
Yi Changyin beserta rombongannya akhirnya menuruni gunung Tianjin. Mereka berisitirahat sejenak di hutan kaki gunung untuk melepas penat. Sekaligus berlindung dari gelapnya malam yang hendak menyapa.
Hanya dua tenda yang didirikan di sana. Karena Yi Changyin bisa saja beristirahat di ruang dimensi spiritual. Buktinya Xuan Chen tidak ada di dekat perapian saat itu.
"Ikannya segera matang, sebaiknya kau panggilkan Xuan Chen." Ujar Yi Xuemei sambil membenahi kayu-kayu yang terbakar di bawah ikan panggang.
Sementara Shen Lan sibuk memilah sayuran yang baru saja dipanen di ruang dimensi spiritual.
"Baik." Yi Changyin beranjak bangun, kemudian menghilang di udara kosong dan memasuki ruang dimensi spiritual. Lagi-lagi di dalam sana terasa sepi. Karena penghuni ruang dimensi sibuk berkultivasi.
Hanya terlihat seseorang yang sedang tertidur di atas ayunan kayu penuh bunga. Dengan gulungan bambu yang menelungkup keseluruhan wajahnya.
Sepertinya dia tertidur ketika sedang membaca gulungan bambu mengkilap itu.
Dilihat dari pakaiannya, Yi Changyin langsung bisa mengenali siapa dia. Hingga tak sungkan-sungkan lagi gadis itu mengambil gulungan yang berada di atas wajahnya. Lalu meletakkannya di ujung ayunan, dekat kaki Xuan Chen.
Yi Changyin terduduk di sisi ayunan kayu sambil terus menatap pria yang sedang tertidur itu. Menatapnya begitu terpana sampai-sampai tak mengedipkan mata.
(Sumber foto : Beranda Facebook. Ketika aktor Liu Xueyi syuting drama Qing Luo sebagai Ye Xiudu)
"Mengapa dia begitu tampan?" Gumamnya tanpa sadar.
Sejurus kemudian wajahnya tiba-tiba memerah. Namun tanpa tuntunan niat ia beranjak maju dan mencium bibir Xuan Chen yang terlihat manis itu. Kemudian melepaskannya kembali tanpa rasa nafsu dan menatap wajah tampan yang sedang tertidur itu.
Xuan Chen hanya menggeliat sedikit, memposisikan tubuh, kemudian kembali terlelap. Apakah dia ini sungguh kelelahan?
Karena pria itu tak terbangun, Yi Changyin berinisiatif untuk ikut tertidur. Dan tubuh Xuan Chen sebagai alasnya. Mendengarkan detak jantung dan merasakan kembang kempis dada yang tenang.
Membuat dia sendiri terasa mengantuk. Namun masih saja memikirkan kata-kata Aoyi Jinqi tadi pagi.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau ucapkan, Ratu."
Saat itu Yi Changyin dapat membaca kalau raut wajah Aoyi Jinqi tidak menunjukkan kebohongan. Sedalam apapun ia menggali, namun celah kebohongan sama sekali tidak terlihat.
Tapi mana mungkin? Saat itu hantu wanita di tepi hutan Diaoshi mengatakan bahwa,
"Seperti aura yang kurasakan, sepertinya kabut beracun itu berasal dari alam iblis. Auranya sangat kuat, tidak mungkin aku salah mengenali."
Menepis bayangan Aoyi Jinqi, pikirannya hanya bisa tertuju pada satu lagi sosok terkuat di alam iblis. Yaitu Zhang Bixuan. Namun, pria itu tak tahu menahu tentang dirinya yang mengurung Wei Qiao.
Lagipula untuk apa Zhang Bixuan menyelamatkan Wei Qiao? Pria itu tidak akan ambil rugi. Karena menyelamatkan Wei Qiao, akan tidak ada gunanya jika menurut pemikiran Zhang Bixuan.
Wajahnya yang tidak cantik, kumuh dan tidak punya kekuatan mendominasi. Manamungkin pria angkuh itu menginginkannya.
Jika ada selain Zhang Bixuan, maka Dewa kegelapan. Tapi wanita yang pernah dijuluki terkuat itu sudah dibunuh oleh dirinya dan Wu Yun karena suatu tindak kejahatan puluhan ribu tahun lalu.
Yi Changyin akhirnya menyerah memikirkan hal itu. Lebih baik menyerahkan segalanya pada keinginan nafsu. Yaitu tertidur di atas tubuh pria kesayangannya.
.......
.......
.......
Xuan Chen perlahan membuka matanya yang masih terasa berat. Ia terbangun karena merasa tidak bisa bergerak oleh sesuatu yang besar telah menindih badannya.
__ADS_1
Benar saja, kepala seseorang berambut panjang yang pertama kali dia lihat saat menoleh ke bawah. Ubun-ubunnya sangat dekat dengan hidung hingga Xuan Chen dapat mencium bau harum rambut hitam itu.
Dia mengenalnya sangat jelas, wanita yang tidur di atasnya adalah Yi Changyin. Hingga ia tak ragu lagi untuk mencium puncak kepala Yi Changyin dalam-dalam dan mengelus-elus rambutnya perlahan.
Setelah diam beberapa saat, kemudian tangannya bergerak meraih tangan Yi Changyin. Memeriksa denyut nadinya dengan fokus dan penuh kehati-hatian.
Ia telah mempelajari ilmu medis tambahan dari gulungan yang tadi dia baca. Namun sekarang ia tak tahu dimana gulungan itu berada setelah tiba-tiba terasa mengantuk dan tertidur.
Namun betapa terkejutnya ia saat mendapatkan hasil dari kepokusan dalam memeriksa. Bukan karena luka besar yang dimiliki Yi Changyin, karena entah kenapa luka itu tiba-tiba menghilang begitu saja.
Ini karena denyut nadi yang begitu mengejutkan. Membuat matanya langsung menangkap gulungan bambu yang berada di ujung kakinya. Kemudian ia berusaha untuk menarik buku itu dengan energi spiritual.
Bagaimanapun dia tak mau beranjak bangun karena hanya akan membangunkan tuan Ratu yang sedang tertidur.
Xuan Chen menariknya perlahan saat melewati tubuh Yi Changyin. Dengan hati yang waspada akan jatuhnya gulungan itu ke atas tubuh Yi Changyin dan membangunkannya. Bahkan sampai membuat pelipisnya berkeringat.
Percayalah, teknik seperti akan lebih mudah dikuasai oleh kultivator yang berada di tingkat Dewa atau Dewi.
Keringat yang dia keluarkan tidaklah sia-sia. Xuan Chen berhasil menggenggam gulungan itu dan menghela nafas lega. Sebelum akhirnya ia membaca poin penting yang berhubungan dengan keterkejutannya tadi.
Wajahnya bertambah pias. Dengan tangan yang berusaha meraih kembali tangan Yi Changyin. Kemudian memeriksa denyut nadinya. Dengan perasaan tenang yang dipaksakan.
kemudian ia bandingkan apa yang dia rasakan dengan apa yang dia baca. Namun dirinya terlihat semakin cemas, kentara apa yang terbaca dan apa yang dirasakan itu sama.
Namun berikutnya ia meletakkan gulungan itu di atas kepalanya. Berusaha melupakan apa yang tadi dia lihat. Menenangkan diri dengan memejamkan mata sambil mengelus lembut rambut Yi Changyin.
"Kau sudah bangun?"
Tiba-tiba suara familiar yang serak mampir di telinganya. Membuat ia kembali membuka mata dan langsung berpapasan dengan Yi Changyin yang juga sedang menatapnya.
"Tidak.. aku sudah tidak mengantuk." Ujar Yi Changyin sambil mendudukan dirinya di bibir ayunan. Yang kemudian Xuan Chen mengikutinya, duduk berdampingan.
Keadaan menjadi hening selama sesaat.
Sebelum akhirnya Yi Changyin meraih tangan kanan Xuan Chen. Membuka kepalan jarinya, memperlihatkan telapak tangan yang keriput dan sedikit menghitam karena bekas luka bakar.
"Apa masih sakit?" Tanya Yi Changyin sambil menatap wajah Xuan Chen.
Pria itu menggeleng. "Tidak. Semua itu berkat air spiritual di gua."
Yi Changyin hanya mengangguk-angguk. Kemudian menggenggam erat telapak tangannya dan mengeluarkan energi spiritual berwarna biru muda di sela-sela jarinya.
Menimbulkan rasa dingin sejuk pada kulit Xuan Chen yang tersentuh oleh tangannya itu.
Setelah dilepaskan, permukaan kulit yang keriput karena luka itu tertutupi oleh daun aneh yang berwarna biru muda. Daun itu tampak menempel kuat di atas permukaan kulitnya.
"Lepaskan setelah rasa dinginnya menghilang. Maka bekas luka itu akan menghilang sepenuhnya." Yi Changyin memperjelas.
"Daun apa ini?" Tanya Xuan Chen merasa heran saat menyentuh daunnya. Karena kulitnya merasa seperti bersatu dengan daun itu.
"Daun Qin yang tumbuh di dasar telaga biru. Selain menyembuhkan bekas luka, daun ini juga akan membantu menyehatkan tubuhmu secara berkala. Menyembuhkan luka dalam yang tersisa, juga memberikan energi spiritual untuk menambah isi dantian." Jelas Yi Changyin secara merinci.
"Apakah tidak apa-apa aku memakai benda berharga ini? Saat kecil aku pernah melihat ayahku menerima daun Qin yang telah dikeringkan, berkhasiat untuk menyembuhkan luka. Dan harganya sama saja dengan membeli satu kediaman yang luas dan mewah. Pasti sangat mahal kan?" Ujar Xuan Chen panjang lebar. Dia merasa tidak enak saat mendapatkan benda berharga ini.
"Di alam langit saja daun ini hanya bisa dihitung oleh jari. Apalagi di alam fana. Maka dari itu harganya terbilang mahal. Tapi di alam peri, ini tumbuh di ribuan tangkai yang memuat ratusan daun."
Dan kata-kata Yi Changyin membuat Xuan Chen menjatuhkan rahangnya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong tentang ini. Akan bagus juga jika memberikan beberapa untuk kaisar Xuan Zhen dan selir Yang." Ujar Yi Changyin sambil tersenyum manis. "Aku akan memanggil Shui Ning untuk ini." Tambahnya.
(Note : Masih ingat kan selir Yang? Selir Yang adalah ibu kandung Xuan Chen, nama aslinya Yang Qiujiu. Dia hanya dimunculkan di bab² awal)
"Tidak per一."
"Hei! Sebagai Ratu alam peri aku harus beramah tamah dengan penguasa lain, bukan?!" Potong Yi Changyin dengan ketus. "Lagipula mereka adalah.." Tiba-tiba Yi Changyin mengecilkan suaranya dan melanjutkan, "mertuaku.."
Xuan Chen hanya terkekeh mendengarnya. "Baiklah, terserah padamu."
Kemudian Xuan Chen melanjutkan, "apakah kau akan mengakui identitas barumu pada orang-orang di istana?"
"Tidak, aku hanya akan mengakui hubungan kita." Jawabnya terlihat serius. Sambil tersenyum dan menatap ke arahnya.
Xuan Chen hanya tertegun mendengarnya. Pipinya merah merona. Dan sejurus kemudian ia tersenyum lalu mengecup kening Yi Changyin sekilas.
"Baiklah.."
"Oh, ya. Satu lagi." Ujar Yi Changyin tiba-tiba.
"Apa itu?"
Perlahan Yi Changyin menunjuk pada dada kiri Xuan Chen. Dan pria itu langsung mengerti apa yang di maksud Yi Changyin.
"Tidak apa. Lukanya sudah sembuh.."
Namun kata-kata lembut itu malah mendapatkan tatapan membunuh dari Yi Changyin. Membuat ia terdiam sambil menelan salivanya. Lebih parah lagi, gadis itu membuka paksa pakaiannya hingga memperlihatkan permukaan dada kiri yang terluka oleh pedang.
Seketika mata Yi Changyin melembut saat melihatnya. Gadis itu menelan salivanya berkali-kali karena teringat kejadian dimana seseorang telah menggunakan tangannya untuk membunuh Xuan Chen.
Dengan perlahan, Yi Changyin menyentuh dada dengan luka yang sudah kering itu. Sama persis ketika Yi Changyin melakukannya pada tangan kanan Xuan Chen. Dan tiba-tiba daun Qin itu sudah berada di sana.
Setelah itu Yi Changyin kembali membenahkan pakaian Xuan Chen secara perlahan.
"Apa masih sakit?" Yi Changyin mengulangi pertanyaannya, sama seperti ketika melihat telapak tangan kanan Xuan Chen.
Xuan Chen hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Maafkan aku.." Yi Changyin berkata dengan lirih.
"Bukan salahmu." Jawab Xuan Chen sambil meletakkan kepala Yi Changyin di dalam dekapannya.
Salah satu tangan Xuan Chen yang bertautan untuk mendekapnya, tiba-tiba turun ke bawah. Pria itu tiba-tiba saja mengusap-usap perut Yi Changyin.
Membuat gadis itu berkerut heran dan menatapnya. "Mengapa kau mengelus-elus perutku?"
Xuan Chen hanya tersenyum lalu menyentuh ujung hidungnya sekilas. "Aku hanya berharap bayi kecil bisa tumbuh disini." Tangannya menunjuk pada perut Yi Changyin.
Membuat Yi Changyin mencibir. Kemudian berkata tanpa jeda, "jika sekarang aku mengandung anakmu, maka kita tidak jadi pergi ke daratan timur. Aku akan membawamu ke alam peri dan menjadikanmu pendamping rahasia. Kau tidak boleh keluar atau menampakkan dirimu di depan orang lain. Hanya aku yang boleh menemuimu. Dan tugasmu adalah melayaniku. Bersedia?"
.......
.......
.......
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉
__ADS_1