara. Dan kau sampai mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya. Bahkan.. kau hampir mati saat itu."
"Kau mengenali Yi Changyin dari suara, dan kalian mulai saling mengenal. Bahkan gadis itu berani mengabaikan rumahnya sendiri demi merawat luka-lukamu."
"Bahkan berniat akan membalas Budi dengan memberikan matanya padamu."
Kali ini Xuan Chen terbelalak mendengarnya.
Shen Lan tersenyum, "ketika kalian hendak berhubungan intim, tuan besar Yi Wang datang memergoki kalian. Dan saat itu Yi Changyin berani melawan ayahnya sendiri demi dirimu."
"Akhirnya tuan besar memutuskan untuk menggunakan pil penghilang ingatan agar dia melupakanmu. Namun sebelum itu Yi Changyin bersumpah akan membalaskan budi padamu apapun yang terjadi bahkan jika itu harus di kehidupan selanjutnya, sampai mengundang petir."
"Yi Changyin melupakanmu sebagai tuan muda buta, dan kau mati tak lama setelah Yi Changyin di bawa pergi. Intinya, jika Yi Changyin melakukan sesuatu padamu.. itu artinya dia sedang membalas budimu secara tidak langsung."
Xuan Chen termenung sesaat. Apa yang diceritakan Shen Lan masuk akal. Namun ia masih tak ingin menerima jika Yi Changyin berada di sampingnya hanya karena itu.
"Shen Lan, mungkin aku percaya dengan kehidupan laluku. Tapi aku tidak percaya alasan Yi Changyin berada di sisiku."
"Aku dapat melihatnya dari sudut mataku sendiri kalau Yi Changyin bukan semata-mata ingin membalas budi." Tambahnya dengan yakin.
"Terserah apa katamu tapi apa yang ku katakan adalah kebenaran. Aku hanya ingin kau menjauhinya dan kedua belah pihak diuntungkan." Ujar Shen Lan yang membuat darahnya semakin mendidih.
__ADS_1
"Kau tidak akan merasa dicampakkan, dan Yi Changyin tidak akan dalam bahaya demi membalas budi padamu. Lagipula kau sekarang adalah Wu Yun, adakah alasan dirinya yang sebagai Bai Suyue bisa mencintaimu?"
Xuan Chen terdiam seribu bahasa. Tak tahu harus berkata apa lagi. Hatinya remuk. Pikirannya berantakan, langitnya runtuh, mimpinya hancur.
"Tunggu aku.." katanya dengan suara yang tertahan. "Aku akan membuktikan kalau apa yang kau katakan tidaklah benar."
Setelah itu Xuan Chen pergi dengan emosi yang menggebu-gebu. Shen Lan hanya terdiam menatap punggungnya yang menjauh tidak tega.
"Maafkan aku. Tapi soal masa lalumu adalah kenyataan yang terjadi seribu tahun lalu.." gumamnya dengan perasaan yang menyesal.
.......
.......
.......
Bukit menghampar luas dipenuhi pepohonan hijau menjadi pemandangan yang dia lihat saat ini. Dengan beberapa kendi arak di sampingnya yang sebagian sudah kosong.
Dia terus meminum arak itu tanpa ada rasa puas. Sampai habis, lalu membuang cangkangnya dan mengambil kembali yang baru.
"Sebaiknya kau jauhi saja Yi Changyin, jika tidak ingin sakit hati."
"Aku hanya tak ingin kau menyakiti diri sendiri."
"Yi Changyin tidak mencintaimu, hanya merasa kasihan padamu dan berusaha membalaskan budi."
"Mungkin itu hanya separuh masa lalu yang kau lupakan. Tapi bagi Yi Changyin, itu adalah janjinya. Ya, walaupun dia sendiri melupakan kejadian itu karena ayahnya."
Kepala Xuan Chen hampir meledak karena kata-katanya Shen Lan terus berputar di kepalanya. Ia sungguh tidak percaya apa yang terjadi. Tidak, lebih tepatnya tidak menerima sampai-sampai melampiaskannya pada arak.
Ia tidak pernah mengira hal semacam ini akan berhadapan dengannya. Dia pikir, bencana cinta itu telah berakhir. Namun nyatanya masih belum. Sebegitu terlarang kah jika manusia mencintai seorang Dewi?
"Yang mulia, mabuk sangat tidak sehat. Hentikan itu!"
Suara Wen Yuexin tiba-tiba menusuk-nusuk telinganya. Meledakkan amarah yang ada di hatinya. Dia sangat kesal walau hanya mendengar suaranya. Di tambah sekarang dia sangat mabuk.
Brakk!!
Sekendi arak dia lemparkan sampai pecah. Kemudian berdiri dan menghampiri Wen Yuexin dengan langkah yang sempoyongan. Dia berhenti dalam jarak yang jauh dan menunjukkan telapak tangannya meminta sesuatu.
"Berikan kristal jiwa Wu Yun padaku." Pintanya dengan suara khas orang-orang yang mabuk. "Bukankah itu ada padamu? Maka berikan kepadaku."
Wen Yuexin tersenyum. "Mengapa kau memintanya tiba-tiba?" Tanyanya dengan lembut.
Xuan Chen mendengus. "Berikan kepadaku. Aku... Ingin membuktikan kalau Wu Yun tidak membencinya sama sekali. Dan membuktikan.. kalau kami saling mencintai..." Dia berkata sangat dramatis di akhir kalimatnya.
Namun sukses membuat Wen Yuexin tersenyum penuh kemenangan. 'Ya.. sepertinya rencana untuk membuat mereka jauh telah berhasil.' Pikirnya dengan yakin.
"Hei! Aku berbicara denganmu!" Seru Xuan Chen tidak sabaran ketika mendapati Wen Yuexin hanya terdiam.
Saat itu Wen Yuexin tiba-tiba terkekeh pelan. Kemudian mengeluarkan kristal jiwa penuh aura iblis dengan energi spiritualnya. "Inikah yang kau maksud?"
.......
.......
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗
__ADS_1