
"Xuan Chen?" Panggil Yi Changyin heran. Namun sedetik kemudian dia menyadari kenapa pria itu berwajah gelap. Helaan nafas keluar dari mulutnya. "Setidaknya itu berguna."
"Kita bisa menggunakan elemen cahaya sendiri bukan?" Xuan Chen masih cemberut.
Yi Changyin menghela nafas lagi dan lagi. Kemudian menyentuh pundak suaminya, "apa yang membuatmu cemburu? Hanya karena batu itu? Apakah itu mencerminkan Yu Qinghan?"
Xuan Chen masih terdiam. Ekspresinya tidak terbaca.
"A Chen." Bujuknya. Namun Xuan Chen masih terdiam. Yi Changyin menarik nafas lagi. Dia menyerah dan memilih untuk membaringkan dirinya di samping Sifeng dan Sijiu yang kini tengah tertidur.
Merasakan Yi Changyin yang tak bersuara lagi, Xuan Chen menoleh. Melihat istrinya yang berbaring dan memejamkan mata.
Apakah dia begitu egois? Sudahlah, sekarang hatinya merasa bersalah. Tapi seperti tak berperasaan, Xuan Chen menarik kembali Yi Changyin menjadi terbangun, meletakkan tubuh kecilnya di dalam pelukan dengan nyaman.
"Baiklah, Yin'er boleh menggunakannya." Katanya sambil mencubit hidung Yi Changyin.
"Terima kasih." Yi Changyin balas memeluknya.
"Oh ya, aku memiliki sesuatu yang mungkin bisa membantu." Tiba-tiba Xuan Chen merasa bersemangat.
"Apa itu?" Yi Changyin tidak merasa penasaran, tapi sepertinya bantuan Xuan Chen akan baik.
Pria itu mengembunkan energi spiritual aneh di tangannya. Saat aura menguar, Yi Changyin menyadari sesuatu dan terbelalak.
"Itu..."
Belum Yi Changyin melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba saja panah hitam yang penuh dengan aura iblis melayang-layang di atas telapak tangan Xuan Chen.
"Panah penghancur jiwa?" Gumam Yi Changyin setengah terbengong.
"Dengan ini dan danau penghancur jiwa..." Xuan Chen tiba-tiba memiliki senyuman jahat. "Wanita sialan itu akan mati tanpa bisa bereinkarnasi atau dibangkitkan lagi."
Yi Changyin tersenyum dan menyetujui hal itu. Dia merasa, rencana ini sungguh sempurna. Ditambah satu rencana lain yang tidak boleh Xuan Chen ketahui.
"Singkirkan panah itu, aku akan menunjukkan sesuatu padamu." Ujar Yi Changyin.
Xuan Chen segera menyimpan panah itu baik-baik di ruang dimensi spiritual dan menatap Yi Changyin dengan tidak sabar. "Apa itu?"
Kemudian Yi Changyin menunjukan telapak tangannya. Bunga berwarna ungu muda muncul di sana. Dengan energi spiritual yang dialirkan, bunga itu mekar.
Tampak eliksir berwarna putih keperakan muncul di sana. Ada aura tak biasa di dalamnya, namun Xuan Chen tak dapat mengenali aura apa itu.
"Ambil itu dan makanlah." Ujar Yi Changyin.
Tanpa ragu dan berfikir apa itu, Xuan Chen segera menelannya. Yi Changyin hanya menghela nafas. Jika Yi Changyin memberinya racun akankah seperti ini?
Setelah beberapa lama tak ada reaksi apapun. Tapi tiba-tiba, cahaya putih keluar dari tubuhnya menembus pakaiannya yang berwarna hitam.
__ADS_1
Xuan Chen mengenyitkan dahinya, dia merasa sesuatu telah ditarik keluar dari tubuhnya. Tiba-tiba saja rasa sakit datang, Xuan Chen berteriak kecil, aura iblis Wu Yun mulai keluar.
Yi Changyin segera memasang gelembung air darurat di sekitarnya agar tidak bocor dan memakan korban lagi. Xuan Chen memegangi dadanya yang sakit, berdirinya semakin goyah.
Tiba-tiba saja aura iblis Wu Yun meledak di dalam gelembung air. Membuat aura iblis dan gelembung air saling bertabrakan dan Yi Changyin memuntahkan seteguk darah. Begitupun dengan Xuan Chen.
Namun sejurus kemudian dia terkejut dengan perubahan pada dirinya yang tiba-tiba. Tertegun, pakaian hitam sudah diganti secara tiba-tiba menjadi putih tanpa noda. Aura iblis tak terasa lagi berada di dalam tubuhnya.
Xuan Chen melirik Yi Changyin dengan ketidak percayaan di wajahnya. "Yin'er?" Gumamnya.
Yi Changyin tersenyum samar. "Keempat ketua alam peri menggunakan banyak artefak langka alam peri untuk membuat ini. Dengan sedikit sentuhan energi spiritual suciku, semuanya beres. Kau tidak perlu khawatir, mulai sekarang kau bebas." Jelas Yi Changyin. Yang jelas-jelas sedikit berbohong. Karena sebenarnya, benda itu adalah sepenuhnya inti roh Yi Changyin.
Tiba-tiba saja Xuan Chen datang menubruknya, bahkan sampai hampir terbaring. Pria itu memeluk tubuhnya dengan erat seperti tak ingin kehilangan harta langka.
Pria itu mungkin bahagia hingga mengucapkan kalimat 'terima kasih' berkali-kali sambil menciuminya. Kini tidak ada aura iblis Wu Yun lagi, semuanya musnah tak bersisa walaupun itu sebesar debu. Alam peri telah terbebas dari bencana yang satu ini.
.......
.......
.......
Beberapa hari kemudian, Yi Changyin dan Xuan Chen memutuskan untuk pergi ke alam langit dan alam fana. Berkunjung pada ayah Yi Wang dan kaisar Xuan Zhen membawa Sifeng dan Sijiu.
Mereka berdua meninggalkan semua pekerjaan dan rencana perang di istana. Intinya, saat ini dua orang itu hanya ingin bersantai dan menikmati waktu sebelum perang. Semua urusan keempat ketua alam peri dan Yue Xingfei telah mengurusnya.
Pertama-tama mereka mengunjungi klan rubah, rencana akan tinggal selama tiga hari. Yi Wang dan Qin Ruyi menyambut mereka dengan gembira. Bahkan cepat-cepat merampas Sifeng dan Sijiu, langsung membawanya ke dalam.
Di dalam, seluruh anggota keluarga Yi berkumpul. Bahkan sampai paman dan tetua lainnya hanya demi melihat bayi kembar yang imut.
Kadang-kadang Xuan Sijiu sering menunjukkan sembilan ekor rubah mungilnya yang berwarna putih bersih. Membuat kebanggaan tersendiri bagi Yi Wang sebagai kakeknya. Dan orang-orang disana amat memujinya.
Xuan Sijiu mungkin masih bayi merah. Tapi entah kekuatan dari mana yang membuat bayi kecil itu mampu menarik perhatian orang-orang dengan sembilan ekor Rubahnya.
Selain itu mereka mengobrol hangat, menukar banyak cerita harmonis dan humoris. Hingga Yi Changyin sadar bahwa ada satu orang yang kurang di ruangan ini.
"Ayah, dimana kakak Xuemei?" Tanyanya yang membuat ruangan hening seketika. Xuan Chen merasa tidak peduli dengan kakak iparnya dan segera menyesap teh hangat yang mengepul.
Yi Wang terkekeh pelan. "Dia menjadi manusia untuk sementara demi menjadi istri Xuan Yao."
Mendengar hal itu Xuan Chen segera menyemburkan teh dari mulutnya. Tunggu, Apakah dia tidak salah dengar?! Akankah Yi Xuemei menjadi Permaisuri kekaisaran Xuan? Kalau begitu, dia harus memanggil Yi Xuemei kakak ipar atau adik ipar? Bahkan Yi Changyin pun sedikit terbengong mendengar hal ini.
"Bagaimana itu..." Yi Changyin tak tahu harus berkata apa lagi.
Yi Wang yang sedang menggendong Xuan Sifeng pun tidak keberatan untuk menjelaskan. Sungguh tak diduga bagi keduanya, Yi Xuemei bisa segigih itu untuk mengejar cintanya.
Dua minggu lalu, Yi Xuemei sengaja pergi berjalan-jalan di ibukota kekaisaran Xuan setelah menghadiri acara pengangkatan pangeran mahkota baru, Xuan Yao.
__ADS_1
Mendengar desas desus bahwa Xuan Yao akan dijodohkan dengan nona muda yang sakit-sakitan, dia menelan banyak toples cuka.
Dirumorkan nona dari pejabat besar itu sudah bertahun-tahun sakit dan tidak keluar rumah. Umurnya mungkin baru tujuh belas tahun, masih muda.
Jika nona muda itu berhasil melawan penyakitnya dan sembuh, sang ayah telah sepakat dengan kaisar Xuan Zhen untuk menjodohkan keduanya.
Yi Xuemei pun diam-diam pergi ke kediaman pejabat yang di maksud. Tak disangka, nona muda itu bernama sama dengannya, Xuemei. Hanya marga saja yang membedakan. Gadis itu memiliki marga Wu. Mendengar hal itu, Yi Xuemei semakin tidak senang.
Lebih mengejutkan lagi, dia bak melihat bayangan sendiri ketika menyaksikan seorang gadis muda yang terbaring lemah di atas kasur.
Wajahnya pucat bagaikan tak beradah. Sangat kurus dan lemah. Wajar saja, menurut hasil menguping, gadis yang berwajah sama dengannya itu telah sakit-sakitan sejak usia 10 tahun.
Meskipun begitu, nona muda itu adalah satu-satunya anak perempuan dan menjadi kesayangan keluarga Wu. Bahkan telah memiliki janji pernikahan dengan kekaisaran Xuan. Karena Xuan Ye dan Xuan Hua sudah pergi, Xuan Chen yang memiliki jalannya sendiri, kini tinggal Xuan Yao yang tersisa.
Saat sedang mengamatinya, tiba-tiba Dewi takdir Yuan Ji datang di sampingnya. Dan berkata kalau gadis yang bernama Wu Xuemei itu akan meninggal esok, tercatat dalam buku kematian. Tentu saja Yi Xuemei terkejut mendengar hal itu.
Tapi, dia juga sedikit merasa kasihan dengannya. Hingga Dewi Yuan Ji menawarkan untuk menggantikan hidupnya dan menikahi Xuan Yao.
Awal-awal Yi Xuemei merasa telah mencuri kehidupan orang lain, tapi berkali-kali Dewi Yuan Ji keyakinan kalau hidup wanita itu akan berakhir besok. Semuanya tidak apa-apa, Yi Xuemei hanya meminjam tubuh gadis itu dan tidak melawan hukum langit selama Dewi Yuan Ji melindunginya.
Tak menunggu lama lagi, Yi Xuemei segera kembali ke alam langit dan meminta izin pada Yi Wang juga Feng Chao. Mereka berdua tidak berdaya saat menyadari kalau anaknya sedang memaksa, bukan meminta izin. Mau tak mau mereka mengizinkannya.
"Semalaman dia mempelajari seluruh tentang keluarga Wu. Sebelum di pagi harinya dia berhasil menjadi manusia dengan meminjam tubuh." Tutur Yi Wang mengakhiri kalimatnya.
Yi Changyin hanya tersenyum, ternyata kisah cinta Yi Xuemei cukup menarik. Gadis itu bahkan berani turun menjadi manusia, melemahkan kekuatannya dan meminjam tubuh dari jiwa yang sudah meninggal.
Walaupun awalnya gadis itu sedikit enggan karena takut menentang hukum langit. Tapi ada Dewi Yuan Ji yang mengizinkan, Dewi pengurus alam semesta, untuk apa masih ragu-ragu?
Yi Changyin dan Xuan Chen menginap tepat selama tiga hari. Selama tiga hari ini, Xuan Sifeng dan Xuan Sijiu selalu jauh dari jangkauannya. Orang-orang dari klan rubah itu sangat senang menimang bayi!
Ya, terlebih kedua bayi itu istimewa. Satu peri Phoenix, satu peri Rubah ekor sembilan. Memiliki empat elemen semenjak lahir. Dan memiliki empat darah keturunan sekaligus. Yaitu peri bulan, peri Phoenix, rubah ekor sembilan alam langit dan manusia. Di tambah peri air dan bunga dari Shui Jifeng yang bisa saja mendarah daging ditubuh sikembar.
Di hari terakhir, mereka melepas Sifeng dan Sijiu dengan enggan. Terutama kakek nenek mereka, seperti akan ditinggal mati saja. Tapi ibu ayah si kembar harus berkunjung ke satu tempat lagi.
Mereka pergi menggunakan punggung Feng'er. Melesat dari alam langit, menembus perbatasan dan menuju alam fana. Melintasi laut yang biru.
Yi Changyin dan Xuan Chen menikmati keindahan itu sambil bermesraan. Sifeng dan Sijiu berada di ruang dimensi spiritual bersama Heilong, Xiaoxuan, Xiaobai, singa api dan kalajengking es.
(Btw, makhluk² di ruang dimensi spiritual jarang author munculkan. Author harap kalian tidak melupakan mereka)
Setelah mereka sampai di istana, keluarga kekaisaran menyambutnya antusias. Mereka sudah mengetahui kedatangan pangeran ketujuh beserta istri dan anak-anaknya. Karena sehari lalu, Xuan Chen mengirim surat dan akan menginap selama tiga hari.
Mereka juga bertemu dengan Yi Xuemei yang telah menjadi putri mahkota, suasananya sedikit canggung. Mereka tidak bisa bertingkah seperti saudara. Di ruangan ini, selain Yi Changyin dan Xuan Chen, hanya Xuan Yao dan Xuan Rong yang mengetahuinya.
.......
.......
__ADS_1
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗