The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab LXI - Bersama Xuan Chen


__ADS_3

Yi Changyin membuka matanya perlahan. Pemandangan indah wajah tampan Xuan Chen adalah pertama kali dia lihat. Pria itu tersenyum sambil menatapnya, membuat ia ikut tersenyum walaupun kesadaran masih belum pulih sepenuhnya.


Tiba-tiba sesuatu yang hangat menyentuh pipinya. Dan suara yang menyenangkan di telinga itu terdengar lembut, "apakah ada yang sakit, Yin'er?"


"Tidak.." Jawab Yi Changyin sedikit parau sambil berusaha mendudukan dirinya. "Apa yang terjadi denganku? Mengapa aku tidak mengingat apapun?" Yi Changyin terlihat linglung.


Xuan Chen segera meraih bahunya, membiarkan gadis itu tenggelam dalam pelukannya. Sementara Xuan Chen hanya menatap kedepan dengan ekspresi yang tidak enak.


"Aku tidak tahu. Aku menemukanmu pingsan di hutan bambu, Yin'er."


"Benarkah?" Tanya Yi Changyin sedikit tidak percaya.


Xuan Chen mengangguk. "Benar.. aku tidak tahu dan tidak menemukan jejak apapun yang membuatmu seperti ini. Maafkan aku.."


Yi Changyin tersenyum maklum walaupun sebenarnya tidak sepenuhnya percaya, "tidak apa-apa. Mungkin saat itu aku kelelahan."


Xuan Chen kembali mengangguk dan mencium keningnya. "Benar. Asalkan kau baik-baik saja."


Hening sesaat. Mereka hanya diam menikmati kekosongan waktu ini masing-masing. Xuan Chen hanya diam sambil sesekali menghirup aroma rambut Yi Changyin yang menenangkan. Dan tentu saja Yi Changyin terpejam menikmati wangi cendana Xuan Chen yang memenuhi rongga hidungnya.


"Xuan Chen.." Panggilan Yi Changyin memecah keheningan.


"Jangan memanggilku seperti itu!" Sambar Xuan Chen tiba-tiba.


"Kenapa?" Yi Changyin mengeyit heran.


"Aku hanya ingin di panggil 'suamiku'. Bagaimana?" Pinta Xuan Chen sedikit merayu.


Yang sontak membuat Yi Changyin memukul dadanya dengan keras, ia pun sedikit meringgis. "Aku tidak suka panggilan kuno itu!"


Membuat Xuan Chen terbahak dan mencubit hidungnya dengan gemas. Yi Changyin masih cemberut bahkan ketika Xuan Chen melepaskannya.


"Jadi, apa yang akan di katakan istriku?" Tanya Xuan Chen sambil membelai dagunya.


Yi Changyin menepisnya dengan kasar, masih cemberut. Dia sangat kesal, entah kenapa. "Sekarang aku tidak mempunyai selera bicara lagi!" Beo nya yang membuat Xuan Chen tersenyum dan mencium bibirnya sekilas.


"Apa itu cukup untuk membuatmu bisa berbicara lagi?"


Yi Changyin menggeleng cepat. Wajahnya masih terlihat masam. Namun mengejutkan, Xuan Chen kini beralih memberikan sentuhan hangat pada lehernya. Membuat Yi Changyin sedikit terbelalak namun berusaha mendatarkan kembali ekspresinya.


Xuan Chen kini menatapnya dalam-dalam, namun Yi Changyin berusaha keras untuk tidak meliriknya sedikitpun. "Masih belum mau berbicara?" Tanyanya, kali ini dengan nada yang menantang.


Yi Changyin masih terdiam. Membuat Xuan Chen semakin melebarkannya senyumannya. Perlahan wajahnya turun ke arah dada, membuat Yi Changyin terbelalak dan segera mendorong tubuhnya.


"Bilang saja kau ingin menyentuh semuanya!" Geramnya.


Namun malah membuat pria itu semakin menjadi-jadi. Xuan Chen tersenyum dan semakin mendekatkan wajahnya. Hingga jarak mereka begitu dekat, saling menatap. Hampir membuat Yi Changyin terbang.


"Baiklah.."


Satu kata membuat Yi Changyin tersadar dan segera mendorong wajah pria itu dengan telapak tangannya. Dan telapak tangannya itu masih setia menetap di wajahnya dalam waktu yang lama. Xuan Chen hanya pasrah terdiam.


Tak lama kemudian telapak tangan Yi Changyin turun hingga mempersilahkan Xuan Chen untuk kembali menatap wajahnya. Tapi tangan Yi Changyin beralih mencengkram rahangnya, masih dengan wajah yang dongkol.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Xuan Chen dengan nada yang tertahan. Dia tersenyum walaupun kedua pipinya masih di capit oleh tangan mungil itu. "Apa kau ingin memperkosaku?"


Membuat Yi Changyin melemparkan wajah Xuan Chen hingga berpaling keras. Mungkin sedikit lebih bertenaga lagi, leher Xuan Chen akan ikut-ikutan terkilir.


Yi Changyin kembali menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan Xuan Chen. Membuat pria itu tersenyum dan membalas pelukannya dengan erat.


"Aku ingin mengatakan hal serius tapi kau malah mempermainkanku." keluhnya dengan kesal.


"Maafkan aku.." Tutur Xuan Chen lembut sambil mengusap-usap punggungnya. "Entah kenapa kau terlihat sangat lucu ketika marah." Tambahnya sangat berani dan jujur.

__ADS_1


Yi Changyin mendengus sambil memukul dada Xuan Chen dengan keras dan sebanyak tiga kali. Tapi pria itu hanya terdiam menikmatinya.


"Apa yang ingin Yin'er ku katakan?" Tanya Xuan Chen dengan lembut, berikut dengan ciuman halus di puncak kepalanya.


"Ini tentang masalah tadi sore. Aku.." Kalimat Yi Changyin tergantung.


"Apa yang ingin kau sampaikan, sampaikanlah Yin'er. Jangan ragu. Aku akan menerima apapun keputusanmu." Tutur Xuan Chen lembut.


"Aku seharusnya tidak marah padamu. Jelas-jelas.. aku sudah mengenal lebih jelas dirimu. Tapi dengan bodohnya aku tidak mempercayaimu." Yi Changyin berkata miris.


"Wajar saja kau marah padaku. Apa yang ku lakukan memang patut untuk di benci."


"Tapi semua itu terjadi bukan karena keinginanmu. Seseorang berusaha mengadu domba kita. Lebih tepatnya.. mereka berusaha merenggangkan hubungan kita. Dengan membuat aku tidak mempercayaimu lagi." Jelas Yi Changyin.


"Apakah orang itu.."


"Wei Qiao?" Potong Yi Changyin membeberkan tebakan Xuan Chen. "Aku tahu dia terlibat, tapi bukan dia otak dari masalah ini. Dia terlalu bodoh untuk berfikir." Tambahnya yang diiringi dengan umpatan mengerikan.


Xuan Chen tertawa kecil. Namun wajahnya kembali ke dalam fase serius, "apakah.. Qi Zhongma?" Tebaknya.


Yi Changyin tampak berfikir sesaat, "bisa jadi.." Yi Changyin tiba-tiba menatap wajahnya. "Lebih baik kita biarkan dia menjalankan suatu rencana lagi. Aku yakin, besok dan seterusnya pasti mereka akan kembali. Setelah itu kita cari cara untuk melawannya." Jelasnya yang langsung di angguki Xuan Chen.


Pria itu membelai puncak kepalanya. "Biarkan aku yang melawan mereka jika terjadi sesuatu. Kau tidak boleh membahayakan diri sendiri. Baik?"


Namun membuat Yi Changyin memberenggut kesal. "Apa yang kau katakan? Apakah kau pikir mereka akan membunuhku?!"


Xuan Chen menatapnya dengan serius, membuat Yi Changyin terdiam seribu bahasa. "Kau ingat yang menyerang kita di hutan kaki gunung Tianjin?"


Yi Changyin mengangguk tanpa berbicara. Matanya masih saling menatap seakan tak ingin lepas.


"Berhati-hatilah.. mungkin mereka yang bekerja sama dengan Wei Qiao." Ujar Xuan Chen pelan sambil terus memandangi wajahnya.


Kemudian Yi Changyin tersenyum dan menyentuh pipinya. "Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak takut pada mereka yang ingin membunuhku."


Lalu Yi Changyin menarik tengkuk Xuan Chen. Hingga kening mereka menyatu. Mereka memejamkan mata seraya menikmati waktu ternyaman mereka saat berdekatan. Melupakan sejenak masalah besar yang mungkin sedang menuju ke arah mereka. Walaupun hati Xuan Chen sedang diliputi kekhawatiran.


"Tidak akan ada yang bisa.." Bisik Xuan Chen. Kemudian pria itu menyentuh bibirnya dengan lembut. Mendorong tubuhnya hingga terbaring di atas kasur.


Menikmati rasa yang sering mereka lalui namun tak pernah ada puasnya. Menyelami lautan terdalam yang indah demi melupakan semua beban dan terfokus pada kegiatan yang menyenangkan. Sampai dupa habis terbakar..


"Xuan Chen.." Panggil Yi Changyin parau pada pria yang berada di atasnya


Xuan Chen menghentikan aksinya yang sudah melampaui batas menyenangkan dan menatap wajah yang sudah memerah itu. Lantas dia tersenyum dan menyingkirkan anak rambut yang menghiasi wajahnya.


"Kenapa? Apakah kau kelelahan?" Tanyanya sambil terus menatap wajah dengan badan yang polos di bawahnya itu. Yang di selimuti oleh tubuhnya yang hanya berbalut jubah besar dengan dada terbuka, juga kain yang tebal.


Yi Changyin mengangguk pelan. Membuat Xuan Chen menyuntikkan sesuatu kepada tubuhnya yang polos itu, hingga kembali memakai pakaian tidur berwarna merah muda.


Xuan Chen menyingkirkan tubuhnya dari atas Yi Changyin dan mulai berbaring di samping. Meletakkan kepala gadis itu di atas tangannya dan mendekapnya.


Dia terdiam selagi Yi Changyin mulai terlelap. Memikirkan pengalamannya sejak pertama kali bertemu dengan Yi Changyin. Membuat wajahnya terkadang senang, sedih dan tersipu malu. Takdir ini telah mengaduk-aduk emosinya. Yang terburuknya, mungkin nanti akan lebih parah.


.......


.......


.......


Pagi kembali hadir, matahari kembali menyapa belahan bumi. Daun-daun terlihat basah akibat hujan semalam. Meneteskan sedikit demi sedikit air yang tergenang. Daun itu tampak tenang di tengah keseruan yang terjadi di sekitarnya.


Srett!


Namun tiba-tiba daun itu terbelah menjadi dua oleh pedang tajam mengkilap. Hingga sebagian besar air tergenang segera membasuhi tanah dalam pot.

__ADS_1


Pedang yang menebas daun itu tak berhenti berayun. Menimbulkan pisau-pisau angin yang nyaris tidak terlihat. Mengeluarkan suara-suara khas tebasan pedang pada angin yang berirama. Pakaiannya berkibar-kibar seiring dengan kemana ia bergerak.


Gadis itu menari-nari di atas tanah bertembok dengan pedang ditangannya. Gerakan yang berirama dan tidak membosankan membuat riuh tepuk tangan dari penontonnya. Ya, terkecuali beberapa orang yang malas untuk melihatnya.


Latihan pedang yang bak menari itu telah di akhiri olehnya. Yi Changyin menyeka keringat yang membasahi pelipisnya. Lalu menoleh ke arah penonton. Menangkap sosok Yi Xuemei yang tersenyum sambil bertepuk tangan bangga kepadanya.


Yi Changyin membalas senyumannya. Namun fokusnya kembali teralihkan oleh seseorang yang tiba-tiba maju kedepannya. Dia menatap konyol orang yang pasti akan menantangnya itu.


"Xuan Chen?" Gumamnya.


Xuan Chen, pria itu menatapnya dengan senyuman misterius sambil memutar-mutar pedang oleh tangannya. Dengan bangga ia berkata, "kau tadi memang hebat, tapi belum terbuki kehebatannya jika tidak berhasil mengalahkanku!"


"Jadi, kakak seperguruan ingin menantangku?" Yi Changyin berkata penuh hormat walaupun ingin sekali menghajar pria di hadapannya tanpa segan. "Baiklah, aku terima.."


Mereka saling tersenyum miring sebelum akhirnya maju. Dentingan pedang terasa bersahutan terdengar karena cepatnya kedua orang itu saling menebas. Seolah ingin menghabisi satu sama lain secepat mungkin. Namun wajah keduanya menunjukkan kalau ini bukanlah sungguhan.


Karena terlalu cepat dan menghabiskan setengah tenaga mereka, energi spiritual disana bagaikan terkumpul oleh tebasan pedang. Hingga membuat Yi Changyin dan Xuan Chen masing-masing mundur sedikit terhempas.


Tak selesai sampai di situ, Yi Changyin kembali maju. Membungkuk dan mengincar kakinya. Xuan Chen segera meloncat tinggi dan melewati Yi Changyin dari atas. Pria itu segera mendarat di belakangnya.


Gerakan Yi Changyin tidak berhenti. Dia berputar dan kembali mengarahkan pedangnya pada bagian dada Xuan Chen. Dan pria itu berhasil menghindar dengan menelantangkan tubuhnya dalam posisi berdiri.


Yi Changyin tahu hal itu tidak akan berhasil mengalahkan Xuan Chen. Gadis itu masih berputar. Selama putarannya, energi spiritual mengalir deras ke arah pedangnya. Hingga saat Xuan Chen kembali tegak, Yi Changyin mendorong pedangnya hingga menimbulkan dorongan besar pada pria itu.


Membuat Xuan Chen terhempas kebelakang. Punggungnya mencium tiang paviliun dengan keras dan segera ambruk ke tanah. Yi Changyin menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang dia lakukan. Tapi untuk hari ini, sepertinya dia tidak perlu ada rasa kasihan terlebih dahulu.


Tapi Xuan Chen semudah itu kalah?


Tidak!


Bahkan guru dan beberapa murid yang mendukung Yi Changyin urung bersorak ketika Xuan Chen kembali maju dengan pedang yang siap menebas lawannya.


Karena begitu cepat, saat Xuan Chen mendarat di atasnya Yi Changyin hanya bisa menahan pedang itu dengan pedang miliknya. Begitu kuat dorongannya hingga mengharuskan ia mundur jauh kebelakang.


Walaupun pedang menyilang di depan mereka masing-masing, Xuan Chen dan Yi Changyin masih sempat bersitatap dan memberi senyuman. Membuat mereka sedikit terbang selama sesaat. Membuat Wei Qiao memutar bola matanya karena merasa sebal dan cemburu.


"Jangan harap kau dapat mengalahkanku!" Ujar Yi Changyin tiba-tiba yang menyadarkan Xuan Chen dari lamunannya.


Terlambat! Ternyata gadis itu telah menjebaknya dengan tatapan memabukkan. Yi Changyin mendorong pedang Xuan Chen dengan kekuatan penuh. Mengharuskan pria itu mundur kebelakang.


Dan Yi Changyin segera menghantamnya bertubi-tubi. Pria itu hanya bisa menghindar ke kanan kiri dan atas bawah. Menahan tebasan mematikan yang kapan saja bisa merobek kulitnya.


Gadis itu sangat ganas menyerangnya. Memutarinya sambil menebaskan pedang penuh irama bak menari namun mematikan. Ia sedikit kewalahan karena harus ikut berputar-putar juga.


Namun tiba-tiba pikirannya melayang pada hari kemarin. Dimana kekuatan Yi Changyin yang sebenarnya hampir saja merusak seluruh organ vitalnya. Padahal saat itu dia mengatakan kekuatan yang terlemah. Jika saja jiwa Bai Suyue bangkit di saat-saat seperti ini, mungkin tubuhnya sudah berubah menjadi daging cincang. Tapi dia yakin Yi Changyin tidak akan tega melakukan hal itu.


Kefokusannya membuyar saat lengah. Membuat Yi Changyin lebih leluasa melawannya. Gadis itu tak tanggung-tanggung menendang dadanya, kemudian lengannya hingga pedang itu terpelanting entah kemana.


Ketika tubuhnya terjerembab ke tanah. Dua pedang sudah menyilang di atas lehernya. Membuat dia mengangkat tangan dan mengatakan, "baiklah kau menang.."


Membuat Yi Changyin tersenyum senang dan menarik pedangnya. Diiringi dengan sorakan teman-temannya yang kini berhamburan ke atas tempat latihan berpedang. Terkecuali Qi Xiangma dan Wei Qiao tentunya. Juga seorang guru yang hanya menatap Yi Changyin kagum dari kejauhan.


Mereka saling bersahutan memuji Yi Changyin yang dapat mengalahkan seorang pria. Selagi Xuan Chen di bantu berdiri oleh beberapa temannya. Tapi ada pula yang berkata,


"Kakak seperguruan ketujuh hanya mengalah, dia tidak tega pada wanita!"


Yang langsung di sembur dengan pernyataan tak setuju oleh para murid perempuan. Mereka di sana sangat bahagia. Terutama Yi Changyin.


Wei Qiao menatapnya dengan senyuman miring dari bawah, "tersenyumlah sebelum semuanya berakhir sore ini." Kemudian dia mendengus. Qi Xiangma hanya meliriknya sambil tersenyum juga. Kembali menatap Yi Changyin dengan pikiran jahat yang membayangkan tangisan pedih gadis itu.


.......


.......

__ADS_1


.......


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2