The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XXXVI - Rencana Memutar Balikan Akibat


__ADS_3

Sinar mentari putih kembali menyapa, menyinari hamparan bangunan dan pepohonan di puncak gunung Tianjin. Sinar silau menyeruak masuk ke dalam salah satu jendela asrama perempuan, menimpa wajah cantik yang penuh riasan tebal.


Wei Qiao.


Gadis itu mengerutkan keningnya, merasakan cahaya memaksa matanya untuk terbuka. Mau tak mau dia terbangun. Entah sudah berapa lama dia tidur setelah melakukan aksi bunuh diri di kolam teratai.


Sungguh nekat. Hanya demi membuat Yi Changyin dihukum membersihkan akademi?! Tidak, ini bukan hanya nekat. Tapi bodoh.


Seseorang menghampirinya dari luar, membawa wadah berisi air dan sebuah sapu tangan. Wei Qiao tahu siapa dia, Qi Xiangma. Ada kerut-kerut tidak senang di wajah Wei Qiao. Apalagi murid satu ini selalu saja mendekatinya. Dia merasa risih. Qi Xiangma tidak sederajat dengannya, itulah yang ada di pikiran Wei Qiao.


"Adik seperguruan, bagaimana keadaanmu?" Tanya Qi Xiangma dengan ramah.


"Aku baik-baik saja." Jawab Wei Qiao ketus.


"Apakah masih terasa sesak?" Tanya-nya lagi, seperti tabib yang sedang memeriksa pasiennya.


"Tidak."


"Baguslah.." Qi Xiangma meletakkan wadah berisi air itu di atas meja. "Kau sudah tidur selama dua hari." Tambahnya memberitahu.


Wei Qiao mendongkak terkejut. Ternyata.. selama ini? "Apakah Yi Changyin.."


"Adik seperguruan, dia adalah kakak seperguruanmu. Tidak sopan jika menyebut namanya secara langsung." Qi Xiangma memberi nasihat, Wei Qiao memutar bola matanya kesal.


"Soal dihukum, kakak seperguruan disuruh guru Lao untuk membersihkan seluruh akademi, kecuali kamar dan asrama laki-laki, dari jam pelajaran selesai sampai waktu tidur. Entah diperpanjang atau tidak, semua memutuskan kakak seperguruan akan menjalaninya selama satu minggu." Jelasnya yang membuat Wei Qiao berbinar.


Tidak sia-sia usahanya kali ini. Karena menurutnya, pekerjaan ini sungguh melelahkan. Biasanya murid-murid akan bergantian membersihkan akademi, dia sangat membenci itu. Dia tersenyum miring diam-diam. Tapi Qi Xiangma menyadarinya.


'Wei Qiao.. bagaimanapun kau harus menjadi bagian dari kami.' Pikir Qi Xiangma licik.


"Ah! Adik seperguruan.. silahkan cuci mukamu. Kelas sebentar lagi di mulai. Hari ini kau belum diizinkan untuk kembali belajar.."


Wei Qiao tersadar dari lamunannya, "baik.."


.......


.......


.......


Sore nya, Yi Changyin tentu saja masih melakukan hal sama seperti kemarin. Dengan sebuah harapan di hatinya. Bukan makanan lagi, dia berharap rencana kali ini berhasil. Memutar balikan akibatnya pada Wei Qiao. Aih! Dia sangat tidak sabar melihat ekspresi gadis manja itu.


Yang menemaninya kali ini adalah Heilong. Binatang ilahi itu tidak banyak membantu, malah bermalas-malasan di pergelangan tangan Yi Changyin. Menjengkelkan, tapi Yi Changyin tidak mempermasalahkannya. Karena saat ini dia masih membutuhkan bantuannya.


Kini gilirannya untuk mengelap lantai dan dinding paviliun. Dengan sewadah air bersih dan lap yang sedikit kotor karena mungkin sering di pakai untuk membersihkan lantai, dinding atau tiang setiap hari.


Saat sedang fokus, tiba-tiba air menyembur wajahnya dari samping. Membuat dia basah kuyup dari atas hingga bawah. Wei Qiao tertawa puas melihatnya, sambil menyedekapkan kedua tangannya.


Yi Changyin hanya tersenyum sinis, dia tidak memperdulikan Wei Qiao. Walaupun air yang disiram ke wajahnya adalah air kotor hasil dia membersihkan akademi.


Wei Qiao menyentuh dinding di hadapannya dengan jari telunjuk. Lalu menatapnya dengan tatapan yang menyelidik. Dia mendengus, "ternyata.. pembantu baru sekolahku begitu..."


Ucapannya terhenti saat melihat pergerakan di hadapannya. Dia terkejut melihat sinar keemasan yang menyelubungi seluruh tubuh Yi Changyin. Dan seketika penampilannya tidak kuyup, seperti semula sebelum Wei Qiao beraksi.


"Bagaimana一?!"


Yi Changyin tersenyum sinis. "Bagaimana apanya? Aku memang bisa melakukannya."


"Kau?!" Dia sangat kesal. Tanpa berfikir panjang Wei Qiao mengeluarkan ular hijau dari lengan bajunya. Berencana menggigit Yi Changyin yang berdiri tak jauh darinya.


Bodoh sekali! Kalau Yi Changyin sampai mati karena ular hijau, tamatlah dia. Mengapa dia begitu bodoh?!


Tiba-tiba ular hijau itu berhenti, melayang kaku di udara. Seperti terkena serangan jantung, si hijau licin itu pingsan, jatuh ke bawah. Wei Qiao terbelalak dan malah menunjuk-nunjuk Yi Changyin, menuduhnya.


"Kau?! Kau apakan binatang rohku!!"


"Dia sendiri yang ketakutan.." Jawab Yi Changyin santai.


Wei Qiao menggeram rendah. Dia mulai menyerang Yi Changyin dengan energi spiritual yang berwarna jingga. Keluar dari sela-sela jari yang seakan sedang mencengkram aura hijau itu.


Tangan penuh dengan energi berbahaya itu meluncur menuju dada kiri Yi Changyin, gadis itu segera menghindar ke tengah lapangan. Dengan beringas Wei Qiao menyusul.


Aura spiritual berwarna emas muncul di sela-sela jari Yi Changyin dan mengarahkannya pada Wei Qiao. Kedua tangan mereka beradu, menimbulkan gelombang angin yang besar.


Jelas, kekuatan Yi Changyin lebih besar dari Wei Qiao. Gadis itu mundur beberapa meter kebelakang dan menekuk lututnya sambil terbatuk. Tidak ada reaksi kuat untuk Yi Changyin, dia masih berdiri tegak walau mundur beberapa langkah.


Gadis keras kepala itu tidak menyerah, kembali berancang-ancang untuk menyerang Yi Changyin. Tapi tiba-tiba sesuatu yang hitam keemasan mengelilingi tubuh Yi Changyin dan berubah menjadi seekor naga hitam.


Wei Qiao terbelalak dan energinya langsung tertekan. Begitu lama binatang ilahi itu mengintimidasi. Yi Changyin menepuk-nepuk badan Heilong, naga besar itu kembali menyusut dan melingkar di pundaknya.


Wei Qiao terkejut bukan karena ada Naga. Tapi yang dia tahu Naga itu adalah milik Xuan Chen. "Bagaimana Naga itu bisa ada padamu? Bukankah itu miliki tuan Ji?"


Yi Changyin menyunggingkan senyuman miring. "Punya Xuan Chen adalah punyaku. Dan punyaku adalah punya Xuan Chen. Apakah kau paham?"

__ADS_1


Jantung Wei Qiao berdebar. Sepertinya hubungan mereka tidak biasa. Hatinya juga merasa cemburu. Mengapa.. mengapa di dunia ini hanya Xuan Chen yang tidak memperdulikannya. Padahal pria itu adalah yang diharapkannya.


"XUAN CHEN ADALAH MILIKKU!!" Seru Wei Qiao sambil meluncurkan satu serangan mematikan lagi. Jaraknya sangat dekat, cepat dan tiba-tiba. Yi Changyin hanya sempat untuk terkejut. Mungkin sebentar lagi dia akan memuntahkan semangkuk darah.


Tapi untungnya seseorang melawan balik serangan itu. Membuat Wei Qiao terpental kebelakang, menabrak anak tangga dan memuntahkan seteguk darah. Saat melihat siapa yang melawannya, dia terkejut bukan main. Bahkan Yi Changyin pun terkejut.


"Guru Yu?!" Seru Yi Changyin dan Wei Qiao secara bersamaan.


"Murid keempat belas. Tindakanmu ini sudah di luar batas. Nona Yi adalah kakak seperguruanmu! Dan dengan tidak sopannya kau menyerang dia tanpa ampun! Kau pikir jika tetua Ling tahu dia akan membiarkanmu?!" Sembur Yu Qinghan marah.


"Guru Yu!!" Wei Qiao merangkak menghampiri guru muda itu. Dia memegang kakinya dengan wajah memelas penuh permohonan. "Dia yang memulainya, bukan aku!!"


"Aku?" Tanya Yi Changyin dengan wajah tanpa dosa, membuat gadis itu menggeram rendah. Hatinya yang hampir meledak di tahan, begitu pun dengan keinginannya untuk mencakar gadis itu sampai binasa.


"Guru Yu, dia一!"


"Cukup!" Potongnya kasar. "Sementara aku tidak akan memberitahu pada guru dan tetua. Sedang ada tamu dari alam langit, kalian harus jaga sikap!"


"Walaupun jauh berada di kediaman tetua Ling, tetap saja kita akan dipermalukan jika sampai tercium bau-bau perkelahian diluar pelajaran! Jangan ulangi hal tadi!"


"Baik, guru.."Balas Yi Changyin sopan.


Melihat Wei Qiao hanya diam saja, Yu Qinghan semakin geram. "Wei Qiao!!"


"Ba.. baik guru!"


"Kembali lah ke tempatmu. Biarkan murid kesembilan melakukan pekerjaannya dengan nyaman!"


Dengan wajah yang tidak rela, Wei Qiao menunduk hormat. "Baik, guru."


Yu Qinghan pergi dengan langkah yang cepat. Seperti tidak ingin berurusan dengan muridnya itu lagi, lebih tepatnya Wei Qiao. Gadis itu masih terdiam dalam kemarahannya bahkan sampai sang guru menghilang beserta auranya.


"Tamu dari alam langit?" Gumam Yi Changyin heran.


Kata-kata itu terdengar oleh Wei Qiao, membuat wanita itu menyalang padanya. "Memangnya kenapa?! Jangan berharap kau ingin bertemu dengannya!!"


Yi Changyin sempat terkejut, lalu dia mendelik. Apakah gadis ini gila? Atau kerasukan siluman? Dia ingin tertawa, tapi takut gadis itu terkena mental. Tapi memang, seharusnya Wei Qiao bersyukur karena bisa berhadapan langsung dengan Yi Changyin sang Dewi kecil alam langit. Entah apa yang terjadi jika dia mengetahui kenyataan itu.


"Jika tidak ada urusan lain kau pergilah.." Ujar Yi Changyin dengan lembut.


Tapi kelembutan itu bagaikan sesuatu yang tajam menusuk kulitnya, dia marah. "Siapa juga yang ingin bersamamu di sini?!" Gerutunya sambil berjalan cepat menuju ke arah asrama.


Setelah kepergiannya Yi Changyin tertawa kecil. "Dia sangat lucu. Sayang sekali bukan? Heilong.." Yi Changyin berbicara pada Heilong.


.......


.......


.......


Wei Qiao berjalan menghentak-hentakkan kakinya. Jika saja tubuhnya sebesar singa roh api, mungkin gempa besar tak bisa terhindarkan di sana. Tiba-tiba dia berhenti, mengeluarkan sesuatu dari saku pakaiannya.


Sebuah plakat kayu dengan bunga prem yang diukirkan begitu apik dan rapi, tak lupa dengan ukiran 'Wei' menemaninya di sana. Wei Qiao menatapnya dengan senyuman. Dia kembali berjalan menuju jembatan kolam teratai dan duduk di atas pagar sebelah kirinya.


Wei Qiao mengusap-usap token itu dengan ibu jarinya. "Teman hitamku, bersabarlah.." Katanya dengan ekspresi wajah yang di buat-buat iba.


Di sisi lain Xuan Chen yang hendak lewat, berhenti. Dia melihat Wei Qiao yang sedang berbicara sendiri dengan token keluarga Wei. Dia tidak gila kan?


Xuan Chen merasa seperti ada yang aneh dan janggal, dia pun memutuskan untuk mengintip di salah satu pohon besar yang sebagian besar daunnya sudah berguguran. Gadis itu tidak menyadari keberadaannya, membiarkan Xuan Chen mengetahui apa yang dibicarakan yang mungkin saja bisa sebuah rahasia.


"Kau tenang saja, ini tidak akan lama." Wei Qiao berbicara lagi pada plakat itu. "Manusia hanya hidup selama puluhan tahun. Sedangkan kau, bisa hidup sampai ratusan ribu tahun. Jadi.. kau harus menunggu apapun yang tadi. Ya?"


"Sebenarnya.. kau bisa bebas. Tapi, jika kau ingin mendapatkan milikmu kembali.. kau harus berdiam dengan nyaman di dalam sini. Dan aku akan berjanji untuk menemukan adikmu."


Wei Qiao seperti sedang membujuk seseorang. Menggunakan rayuan dan kata-kata manis menggiurkan, entah kepada siapa itu. Mungkinkah ada yang dikurung di dalam sana? Jika dirasakan lebih teliti, memang pelakat itu terlihat begitu misterius dan terdapat aura tak biasa.


Tanpa sepengetahuan semua orang, kepala Yi Changyin menyembul dari balik bangunan paviliun akademi. Dia bisa melihat Wei Qiao sedang berbicara dengan benda mati misterius itu. Dan di sebrangnya Xuan Chen terlihat sedang memperhatikan Wei Qiao dari jauh.


Awalnya dia merencanakan Yu Qinghan, tapi pria itu menghilang entah kemana. Lalu keberuntungan datang kedua kalinya, Xuan Chen ada untuk rencananya. Dia tersenyum diam-diam.


"Apakah sudah siap?" Bisik Heilong dengan wujud ular hitam kecil bertanduk.


Yi Changyin mengangguk. "apakah tidak apa-apa untukmu?" Yi Changyin berbalik bertanya, khawatir.


"Hanya sedikit. Ibunda tenang saja.."


"Heilong, kau memanggilku seperti itu. Aku merasa seperti sudah menikah dan memiliki anak yang sudah dewasa. Bisakah kau menghentikannya?" Yi Changyin merajuk.


Dia masih kecil dan polos. Masih belum memiliki hubungan spesial dengan pria manapun, apalagi menikah dan punya anak. Tentu saja dia akan terganggu jika dipanggil dengan sebutan ibunda oleh Feng'er dan Heilong.


Heilong tidak menjawab. Mungkin jika sedang berwujud manusia, Naga hitam itu tengah cemberut dengan pipi yang mengembung. Seperti anak kecil yang dimarahi ibunya. Tanduknya melemas seperti bunga yang layu.


Yi Changyin menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudahlah.. terserah padamu. Yang terpenting sekarang selesaikan dia dulu!"

__ADS_1


Tanduk Heilong tegak kembali. "Baik!" Serunya dengan semangat.


Yi Changyin hanya tersenyum.


Wei Qiao masih mengoceh tak jelas di sana dan Xuan Chen masih setia ditempat karena mungkin tidak ingin berpapasan dengan gadis itu. Heilong menggigit ujung ekornya sendiri, sampai berdarah. Dia teteskan pada telapak tangan Yi Changyin dan segera menutupi lukanya sendiri.


Hanya setetes darah. Tapi auranya Heilong yang sebenarnya tidak pudar. Yi Changyin segera membalutnya dengan energi spiritual emas, begitu juga dengan sekitarnya. Agar Wei Qiao, Xuan Chen dan siapapun itu tidak dapat merasakan auranya.


Dilindungi oleh perisai spiritual, Yi Changyin mula merobek sedikit perisai spiritual. Kemudian Yi Changyin mengarahkan energinya ke arah pelakat yang di pegangi Wei Qiao. Setelah itu dia kembali memulihkan keadaan dan bersembunyi di balik bangunan.


Energi spiritual itu hanya seperti debu yang menabrak plakat itu. Wei Qiao sedikit terkejut dan melihat-lihat sekitar tapi tidak ada siapa-siapa. Awalnya biasa-biasa saja, tapi lama kelamaan plakat itu menunjukkan pergerakan aneh.


Xuan Chen semakin memfokuskan pandangannya. Bahkan sampai lupa dengan makanan untuk rubah kecilnya. Dia ingin mengetahui terlebih dahulu yang terjadi di sana. Mungkin saja bisa berguna.


Pergerakan itu semakin kuat, bahkan Wei Qiao tidak bisa mengendalikannya. Aura hitam mulai menyelubungi plakat spiritual itu hingga Wei Qiao tidak bisa menggenggamnya lagi. Dia panik.


Tiba-tiba saja sesuatu keluar dari sana. Sesosok hitam yang tak memiliki bentuk tapi memiliki mata merah menyala. Sekilas membentuk lekukan tubuh perempuan yang sempurna. Aura hitam yang bak kobaran api itu mengelilinginya.


Wei Qiao terkejut. Dia segera mengeluarkan sesuatu di balik lengan bajunya. Sebuah benda kecil yang memiliki ujung runcing dan kepala bulat seperti bola dan berwarna emas mengkilap.


(Bayangin aja jarum pentul, tapi lebih tebal badan jarumnya. Semakin menuju kepala, semakin tebal)


Sesosok hitam itu hendak kabur, tapi tertahan karena jarum itu. Menghisapnya hingga ia memekik walaupun dengan nada yang rendah. Sesosok hitam itu berubah menjadi gulungan hitam yang penuh dengan aura siluman.


Masih dengan jarum kecil itu, dia arahkan pada plakat kayu yang masih melayang di udara. Keadaan menjadi tenang seperti biasa. Wei Qiao menghela nafas lega.


Xuan Chen terbelalak, pikirannya mengatakan kalau itu adalah siluman. Yang menjadi tabu jika di bawa ke dalam akademi yang konon satu-satunya diakui alam langit. Tiba-tiba sekilat cahaya ide terlintas dibenaknya, dia tersenyum misterius.


Sementara Yi Changyin yang masih ingin melihat adegan di depannya, urung. Karena merasakan aura gurunya yang mendekat kemari. Dia kembali menuju aula utama dan pura-pura menyapu sekitar.


Ternyata Yu Qinghan, pria itu berhenti saat melihat Yi Changyin. Gadis itu segera memberi hormat seperti biasanya. Tapi dia malah disembur dengan beberapa pertanyaan yang membuatnya tertegun.


"Murid kesembilan, barusan aku merasakan hawa siluman? Apakah kau melihatnya? Dimana dia? Apakah dia menyakitimu? Apakah menyakiti seseorang? Siapa yang memanggilnya?"


"I.. itu.. aku tidak tahu. Changyin baik-baik saja, tidak tahu siluman itu melukai siapa-siapa. Aku.. aku hanya melihatnya sekilas di jembatan kolam teratai.." Jelasnya gagu.


"Baik, aku akan memeriksanya ke sana!" Tanpa basa-basi lagi, guru muda itu segera pergi. Yi Changyin hanya menghela nafas sambil menepuk-nepuk dadanya. Lalu mengikutinya diam-diam.


Saat Yu Qinghan tiba di depan jembatan kolam. teratai, matanya langsung menangkap sosok Wei Qiao. Gadis itu melihatnya, segera berdiri dan memberi hormat.


Dia menatap Wei Qiao dengan tatapan yang menyelidik. "Apakah murid keempat belas melihat siluman?"


Wei Qiao menegang, jantungnya berpacu kencang. Wajahnya menjadi pucat, membuat Yu Qinghan sedikit curiga. "Aku.. aku tidak tahu, guru Yu."


"Tingkahmu itu sangat mencurigakan." Ujarnya tajam.


"Guru Yu.. aku.. aku.. aku sungguh tidak tahu."


"Katakan yang sebenarnya!"


"Aku..."


"Salam kepada guru Yu.." Tiba-tiba suara yang familiar muncul di belakang punggung Wei Qiao. Gadis itu langsung tersenyum begitu melihat pria idamannya datang kemari.


"Kaka seperguruan ketujuh!" Sapanya senang, yang di acuhkan Xuan Chen. Tapi gadis itu malah terus tersenyum padanya. Menjengkelkan!


"Murid ketujuh, apakah kau melihat siluman disekitaran sini? Atau.. merasakan auranya?"


"Benar, murid ini memang melihatnya.."


Saat itu pula Wei Qiao kembali menegang. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari pada tadi saat diintimidasi oleh Yu Qinghan. Wajahnya bertambah pucat dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Tapi dia berusaha untuk menahannya diam-diam.


"Bayangan hitam berbau siluman itu memang melintas cepat disekitar sini. Entah apa yang dia lakukan, sepertinya hanya mengawasi dan turun gunung.."


Mendengar hal itu, Wei Qiao menjadi sedikit tenang. Apakah dia sedang mimpi? Xuan Chen sedang memihak padanya!


"Dia tidak melukai siapapun, bergerak cepat di atas. Mungkin adik seperguruan tidak melihatnya. Hanya merasakan sayup-sayup aura yang aneh. Benarkan adik seperguruan?"


Wei Qiao tersenyum kaku, sejujurnya dia masih was-was. "Be.. benar."


Yu Qinghan mengangguk walaupun tak yakin dengan kata-kata Xuan Chen. Tapi apa yang di katakan Xuan Chen ada benarnya juga. Dia tidak bisa mengelak, hanya bisa menenggelamkan rasa curiga itu dalam-dalam.


Kata-kata ini hampir mirip dengan pengakuan Yi Changyin. Jadi dia sedikit percaya. Mungkin jika Yi Changyin mendengarnya secara langsung akan tertegun, mereka memiliki pemikiran sama tanpa di rencanakan.


Semenjak masuk akademi, Shen Lan Berusaha menyegel aura yang membuat mereka terlihat memiliki hubungan kontrak. Selama itu, mereka tidak berbicara antar pikiran, mungkin terkecuali saat genting. Atau Yi Changyin sengaja membukanya.


"Baiklah. Jika ada hal yang aneh lagi, tolong kabari aku. Sekali lagi ada utusan alam langit di kediaman tetua Ling, jangan membuat masalah."


"Kami mengerti.."


Yu Qinghan kembali pergi menuju tempat dia sebelumnya. Saat dia menjauh dan auranya tidak terasa kembali, Wei Qiao melompat kegirangan sambil memegangi tangan Xuan Chen.


"Tuan Ji, terimakasih telah memihak padaku!"

__ADS_1


"Jangan senang dulu!"


__ADS_2