
"Fulei!!" Permaisuri langit berteriak, bergegas untuk mencegah anaknya, dia takut pria kecil itu akan membuat masalah dengan Wu Yun. Yun Fulei adalah putra bungsu tersayang, dia tak mau terjadi sesuatu.
Tiba-tiba kaisar langit menghentikannya. Saat wanita itu menatapnya, kaisar langit menggeleng rendah. "Dia tidak akan membuat masalah." Bisiknya dengan wajah penuh keyakinan. Mau tak mau permaisuri langit mundur dari sana.
Sementara di sisi lain, Xuan Chen tersenyum simpul. Dia menekuk lututnya dan menatap anak kecil itu dari dekat. Jujur saja, Yun Fulei sangat tampan. Ah, dia jadi teringat dengan Jinmi, mendiang putrinya.
Dia menerima kantung merah itu dan bertanya, "apa ini? Apakah untukku?" Tanyanya lembut, seperti seorang ayah.
Yi Changyin yang melihat hal itu segera menundukkan kepalanya. Entah kenapa dia merasa sedih. Mungkin dia akan lebih senang jika setiap hari melihat Xuan Chen menimang Jinmi.
"Ini berguna untuk menyamarkan auramu. Satu-satunya di dunia ini." Pria kecil itu berbicara layaknya orang dewasa. "Ada lima butir, kau boleh menelannya sekarang dan sisanya untuk keadaan genting di masa depan. Tapi ini tidak akan bereaksi lama, jadi kau harus hati-hati."
Tanpa ragu, Xuan Chen membuka kantung merah itu dan mengambil satu butir. Sangat kecil dan berwarna merah darah. Walaupun penasaran, dia tidak ingin banyak berbicara dan segera menelan pil itu. Benar saja, dia merasakan auranya di tekan.
"Terima kasih." Tutur Xuan Chen lembut.
"Pangeran Fulei, kami berhutang padamu." Yi Changyin tersenyum, sebelum akhirnya berbalik pergi dan mengubah wujudnya menjadi elang.
Ia terbang menjauh di susul dengan Wu Yun, berwujud Phoenix yang berantakan tadi. Lalu ketiga lainnya. Yun Fulei menatap keempat burung itu yang menjauh.
"Aku harap kau segera melahirkan dia...' Pangeran kecil itu membatin, banyak emosi terpendam dalam hatinya. Layaknya orang dewasa, namun berwajah dan tubuh anak kecil.
.......
.......
.......
Setelah sampai di alam peri, Yi Changyin segera mengurung Xuan Chen di istana pendamping rahasia. Lengkap dengan gelembung air agar auranya tidak bocor.
Xuan Chen tidak keberatan. Dia bahkan merasa bangga ditempatkan di istana pendamping rahasia, merasa di akui. Ya, setidaknya dia tidak dibuang ke istana dingin.
Sementara itu Yi Changyin kini berhadapan dengan Wei Qiao. Gadis itu duduk di lantai ruang kerja Yi Changyin yang luas, dia sendiri duduk di atas tahtanya.
Sedari tadi, gadis itu tak henti-hentinya mengagumi. Dia terpana karena tak pernah melihat bangunan seindah ini. Dari luar mungkin seperti bangunan pada dunia lainnya. Namun saat masuk ke dalam keadaannya akan sangat berbeda.
Langit-langit ruangan sangat tinggi. Tergantung tempat lilin penuh kristal yang indah. Temboknya bukan kayu, melainkan tembok putih yang elegan dengan sentuhan keemasan.
Tak disangka Yi Changyin...
"Katakan dengan jujur, sebenarnya apa yang kau inginkan?" Tanya Yi Changyin menghentikan kekaguman Wei Qiao.
Gadis itu segera memberikan ekspresi memelas. "Ratu, aku hanya ingin berada di samping Xuan... Maksudku Tuan agung. Menjadi pelayannya juga tidak masalah! Aku berjanji tidak akan membuat kekacauan!"
(Note : Belum disebutkan sama author sebelumnya. Pendamping rahasia ini disebut Tuan agung. Atau udah pernah disebutkan dengan nama yang berbeda di chapter sebelumnya? Kalo udah, ingatkan author ya. Karena author kadang suka lupa wkwk)
"Kau bukan mata-mata Gaoqing Dijun lagi kan?"
"Tidak! Tentu saja tidak..."
"Kalau begitu beri tahu aku apa yang terjadi termasuk rencana-rencana sang Dijun." Yi Changyin memberikan tatapan yang mengintrogasi. Sangat tajam dan menekan hingga membuat Wei Qiao merinding.
Wei Qiao ingin menjawab namun Yi Changyin kembali menyela, "tidak ada pelayan di istananya. Karena takut aura iblis akan mempengaruhi mereka. Jika keempat ketua terus menerus memantaunya setiap hari, mereka tidak akan bisa."
"Kemudian putri mahkota Yue yang harus belajar, sementara aku sibuk, maka itu tidak akan baik. Jadi, jika ingin menjadi pelayan satu-satunya di sana, beritahu aku semuanya." Tambahnya seraya menggoda.
__ADS_1
Dia tidak takut jika Wei Qiao masih berencana untuk merebut Xuan Chen. Toh, gadis itu akan mati dengan sendirinya karena racun alam peri. Bahkan sekarang, Yi Changyin sudah merasakan racun itu perlahan mengendap dalam darah Wei Qiao.
Dan dengan bodohnya, Wei Qiao menyetujui itu semua. Dia mulai menceritakan semua yang telah direncanakan Gaoqing Dijun. Mulai yang telah Yi Changyin tebak ternyata benar, sampai yang benar-benar mengejutkan.
Ternyata, selama ini Gaoqing Dijun telah mengembangkan suatu senjata yang dapat menghancurkan jiwa. Berbentuk panah tapi entah terbuat dari apa, Wei Qiao tidak tahu.
Yang pasti, siapapun yang terpanah dengan senjata itu, maka dia tidak akan bisa bereinkarnasi lagi sampai kapanpun. Bahkan jika hanya tergores, nyawa tidak akan bisa tertolong.
Gaoqing Dijun ingin Yi Changyin dan Xuan Chen dihukum dengan petir Dewa di neraka. Saat mereka berdua lengah, Gaoqing Dijun akan membunuh dengan mudah. Pria itu sungguh tidak menyerah.
Pembunuhan Jinmi tidak sepenuhnya rencana Gaoqing Dijun. Pria itu hanya berpesan pada Wen Yuexin untuk membuat Yi Changyin membalas dendam. Hei, Yi Changyin sendiri sudah memprediksi hal ini.
Di sisi lain, Wei Qiao juga bercerita kalau pihak Gaoqing Dijun lah yang membuat Dewa kegelapan dalam tubuh Wen Yuexin bangkit. Heh, sungguh pembawa onar!
Kemudian Wei Qiao juga bilang kalau Wen Yuexin akan dibebaskan bagaimanapun caranya nanti. Entah itu kapan, Gaoqing Dijun tidak menentukan waktunya. Pria tua itu masih tak puas dengan Yi Changyin. Dia masih ingin memburunya walaupun terbukti dunia tidak akan hancur.
Apakah karena malu? Miris!
Setelah berbicara banyak hal, Wei Qiao diizinkan pergi menuju istana yang telah dilindungi gelembung air. Namun sebelum itu, dia terus menerus bersumpah untuk tidak melakukan hal sama yang pernah dia lakukan di akademi Tianjin.
Ya, maksud dia... tidak akan berusaha merebut Xuan Chen lagi. Yi Changyin diam-diam mencibir dalam hati.
Setelah itu, dia di antar oleh salah satu pelayan istana. Mungkin saat ini Xuan Chen sedang berharap mati-matian agar gadis itu tak jadi dikirim ke sana, atau mendapatkan karma selama di perjalanan.
Wei Qiao pergi, Hua Mu Dan memasuki ruangan sendirian. Setelah memberi hormat, dia menghampiri Yi Changyin dengan kotak yang dikeluarkan dari cincin ruang pribadinya.
Wanita dengan harum bunga Peony itu berdiri di samping meja dan meletakan kotak itu di depan Yi Changyin.
"Ratu, kami telah meracik pil baru untuk menahan racunmu."
"Bahan dasarnya masih jamur Lingzhi yang tumbuh di bukit bunga. Namun kami (para ketua alam peri) menambahkan eliksir dan tanaman herbal langka yang dapat menahan segala racun."
"Kami juga tahu bahwa Ratu tidak suka bau yang tidak sedap dan rasa pahit. Jadi, kami menambahkan wangi bunga persik, lengkap dengan perisa buahnya. Kami juga sudah memeriksa pil itu dengan seksama. Tidak bisa menjadi penawar, hanya bisa menjadi penahan."
Yi Changyin mendekatkan pil itu ke dekat hidungnya. Aroma bunga persik yang menenangkan langsung menguar, terasa nyaman.
Setelah itu dia menoleh ke arah Hua Mu Dan yang kini hanya terdiam, memberikan senyuman tulus. "Terima kasih."
"Itu sudah menjadi tugas kami."
"Setiap kali teracuni, aku akan merasa benci padanya. Apakah dengan meminum ini semuanya akan baik-baik saja?" Mata Yi Changyin bersinar seraya berharap.
"Ratu, lebih baik anda melakukan pencegahan."
Kening Yi Changyin memiliki kerutan dalam. Hua Mu Dan terlihat serius saat itu.
"Pil ini memiliki kekuarangan. Walaupun kami sudah memperbaikinya berkali-kali, kekurangan itu tetap ada setiap kami memeriksanya."
"Kekurangan apa itu?" Tanya Yi Changyin terlihat tak khawatir.
"Pil ini akan hilang kegunaan saat tengah malam. Dari situ, yang mulia akan menderita layaknya keracunan. Ibaratnya pil itu akan mengumpulkan racun yang hendak menyebar, lalu pecah saat tengah malam. Aku tidak mau..."
"Sudahlah, aku akan baik-baik saja." Sela Yi Changyin masih bersikap tenang. Dia menutup kotak itu dan memasukkannya ke dalam liontin spiritual.
"Tapi, Ratu bisa untuk tidak menemuinya bukan?" Hua Mu Dan masih tampak khawatir.
__ADS_1
Yi Changyin tersenyum penuh arti. "Tenang saja, aku bisa mengatur waktu."
"Oh ya, Ratu... Apakah anda tidak takut pada Wei Qiao?" Tanya Hua Mu Dan mengalihkan topik.
Yi Changyin menoleh ke arah Hua Mu Dan, tersenyum miring. "Jika dia berbuat macam-macam, aku akan membunuhnya diam-diam." Tiba-tiba tangannya mengeluarkan sebuah boneka sihir yang menyeramkan.
(Boneka sihir ini maksudnya boneka san tet. Kalo diketik seperti itu kan kayak gak pantes gitu buat novel tema xianxia. Jadi pake yang lebih formal lagi. Kalo ada kata yang lebih mendekati, tolong beritahu ya><)
Hua Mu Dan merinding diam-diam melihat hal itu, tengkuknya terasa dingin. Ratunya terlihat serius dan mengerikan. Sementara Yi Changyin segera menghilangkan boneka itu entah kemana.
Kemudian tangannya meraih benda lain di depannya, di udara kosong. Awalnya hanya kosong. Namun saat tangan Yi Changyin meraihnya, sebuah bola kecil tembus pandang muncul di sana. Ada sedikit warna kehitaman yang bergerak-gerak seperti asap.
"Bola kebohongan?" Hua Mu Dan bergumam. "Ratu, apakah kau mengujiku?"
Yi Changyin terkekeh pelan. "Ini Wei Qiao. Manamungkin aku meragukan kata-katamu."
Hua Mu Dan hanya tersenyum mendengarnya. "Ada benang-benang hitam. Artinya, ada sedikit kebohongan yang keluar dari mulutnya." Hua Mu Dan merasa miris, gadis itu masih berani-beraninya berbohong.
Bola tembus pandang yang lebih mirip gelembung jernih itu, adalah salah satu artefak alam peri. Salah satu yang disimpan di gudang harta alam peri.
Sesuai namanya, bola pembaca kebohongan ini bisa merasakan apa yang dikatakan di hati dan apa yang dikatakan di mulut.
Caranya mudah, hanya tinggal mencuri sedikit aura seseorang yang ingin dibaca kebohongannya. Jika ada benang-benang hitam yang tersemat, berarti sebagian besar perkataan orang itu bohong. Apalagi jika hitam secara keseluruhan.
Ini sangat berguna untuk mengintrogasi penjahat. Namun di alam peri kejahatan sangat jarang terjadi. Bahkan bisa dibilang, kejahatan muncul satu juta tahun sekali. Jadi, bola pembaca kebohongan itu hanya hiasan di ruang harta.
"Tadi dia berkata bersumpah tidak akan pernah mengincar Xuan Chen lagi. Sepertinya itulah titik kebohongannya." Ujar Yi Changyin sebelum akhirnya meniup permukaan bola tembus pandang itu. Aura Wei Qiao menghilang, begitu pula dengan benang-benang hitamnya.
Saat menyembunyikan kembali benda itu, tiba-tiba saja seorang pelayan datang tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan. Wajahnya tampak cemas dan segera memberi hormat pada Yi Changyin dan Hua Mu Dan.
"Ada apa?"
"Jawab Ratu, sesuatu telah terjadi di istana pendamping rahasia." Jawab pelayan wanita itu masih cemas.
"Jelaskan." Yi Changyin masih bersikap datar.
"Itu... Itu... Tuan agung.." Nyatanya dia masih ragu untuk mengatakannya.
"Cepat katakan."
Kata-kata Yi Changyin cukup untuk menyengat kesadarannya. Dia segera berkata dengan cepat, "Tuan agung Xuan memaksa ingin keluar dan bertemu denganmu! Kami yang ada di sana berkata kalau Ratu sedang tidak bisa ditemui. Tampaknya dia marah karena kehadiran pelayan Wei."
"Lalu?"
"Lalu... Tuan agung mengancam kami, beliau terus meminum berbagai jenis racun. Bahkan hampir memaksa pelayan Wei untuk meminumnya juga. Kami tidak bisa masuk untuk mencegah hal itu, Ratu!"
Mendengar hal itu Yi Changyin terkejut bukan main. Dia berdiri dan melebarkan matanya. Dia memang Wu Yun! Si pembuat onar! Dengan umpatan di mulutnya, Yi Changyin bergegas pergi dari sana, diikuti oleh Hua Mu Dan. Gadis itu pun merasa gemas dengan kelakuan Wu Yun.
Sungguh meresahkan! Tapi hal itu membuat Yi Changyin sedikit bernostalgia. Karena keras kepala, tengik, sombong, tidak sabaran, adalah sifat alami Wu Yun. Sial! Kenapa dia bisa bereinkarnasi menjadi pria sebaik Xuan Chen?!
.......
.......
.......
__ADS_1
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗