The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CXXVIII - Di Halaman Belakang


__ADS_3

Melihat Ratunya yang hanya diam tak seperti biasanya, Zhang Bixuan merasa heran. "Qi'er, mengapa kau hanya diam saja?"


Mendengar pertanyaan itu Aoyi Jinqi tersentak. Karena terlanjur ketahuan, ia segera bersujud seraya meminta permohonan. Zhang Bixuan semakin heran.


"Yang mulia, sebaiknya anda tarik kembali keputusanmu untuk menyerang alam peri." Aoyi Jinqi tetap memohon. Dia tak bisa keluar dari keputusannya begitu saja.


Namun yang didapat ekspresi Zhang Bixuan menjadi gelap. Auranya tampak suram. Sang istrinya tidak mendukung keputusannya? Hal sekecil itu jelas membuatnya sedikit memiliki emosi.


"Semuanya keluar!" Bukannya menjawab sang istri, Zhang Bixuan malah menyuruh seisi ruangan untuk keluar. Semua orang memiliki firasat buruk ketika keluar dari sana. Apalagi Aoyi Jinqi yang tetap berada di dalam.


"Apa maksud perkataanmu?" Zhang Bixuan berkata dengan dingin. Aoyi Jinqi berlutut di atas lantai hanya menunduk.


Mau tak mau, ia menjawab pelan-pelan, "alam peri terlalu kuat. Aku... Aku... Sangat tidak yakin dengan hal ini. Aku takut... Itu hanya akan membahayakan posisi kita."


Brakk!!


Aoyi Jinqi tersentak ketika Zhang Bixuan menggebrak meja dengan keras. "Ini tidak seperti dirimu!"


Aoyi Jinqi semakin menundukkan kepalanya takut. Benar, suaminya benar. Dia sekarang berbeda. Entah kenapa, ia tidak mau melawan Yi Changyin.


"Ra.. ja, apa yang kau curigakan?" Rasa takut yang terlihat jelas jelas di matanya, membuat Zhang Bixuan semakin curiga.


Biasanya sang istri akan selalu mendukungnya apa yang terjadi. Terutama untuk menghancurkan dan menguasai seluruh dunia. Ratunya selalu bersikap kejam sebagaimana seorang iblis.


Tapi hari ini dia merasakan perbedaan. Terbaca oleh pikirannya, Aoyi Jinqi tampak memiliki sedikit kelembutan manusiawi.


"Tidakkah kau senang aku bertekad akan menghancurkan alam peri? Mereka sudah mempermainkan kita!" Nafasnya tampak mengebu. Sang raja telah terlewat emosi.


Aoyi Jinqi tersenyum, "aku senang, Raja. Tapi, sudah kubilang tadi... Alam peri terlalu kuat. Kita bahkan tidak bisa mengalahkan keempat ketua mereka."


"Sejak kapan alam iblis menjadi penakut?" Tanya Zhang Bixuan dengan sinis.


Aoyi Jinqi terdiam. Dia tersudutkan. Sejak awal, dia tidak ingin bermusuhan dengan Yi Changyin. Kenangan singkat di akademi Tianjin mampu membuatnya merasakan persahabatan. Tapi jelas dia seorang iblis.


"Tidak bisa kah alam peri dan alam iblis damai saja?" Aoyi Jinqi bertanya, tampak lebih berani.


"Berdamai?!" Zhang Bixuan semakin tak terima, emosinya sebentar lagi akan meletus.


"Raja, kau harus ingat yang terjadi jutaan tahun lalu. Leluhur alam peri telah membebaskan alam kita dari jeratan Dewa kegelapan. Seharusnya sekarang kau lebih menghargai." Tutur Aoyi Jinqi meyakinkan dengan lembut. Apa yang dikatakannya adakah kebenaran.


"Katakan, apa yang merasuki pikiranmu?"


Aoyi Jinqi mendesah, Zhang Bixuan malah bertanya seperti itu. Tidak mengerti dengan maksud baiknya. Dia tidak mau ada permusuhan, mencegah kehancuran.


"Persahabatan." Jawab Aoyi Jinqi singkat.


Mendengar hal itu Zhang Bixuan mendengus kasar. "Apa itu?! Hanya karena mimpi kecil di akademi manusia kau berani menentangku?!"


"Aku tidak..."


"Pengawal! Kurung Ratu diistananya, jangan biarkan dia keluar sampai aku yang memerintahkan!"


Perintah Zhang Bixuan membuat Aoyi Jinqi terkejut. Keadaan benar-benar kacau. Pasti selama dia di kurung, Zhang Bixuan akan berbuat sesuatu. Suaminya licik, memanfaatkan segala hal.


Dua pengawal segera membawanya pergi. Dengan lesu ia terpaksa pergi, meninggalkan ruangan suaminya. Ini adalah pertama kalinya dia diasingkan. Hanya karena mengajukan perdamaian.

__ADS_1


Zhang Bixuan sendiri tidak tega. Menatap punggung istrinya yang menghilang dibalik pintu. Bagaimanapun dialah satu-satunya wanita yang mendampinginya sejak menjadi pangeran mahkota, tanpa ada selir. Walaupun belum mempunyai keturunan, dia tetap menyayangi istrinya.


Dia mendesah kasar dan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar. Termenung, memikirkan banyak hal. Dia harus menimbangnya lebih baik untuk ini.


.......


.......


.......


Di kamar paviliun pendamping rahasia tampak temaram. Di atas kasur hanya ada Yi Changyin yang tertidur. Sesuatu yang hilang mengusiknya, gadis itu bergerak ke samping.


Saat tangannya berusaha meraih sesuatu, yang dicarinya tidak ada. Yi Changyin segera terbangun, tidak melihat sosok Xuan Chen yang tidur di sampingnya setelah memuaskannya dari siang sampai sore hari. Dan sekarang tampaknya hari telah berganti menjadi malam.


Yi Changyin menududukan dirinya di atas kasur. Dia tidak merasa pegal setelah melakukan aktivitas tadi siang, melainkan merasa segar.


Sebelum tidur ia telah menelan pil energi. Jika tidak, permainan selama itu akan membuat lututnya terus bergetar karena lemas.


Saat dia mendongak, ada bayangan dalam kamar temaram. Itu adalah Xuan Chen yang sedang tersenyum mendatanginya. Dia masih menatap wajah itu dalam diam.


"Yin'er, sudah baikan?" Sapanya mengambil duduk di samping Yi Changyin.


Yi Changyin hanya mengangguk rendah.


"Masih lelah? Apakah ada yang pegal? Kau bilang saja, biar aku pijitkan. Hmmm apa kau lapar?" Pria itu terlihat bawel, namun pertanyaan terakhir membuat Yi Changyin berbinar.


"Benar, aku lapar!" Katanya penuh minat.


Xuan Chen mencubit hidungnya gemas. Dia berdiri, "kemari aku sudah menyiapkan makanan di halaman belakang."


Tanpa basa basi lagi, Yi Changyin dan Xuan Chen segera bergegas ke halaman belakang. Dan pemandangan di sana sukses membuat Yi Changyin terpana. Dia tak pernah melihat pemandangan seindah ini. Bahkan dia tak tahu ada hal seperti ini di dalam istana.


Lalu di langit-langit, tampak menggantung beberapa lampu lampion berwarna merah berbentuk bunga. Dalam lampion itu menggantung sebuah lukisan yang berbeda-beda.


Jika di lihat dari dekat, maka itu adalah lukisan dirinya. Ada yang sendiri, juga berdua dengan Xuan Chen. Berbagai macam pose dan warna. Selain itu, ada efek cahaya aurora yang terpancar dari gelembung air. Tampak sangat indah.


"Kapan kau membuat ini?" Tanyanya dengan kagum. Tiba-tiba saja dua tangan besar berbalut pakaian hitam bertautan di depan perutnya.


Xuan Chen memeluknya dengan hangat. Pria itu meletakan dagunya di atas pundak Yi Changyin dengan nyaman.


"Saat kau pergi, aku membuat ini semua." Bisiknya dengan mata yang terpejam. "Lentera ini dibuat ketika kau pergi selama tiga bulan, aku selalu menyibukkan diri."


Tiba-tiba Yi Changyin melepaskan pelukannya. Berbalik ke arah Xuan Chen. Pria itu tersenyum saat Yi Changyin menatapnya dalam. Tak lama kemudian kecupan lembut dari Yi Changyin mendarat di pipinya. Dia sempat tertegun sebelum akhirnya tersenyum senang.


"Terima kasih." Tutur Yi Changyin sambil menenggelamkan wajahnya di dalam pelukannya. Xuan Chen membalasnya dengan senang hati.


Tak lama kemudian, kepala Yi Changyin kembali menyembul. Dan berkata dengan polos, "oh ya, dimana makanannya?"


Mendengar hal itu Xuan Chen merasa gemas. Dia mencubit hidungnya dan membawa Yi Changyin ke sisi lain halaman belakang.


Mereka tampak menuju gazebo kecil dengan gorden putih menawan. Di meja dalam sana, terdapat berbagai macam makanan, menguarkan harum yang menggugah selera. Mulai dari daging-dagingan sampai sayur-sayuran.


Xuan Chen melayani makan Yi Changyin dengan baik. Pria itu hanya sesekali makan. Sisanya tersenyum menyaksikan lahapnya Yi Changyin makan. Gadis itu pasti butuh energi kembali setelah melakukan perang di ranjang berjam-jam.


Setelah makan, mereka mengobrol sambil menikmati pemandangan buatan Xuan Chen di halaman belakang. Ditambah lukisan alami malam hari di luar gelembung air, terdapat bintang-bintang yang bersinar indah.

__ADS_1


Beberapa mangkuk dan piring yang kotor telah hilang dalam sekali sapuan tangan. Berganti dengan keranjang buah dan cawan anggur.


"Pemandangan yang sempurna." Gumam Yi Changyin merasa terpukau dengan mata yang melihat ke langit-langit. Lalu meminum cawan yang berisi anggur. Pipinya sudah sedikit memerah karena mabuk.


"Tentu saja. Itu sangat indah karena ada aku." Sahut Xuan Chen dengan bangganya. Sambil mencondongkan kepalanya ke arah Yi Changyin, tersenyum menggoda.


Gadis itu menatap Xuan Chen kesal. "Menyebalkan!" Gerutunya sambil berdiri.


"Aku memang menyebalkan." Xuan Chen masih menyombongkan hal itu.


Yi Changyin mendengus kesal. Xuan Chen tersenyum, menopang dagunya. Membiarkan Yi Changyin pergi ke tengah-tengah halaman, melihat pemandangan lebih dekat.


Tangan Xuan Chen bergerak, mengembunkan energi spiritual berwarna putih kemerahan. Mengalirkan banyak aura dari tangannya. Kemudian dia lemparkan ke permukaan gelembung air tepat di atas Yi Changyin.


Cahaya itu sedikit menyebar lalu menurunkan ratusan bintang berwarna putih dan merah yang menghujani Yi Changyin.


Gadis itu awalnya terkejut. Namun segera menyadari bahwa ini adalah kejutan dari Xuan Chen. Dia tersenyum, menunjukkan telapak tangannya, berusaha meraih titik-titik cahaya yang indah itu.


Dia tersenyum ke arah Xuan Chen, mengucapkan rasa terima kasih dari jauh. Pria itu membalas senyumannya sambil menopang dagunya.


Pemandangan di depannya sangat indah. Di tambah dengan kehadiran bidadari berpakaian serba putih yang cantik dan bersinar. Membuat matanya tak pernah bisa berpaling.


Bidadari itu berputar bak sedang menari-nari. Pakaiannya mengambang dan rambutnya beterbangan, senyumnya sangat indah dan bisa menghancurkan dunia.


Namun-tiba kakinya tersandung batu, dia tersungkur ke depan. Hal itu membuat Xuan Chen terkejut. Dia segera melompat dan menghampirinya secepat kilat. Meraih pinggangnya dan membawanya terbang berputar-putar.


Yi Changyin menganggap ini sangat menyenangkan. Jadi ia tertawa senang. Xuan Chen yang berada di depannya merasa terpesona.


Saat sampai di atas tanah. Xuan Chen segera mencubit hidung Yi Changyin dengan gemas. "Lain kali hati-hati."


Yi Changyin terkekeh pelan. "Terima kasih, Xuan Chen." Tanpa di duga sebelumnya, dia mendaratkan ciuman di bibirnya.


Pria itu tertegun, sekaligus senang. Sampai-sampai mendorong Yi Changyin hingga menabrak tembok. Gadis itu tersudutkan.


"Apa yang kita lakukan di ranjang siang tadi tak cukup untuk membuat anak kedua." Katanya dengan nada yang menggoda. Matanya memberi kode bahwa ia ingin melakukan sesuatu lagi.


Yi Changyin mencibir dan memukul dadanya dengan keras. "Ya, kau saja yang melahirkan!" Gerutunya.


Pria itu terkekeh dan segera memeluknya dengan hangat. Di saat seperti itu, Yi Changyin dapat melihat ke arah langit. Bulan sudah hampir berada di puncak kepala, tengah malam akan tiba dan racun itu akan segera pecah.


"Xuan Chen, aku mengantuk." Ujar Yi Changyin sambil mengembunkan energi spiritual di tangannya. Energi spiritual itu yang tak lain dan tak bukan adalah obat tidur. Ia oleskan pada bibirnya, untuk Xuan Chen tentunya.


"Baiklah." Tiba-tiba Xuan Chen membopongnya pergi menuju dalam ruangan. Meletakkannya di kasur dengan hati-hati. Dia ikut berbaring dan menyelimuti keduanya.


Wajah mereka saling berhadapan dalam jarak yang dekat. Yi Changyin segera mempertemukan kembali bibirnya, sebenarnya memberikan obat tidur. Agar pria itu tidak terbangun saat racun Yi Changyin kambuh. Pria itu hanya tersenyum tak tahu apa-apa.


Setelah melepaskannya kembali dia berkata, " sekali lagi... terima kasih, Xuan Chen."


"Tidak perlu berterima kasih." Setelah mengatakan hal itu, ia merasa mengantuk berat. Menguap dan memeluk Yi Changyin seperti guling, menenggelamkan wajah gadis itu didadanya. Kemudian tertidur lelap tanpa gangguan.


Yi Changyin masih membuka matanya saat itu. Dia bergumam, "maaf..."


.......


.......

__ADS_1


.......


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2