The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XXXII - Pecahan Ingatan Lagi


__ADS_3

Matahari semakin menyingsing ke ufuk barat. Semakin tenggelam, langit semakin membiru tua. Gunung Tianjin semakin dingin dan gelap, walaupun cahaya-cahaya spiritual dari senjata ada untuk menerangi perjalanan mereka.


Masih ada beberapa menit sebelum sampai ke puncak gunung, para guru sama sekali tidak berhenti sedetikpun semenjak menginjak waktu sore. Tapi ketika siang hari, mereka semua akan berhenti untuk makan sejenak. Setelah itu, tidak ada pengecualian lagi untuk berhenti. Untung saja para kultivator sangat pandai untuk menahan diri jika ingin buang air.


Suasana berubah. Semakin naik, keadaan semakin hangat. Pertanda kehidupan sudah terasa oleh masing-masing. Dan akhirnya, mereka sampai pada puncaknya gunung.


Mereka memasuki gerbang yang bertuliskan 'Akademi Tianjin'. Gerbang itu cukup besar dan elegan dengan beberapa penjaga akademi disepanjang jalannya, tidak terlalu mewah. Mereka memberi hormat saat bangau yang membawa para guru itu melintas.


Gerbang akademi Tianjin dilindungi oleh ilusi dinding spiritual. Sebelum memasuki gerbang, seseorang hanya akan melihat pemandangan alam didalam sana. Tapi jika setelah memasuki dinding spiritual itu, keadaannya akan jauh berbeda.


Setelah memasuki dinding spiritual, tampaklah aula terbuka yang besar dengan paviliun-paviliun disekelilingnya. Ditengah-tengah aula terbuka itu, terdapat batu aneh yang dilindungi oleh perisai spiritual.


Sebelum para guru mengeluarkan basa-basinya, Xuan Chen segera pergi ke ruang dimensi spiritual untuk menjemput Yi Changyin. Mungkin dia sudah selesai berkultivasi, Xuan Chen dapat merasakan auranya yang berbeda. Gadis itu sudah naik walaupun hanya satu level.


Mata Xuan Chen langsung tertuju pada gazebo ditengah-tengah taman itu. Di sanalah Yi Changyin berada, bersama Phoenix sekecil bebek yang tertidur manja di pangkuannya. Lalu seekor ular hitam kecil yang melingkar dipunggung tangannya.


Melihat tingkah manja kedua hewan ilahinya, wajahnya tiba-tiba tidak mengenakkan. Pria itu melangkah cepat menghampiri Yi Changyin. Gadis itu hampir meloncat karena kedatangannya yang tiba-tiba.


"Xuan Chen? Apakah sudah sampai di puncak?" Tanyanya spontan.


Pria itu tersenyum tipis, "yaa, mari keluar." tangannya bergerak melemparkan Feng'er dan Heilong kesembarang arah. Kedua binatang ilahi itu tersungkur ketanah dengan wujud manusianya, mereka berdua menggerang kesakitan. Wajahnya sedikit memelas ketika menyadari Xuan Chen yang melemparkan mereka dari kenyamanan.


Yi Changyin terkejut dan sedikit marah. "Xuan Chen!!"


"Kau adalah pemimpin mereka, jangan terlalu dimanjakan." Tegur Xuan Chen sambil menarik tangan kecil gadis itu. Sementara kedua binatang ilahi itu kabur entah kemana.


Yi Changyin tidak menurut, dia berhenti tak bergerak seperti patung. Wajahnya sangat jelek sambil menatap tajam punggung pria itu. Xuan Chen yang merasa gadis itu memberat, dia berbalik.


Pria itu masih berusaha untuk menarik patung yang berekspresi marah dihadapannya. Tidak ada gunanya, Yi Changyin merasa marah ketika Feng'er dan Heilong dilemparkan. Dia sangat kasihan kepada kedua bayi besar itu setelah mendengar mereka merindukan ibu yang katanya mirip dengannya.


"Ayo pergi.." Ajak Xuan Chen sekali lagi.


Bibir Yi Changyin semakin mengerucut, "kau tidak boleh kasar pada mereka. Mulai sekarang, akulah ibu mereka!" Ujar Yi Changyin dengan lugas.


Xuan Chen memasang tanda tanya besar di wajahnya, dia sangat heran. Sebenarnya apa yang terjadi disini sebelum dia datang?


Apa dia salah mengatakan? Yi Changyin merasa gugup karena mengatakan hal itu dengan mudahnya. Dia sangat malu.


Xuan Chen menarik Yi Changyin dengan mudah. Jarak mereka sangat dekat, mata mereka saling beradu tatap. Yi Changyin menjadi linglung karenanya, dia tidak tahu harus berbuat apa ketika jantungnya berpacu kencang.


"Kau mengaku mereka sebagai anakmu dan memanjakannya.." Dia berbisik, tapi tatapannya membuat Yi Changyin terdiam. Tiba-tiba Xuan Chen tersenyum miring, Yi Changyin merasa tatapannya sangat mengintimidasi. "Kau ingin memiliki anak? Kalau gitu.. kita buat bersama."


Pipi Yi Changyin memerah seperti kepiting rebus, dia merasa telah dijebak olehnya. Gadis itu mendorong Xuan Chen lalu menampar pipinya. Pria itu malah tersenyum.


"Dasar brengsek! Aku ini masih terjalin hubungan kontrak! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu tanpa tahu malu!" Teriaknya bertubi-tubi. "Sejak kapan Xuan Chen yang kukenal menjadi seperti ini! Aku tidak mengenalmu!"


"Aku hanya bercanda, Rubah kecil tidak perlu marah seperti itu." Hanya dengusan yang menjadi jawaban Yi Changyin. "Kau sudah tinggal lama bersamaku." Dia meraih tangan Yi Changyin. "Pasti rubah kecil tahu bagaimana sikap asliku, kan?"


"...."


Xuan Chen menghela nafas, gadis itu masing memunggunginya. Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung menariknya keluar, berkumpul dengan para murid lainnya. Tidak banyak yang menyadari kedatangan pria itu bersama rubah kecilnya.


Yi Changyin masih mendiamkan Xuan Chen, dalam hatinya dia berniat untuk seperti itu selama mungkin. Hanya ingin tahu berapa pedulinya pria itu. Kalaupun pria itu tidak peduli... sepertinya Yi Changyin tetap harus membuat dia peduli.


Saat itu para guru hanya memberitahu untuk beristirahat saja, tidak ada hal lain. Mereka akan memulai aktivitas pada esok hari. Asrama putra dan putri tentu saja terpisah. Mereka akan berjalan pada jalan yang sama, melewati kolam yang penuh dengan teratai merah muda.


Setelah itu ada sebuah persimpangan. Kanan adalah menuju asrama laki-laki dan kiri untuk perempuan. Kedua asrama ini masih dibatasi oleh kolam teratai dan tembok besar. Selama di asrama, mereka bebas memilih ruangan dan dengan siapa harus satu kamar.


Yi Changyin berjalan mengikuti kakaknya, dia tidak memperdulikan Xuan Chen yang terus memanggilnya. Diam-diam bibirnya tersenyum karena berhasil mempermainkan pria itu.


Xuan Chen berhasil menarik tangannya, gadis itu masih tertunduk dengan ekspresi yang dingin. Sungguh pandai berakting! Tentu saja Yi Xuemei merasakan kehilangan aura adiknya, dia segera berbalik.


Dia paham setelah melihat apa yang terjadi. "Changyin, aku akan menunggumu disana."


Yi Changyin menoleh kearah kakaknya, "baik, tunggu aku. Ini tidak akan lama."


"Baik.."


Setelah Yi Xuemei pergi, keadaan disana semakin sepi. Para murid sudah pergi ketempat mereka beristirahat. Di persimpangan yang hanya diterangi cahaya remang-remang obor dan satu pohon rindang, hanya terdapat Yi Changyin dan Xuan Chen. Tapi mungkin, mereka tidak menyadari keberadaan Wei Qiao tak jauh dari jalan keluar.


"Kau masih marah?" Tanya Xuan Chen.


"Tidak." Jawab Yi Changyin singkat.


"Aku hanya bercanda. Kau adalah rubah kecilku, manamungkin aku melakukan hal yang seperti itu. Apakah kau mengerti?" Pria itu berusaha menjelaskan.


Dari jauh Wei Qiao mencibir, "rubah kecil? mengapa dia memanggilnya begitu istimewa!"


"Aku tahu." Yi Changyin masih menunduk.


"Aku tahu kau masih marah. Jadi, tolong maafkan aku. Aku akan mengabulkan apapun yang kau inginkan. Aku一."

__ADS_1


"Mengapa kau begitu bersikeras untuk mendapatkan permintaan maafku? Aku bukan siapa-siapa kamu." Setelah itu Yi Changyin bergegas pergi menuju arah kiri.


"Yi Changyin.."


"Ehh!! Tuan Ji." Tiba-tiba Wei Qiao datang tepat kesisinya, mencari-cari kesempatan. Saat itu pula Yi Changyin menghentikan langkahnya. Dia mengenali suara itu.


"Ada apa? Aku tidak punya waktu!" Xuan Chen bergerutu.


"Kekasihmu sedang merajuk. Mungkin dia tidak mencintaimu lagi, kan? Sungguh wanita yang tak tahu diri! Menyia-nyiakan perasaan tulus dari tuan Ji." Wanita itu berusaha mengadu domba. Bahkan kata-katanya terdengar begitu menjengkelkan.


"Jaga ucapanmu!" Bentak Xuan Chen.


"Aku hanya mengatakan kebenaran.."


"Eh! Nona Wei. Kau bilang apa tadi?" Yi Changyin kembali berbalik menghampiri mereka. "Tak tau diri? Bukankah kata-kata itu sangat tepat untukmu."


"Kau?!"


Yi Changyin mau tak mau menarik tangan Xuan Chen dari sisi Wei Qiao. Kini dia harus mengakhiri permainannya demi memenangkan perang dingin dengan gadis dari Yunnan itu. Walaupun setiap perang dingin Wei Qiao selalu menerima kekalahan, tapi Yi Changyin tidak akan ada puas-puasnya.


Tak sengaja lengan Xuan Chen menyenggol Wei Qiao dengan kencang, hingga sesuatu jatuh dari tempatnya. Ketika gadis itu akan mengambilnya, Yi Changyin buru-buru merebutnya dengan energi spiritual, gadis itu naik pitam.


"Beraninya kau?!" Yi Changyin tidak menanggapi, dia hanya fokus pada plakat itu dengan ekspresi yang rumit. "Beraninya kau mengambil plakat keluargaku!!"


Yi Changyin menaikkan pandangannya, dia melemparkan plakat itu dan berakhir ditangan Wei Qiao. "Keluargamu?"


"Ya, memangnya kenapa?" Dia tersenyum miring. "Apakah kau iri?"


Yi Changyin ingin tertawa saat mendengar hal itu. "Untuk apa aku iri padamu? Aku sudah memiliki semuanya, termasuk Xuan Chen!"


Xuan Chen sontak menoleh dengan ekspresi yang terkejut. Memilikinya? Apakah dia tidak salah dengar?


"Kau dasar kau pandai sekali berbicara!!"


"Ekhem!"


Tiba-tiba suara deheman dari belakang Wei Qiao menghentikan semuanya, tampaklah seorang pria tampan yang mungkin berada tiga tahun diatas umur penyamaran Shen Lan. Penampilan sangat elegan dan agung. Seperti seseorang yang tidak seharusnya untuk dibantah.


Entah kenapa mata pria itu terpokus pada sosok cantik yang diterangi remang-remang lampu obor. Memakai pakaian putih suci dan terlihat lugu. Matanya tak berkedip, dia seperti terpesona.


Sedangkan Wei Qiao terkejut ketika melihat wajah pria itu. Dia sangat mengenalnya! Dia adalah Yu Qinghan, pria yang tadi pagi memeluknya ditengah keramaian. Bukan sengaja, tapi karena memang Wei Qiao saat itu akan terjatuh.


Setelah lama, Yu Qinghan baru tersadar akan matanya yang terus menatap gadis itu, dia segera berdehem. "Ini sudah malam. Kalian malah bertengkar disini, bagaimana kalau para tetua tau?" Dari kata-katanya dia masih merasa canggung, Yi Changyin yang merasakan hal itu menaikkan sebelah alisnya.


"Tunggu, memangnya siapa kau?" Tanya Wei Qiao dengan lancang.


Yu Qinghan tidak memperdulikannya, dia hanya tersenyum. "Sebelumnya, aku adalah Yu Qinghan, guru beladiri yang baru disini."


Pengakuan identitas itu membuat Wei Qiao ingin muntah darah. Bukankah dia sudah mencari masalah dengan gurunya sendiri? Gawat! Yi Changyin hanya diam-diam tersenyum karenanya. Tapi sepertinya Yu Qinghan bukan guru yang mudah marah.


"Ternyata guru Yu.." Yi Changyin dan Xuan Chen kembali membungkuk. "Maafkan kami yang bertindak tidak sopan." Katanya secara bersamaan. Wei Qiao masih diam memendam amarahnya.


"Tidak apa, kalian segeralah kembali. Besok masih ada yang belum para murid lakukan. Sebaiknya, segeralah berisitirahat."


Ketiganya hanya bisa menurut. Mereka berjalan menuju asrama perempuan. Xuan Chen ingin terlebih dahulu mengantar rubah kecilnya, dia tidak mau Wei Qiao akan berbuat macam-macam selama perjalanan.


Bahkan mereka saling tersenyum manis sebelum Xuan Chen pergi dari sana, membuat Wei Qiao harus memendam amarahnya didalam hati. Dia menatap punggung Yi Changyin dengan tatapan yang membunuh.


"Awas saja.. aku punya seribu satu cara untuk menyingkirkanmu!"


.......


.......


.......


Esok harinya, masih belum ada yang menarik. Para murid hanya keliling akademi hingga sampai ke kebun pribadi. Tujuan tetua hanya ingin membuat murid mengenal tempat sekitar. Setelah itu mereka menerima beberapa seragam. Setiap pelajaran, mereka akan memakai seragam yang berbeda.


Tetua bilang, pelajaran pertama yang akan diambil adalah beladiri menggunakan tenaga dalam. Dan gurunya adalah Yu Qinghan. Mereka hanya diajarkan mengendalikan elemen masing-masing untuk menyerang musuh.


Entah apa yang terjadi, guru muda itu menginginkan Yi Changyin yang maju terlebih dahulu. Sedangkan gadis itu masih belum pandai mengendalikan elemen air dan es nya. Parahnya lagi, dia disuruh untuk menghancurkan batu besar oleh air.


Yi Changyin hanya mendesah pasrah. Dia pergi setelah disemangati oleh Xuan Chen, Shen Lan, Aoyi Jinqi dan kakaknya. Setidaknya ada empat orang yang mendukungnya dari belakang.


Yi Changyin memfokuskan pikirannya. Aura spiritual berwarna biru air perlahan muncul disela-sela tangannya, bergerak acak mengingkuti pergerakan tangan yang membentuk pola sederhana. Setelah itu, dia arahkan pada kolam air berukuran sedang yang berada dihadapannya.


Ajaib, air itu perlahan naik ke atas udara. Semakin ditinggikan tangan Yi Changyin, semakin naik pula ketinggian air yang berbentuk tongkat panjang itu. Tapi dia tak pernah menyangka kalau itu sangat menguras energi spiritual.


Jika ingin menggunakan lebih banyak, dia harus mungkin terpaksa harus menggunakan aura Dewi-nya. Tapi ini sangat tidak mungkin, dia sedang menyembunyikan identitasnya.


Tak mau berlama-lama, dia segera mengarahkan air itu kearah batu besar. Tapi yang didapatkan batu itu hanyalah terbasahi sedikit saja. Tidak ada tanda-tanda retak, apalagi hancur. Yi Changyin menjatuhkan rahangnya, sesulit itu? Seperti ada kekuatan didalam batu, Yi Changyin dapat merasakannya walaupun samar.

__ADS_1


Wei Qiao tersenyum meremehkan dibelakangnya. Tapi keempat orang di seberangnya sangat berisik untuk menyemangati gadis itu. Dia sangat jengkel.


"Kau harus fokus." Yu Qinghan menghampiri Yi Changyin.


Gadis itu kembali mengeluarkan energi spiritualnya, posisi tangannya sangat tidak teratur dimata Yu Qinghan. Pria itu segera membenarkannya, bahkan sampai menyentuhnya. Tapi entah kenapa Xuan Chen merasa kalau guru itu sedang mencari-cari kesempatan, dia sedikit jengkel. Tapi Yi Changyin tidak memperdulikan hal itu.


Yu Qinghan sedikit menjauh, Yi Changyin kembali mencoba hal sama, tapi gagal kembali. Sekali lagi, dua kali, tiga kali, empat kali dan sampai sepuluh kali, dia terus menerus gagal.


Yi Changyin merasa jengkel. Akhirnya dia mencoba sekali lagi, kali ini energi spiritual yang dia gunakan cukup banyak, hampir menguras setengah miliknya. Bahkan air yang keluar pun cukup besar, membuat semua orang tercengang.


Secepat kilat menyambar, air itu menabrak batu dengan keras. Tapi bukannya hancur, batu itu malah terpental jauh kebelakang. Aneh, entah berbenturan dengan apa hingga batu besar itu kembali kesana, kearah Yi Changyin. Tepatnya akan menimpa gadis itu!


Ini sangat cepat! Bahkan Yi Changyin hanya sempat menjatuhkan rahangnya.


Tiba-tiba seseorang menghadang batu itu sekuat tenaga. Dia adalah Xuan Chen. Menahan batu sebesar itu menggunakan energi spiritual akan sangat menguras, bahkan bisa sampai habis. Bahkan darah sudah mengalir membentuk sungai kecil lewat mulutnya.


Ini sangat aneh, tekanan baru itu sangat kuat. Seperti sesuatu mengendalikannya dari dalam.


Yi Changyin segera mengeluarkan kipas Yin Zhenjie-nya, mungkin hanya ini yang bisa menolong Xuan Chen. Kipas itu berubah menjadi cambuk, dia pukulkan kearah batu besar itu. Seketika hancur lebur menjadi debu. Semua orang terbelalak.


Semudah itu?


Setelah hancur, tangan Yi Changyin menerima sesuatu. Itu sangat mirip dengan sebongkah kristal yang membuatnya melihat ingatan yang aneh. Apakah ini benda yang memiliki fungsi sama?


Kini Yi Changyin berspekulasi kalau kristal inilah yang membuat batu itu lebih kuat. Sebenarnya dari mana benda ini! Dia bahkan belum pernah mendengarnya di alam langit.


Xuan Chen terbatuk, membuyarkan lamunan Yi Changyin. Gadis itu segera menyembunyikan kristalnya dan menghampiri Xuan Chen. "Kau baik-baik saja? Mengapa kau melakukan hal bodoh?" Gadis itu menegur, tapi dengan suara yang pelan. "Aku bisa menyelamatkan diri sendiri. Hanya saja tadi aku sedikit terkejut. Maaf.."


"Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Aku bisa menyembuhkannya secepat mungkin."


"Tidak." Yi Changyin menyangkal. "Aku akan menyembuhkanmu." Gadis itu segera menyuntikkan energi spiritualnya dengan suka rela.


Yu Qinghan yang melihat keduanya merasa panas. Tapi dia sembunyikan dibalik topeng wajahnya yang sangat tenang. Bagaimanapun dari awal mereka terlihat begitu dekat. Dan dia bukan siapa-siapa bagi Yi Changyin.


.......


.......


.......


Yi Changyin pergi ketempat sepi setelah pelajaran selesai. Disekitarnya hanya ada semak-semak dan pohon-pohon rindang yang berukuran sedang. Udaranya masih terasa sejuk yang nyaman hingga membuat seseorang merasa betah.


Gadis itu mengeluarkan bongkahan kristal yang tadi bersarang didalam batu besar itu. Ada bagian yang tajam, dia segera menggoreskan tangannya hingga menimbulkan luka kecil yang berdarah.


Benar dugaannya, darah miliknya mulai menyelimuti kristal jernih yang aneh itu. Tapi sebagian, malah terbang seperti yang kemarin pagi dia lihat. Menunju aula terbuka akademi?


Masih memperhatikannya, tapi tiba-tiba penglihatan Yi Changyin buram. Kristal itu mulai memasuki hatinya dan memberikan pecahan-pecahan memori yang asing.


Penglihatan Yi Changyin mulai terang. Kini dia dapat melihat aura besar yang berwarna putih tulang yang elegan. Disekelilingnya banyak orang-orang berpakaian aneh dan tidak biasa. Tidak seperti alam langit yang mewah dan kultivator yang sederhana.


Pakaian pria masih sama dengan yang dipakai pada umumnya. Tapi pakaian wanita disana terlihat berlengan pendek dengan jubah tembus pandang dengan berbagai corak yang menghiasinya. Sekarang Yi Changyin berada di dunia antah berantah yang belum pernah dia lihat atau datangi.


Ditengah-tengah orang-orang berpakaian aneh, dia orang berdiri saling berhadapan. Memakai topeng yang terakhir kali Yi Changyin lihat. Si wanita berwarna putih dengan gemerlap perak. Sementara si pria berwarna hitam tanpa keistimewaan apapun.


Wanita itu tampak agung dengan pakaian aneh yang ketat dan jubah yang panjang dan lebar. Berwarna putih dengan taburan butir-butir perak yang bersinar. Ada simbol bulan diatas dada kirinya. Kepala wanita itu digelung dengan satu mahkota aneh yang menghiasinya.


Dibelakang wanita itu terdapat dua anak laki-laki kecil yang sangat imut. Yang di sebelah kanan bersurai putih cream dengan pakaian yang serba biru. Mirip dengan Feng'er. Sementara yang disebelah kiri memakai pakaian serba hitam dengan corak sisik naga. Mereka berdua terasa familiar.


Pria yang memakai topeng hitam membungkuk seraya memberikan penghormatan. Sepertinya wanita dihadapannya adalah wanita yang memiliki kedudukan paling tinggi. Tapi anehnya wanita itu mengikuti apa yang dilakukan sipria, memberi hormat.


Tapi tiba-tiba aura hitam muncul disela-sela topeng. Semua orang terkejut, termasuk wanita dihadapannya. Aura iblis memenuhi ruangan itu, bahkan terasa oleh Yi Changyin. Dia sedikit merinding.


Sayap putih pria itu muncul di punggungnya. Bukankah kemarin sayapnya berwarna emas? Entahlah. Aura iblis semakin kuat, wanita bertopeng putih itu bahkan tidak bisa melawannya. Entah apa yang terjadi.


Sayap pria itu perlahan menghitam. Semua orang terkejut dengan apa yang terjadi. Wanita bertopeng putih itu berusaha menahan pergerakannya, tapi dia benar-benar tidak bisa melawannya.


Pria dihadapannya berubah drastis. Pakainya menjadi hitam mendominasi. Auranya berubah menjadi iblis yang membuat bulu kuduk berdiri.


Wanita itu tampak berbicara, tapi Yi Changyin tidak dapat mendengarnya. Seperti teracuni, tiba-tiba beberapa orang di kerumunan itu berubah menjadi hitam. Yang putih semakin panik. Bahkan banyak diantara yang berubah menjadi hitam mencelakai yang putih. Semula tenang, keadaan di sana begitu ricuh dan berantakan


Wanita bertopeng putih itu segera melindungi sisanya dibalik perisai spiritual, termasuk kedua anak kecil itu. Lalu keduanya tampak berdebat hebat, entah apa yang mereka bicarakan. Nada bicaranya terlihat serius dan penuh amarah. Yi Changyin tidak dapat mendengarnya.


Tiba-tiba ledakan terjadi disana, Yi Changyin kembali ke alam sadarnya. Dia membuka matanya dengan heran, masih ditempat yang sama. Kejadian itu, entah kenapa dia merasa kalau itu adalah ingatannya.


"Bukankah itu seperti.. alam peri?" Gumamnya heran. "Seperti.. Ratu Bai Suyue dan Raja Wu Yun?"


.......


.......


.......

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2