
Wen Yuexin melihat penjaga itu masuk, dia menyeringai. Setengah kekuatannya telah kembali, dia tidak mungkin bodoh untuk tidak merasakan keberadaan gigi paus terbang.
Sekali merasakan, pikirannya telah menduga bahwa Yi Changyin telah mewanti-wanti penjaga gerbang neraka untuk menusukkan gigi itu jika aura Dewa kegelapan mulai terasa.
Penjaga neraka itu mendengus saat melihat Wen Yuexin menatapnya. Dia berfikir bahwa kekuatannya sama sekali belum kembali. Saat dia hendak menusukkan gigi itu, tiba-tiba tangannya kaku. Dia panik dan berusaha menggerakkan, namun itu gagal.
Wen Yuexin mendengus melihat burung penjaga bodoh itu. "Suruh siapa menatap mataku." Katanya dengan nada mengejek.
Namun sukses membuat pria itu menggigil. Jadi dari tatapan itu ada sebuah mantra?! Sial dia lengah! Lebih mengejutkan lagi, tatapan bukan hanya membuat tangannya yang memegang gigi kaku, tapi kesadarannya juga perlahan tertarik.
Perlahan namun kuat, jiwanya seperti ditarik oleh sesuatu. Dia tidak bisa memberontak apalagi melawan. Walaupun burung penjaga ini adalah sosok kuat, tapi menghadapi Dewa kegelapan itu tidak ada apa-apanya. Tak lama kemudian, dia jatuh pingsan.
Wen Yuexin semakin mengembangkan senyumannya. Awan yang seperti akan mendatangkan badai itu masih menyeramkan, siap untuk menurunkan petir yang menakutkan. Api masih menjalar, menciptakan hawa yang menyengat.
"Bai Suyue, tunggu aku." Gumam Wen Yuexin dengan senyuman mengerikan. Dia segera menghilang dari sana, tepat ketika petir menyambar. Jadi petir itu hanya menyambar tanah kosong. Di mana-mana, tidak ada yang tahu tahanan yang sedang menjalani hukuman itu pergi.
Tujuh bulan kemudian...
Yi Changyin tampak bersandar di atas kursi panjang sambil memegangi perut buncitnya. Kandungannya sudah mencapai delapan bulan dan ukurannya terlihat lebih besar dari ukuran saat mengandung Jinmi.
Tabib istana bilang, kemungkinan dia akan melahirkan anak kembar. Memikirkan hal itu membuat ia tersenyum sendiri. Bayi-bayi di dalamnya sangat aktif dan sering menendang-nendang.
Ya walaupun keberadaan bayi ini sedikit membatasi aktivitasnya sebagai seorang Ratu, tapi baginya ini tidak masalah.
Bisa saja Yi Changyin menciptakan teratai, meletakan jabang bayinya di sana. Dia tidak perlu repot-repot untuk membawa perut besar, hanya tinggal menyalurkan energi tubuh dan spiritual.
Tapi merawatnya sendiri adalah pilihannya. Ia selalu bilang itu adalah bukti kasih sayangnya yang dalam. Tidak peduli seberapa berat, dia tetap akan membuat bayinya merasa sehat di dalam perut.
Saat ini ia berada di kamar Xuan Chen. Melihat pria itu yang masih tidur pulas saat matahari hendak naik, dia hanya bisa menghela nafas.
Hari-hari dia jalani seperti biasa, tenang seperti yang dia inginkan. Walaupun saat tengah malam harus menderita. Dan setiap racun muncul, dia harus mati-matian untuk melindungi kandungannya.
Lelah? Tentu saja. Tapi hatinya selalu menyemangati diri sendiri. Setelah melahirkan, dia harus mencari cara untuk membuat jiwa Wu Yun kembali suci. Lalu menghilangkan racun ganas di tubuhnya.
Tak lama kemudian suara lenguhan kasar keluar dari mulut Xuan Chen yang masih tertidur. Mungkin anak-anak akan mengira itu adalah suara monster.
Ketika luka dalamnya belum sembuh, Yi Changyin yang merawatnya dengan baik. Pria itu menjadi pemalas, lebih sering bermanja-manja dan ingin diperhatikan. Setelah sembuh, itu semakin menjadi-jadi.
Bruk!!
Ketika melamun memikirkan semua itu, Yi Changyin terperanjat kaget saat mendengar suara seseorang jatuh. Melihat ke arah kasur, Xuan Chen sudah berada di atas lantai dengan posisi menelungkup.
Pria itu jatuh dengan tragis tepat saat bangun tidur, Yi Changyin hanya tertawa melihat hal itu.
Xuan Chen terbangun dengan wajah yang linglung. Melihat Yi Changyin yang sedang duduk di kursi, dia berjalan ke arahnya dengan langkah yang sempoyongan.
Lutut Yi Changyin merasa lemas ketika pria itu berkali-kali akan terjatuh. Ia tak bisa menolong dengan perut besarnya jika itu terjadi.
__ADS_1
Yi Changyin bisa tenang ketika Xuan Chen sampai di depannya dengan selamat. Pria itu langsung melemparkan tubuhnya di atas kasur, memeluk tubuh Yi Changyin dari samping, satu tangannya mengusap-usap perut. Matanya masih terpejam dan kepalanya tersandar nyaman di bahu Yi Changyin.
"Yin'er, aku lapar.." Katanya dengan suara yang serak khas orang bangun tidur. "Aku ingin sarapan."
"Tapi ini sudah waktu makan siang."
Mendengar jawaban itu sukses membuat kesadaran Xuan Chen pulih sepenuhnya. Dia menatap Yi Changyin dengan tatapan yang percaya. Gadis itu tersenyum, sialnya dia sedikit tersipu.
"Apakah kau menungguku sampai siang?" Tanyanya. Yang mendapatkan anggukan dari Yi Changyin.
"Kau tidak ke istana utama?"
Yi Changyin menghela nafas. Tentu saja dia menunggunya karena takut satu hal. Terakhir kali Yi Changyin pergi ke istana utama tanpa menunggunya bangun. Dan Xuan Chen nekat keluar istana untuk menemuinya. Untung saja ada pil dari pangeran Fulei.
Mengingat hal itu Xuan Chen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku hanya ingin melihat wajahmu setiap hari." Katanya dengan polos.
"Kau bertingkah seakan-akan aku akan pergi dalam waktu dekat." Ujarnya sambil berdiri. Pria itu ikut berdiri dan memegangi tubuhnya.
Yi Changyin mengerutkan kening, "aku bisa berjalan sendiri!" Katanya dengan kesal. Pria itu terlalu memperhatikannya.
Tapi Xuan Chen tetap kukuh ingin membantunya berjalan. Yi Changyin hanya mengiyakan pasrah, membiarkan pria itu sesuka hati melayaninya. Selama pria itu senang, tidak masalah.
Setelah makan siang, Yi Changyin bersiap-siap untuk pergi menuju istana utama. Saat mencapai gerbang sekaligus perbatasan gelembung air, Xuan Chen mencegahnya. Dia memiliki ekspresi wajah yang buruk.
"Ada masalah?" Tanyanya.
"Bisakah kau mengambil cuti dan tinggal di sini saja?" Pinta Xuan Chen dengan wajah yang memelas.
"Aku memiliki firasat buruk!" Potong Xuan Chen tidak sabaran. Memang benar, hatinya merasakan suatu kecemasan untuk Yi Changyin.
Gadis itu tersenyum meyakinkan dan mengusap pipinya, "aku akan baik-baik saja. Xiao Fei (Yue Xingfei) selalu menemaniku."
"Bolehkan aku yang menemanimu?" Xuan Chen menawarkan, namun dengan cepat mendapatkan gelengan dari Yi Changyin.
"A Chen, bukannya aku ingin membuatmu seperti tahanan. Tapi, jika melepaskanmu begitu saja di udara bebas, khawatir..."
"Baiklah, aku mengerti." Sela Xuan Chen lembut sambil tersenyum, kemudian memeluknya dengan erat dalam waktu yang lama.
Setelah puas mendekapnya, Xuan Chen membiarkan Yi Changyin pergi, dengan berat hati. Keluar dari gelembung air, lalu disambut oleh pelayan yang telah menunggu di luar. Mereka memegangi tangan Yi Changyin untuk membatu berjalan.
Xuan Chen hanya melihat punggung itu yang menjauh dengan helaan nafas. Kemudian berbalik pergi menuju ruangannya, melakukan apapun untuk mengisi waktu yang kosong.
.......
.......
.......
__ADS_1
Yi Changyin dan Yue Xingfei sedang sibuk-sibuknya memeriksa gulungan. Saat itu Yi Changyin sedikit santai mengingat dirinya sedang mengandung. Yue Xingfei pun dengan senang hati membantu sekaligus belajar.
Ruang singgasana itu sungguh tenang. Sangat nyaman dan sejuk. Tirai kristal yang mengantung kadang saling bergesekan karena angin.
Namun tiba-tiba Yi Changyin merasakan energi tak biasa menerobos masuk ke alam peri. Dia mengerutkan kening. Rupanya Yue Xingfei pun sedikit merasakannya. Mereka saling melirik heran.
Setelah berfikir sesaat, Yi Changyin membelalakkan matanya. "Dewa kegelapan..."
Belum sempat Yue Xingfei terkejut, tiba-tiba saja tirai kristal itu terputus dari langit. Menghambur ke bawah dan sosok wanita berpakaian serba hitam terlihat oleh mereka.
Senyuman dari bibir berwarna hitam itu sangat jahat. Menatap Yi Changyin dan Yue Xingfei yang masih terkejut. Tirai kristal itu benar-benar hancur, tidak tersisa. Berserakan di lantai.
"Lama tidak bertemu, Ratu alam peri..." Katanya seraya menyapa peperangan. "Setelah keluar dari neraka, aku sibuk memulihkan diri dan tidak sabar untuk menemuimu."
Yue Xingfei langsung bangkit dari duduknya, menghunuskan pedang pada Wen Yuexin tanpa takut. Tatapan matanya tajam tak menunjukkan kegentaran sedikitpun. Walaupun Yi Changyin khawatir, tapi gadis kecil itu tak dapat dicegah.
Wen Yuexin mendengus, "bocah kecil beraninya ikut campur!"
Saat itu Yue Xingfei balas mendengus. "Jangan harap bisa menyentuh bibiku!" Katanya dengan berani, seperti jendral yang melindungi kaisar di medan perang. Dia tau bibinya tidak akan bisa bertarung saat hamil tua.
"Gadis ingusan, sebaiknya kau pergi saja dari sini, kau tidak akan berguna!" Ejek Wen Yuexin mengusirnya.
"Bocah ingusan?" Yue Xingfei mendengus. "Aku putri mahkota alam peri, penerus bibi, bukan bocah ingusan!" Katanya dengan bangga. Memang benar, kekuatan Yue Xingfei terbilang lebih tinggi dari penghuni alam langit lainnya.
Gadis itu sangat terlatih sejak kecil. Walaupun kadang kali rasa malas sering menyerangnya, tapi perkembangan belajar gadis itu sangat baik. Mungkin jika dikembangkan lebih giat lagi, dia akan menjadi penerus julukan sosok terkuat setelah Ratu Bai Suyue nanti.
Saat itu Wen Yuexin tertawa terbahak. Sepertinya melawan gadis ini tidak ada salahnya juga. Saat ini Bai Suyue terdiam tak berbicara apa-apa.
Namun dia bisa melihat perutnya yang membuncit, membuat wajahnya tiba-tiba menggelap. Gadis itu hamil lagi, anak dari Wu Yun! Bisa-bisanya itu terjadi walaupun dengan racun buatannya!
"Tak menyangka, Bai Suyue akan melahirkan penerus lagi. Sungguh tidak menyerah." Katanya dengan senyuman kecut.
Hati Yi Changyin sedikit tersentak mendengar hal itu, namun berusaha untuk tetap tenang. Di dalam lubuk hatinya yang dalam, ia takut kejadian yang menimpa Jinmi akan terulang kembali.
"Memangnya kenapa?" Yi Changyin berkata dengan sinis, berusaha menyembunyikan ketakutannya. "Kali kau tidak bisa mengambilnya seperti dahulu."
"Benar, aku ada untuk melindungi bibi!" Sahut Yue Xingfei dengan yakin.
Wen Yuexin kembali tertawa, keberanian mereka seperti hal kecil di matanya. Namun Yi Changyin bersungguh-sungguh. Kali ini dia akan melakukan apapun untuk melindungi anak dalam kandungannya. Tidak ingin kejadian yang dialami Jinmi terulang.
"Jika kau ingin melindungi bibimu, mari... Kita bertarung." Wen Yuexin menantang dengan halus, kilatan petarung mulai terlihat di mata Yue Xingfei. Namun Yi Changyin tampak khawatir.
"Baiklah!" Yue Xingfei tersenyum miring. "Kita bermain sedikit, kita buktikan kalau aku bukan bocah ingusan!" Katanya yang membuat senyuman Wen Yuexin semakin mengembang.
.......
.......
__ADS_1
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗