
Sepulang dari istana langit, Xuan Chen kembali dengan wajah yang penuh awan kelabu. Melesat pergi kembali menuju Gunung Tianjin berada.
Namun tiba-tiba hatinya mulai membisikan suatu bahaya yang mendekat dari belakang. Tapi Xuan Chen masih tak menghiraukan perasaan itu dan terus melaju. Menembus gelapnya awan berwarna kelabu.
Tiba-tiba sesuatu melaju cepat dari belakang. Membuat dia bergeser kesamping dengan cepat dan membiarkan sesuatu yang putih melesat itu melewatinya ke depan.
Xuan Chen mengeluarkan pedangnya selagi bayangan putih itu mengubah wujudnya menjadi manusia bertopeng. Membuat Xuan Chen semakin berwaspada. Masih belum tahu dia kawan atau lawan.
"Aku tidak meminta banyak!" Tutur pria itu yang seperti sedang berdiri tegak beralaskan lantai berbentuk awan. Berbeda dengan Xuan Chen yang harus menahan tubuhnya agar terus ringan di atas permukaan kosong.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Xuan Chen masih merasa waspada.
"Ikuti aku!" Jawab pria itu tanpa bertele-tele.
Sontak membuat Xuan Chen menjawab, "tidak!"
Pria itu terbelalak, "beraninya kau!"
"Aku tidak tahu maksudmu baik atau jahat. Jadi, sekeras apapun kau meminta aku tidak akan pernah ikut denganmu." Ujar Xuan Chen dengan nada yang santai, tapi berhasil memuncakkan emosi pria bertopeng itu.
"Bagaimana dengan Gaoqing Dijun? Dia yang memintaku untuk membawamu!" Aku pria itu.
"Aku tidak yakin dengan kata-katamu. Jika benar, biar kuulang kata-kataku. Aku tidak tahu maksud tuanmu baik atau jahat. Jadi, sekeras apapun kau meminta aku tidak akan pernah ikut denganmu." Jawab Xuan Chen membuat pria itu semakin jengkel.
Pria itu mengeratkan rahangnya. "Baiklah, maafkan aku harus memaksa!"
Tanpa menunggu Xuan Chen berbicara, ia langsung menyerang dengan gulungan spiritual di tangannya yang berwarna hijau. Jelas Xuan Chen mengetahui seberapa tinggi kekuatan pria yang menghadangnya.
Sepertinya 'utusan Gaoqing Dijun' bukanlah sebuah topeng semata. Tidak mungkin jika seorang berandal bisa sampai Dewa tahap awal level satu. Bisa saja, namun tidak mungkin.
Tidak ada waktu lagi untuk berfikir, Xuan Chen hanya bisa menghindar untuk saat ini. Jika melawan pun akan sia-sia seperti yang dilakukan kemarin saat melawan siluman bayangan.
Tak di sangka pria itu begitu cepat menyerang. Menembakkan spiritual yang berkobar bagaikan api. Xuan Chen pun dengan gesit terus menghindar sesekali menghadang dengan kekuatannya. Dengan pikiran yang membayangkan betapa sakitnya jika terkena serangan pria itu. Bahkan ada yang sampai menghancurkan awan tebal dan besar.
Mungkin dia jengkel karena Xuan Chen terus-menerus menghindar, dia berhenti. Tapi bukan berhenti untuk bertarung, pria itu malah menyiapkan formasi sihir yang terlihat kuat. Xuan Chen pun segera membuatnya juga walau sedikit asal-asalan, karena ini urusan mendesak.
Mereka berdua telah siap untuk menyerang. Pria itu memajukan tangannya dan mengeluarkan energi spiritual. Sedangkan Xuan Chen membuka lebar-lebar tangannya hingga membentuk gelembung dengan kilatan pelangi.
Ketika pria itu mulai menyerang, Xuan Chen tidak terlihat khawatir. Energi spiritual yang hijau menggumpal terpantul dari gelembung yang dia buat. Hingga kembali pada si pembuat. Pria itu terbelalak namun tak sempat menghindar. Hingga pasrah mundur sambil memuntahkan seteguk darah. Dan Xuan Chen malah tertawa kecil.
"Menjengkelkan!" Geram pria itu, kembali bangkit dan menyerang.
Kali ini tangannya mencengkram kobaran api merah dan melesat menuju Xuan Chen dengan wajah yang merah padam Ternyata mereka sama-sama memiliki elemen api.
Sungguh tak di sangka bawahan sang raja besar akan memiliki begitu banyak emosi yang terpendam. Lawan akan mendapatkan keberuntungan secara tidak langsung. Termasuk Xuan Chen kali ini, ketika serangan mulai dekat dengannya dia langsung sedikit menghindar hingga lolos begitu saja.
Dengan cepat dia menghantam dada pria itu menggunakan tangan yang sudah di penuhi kobaran api miliknya. Cukup membuat dia tersungkur dan memuntahkan seteguk darah. Namun pria itu masih bisa mengontrol luka yang mengenai tubuhnya. Hingga dia bisa bangkit lagi walaupun menahan sakit.
Saat hendak kembali menyerang, dengan kekuatan yang sudah penuh terkumpul, tiba-tiba seseorang menjatuhkan pria itu dari belakang. Membuatnya terpental jauh entah kemana.
"Beraninya dia mengganggu murid akademi.." Ujar seseorang dengan nada yang tenang, yang membuat pria itu pergi entah kemana.
"Shen Lan?"
.......
.......
.......
Xuan Chen menatap Shen Lan yang sedang meneguk anggur dalam kendi. Setelah Shen Lan menyelamatkannya dari kejaran orang dengan embel-embel suruhan Gaoqing Dijun, pria itu membawanya ke gudang akademi.
Gudang yang sempit namun penuh barang-barang tak terpakai. Walaupun masih layak, tapi tetap saja disimpan di sini. Tampak lima kendi anggur berdiri di atas meja yang membatasi mereka berdua.
Sekarang Xuan Chen hanya untuk menemani si biru itu meminum anggur. Sedangkan dia hanya duduk melihat sambil sesekali menguap karena mengantuk.
"Pangeran ketujuh, kau dari mana?" Tanya Shen Lan begitu sopan.
Membuat Xuan Chen mendecih. "Jangan memanggilku seperti itu.." tolak Xuan Chen sambil meraih salah satu kendi anggur.
__ADS_1
Tapi dengan cepat Shen Lan mencekal tangannya, "kau masih kecil, jangan meminumnya.."
"Yang benar saja! Usiaku.."
"Usiamu ribuan tahun lebih muda dariku." Potong Shen Lan. "Ini adalah anggur persik yang ku racik sendiri. Dan, aku menggunakan persik yang diberi Xiaobai."
".... Pantas saja aku merasa ada yang keluar masuk ruang dimensi." Sahut Xuan Chen sambil kembali meraih salah satu kendi disana.
Namun Shen Lan kembali mencekal tangannya, "jangan meminumnya, ini terlalu kuat untukmu! Aku tidak mau mabuk dan tak sengaja masuk ke kamar Yi Changyin dan..." Shen Lan mendesis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak sanggup melanjutkan omelannya lagi yang vulgar.
Xuan Chen menghela nafas selagi Shen Lan meneguk anggurnya. Lalu berkata, "itu memang sudah terjadi.."
Sontak membuat Shen Lan menyemburkan anggur yang sudah terkumpul penuh di mulutnya. Untung saja tidak mengenai Xuan Chen. Pria itu sangat terkejut, lalu berdiri dan menunjuk ke arah Xuan Chen dengan tatapan yang tidak percaya.
"Kau?! Beraninya kau?!" Sembur Shen Lan. "Tahu seperti itu aku akan membiarkanmu mati bersama orang asing tadi!!"
Xuan Chen malah tertawa kecil. "Tuan Shen Lan tenang dulu, aku hanya menikmati bibirnya.."
"Kau?! Bajingan!"
"Tidak sampai merusaknya.." Tambahnya yang membuat Shen Lan terdiam, tidak tahu harus menanggapinya dengan kata-kata apapun lagi.
"Sudahlah!" Tuturnya dengan ketus. Lalu kembali duduk dan meneguk anggurnya. "Katakan! Dari mana kau barusan.."
"Istana langit." Jawab Xuan Chen spontan.
Kali ini membuat Shen Lan tersedak anggur. "Apa?!"
Tapi Xuan Chen tersenyum lebar, "Shen Lan katanya kau adalah bunga roh tanpa hati. Tapi.."
"Jangan hiraukan itu!" Potong Shen Lan. "Sekarang katakan apa yang kau lakukan di sana."
Flashback on.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Dewa malam terdengar ramah.
"Aku ingin mengetahui sesuatu tentang mimpiku." Pinta Xuan Chen langsung pada intinya.
Dewa malam berdiri. "Kau bisa melihat arti dari mimpimu melalui binatang mimpi." Pria tua nan agung itu menunjuk pada rusa putih kebiruan yang sedang tertidur. "Jika merah, maka itu adalah kenyataan yang akan di hadapi, kuning peringatan, dan hijau hanyalah bunga mimpi."
'Seperti yang di katakan dalam kitab mimpi.' Pikir Xuan Chen yakin.
"Tapi, hanya kekuatan Dewa lah yang dapat melihat perbedaan warnanya."
Membuat Xuan Chen menghela nafas lalu menunduk, "aku tahu itu.."
Namun dewa malam tersenyum, "aku akan melihatnya untukmu."
Xuan Chen mendongkak selagi Dewa malam melanjutkan kata-katanya, "berikan setetes darahmu sambil membayangkan bagaimana mimpi yang kau maksud, itu akan mempermudah binatang mimpi mencari mimpimu."
Tanpa ragu Xuan Chen menurut. Meneteskan darah jari tengahnya pada binatang mimpi. Sambil membayangkan mimpi buruk itu walaupun hati terasa ditusuk ribuan belati.
Tak lama setelah mengenai permata biru yang mengenai keningnya, muncullah satu gelembung yang menurut Xuan Chen berwarna kelabu. Penglihatannya mulai menangkap kejadian dalam mimpi itu walaupun secepat kilat. Tak lama kemudian, gelembung itu kembali dihapuskan Dewa malam.
"Dewa?" Tanya Xuan Chen sambil berharap bahwa gelembung itu berwarna hijau.
Dewa malam berbalik menatapnya. "Merah.."
Ucapan Dewa malam sontak membuat hatinya mencelos, matanya memerah. Tidak mungkin! Langit pasti membohonginya. Tidak tahu harus menjawab apa, Xuan Chen buru-buru pamit lalu pergi. Mengajak Hua Mu Dan menuju tempat Dewi Yuan Ji. Sesuai dengan apa yang dia rencanakan dalam hati, dan tidak ada yang tahu.
Kediaman Dewi Yuan Ji berbeda dengan yang lainnya. Sangat sederhana namun elegan. Taman yang tak terlalu bertaburan bunga namun hijau dan nyaman. Riak air kolam menyambut kedatangan mereka berdua setelah diizinkan masuk oleh penjaga kediaman.
Nampaknya Dewi yang di kenal dengan kesederhanaannya masih belum terlelap tidur. Dia sedang menyesap teh hangat mengepul ketika Hua Mu Dan datang membawa seorang pria yang asing di matanya.
Dewi Yuan Ji meletakkan cangkir tehnya lalu menghampiri mereka berdua. Saat itu pula Hua Mu Dan dan Xuan Chen memberi hormat padanya.
"Ada hal penting apa?"
Setelah berbasa-basi tentang tujuan mereka berdua kemari, Dewi Yuan Ji yang tidak sombong mempersilahkan Xuan Chen duduk di kursi yang telah disediakan. Kini di ruangan itu hanya ada dirinya dan sang Dewi berdua.
__ADS_1
"Dewi, apakah kau bisa merubah takdir?" Tanya Xuan Chen langsung pada intinya. Terdengar konyol.
Membuat Dewi Yuan Ji terkekeh pelan. "Aku memang Dewi takdir kehidupan, aku juga Dewi kelahiran. Tapi, takdir tetaplah dibawakan langsung oleh langit, aku tidak bisa mengganggu gugatnya bahkan dengan paksaan."
"Mengapa seperti itu? Apakah kau benar-benar tidak bisa menyingkirkan mimpi burukku?"
"Haish, anak muda yang bodoh.. sudah kubilang, takdir langit tidak akan pernah ada yang bisa mengubahnya. Bahkan Dewa Dewi yang memiliki kasta tertinggi pun mungkin tidak bisa."
"Anak muda, garis takdir sudah di tentukan sejak kalian lahir. Aku sendiri hanya mengetahuinya. Tidak bisa mengatakan ataupun mengubahnya." Tambahnya.
"Bahkan Dewa bulan pun hanya bisa mengikuti perintah langit demi menjodohkan manusia, Dewa Dewi dan iblis yang baru lahir. Apakah kau mengerti?" Jelas sang Dewi panjang lebar.
"Apakah jika aku mati semuanya akan berubah?" Tanya Xuan Chen terdengar bodoh.
"Anak muda, berapa kali aku harus mengatakannya? Takdir tidak bisa diubah.."
Xuan Chen mulai cemas, "tapi.."
"Jika kau mati, hanya akan membuat gadismu menderita. Lalu bencana ini akan datang terus-menerus datang sampai beberapa kehidupan. Bahkan tidak ada habisnya. Apakah.. kau mau membuat gadismu menangisimu sepanjang malam?"
"Aku.."
"Sekeras apapun kau berusaha, kau tidak akan bisa menghindarinya. Kau hanya bisa menunggu. Dan takdir itu.. akan datang tepat pada waktunya." Tambah Dewi Yuan Ji sedikit menakuti -bagi Xuan Chen-.
Hening beberapa saat. Namun sang Dewi kembali berbicara, "seperti kau sedang berlayar di tengah-tengah samudra yang luas. Tiba-tiba angin bertiup kencang dan kau melihat badai dari kejauhan."
"Kau terus mengendalikan perahumu untuk menghindar. Namun angin kencang itu akan menarikmu ke dalam badai. Lalu, ketika badai mengelilingimu, kemana kau akan lari? Sekeras apapun kau melawan, pada akhirnya kau tenggelam."
"Ingat, ketika seseorang tenggelam.. tidak harus selalu mati. Masih ada kesempatan untuk hidup dan bangkit kembali." Dewi Yuan Ji berdiri dari duduknya. "Jadi, jalani saja apa yang akan terjadi kedepannya. Kau hanya perlu bersabar dan menghadapi semuanya dengan tenang. Karena kau tidak akan tahu bagaimana akhirnya. Baik atau buruk."
Dewi Yuan Ji masih tersenyum saat melihat Xuan Chen terdiam dalam lamunannya. Ya, dia mengerti kalau pikiran anak muda itu sedang berkecamuk dengan banyak kata yang dia keluarkan.
"Hanya itu nasihat dariku. Pertemuan kita telah berakhir, aku akan pergi.." Tuturnya sambil pergi meninggalkan Xuan Chen.
(Flashback off)
.......
.......
.......
Xuan Chen kembali meraih arak. Mengambil kesempatan ketika Shen Lan masih terpaku dengan ceritanya yang sudah menguap di udara. Dia meminumnya sedikit, dan adalah ini pertama kali. Membuat dia mengenyit merasakan sensasi yang aneh.
"Sudah kubilang, kau tidak akan kuat!"
Membuat Xuan Chen terkejut. Ternyata pria itu menyadari apa yang dia perbuat. Xuan Chen tersenyum sambil meletakkan arak itu di atas meja.
"Xuan Chen, kau harus mendengarkan nasihat Dewi Yuan Ji." Shen Lan ikut memberi nasihat.
"Tentu saja.."
"Kau tidak boleh memberi tahu ini pada Yi Changyin." Tambah Shen Lan.
"Tentu saja.."
"Tidak ada jawaban lain?"
"...."
Hening. Tapi Xuan Chen malah meraih sekendi arak lagi. Membuat Shen Lan terbelalak dan menghentikannya. Namun Xuan Chen malah lebih bertenaga dan meminum setengahnya. Tak lama kemudian, pria itu pingsan dan kepalanya ambruk ke atas meja.
"Sialan!" Runtuk Shen Lan. "Apakah aku harus menggendongnya?!"
.......
.......
.......
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉