The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CI - Mempermalukan Xuan Ye


__ADS_3

"Pangeran kecil sepertimu tidak pantas berbicara seperti itu padaku, kau tahu?!" Yi Changyin membalikan kata-katanya dengan keji.


Kata-kata Yi Changyin mutlak. Dia sendiri Ratu alam peri yang mendominasi, sedangkan Xuan Hua hanya pangeran dari kerajaan daratan kecil.


"Memangnya kau siapa?! Aku ini kakak iparmu!" Xuan Hua mulai meninggi-ninggikan dirinya.


"Kakak ipar apanya, cih!" Yi Changyin mendecih. "Aku ini adalah.."


"Hey, sudah.. sudah.." Xuan Chen mencegah Yi Changyin untuk membocorkan identitasnya. Dia membalikan badan Yi Changyin dan membuat gadis itu memberenggut kesal.


"Bawa Permaisuri Adipati ke kamarnya." Titahnya pada salah satu pelayan yang berdiri tak jauh dari sana. Membawa Yi Changyin yang masih bersungut-sungut penuh emosi.


Setelah Yi Changyin pergi, Xuan Chen membungkuk pada Xuan Ye dan Xuan Hua. Yang membuat mereka berdua tersenyum angkuh. Namun tak di sadari kalau Yi Changyin masih memperhatikan dari jauh.


Walaupun sedang hamil besar, wanita itu masih memikirkan rencana jahil untuk mereka berdua. Masih bertingkah usil dan sebagainya.


"Maafkan kelalaian adik dalam mendidik istriku, kakak pertama, kakak kedua.."


Membuat Yi Changyin mencibir dari jauh.


Xuan Ye mendengus dan mendorong pundak Xuan Chen. "Urusi dengan baik! Jangan sampai mencemarkan nama baik kekaisaran kami!"


Sejurus kemudian dia menarik kerah Xuan Chen. Xuan Ye menatapnya dengan tajam dan meremehkan. Sebaliknya, Xuan Chen menatap datar Xuan Ye.


"Ingat Xuan Chen.." pria itu mengancam sambil menggertakkan giginya. "Apa yang kau dapatkan hari ini.. tidak akan bertahan lama!"


Setelah mengatakan itu dia mendorong Xuan Chen. Xuan Hua tersenyum miring. Kemudian berbalik pergi mengikuti kakaknya.


Dari kejauhan, Yi Changyin tersenyum jahil. Dengan jentikan jarinya dia meletakan kulit pisang di tempat Xuan Ye dan Xuan Hua melangkah. Hingga saat mengenainya, mereka terpeleset dan terjatuh terlentang.


Xuan Chen menutup mulutnya menahan tawa. Begitupun dengan Yi Changyin tak bisa menahan tawanya.


Mereka berdua terbangun dengan buru-buru dan penuh emosi. Namun mereka memegangi bokongnya karena itu terasa sakit. Namun malunya tak seberapa, terlebih di sana banyak pelayan yang masih sibuk.


"Dasar kau?!" Xuan Ye marah. Mungkin dia mengira Xuan Chen lah yang melakukan hal ini. Dia segera berjalan seperti orang pincang, mendekatinya dengan tatapan membunuh.


Namun Yi Changyin buru-buru menengahi, dengan kipas Yin Zhenjie di tangannya. Xuan Ye berhenti dengan ekspresi yang berwaspada. Dia segera berbalik dan mengajak Xuan Hua untuk pergi.


Namun terlambat, kipas Yin Zhenjie sudah berkibar mengundang angin yang besar. Menerjang mereka berdua. Yi Changyin terus menggerakkan kipasnya sambil mengutuk.


"Pergi kau! Pergi kau!"


Sampai akhirnya mereka terpental keluar kediaman dengan keji. Semua warga yang sedang berjalan terkejut melihat mereka berdua yang tiba-tiba melayang keluar dari kediaman Adipati Zhaoyang dan terjerembab.


Dua penjaga disana ketar ketir melihat pangeran mahkota dan pangeran ketiga terjatuh secara tidak wajar.


Lebih parah sakitnya, apalagi malunya.


Oh tidak!! Dimana muka pangeran mahkota ditaruh nanti?!


Lebih parah lagi Yi Changyin lah yang menutup pintu kediaman tanpa sepengetahuan penjaga di sana.


"Jangan mengganggu kami lagi!!" Serunya sambil menutup pintu. Dan membuat bisikan-bisikan prasangka buruk terhadap pangeran mahkota dari para warga.


Sialan! Citra pangeran mahkota telah musnah oleh sang ibu hamil.


Dan mereka berdua hanya bisa berlari dari sana. Memasuki kereta dan pergi ke istana. Lebih tepatnya ingin mengadu. Tidak, bukan pada kaisar karena itu tidak akan ada gunanya. Tapi pada Permaisuri, ibunda mereka.

__ADS_1


Sementara itu di dalam kediaman semua orang tertegun. Yi Changyin masih tertawa kecil di depan pintu gerbang yang tertutup.


Namun ketika berbalik, betapa terkejutnya ia ketika melihat dada bidang yang menghalanginya. Perlahan Yi Changyin mendongkak dan nyengir kuda.


Namun Xuan Chen hanya terdiam dengan ekspresi gelap. Membuat tawanya hilang berubah menjadi takut.


"Kenapa aku menjadi takut padanya.." gumam Yi Changyin dengan keringat dingin.


Sejurus kemudian Yi Changyin merasakan tubuhnya terangkat. Dia menjerit, ketika Xuan Chen membawanya dengan cepat menuju kamar mereka berdua. Mendudukannya di atas kasur.


"Apa salahku?!" Teriak Yi Changyin ketika Xuan Chen kembali berlalu pergi.


Xuan Chen berbalik dengan emosi dan mencubit pipinya dengan gemas. "Kau pikir aku tidak khawatir saat kau melompat tinggi dan mencelakakan mereka?! Bagaimana kalau perutmu一!"


Kata-katanya terpotong dengan cepat oleh Yi Changyin. "Yang ada dalam perutku adalah bayi! Bukan bubuk mesiu yang bisa meledak!"


"Kau?!" Xuan Chen tak bisa berkata-kata lagi.


"Apa?!" Yi Changyin menantang.


Xuan Chen mendesis karena kehabisan kata-kata. Namun sejurus kemudian dia berkata, "baiklah! Hari ini aku akan menghukummu!"


"Siapa takut!" Yi Changyin tampak tak gentar. "Apa hukumannya?!" Tambahnya dengan mata yang menantang. Dia bahkan berfikir, 'jangan harap bisa melawan Bai Suyue.'


Xuan Chen tersenyum miring, "ramuan hari ini sampai seterusnya tidak akan menggunakan manis dan harum jeruk." Kemudian dia berlalu pergi, masih mempertahankan senyuman miringnya.


Meninggalkan Yi Changyin yang tiba-tiba tertegun karena kata-katanya. Berangsur-angsur menjadi khawatir dan takut. Dan ia telah menyesal telah berkata tidak takut dengan hukuman Xuan Chen.


Sialan!


Karena Yi Changyin tidak menyukai ramuan yang diresepkan tabib, Xuan Chen berinisiatif untuk menggunakan sari jeruk spiritual dari ruang Dimensi. Hingga rasa pahit dan bau menghilang. Yi Changyin menjadi senang meminumnya.


Dan sekarang.. Gara-gara kejadian di halaman, Xuan Chen tidak akan menggunakan jeruk lagi?!


"Tidak!!" Pekik Yi Changyin. "Xuan Ye.. Xuan Hua.. ini semua gara-gara kalian!" Bahkan dia menyalahkan kedua orang itu.


Dan hukuman Xuan Chen tidak main-main, tidak becanda. Tak lama kemudian pria itu kembali dengan semangkuk ramuan. Tanpa ada aroma jeruk, bahkan sepertinya masih berasa pahit.


"Jangan menolak, ini untuk menghukummu." Ujarnya ketika Yi Changyin hendak mengajukan penolakan. "Ingatlah, sepahit apapun tidak akan membuatmu mati. Karena tidak beracun."


"Aku tahu!" Jawab Yi Changyin dengan ketus.


Terpaksa Yi Changyin harus meminum ramuan bau berasa pahit itu lagi. Oh tidak! Dia bahkan terbatuk-batuk ketika selesai meminum semuanya dengan berat hati.


Setelah Yi Changyin meminum air spiritual untuk menghilangkan rasa pahitnya segera, dia merasa mengantuk dan menguap berkali-kali.


"Tidurlah." Ujar Xuan Chen sambil membaringkan tubuhnya dalam posisi miring dengan lembut. Menyelimutinya dengan hati-hati dan mencium keningnya dalam-dalam.


Ketika Xuan Chen melepaskannya, dia sudah tertidur lelap. Membuat Xuan Chen tersenyum simpul dan menciumnya keningnya sekali lagi.


Setelah itu dia beranjak pergi meninggalkannya sendirian. Dia masih sempat menatapnya sebelum menutup pintu rapat-rapat. Kemudian pergi ke paviliun utama kediaman barunya.


Kini ia harus memulai perjalanan barunya sebagai seorang Adipati, mempelajari politik dan ikut persidangan setiap pagi.


Namun betapa terkejutnya ia saat melihat pemandangan di aula utama kediamannya. Yaitu keberadaan Wen Yuexin. Sendiri pula!! Dimana pelayan pribadinya?!


Beberapa bulan lalu gadis itu pamit untuk berkultivasi di tempat yang jauh. Membuat ia menghela nafas lega. Namun sepertinya sekarang dia telah kembali ke daratan Dongfang, membuat ia menghela napas pasrah.

__ADS_1


Lebih parahnya lagi Wen Yuexin sendiri disini. Tidak ada pelayan lain ataupun pelayan pribadi Wen Yuexin. Ia mencoba menghubungi kedua binatang ilahinya, namun aneh.. koneksi tiba-tiba terputus.


Dan dia merasakan firasat buruk.


Ia berharap Wen Yuexin hanya diam di tempat. Namun nyatanya saat berjalan, gadis itu tiba-tiba ada di hadapannya.


Wen Yuexin menekuk lututnya sesaat. "Selamat atas gelar Adipati Zhaoyang yang kaisar berikan, kakak Xuan Chen."


Xuan Chen hanya mengangguk-angguk dengan wajah yang risih. Kemudian kembali berjalan tanpa menghiraukannya. Namun siapa sangka, gadis itu tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Kau?!" Dengan nafas yang memburu, ia berusaha melepaskan pelukan Wen Yuexin yang begitu erat. Ia takut Yi Changyin berpura-pura tidur, membuntutinya diam-diam kemudian melihat semua ini.


Hancurlah.


Namun semakin keras ia mencoba, tangannya sangat erat bertaut. Seakan wajah nyamannya itu tak goyah dengan gertakan berkali-kali dari Xuan Chen.


Sejurus kemudian, tiba-tiba Wen Yuexin membalikan badannya dengan sekali tepukan. Aneh, kekuatan apa yang dia dapatkan saat berkultivasi?


Lebih parahnya lagi, wanita itu mencium paksa bibirnya. Membuat tangannya refleks melayangkan satu tamparan yang keras. Hingga membuat Wen Yuexin terbanting sampai menabrak tiang ruangan.


Tidak ada toleransi, Xuan Chen hanya membiarkan gadis itu memburu nafasnya.


"Sudah cukup sampai disini, jangan temui aku lagi." Ujar Xuan Chen dengan ekspresi yang gelap, nada yang dingin.


"Aku sudah bersumpah pada langit untuk mengejarmu sampai kapanpun." Wen Yuexin tersenyum miring. "Jadi, tidak akan kulepaskan dirimu."


"Berhentilah mengangguku."


"Tidak mau!"


"Kau yang membuat aku dan ibuku menderita, jadi.. jangan pernah menemuiku lagi."


Kata-katanya membuat Wen Yuexin tertegun. "Aku? Mengapa aku? Bukankah yang menyebabkan ini semua adalah Xuan Ye?" Tanyanya secara beruntun sambil menghampiri Xuan Chen. Wajahnya terlihat begitu cemas.


"Jika saja kau tidak mendekatiku, mungkin saja ibuku tidak akan lebih menderita, bukan?" Jawab Xuan Chen dengan ekspresi yang dingin.


Wen Yuexin menatapnya tak percaya. Matanya tampak berkaca-kaca. "Aku.. aku hanya mencintaimu, aku.. aku.. tak tahu tentang hal itu."


"Tak tahu?! Ku pikir aku percaya?!" Bentak Xuan Chen.


"Terserah apa katamu, aku tidak akan pernah menyerah."


Xuan Chen hanya terdiam, menatapnya dingin penuh permusuhan.


"Mengapa kau hanya terdiam?!" Kini Wen Yuexin yang meninggikan nada bicaranya.


"Xuan Chen! Mengapa hatimu selalu terkunci untukku?!" Teriaknya lagi sambil menggoyang-goyangkan badan Xuan Chen. Dan pria itu hanya terdiam. Sama seperti tadi, dengan tatapan dingin penuh permusuhan.


"Mengapa kau selalu memilih gadis rubah itu dibandingkan dengan aku?! Memangnya siapa yang berani menerima kekuranganmu pertama kali?! Aku! Bukan gadis itu! Memangnya seistimewa apa dia?!"


Xuan Chen menjawab dengan dingin, "yang pertama kali menerima kekuranganku adalah ibuku, kedua ayahku, ketiga keluarga ibuku, keempat selir Xian, kelima selir De, keenam Xuan Yao, ketujuh Xuan Rong." Dia tersenyum miring. "Masih mau bilang yang pertama?"


Wen Yuexin terdiam menelan rasa malunya. Tapi dia belum menyerah, dengan mengalihkan topik pembicaraan. Itu adalah jalan ninja.


.......


.......

__ADS_1


.......


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2