The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab LIII - Kecelakaan Tak Terduga


__ADS_3

...Please yang puasa, bacanya malem:v Takut traveling aja kalian...


.......


.......


.......


Xuan Chen di sambut oleh hiruk pikuk teman-teman yang memberi selamat keberhasilan. Ia hanya mengangguk ramah walaupun dengan mata dan pikiran yang mencari-cari keberadaan seseorang.


"Bukankah kau akan kembali agak malam?" Tanya salah satu adik seperguruannya.


"Ayolah! Dia sudah tidak sabar melihat kekasihnya!" Sahut Zhu Guhuo yang membuat semua orang cekikikan. Xuan Chen hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Xuan Chen.. tolong aku."


Tiba-tiba saja suara itu menggema di benaknya. Membuat wajah ceria karena di sambut teman-teman menguap ke udara. Rasa cemas mulai tumbuh di hatinya seiring retina mata tidak menemukan pemilik suara itu.


Dia langsung menghampiri Zhu Guhuo, "apakah kau melihat Yi Changyin?!" Tanyanya terburu-buru.


Tapi pria itu malah terkekeh. "Kau begitu tidak sabar bertemu dengan bunga hati, kakak seperguruan. Tapi sayangnya aku tak tahu dimana dia."


"Bukan seperti itu!" Serunya sambil berlalu pergi begitu saja melewati kerumunan. Menuju tempat yang mungkin bisa menemukan keadaan si gadis yang dia sayanginya.


Semua orang merasa terheran-heran. Tapi tingkah Xuan Chen membuat Yi Xuemei dan Shen Lan merasakan firasat yang sama. Mereka saling melirik sebelum akhirnya berlari mengikuti jejak Xuan Chen.


.......


.......


.......


"Lepaskan aku!" Teriak Yi Changyin namun begitu tertahan. Dia sudah tak bisa mengambil alih tubuhnya yang sudah di kendalikan obat sialan.


Dia hanya bisa menghindar saat pria bajingan itu berusaha mencuri bibirnya. Dan Yi Changyin mendapatkan kemenangan dari hal ini. Karena kesal tidak mendapatkan apa yang ingin di raihnya, Qi Zhongma merobek pakaian Yi Changyin hingga menampilkan kulit halus seputih susu yang memacu adrenalin sang pria.


Yi Changyin terus berusaha menghindar ketika pria itu sudah menjelajahi lehernya. Walaupun tak kuasa dan lemah dia berusaha mendorong-dorong pundak yang berada di depannya. Bahkan dia tak bisa menahan suara-suara aneh yang mungkin bisa membuat semua orang salah paham.


"Xuan Chen tolong aku!!!" Teriaknya sambil terus membuka tutup telepati batin karena energi spiritualnya benar-benar di tekan.


Ketika sensasi geli mencapai buah persiknya, energi Yi Changyin bak pulih kembali dan bisa mendorong pria itu sangat keras. Tapi, obat penguat tidak bisa hilang begitu saja. Hingga dia berjalan sempoyongan dan menginjak pakaiannya sendiri, terjerembab ke atas lantai.


Hendak berdiri tapi Qi Zhongma lebih dulu menelungkupnya dari atas punggungnya. Kembali melakukan aksi-aksi memalukan di sekitar leher jenjangnya.


"Ahh! Xuan Chen!!! Tolong aku!"


Tentu saja suara itu terdengar oleh batin Xuan Chen. Membuat dia berhenti sejenak dan mengeratkan kepalan tangannya. Wajahnya memerah menahan amarah karena mendengar suara 'itu' di awal kalimat.


Saat itu Yi Xuemei dan Shen Lan sudah berhasil muncul di dekatnya. Dengan buru-buru Shen Lan bertanya, "apa yang terjadi pada Yi Changyin?"


"Sial!! Beraninya dia!!" Jelas geraman itu bukan di tunjukan untuk Shen Lan ataupun Yi Xuemei. Membuat keduanya terheran-heran sekaligus menebak-nebak apa yang terjadi.


Tak memberikan kesempatan pada keduanya untuk berbicara lagi, dia segera pergi dengan seribu langkah. Mau tak mau Shen Lan dan Yi Xuemei harus turut serta mengikutinya. Dengan langkah yang cepat pula sambil bergerutu kerena pria itu tak mau berbicara.


"Xuan Chen, tolong aku.."


Kata-kata itu kembali terdengar di dalam batinnya yang seperti penambah kecepatan berlari. Walaupun agak gelap, dia tetap menyusuri taman dan lorong-lorong asrama laki-laki. Dengan perasaan yang cemas dan hati yang memanas. Juga emosi yang meluap mendengar suara yang tidak mengenakkan itu.


Sementara Yi Changyin di putar balikkan oleh Qi Zhongma. Gadis itu kembali menghadap ke atas sambil berusaha menjauhkan diri. Menggerakkan seluruh tubuh sebisanya agar tidak terjerumus terlalu dalam.


Di luar, Xuan Chen tiba-tiba berhenti di suatu pintu yang menurutnya sangat mencurigakan. Dan ini berada tak jauh dari kamarnya berada. Juga ada bau obat penguat yang menyapa Indra penciumannya. Membuat jantungnya memburu kencang.


"Xuan Chen, tolong aku.." Tiba-tiba suara itu terdengar dari dalam ruangan. Membuat emosinya semakin menggebu dan menendang pintu hingga terbuka lebar. Bersamaan dengan datangnya Yi Xuemei dan Shen Lan.


Melihat pemandangan kotor yang menusuk-nusuk hatinya. Membangkitkan emosi terdalam yang dia pendam selama ini. Melihat gadis kesayangannya di aniaya oleh pria bajingan yang tak tahu malu. Bahkan keadaannya sudah sangat berantakan.

__ADS_1


Xuan Chen segera melesat dan menendang bahu Qi Zhongma -yang tak sadar akan kedatangannya-. Hingga terpental dan menabrak tembok. Seteguk darah termuntahkan dari mulutnya. Qi Zhongma meringgis sambil memegangi pundaknya yang terasa sakit menyengat.


Emosi ini belum selesai. Xuan Chen kembali menyerang Qi Zhongma dengan kepalan spiritual api di tangannya. Menghantam dada pria itu hingga sesak dan sakit tak bisa dia hindarkan. Mungkin saat ini organ dalamnya sudah rusak tak terhindarkan.


Yi Xuemei dan Shen Lan sudah menebak apa yang terjadi disini sangatlah marah. Bisa-bisanya pria itu menjebak Yi Changyin ke dalam permainan kotornya. Gadis itu adalah sesosok spesial yang di jaga oleh mereka!


Tak mempedulikan Qi Zhongma yang masih muntah darah, Xuan Chen meraih tubuh Yi Changyin yang terkulai lemas. Wajahnya merah keningnya berkerut, bibirnya pucat. Rambutnya berantakan dan pakaian yang terbuka.


Sungguh menyedihkan. Sungguh kejam pria itu. Menariknya untuk membuka jubah dan menutupi seluruh tubuh mungil gadis itu.


Setelah memastikan gadis itu nyaman di dalam pangkuannya, dia menghampiri Yi Xuemei dan Shen Lan. Lalu berkata, "urus dia, aku akan mengobatinya."


Tanpa ragu mereka berdua mengangguk dan menghampiri Qi Zhongma dengan seringaian jahat. Sementara Xuan Chen membawa Yi Changyin pergi dari ruangan yang membuat hatinya merasa tersayat itu.


"Beraninya bajingan itu!" Kutuknya terus menerus, membuat gadis yang berada di pangkuannya membuka mata.


"Xuan Chen.." Gadis itu berusaha meraih pipinya. "Apa benar ini kau?" Tanyanya dengan suara yang lemah.


"Benar, ini aku.." Jawabnya sambil terus melaju menuju kamarnya berada.


Karena sepi, dia langsung saja memasuki ruang dimensi spiritual. Berjalan sekencang mungkin menuju Paviliun. Namun dia berhenti ketika melihat Feng'er sedang menyendiri di gazebo.


"Feng'er!"


Yang sontak membuat sang Phoenix menoleh.


"Tolong buatkan pil yang dapat menolak obat penguat." Perintah Xuan Chen buru-buru dan cemas.


Membuat Feng'er menatapnya dengan curiga. "Tuan, kau..?"


"Jangan banyak bicara! Cepat buatkan!" Bentaknya yang merangsang tubuh Feng'er untuk segera bergerak lebih cepat.


Sementara ia membawa tubuh mungil yang panas dan setengah sadar itu masuk ke dalam paviliun. Membaringkannya di atas kasur dengan hati-hati dan lembut.


"Xuan Chen.."


Panggilan lembut, berat dan menggoda telah menyeret raganya dari dunia haluan. Dia menoleh dan terkejut saat melihat Yi Changyin terbangun sendiri dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.


Xuan Chen hanya terdiam saat melihat wajah Yi Changyin yang menggemaskan. Setiap pergerakan dan senyumannya seperti sedang meminta di sentuh, membuat dia harus menelan ludah susah payah.


Tapi tak di sangka, gadis itu mendorongnya hingga tertidur. Dan Yi Changyin berada di atasnya, menatapnya dengan senyuman yang manis menggoda.


"Yin'er.."


Namun gadis itu malah terus meraba-raba dada bidangnya yang terbaring.


"Yin'er.." Xuan Chen berusaha mendorong-dorong gadis itu namun tubuhnya terasa berat lima kali lipat. Obat itu mungkin telah menambah berat badannya dalam beberapa waktu. Meresahkan!


Dengan pelipis yang di banjiri keringat, dan tenggorokan yang susah payah menelan slivanya. Xuan Chen tetap berusaha untuk tidak menatap Yi Changyin yang menggeliat di atas tubuhnya. Memperlihatkan lekukan-lekukan bentuk bahu seputih susu yang menggoda.


Xuan Chen berbalik menindihnya, tapi gadis itu malah terpejam seolah telah tidur dalam waktu yang singkat. Xuan Chen menghela nafas dan segera pergi dari kasur menuju luar ruangan.


Dan ternyata Feng'er sudah menunggunya di ambang pintu. Dia sedikit terkejut ketika melihat wajah Xuan Chen yang pias. "Tuan?" Gumamnya sambil menyodorkan pil berwarna merah cerah.


"Jangan pedulikan aku, terima kasih sudah membuatnya." Jawab Xuan Chen langsung merebut pil itu dan kembali masuk ke dalam, menutup pintunya.


Tapi, betapa terkejutnya ia saat melihat pemandangan yang sekali lagi harus menelan slivanya berkali-kali dan berkeringat dingin. Saat itu, dengan santai tanpa dosa Yi Changyin tengah membuka semua pakaiannya. Bersisakan satu helai kain saja yang menutupi dua area intimnya.


Memperlihatkan kaki yang putih tanpa belang, bulu atau titik hitam. Di padukan dengan bentukan yang sangat istimewa membuat Xuan Chen benar-benar di banjiri keringat. Lalu bahu seputih susu yang lekukannya terlihat indah menggoda. Tangan yang halus, juga belahan di atas kain merah muda yang membalut sepotong tubuhnya itu.


Xuan Chen dengan ragu melangkahkan kaki menuju kasur, menyodorkan pil itu pada Yi Changyin tanpa melihatnya. Namun tanpa diduga gadis itu dengan mudahnya menarik Xuan Chen ke atas kasur dan menaikinya.


"Yin'er, ini.."


Namun gadis itu terlalu bergairah untuk menyentuh pria nya lebih jauh. Membuat Xuan Chen merasa pasrah walaupun hatinya sedang resah. Takut jika akan membangkitkan nalurinya sebagai lelaki sejati, lalu semuanya akan kacau.

__ADS_1


Semuanya telah terkalahkan, sentuhan gadis itu lebih menarik dari pada memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun ketika gadis itu mulai melepaskannya, dia menjadi teringat sesuatu.


Xuan Chen mencengkram rahang Yi Changyin, tapi mulutnya masih saja bisa terkatup. Dengan susah payah Xuan Chen memasukkan pil merah muda pada Yi Changyin, secara paksa. Tapi tak di sangka gadis itu merebutnya dengan mudah, kemudian melemparnya jauh hingga menggelinding entah kemana.


Xuan Chen terbelalak, "Yin'er!"


Namun gadis itu kembali menyentuhnya tanpa tahu malu. Tentu saja, obat akan merenggut segalanya. Bahkan Xuan Chen tidak lagi menolak.


'Yin'er, maafkan aku.' Pikirnya sambil menarik Yi Changyin kebawahnya. Mulai merasakan setiap rasa terdalam yang belum pernah ia cicipi sebelumnya. Semua konsekuensinya jika hal itu sampai terjadi, sudah dia lupakan. Hanya ingin waktu ini sekali saja.


.......


.......


.......


Wajah yang semula tenang terlelap di dunia mimpi, kini berkerut pertanda sang empu sudah terbangun. Yi Changyin membuka matanya dengan ekspresi yang heran. Matanya masih setia menatap langit-langit bulat dengan kelambu di setiap sisinya dalam waktu yang lama.


Pikirannya yang kacau berusaha mengingat-ingat kejadian sebelum kesadarannya di kendalikan sesuatu. Membuat kepalanya bertambah pening dan makin tersumbat. Yi Changyin berusaha untuk bangun, walaupun rasa sakit dan ngilu menyerang bagian bawahnya. Membuat dia sedikit terbelalak.


'Apa yang terjadi?!' Pikirnya cemas diiringi jantungnya berdegup kencang. Dengan cepat dia menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Tampaklah bercak berwarna merah menodai putihnya kain yang menjadi alas kasur. Membuat dia kembali menutupnya dengan cepat seperti tak mau melihatnya lagi.


Tak lama kemudian pintu terbuka seiring dengan masuknya Xuan Chen yang sebelah tangannya memegangi mangkuk sup. Dia sempat terkejut melihat Yi Changyin bangun. Namun kembali menyamarkannya walaupun masih kentara.


"Yin'er, kau sudah bangun.." Sapanya dengan suara yang pelan. Seperti mengandung rasa bersalah dan malu. Juga tak berani untuk melihat kilat mata gadis cantik yang kini terasa menyeramkan itu. Yi Changyin masih menatapnya dengan misterius ketika dia meletakkan mangkuk sup.


Yi Changyin bertanya selagi pria itu duduk di tepian kasur, "apakah dia.."


"Bukan dia.." Potong Xuan Chen. Masih menatap kedua kakinya, tidak sedikitpun berniat menoleh ke arah Yi Changyin yang kedua matanya mulai memanas.


"Kau.." Gumam Yi Changyin dengan suara yang bergetar.


"Maafkan aku.." Xuan Chen berlutut di depan kasur. Meraih tangan Yi Changyin dan menggenggamnya erat. "Obat itu一" Ucapannya terhenti ketika Yi Changyin dengan mudah meloloskan tangannya sendiri.


Hingga genggamanya kosong, sampai sebegitu lama diirngi ruangan ini yang hening. Tidak ada yang berani berbicara walaupun kata-kata sudah memenuhi pikiran mereka.


"Aku kira, kau akan menjadi penyelamatku." Ujar Yi Changyin memecah keheningan. "Tapi nyatanya, kau lebih jahat dari dia, lalu memanfaatkanku." Tambahnya dengan tatapan yang kosong.


"Yin'er.. aku sungguh tidak sengaja. Aku tidak pernah berniat untuk memanfaatkan hal itu. Semua ini hanyalah kecelakaan. Aku sendiri sungguh tidak menyangka dan menyesal" Xuan Chen berusaha memberikan kata-kata terbaik, walaupun menurutnya sendiri terdengar begitu bodoh.


"Tidak sengaja?" Kata-kata itu membuat aura dingin terasa menguar di sekitarnya. "Apakah, jika kau membunuhku akan di sebut tak sengaja?" Tambahnya sambil menatap Xuan Chen dengan dingin.


Membuat Xuan Chen mendongkak. Dengan pikiran yang menerawang melihat mimpinya yang buruk. Apakah mimpi itu benar-benar akan menjadi kenyataan?


Mengabaikan kata-kata Yi Changyin yang sedang mengungkit ayahnya, "bagaimana kalau ayah tahu! Dia pasti akan membunuhmu!"


"Xuan Chen, aku sangat membencimu!!" Tapi kata-kata itu lah yang terdengar jelas di telinganya.


Kata-kata itu kembali mengiang menusuk-nusuk hatinya. Beriringan dengan bayangan kematian Yi Changyin di depan matanya. Hingga butiran-butiran air keluar dari matanya tanpa permisi.


"Sudahlah.." Suara Yi Changyin kembali terdengar lembut. Xuan Chen perlahan memberanikan diri menatapnya, selagi tangan Yi Changyin terasa nyaman menghapus air matanya.


Yi Changyin memberikan senyuman gentir, "lupakan saja. Jika kita terus jadikan kecelakaan itu sebagai bahan perdebatan, tidak akan ada habisnya." Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya. "Rahasiakan saja dan tutup mulut kita." Kemudian dia berlalu begitu saja. Walaupun tak yakin hendak melangkah kemana.


Namun tiba-tiba Xuan Chen menarik tangannya, hingga punggungnya berakhir menabrak dada Xuan Chen, dia sedikit terkejut. Pria itu mendekapnya dari belakang, meletakkan dagunya di bahu Yi Changyin dengan nyaman.


"Besok, aku berjanji akan menikahimu."


.......


.......


.......


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉

__ADS_1


__ADS_2