
Xuan Chen akhirnya tak memiliki pemikiran lain lagi. Dia segera bergegas ke tempat lain. Hanya mengikuti kakinya yang melangkah saja. Tapi tanpa sengaja, dia tiba di rumahnya yang lama.
Xuan Chen sempat tertegun. Ini rumahnya? Sungguh berbeda jauh. Di halaman yang tadinya indah penuh tanaman bunga, kini hanya tumbuh banyak tanaman liar.
Rumahnya masih ada dan berdiri kokoh, hanya saja dipenuhi dengan lumut-lumut hijau dan tanaman merambat. Kayunya sedikit lapuk.
Namun di antara semuanya, hanya pohon bunga persik yang bertahan. Terlebih sekarang adalah musim semi, bunga-bunganya bermekaran indah.
Ketika Xuan Chen berkedip, tiba-tiba dia melihat seseorang yang tertidur di atas dahan pohon persik itu. Seperti yang dilihat dia di waktu sebelumnya, wanita itu memakai pakaian putih dan memiliki muka Yi Changyin.
Seperti biasa, Xuan Chen tersihir dan merasa itu adalah nyata. Yi Changyin yang berada di atas pohon membuka matanya. Namun tiba-tiba dia terjatuh ke bawah. Xuan Chen terkejut dan segera berlari untuk menangkap tubuh Yi Changyin.
Namun saat sampai, hanya tangkapan kosong yang dia dapatkan. Tapi bersamaan dengan itu ada benda berkilau yang jatuh ke dadanya. Dengan cepat Xuan Chen segera menangkap benda itu dan melihatnya dengan seksama.
Aura Yi Changyin menguar, dia tersenyum tipis. Kemudian bergumam, "Yin'er... Kita akan segera bertemu dan berkumpul. Tunggu aku."
Setelah pergi dari rumahnya, dia pergi ke gua bunga peony kristal yang berada di belakang air terjun. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat seorang wanita berpakaian serba putih yang sedang menikmati indahnya bunga Peony.
Tanpa di ketahui olehnya, di sisi lain Hua Mu Dan dan ketiga ketua alam peri yang lainnya mengintip Xuan Chen dari kejauhan.
"Dia menemukan jiwa ibu ratu lagi. Haruskah kita mempertemukannya untuk sesaat?" Ujar Shui Ning. Sekarang sebutan untuk Yi Changyin berganti menjadi ibu ratu.
Hua Mu Dan menghela nafas. "Selama sembilan puluh tahun ini tuan agung menderita mencarinya kemana-mana. Jiwa itu memang berkeliaran dan mencari keberadaan tuan agung juga. Jadi, beliau harus berputar-putar untuk mencarinya."
"Jika kali ini jiwa ibu ratu sampai menatapnya, maka kita tidak bisa menghentikan ruang dan waktu. Karena hanya dengan ruang dan waktu, jiwa ibu ratu bisa terjebak dan bertemu dengan tuan agung secara nyata." Jelas Hua Mu Dan panjang lebar.
"Kalau begitu, cepat lakukan!" Seru Hu Diejing yang diangguki ketiganya.
Kemudian, mereka segera berbaris membentuk formasi kecil. Menggerak-gerakkan energi spiritual dengan teratur. Hingga bola cahaya yang besar muncul dan meledak sampai kemana-mana.
Burung yang sedang mengepak terdiam saat itu juga. Sungai yang mengalir berhenti. Air terjun berubah kaku. Para manusia berhenti bergerak. Dunia menjadi hening.
Tepat ketika waktu dihentikan, Yi Changyin menoleh ke arah Xuan Chen. Mereka berdua tertegun untuk sesaat. Hanya mereka berdua dan keempat alam peri yang tidak terpengaruh.
__ADS_1
Seperti sebelumnya, Xuan Chen berlari menghampiri Yi Changyin dan memeluknya. Namun kali ini tubuh itu terasa nyata, berisi dan tidak menghilang, Xuan Chen terbelalak. Dia segera melepas pelukannya dan menatap wanita itu dengan tatapan yang tidak percaya.
"Yin'er?"
Yi Changyin tersenyum dan mengusap pipi Xuan Chen. Usapan itu nyata, bahkan terasa halus di kulitnya. Berulang-ulang kali Xuan Chen berkata dalam hati, ini bukan mimpi kan?
"Yin'er... Apa ini benar-benar kau?" Tanyanya dengan suara yang bergetar. Jantungnya memompa kencang hingga timbul perasaan senang yang berlebihan.
"Tapi, aku hanya sepotong jiwanya saja." Jawab Yi Changyin tak berekspresi.
Tapi apapun jawabannya, Xuan Chen merasa senang. Dia segera memeluk Yi Changyin dengan erat, tak ingin dilepaskan lagi.
"Jangan tinggalkan aku lagi." Bisik Xuan Chen dengan parau. "Aku sangat menderita. Aku sangat merindukanmu.."
Sepotong jiwa Yi Changyin yang berada dalam pelukannya tersenyum. Walaupun hanya setengah, tapi dia tetap Yi Changyin. Gadis itu membalas pelukannya.
Sementara di luar, keempat ketua alam peri sudah tak kuat untuk menahan waktu yang terhenti. Mereka sudah bergetar, energi spiritual telah terkuras banyak.
"Aku menunggumu..." Tepat ketika sepotong jiwa Yi Changyin mengatakan hal itu, keempat ketua alam peri sudah tak kuat menahannya lagi. Mereka terpental dan memuntahkan seteguk darah.
Dunia kembali bising, air kembali mengalir, air terjun kembali turun dengan deras. Manusia dan para binatang juga kembali bergerak.
Saat itu pula, Xuan Chen merasakan pelukannya kosong. Potongan jiwa Yi Changyin itu sudah menghilang. Hanya tinggal kristal jiwa yang kini berada di genggaman tangannya.
Xuan Chen menatap kristal itu dengan senyuman pahit. "Bisakah aku memelukmu lebih lama lagi?" Katanya dengan suara yang bergetar, menahan untuk tidak menangis.
Xuan Chen menghela nafas. Dia harus ke alam baka sekarang juga. Potongan jiwa itu hanya mengatakan di alam baka, tidak memberi tahu lokasi yang semestinya.
Setelah menenangkan diri, dia segera keluar dari gua. Keempat ketua alam peri terkejut dan segera menghilang dari sana. Saat berada di mulut gua Xuan Chen tertegun.
"Kenapa aku merasakan aura yang familiar?" Gumamnya heran. Namun ia segera menepisnya dan berusaha untuk tidak peduli. Hari ini, dia harus pergi ke alam baka. Tidak boleh membuang waktu yang tinggal sepuluh tahun lagi.
.......
__ADS_1
.......
.......
Beberapa tahun kemudian...
Xuan Chen menatap jembatan reinkarnasi yang berada tak jauh dari tempat ia berdiri. Dan beberapa langkah di depannya adalah danau alam baka yang penuh kabut.
Dia selalu berharap, Yi Changyin tidak ada di sana sekarang. Seandainya dia melihat Yi Changyin sedang menyebrangi jembatan itu, pasti akan menjadi gila.
Setelah bertahun-tahun mencari satu potongan jiwa lagi, hasilnya nihil. Alam baka luas, dia sudah berkiling sampai para hantu di sana mengenali Xuan Chen. Ya, saking seringnya dia bulak balik demi menemukan bongkahan kristal kecil tapi penting itu.
Lusa adalah hari keseratus. Lusa juga, Xuan Chen sudah tidak bisa menemukan kristal jiwa Yi Changyin. Dan kristal jiwa yang sudah dia temukan akan menguap. Kemudian, dia akan melihat Yi Changyin meminum air sungai kelupaan dan menyebrangi jembatan reinkarnasi.
Sudah! Xuan Chen tak mau membayangkan itu lagi. Beberapa tahun lalu dia akhirnya bisa memeluk Yi Changyin secara nyata, membangkitkan semangat terdalamnya.
Tapi perjuangannya yang memiliki batas waktu sampai lusa itu selalu sia-sia. Langit, dimana dia bisa menemukan Yi Changyin lagi? Langit, tolong bantu Xuan Chen yang malang...
Xuan Chen menatap langit-langit alam baka yang suram. Tanpa sadar air mata menetes dari pelupuknya sampai ke pipi. Kemudian terjun ke bawah kaki, mengalir ke danau alam baka.
Air mata Xuan Chen yang menyatu dengan danau alam baka tiba-tiba bersinar terang. Merambat seperti akar ke tengah-tengah danau.
Saat sudah cukup jauh dari tepian, tiba-tiba air mata itu merangsang sesuatu yang berada di dalamnya. Tak lama setelah itu, sosok Yi Changyin yang menghadap ke arahnya muncul dari balik kabut. Setengah kaki gadis itu terendam air danau.
Xuan Chen yang merasakan pergerakan segera melihat ke depan. Dia amat terkejut ketika melihat sosok Yi Changyin yang tersenyum ke arahnya.
.......
.......
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗
__ADS_1