
Puluhan lidi menyapu lautan dedaunan kering yang terhampar di atas lantai beton. Berkumpul dalam gunungan daun kering di bawah pohon rindang. Tumpukan itu sangat banyak hingga mengelilingi pohon dengan batang besar itu.
Yi Changyin menyeka keringat di keningnya. Dia menyipit menatap matahari yang hampir menyingsing ke ufuk barat. Waktu makan malam masih jauh dijangkau, sedangkan perutnya sudah meronta meminta makanan. Mungkin karena dia lelah. Sudahlah..
Dedaunan sudah berhenti berguguran, tapi masih berserakan di lapangan terbuka yang besar. Yang berdekatan dengan gerbang masuk. Di tengah-tengahnya terdapat batu aneh, menarik gadis itu untuk melihat lebih dekat.
Seseorang mengintipnya dari kejauhan. Sepasang bola mata itu bergerak. Pertama melihat Yi Changyin, lalu pada pagar berujung tajam yang membatasi batu aneh dan memiliki permukaan tidak rata itu.
'Senjata itu belum selesai dibuat. Mungkin hanya ini yang bisa menghambat penyatuan jiwanya.' Pikir wanita itu sambil mengeluarkan energi spiritual ditangannya secara diam-diam.
'Dengan kematianmu.. kristal jiwa itu akan terpecah kembali...'
Energi spiritual biru semakin deras di tangannya. Auranya sangat tidak terdeteksi, Yi Changyin tidak dapat menyadarinya. Setelah kekuatan siap, wanita itu segera mengarahkannya pada punggung Yi Changyin.
Semakin mendekat, energi spiritual itu berubah menjadi tembus pandang. Lalu mendorong punggung Yi Changyin dengan keras hingga tersungkur kedepan. Serangan itu dilakukan diam-diam. Yi Changyin terkejut, dia tidak dapat menghindar!
Satu senti sebelum keningnya tertusuk pagar tajam itu, seseorang menghentikannya. Lalu menarik Yi Changyin kedalam pelukannya.
"Apa yang kau lakukan?! Jika aku terlambat datang saja kau sudah mati!" Sembur Xuan Chen.
Yi Changyin yang masih terkejut hanya terbengong sambil sesekali melirik Xuan Chen. Benar juga, jika saja Xuan Chen tidak datang tepat waktu, dia sudah mati konyol di akademi.
"Ada.. ada.."
Xuan Chen tahu gadis itu masih ketakutan, dia lantas memeluknya dengan sebelah tangan. "Ada apa?"
"Ada yang mendorongku dari belakang." Katanya dengan jujur.
Mata Xuan Chen langsung menyapu sekitar. Tidak ada apa-apa, kosong. Hanya ada mereka berdua saat ini. Matanya yang begitu teliti tidak menemukan apapun pada celah-celah bangunan dan pohon di sana. Bahkan tidak ada aura apapun.
"Apakah kau merasakan auranya?" Tanya Xuan Chen menyelidiki.
"Tidak. Tapi setahuku.. orang-orang yang bisa menyerang diam-diam semacam itu, hanya orang-orang alam langit. Atau.. orang terkuat di alam iblis."
Xuan Chen tampak berpikir sejenak.
"Apakah.. orang sama dengan yang menyerang kita di hutan?" Tebak Xuan Chen.
Pikiran Yi Changyin langsung tertuju pada tebakan Xuan Chen. Dia ingat, kedua orang itu berkata jangan mencampuri urusan kami, kami tidak mau membuat banyak orang terluka. Jelas-jelas dia hanya mengejar Yi Changyin. Bahkan sampai masuk ke akademi. Entah bagaimana caranya mereka masuk. Kecuali..
"Sepertinya, mereka menyamar menjadi salah satu murid atau guru." Katanya sambil mendongkak, menatap mata Xuan Chen. Saat itu dia sadar posisinya, jantungnya langsung berdegup kencang. Tidak tahan, dia pun mendorongnya dengan perasaan canggung.
Xuan Chen juga merasa begitu, dia melemparkan pandangannya ke arah lain. Saling mendiami dan membelakangi, tidak tahu harus berbuat apa.
Pandangan Xuan Chen jatuh ke bawah. Tepat pada kotak makanan yang dia bawa. Dia pun baru teringat apa tujuannya kemari, yaitu memberi makan rubah kecilnya. Mengingat gadis itu makan empat kali sehari, dia harus terus memperhatikannya. Jika tidak dia akan mati kelaparan. Sayang sekali!
Dengan keberanian yang dia kumpulkan, yang menghilang setelah kejadian canggung tadi, Xuan Chen berbalik. Meraih tangan gadis itu hingga membuatnya berbalik. Xuan Chen segera menunjukan kotak makanannya yang bertingkat, Yi Changyin berbinar.
"Xuan Chen! Kau memang tahu aku saat kelaparan." Dia merebut pegangan kotak makan itu, membawanya kesalah satu bangunan kelas akademi. Melempar sapunya, lalu duduk di salah satu anak tangganya. Xuan Chen menyusul dan duduk bersebelahan dengannya.
Gadis itu sangat imut di mata Xuan Chen saat membongkar apa yang berada di dalam kotak. Dengan tidak sabaran dia mengeluarkan semuanya dan mencium aroma-aroma makanan yang menggiurkan lidah. Xuan Chen masih setia menatapnya tanpa berkedip.
"Wanginya sangat enak. Xuan Chen.. aku paling suka makananmu!" Serunya sambil mencicipi salah satu makanan yang berada di atas piring. Dia senang sekali saat merasakan rasanya yang memanjakan lidah.
"Saat tinggal di rumahku, aku sudah terbiasa memasak sendiri." Jawab Xuan Chen seadanya.
"Aku tahu!" Katanya sambil mengunyah makanan. Dia mengenyitkan kening saat melihat Xuan Chen yang hanya diam. Yi Changyin segera menyodorkan sepiring sayuran padanya.
"Kau juga makan!" Perintahnya dengan nada yang sedikit memaksa.
"Aku sudah makan."
"Tadi siang?"
"Benar."
"...."
Yi Changyin memukul bahu Xuan Chen, pria itu sedikit meringgis. "Waktu siang berbeda dengan sekarang. Perutmu pasti sudah keroncongan." Katanya sambil menepuk-nepuk perut pria itu. Membuat rasa malu dan canggung karena di sentuh campur aduk di kepala Xuan Chen.
"Aku hanya perlu makan tiga kali sehari. Tidak sepertimu." Ledeknya.
"Aku memang suka makan!" Sungut Yi Changyin dengan kesal. Tapi, dia kembali tersenyum.
"Tapi, walaupun aku suka makan.. aku tidak akan berbadan gemuk seperti manusia. Rubah ekor sembilan punya pesona tersendiri. Jadi.. mereka akan tetap memiliki tubuh yang cantik." Jelasnya dengan bangga.
"Aku sangat beruntung lahir di klan rubah!" Serunya senang, sebelum akhirnya dia kembali makan dengan penuh kenikmatan.
Xuan Chen hanya mendesis sambil tersenyum tipis. Gadis itu sangat senang membangga-banggakan diri sendiri di depannya. Tapi di matanya, itu memang kenyataan.
Yi Changyin makan dengan fokus, dia tidak memperdulikan apapun yang di sekitarnya. Termasuk Xuan Chen dan pekerjaannya. Keinginannya saat ini hanyalah makan! makan! makan!
Pipinya yang mengembung saat mengunyah, membuat dia terlihat begitu lucu. Pria di sampingnya tak pernah berpaling ataupun berkedip. Gadis itu terlalu mempesona bahkan saat sedang makan. Itulah mungkin menurut hatinya.
Beberapa saat kemudian, dia telah selesai makan. Membereskannya kembali dan memberikan kotak makan kosong itu pada Xuan Chen. Pria itu masih setia di sisinya.
"Xuan Chen, terima kasih.." Ungkapnya sambil bersandar di bahu Xuan Chen.
"Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah menjadi tugasku untuk memberi makan rubah yang malang."
Seketika kata-kata itu seperti api yang memanaskan suasana. Gadis itu langsung menatap Xuan Chen dengan tajam. "Apakah kau hanya menganggapku sebagai rubah malang yang dipungut di jalan?" Semburnya marah.
"Aku memang menemukanmu di jalan, kan?"
"Kau?!"
"...."
Teriakan marah itu kini hanya angin lalu. Mereka berdua malah terpaku dengan iris hitam yang menjadi lawan pandang masing-masing. Jarak mereka begitu dekat hingga membuat magnet yang kuat. Bulu mata Yi Changyin bagaikan kipas yang berkibas pelan, menutup dan membuka, membuat pria di hadapannya diam tersihir pesona.
"Xuan Chen.."
Panggilan lembut itu menyadarkan ketidak sadarannya dalam bayangan iris mata yang cantik. Beralih pipinya yang merona tak bisa menahan canggungnya. Dia tertunduk, tapi gadis itu malah menariknya kembali. Sungguh sial!
"Matamu sangat indah, aku sangat menyukainya." Bisiknya memuji. Membuat rasa tidak tahan Xuan Chen hampir meledak.
"Aku juga sangat menyukai pelukanmu. Itu sangat hangat. Seperti.. dipeluk ibuku saat tinggal di klan rubah dulu." Kata-katanya sangat polos, Xuan Chen masih mematung. "Aku sangat menyukai masakanmu.."
"Aku juga sangat menyukaimu!!" Xuan Chen tambah mematung. Apakah dia tidak salah dengar?
'Apakah ilmu penggoda rubah ini bekerja?' Pikir Yi Changyin jahil, dia tertawa dalam hatinya. Secara alami, dia memiliki ilmu penggoda yang kuat, membuat pertahanan siapapun roboh jika dipuji-puji olehnya, atau di tatapnya.
Tanpa rasa dosa, dia kembali melanjut. Semakin mendekatkan wajahnya, menyentuh pipi halus bak perempuan milik Xuan Chen itu. "Mengapa pipimu memerah? Apakah kau kepanasan? Apakah singa api itu mengerjaimu? Apakah一"
"Kau yang menggodaku!" Sambar Xuan Chen cepat. Dia memajukan wajahnya hingga membuat gadis itu ikut terdorong kebelakang.
'Sial! Apakah aku terlalu berlebihan?'
Pria itu semakin mendekatkan wajahnya, dan Yi Changyin hanya diam.
'Tidak apa.. Lagipula kata-kata tadi adalah kejujuranku.'
Satu senti jarak antara bibir mereka. Yi Changyin bergerak cepat mengecup pipinya, lalu kabur sambil tertawa. Dia kira pria itu akan mematung. Ternyata malah mengejarnya berlari mengelilingi lapangan.
Langkah pria itu lebih cepat dua kali lipat darinya. Alhasil telinganya berhasil tertarik dan membawanya kembali kebelakang. Yi Changyin meringgis kesakitan. Sangat kejam!
__ADS_1
"Kau berani menggodaku tapi tak mau bertanggung jawab hah?!" Semburnya.
Yi Changyin tertawa garing, menampilkan wajah tanpa dosa. "Maaf.. maaf.."
Xuan Chen melepaskan telinga kecil itu dari genggamannya. Merah dan sakit, Yi Changyin mengusapnya dengan wajah yang terlihat kesakitan.
"Masih berani?!"
Yi Changyin tersentak. "Tidak! Tidak!"
Xuan Chen tersenyum dan mengacak-acak puncak kepala Yi Changyin. "Jangan lakukan hal tadi pada pria lain." Pesannya serius. Matanya meneriakkan sebuah ancaman, Yi Changyin mengangguk dengan ekspresi takut. Jelas-jelas dia tersenyum, bisa-bisanya sambil mengancam!
Xuan Chen berjalan mengambil kotak makan tadi yang kosong dan hendak pergi meninggalkannya. Dengan gelisah Yi Changyin kembali menghentikannya dengan sebuah panggilan yang membuat pria itu langsung berhenti.
"Xuan Chen, tunggu."
"Ada apa?"
Gadis itu tertunduk malu, seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu tapi tidak berani untuk mengatakannya. "Besok sore.. aku ingin memakan masakanmu lagi."
Xuan Chen tersenyum. "Kau tenang saja.."
Yi Changyin melompat senang. "Baik! Aku tunggu kedatanganmu!"
Xuan Chen mengangguk ringan lalu pergi menuju asramanya.
"Ingat! Aku tidak akan memakan makanan lain selain masakanmu!" Seru Yi Changyin memperingatkan.
Xuan Chen hanya mendesis sambil tersenyum. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tingkah gemas rubah kecil itu.
Setelah punggung Xuan Chen menghilang dibalik bangunan-bangunan akademi, dia kembali mengambil sapunya. Menyingkirkan daun-daun yang bersekarakan disana. Keadaan di sana sangat sepi karena malam hendak menyapa.
Tiba-tiba saja sesuatu menyerang dadanya. Sangat sakit hingga membuat dia meremas pakaiannya. Dia meringgis kesakitan sampai menjatuhkan sapunya, nafasnya terengah-engah seperti akan keluar semua secara paksa. Yi Changyin jatuh ketanah, menekuk lututnya. Dia masih meremas pakaiannya. Sangat sakit!
Yi Changyin berusaha menenangkan jantungnya. Dia mengambil posisi sila lotus, memfokuskan pikiran dan menutup matanya.
Jauh di dalam jantung Yi Changyin yang paling dalam. Sesuatu yang tembus pandang ditanam di sana. Mengambang dan bentuknya seperti gelembung air.
'Aku menyukai matamu..'
'Aku menyukai pelukanmu..'
'Aku menyukai masakanmu..'
'Aku menyukaimu..'
Tiga kata-kata itu seperti sebuah energi spiritual yang menghasilkan suara. Masuk ke dalam gelembung tembus pandang yang mirip dengan air itu secara berurutan. Ajaib, kata-kata itu seakan sihir yang merubah warnanya. Menjadi putih dan tidak tembus pandang lagi.
Saat itu pula Yi Changyin tidak merasakan sakit lagi. Dia berkali-kali menepuk dadanya, memastikan yang dia rasakan ini benar atau tidak. Sakit itu telah menghilang bagaikan ditelan bumi. Bagaimana mungkin!
"Ini bukan racun.." Gumam Yi Changyin bingung. "Ini aneh.. seperti seseorang telah menanam sesuatu pada jantungku. Tapi siapa..?"
Yi Changyin berusaha mengingat-ngingat apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Apakah karena Kristal aneh itu? Tidak mungkin! Tapi bisa jadi mungkin!
"Argghh!" Dia menggeram kemudian berdiri. "Sudahlah!"
Yi Changyin tidak ingin memusingkan hal ini lagi. Lebih baik dia fokus pada apa yang dia lakukan kali ini. Setelah rencana itu berhasil, dia bisa mencari tahu di perpustakaan akademi.
.......
.......
.......
Keesokan harinya saat sore hari, Yi Changyin kembali melakukan tugasnya. Ini musim gugur, daun tidak akan berhenti untuk berjatuhan. Aih.. Wei Qiao ini sungguh pintar membuat rencana. Tapi tidak tahu jika ingin melawannya sebagai rubah licik alam langit.
Yi Changyin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Kadang kali dia melihat kearah jalan menuju asrama, menanti-nanti makanan datang padanya. Apakah mungkin Xuan Chen lupa? Entahlah.
Dua hari ini dia belum melihat Wei Qiao keluar dari kamarnya. Entah memang dia belum sadar, atau mungkin masih bermanja-manja di dalam kamar. Yi Changyin tidak mau mengurusi. Tapi dia sungguh berharap gadis itu akan keluar besok hari sesuai rencananya untuk lusa.
Tiba-tiba suara langkah kaki menghampirinya. Auranya tidak berbahaya, pasti dia Xuan Chen. Dengan senang hati dia berbalik dan memanggil setengah namanya.
"Xuan..."
Terhenti, pria di hadapannya bukan Xuan Chen. Melainkan Qi Zhongma.
Dia?!
Untuk apa dia kemari? Dan yang di tangannya itu adalah kotak makanan. Yi Changyin kini sudah mengetahui niat pria itu sebelum dia sendiri angkat bicara.
Yi Changyin segera memasang wajah formalnya dan memberi hormat. "Salam kepada kakak seperguruan kedelapan."
Qi Zhongma tersenyum ramah. "Tidak perlu bersikap resmi, adik seperguruan. Aku ke sini untuk membawakanmu makanan.." Ujarnya sambil meletakkan kotak bertingkat dengan bau harum itu, di atas lantai dekat anak tangga.
Yi Changyin tersenyum kaku. Dia bingung kali ini. Karena dia sudah bilang akan memakan makanan yang dimasak Xuan Chen. Tapi menolak Qi Zhongma sangat tidak sopan.
"Terima kasih, kakak seperguruan.." Hanya itu yang bisa dia ucapkan.
"Tidak perlu sungkan.." Jawab pria itu sambil mengeluarkan semua makanan yang berada di dalam. Ingin Yi Changyin menolak, tapi tidak bisa!
Perginya Qi Zhongma adalah yang dia harapkan. Tapi pria itu malah duduk, juga mengajak Yi Changyin. Mau tak mau dia juga harus duduk berseberangan dengannya. Dengan perasaan tidak mau dan tidak enak yang saling bercampur aduk.
Kalajengking hitam yang bersembunyi dibalik lengan baju Yi Changyin merasa tertarik dengan makanan itu, dia mengintip. Yi Changyin dapat menyadarinya, membuat sebuah ide terlintas dibenaknya.
Tapi entah kapan kalajengking itu berada di lengan bajunya?! Sudahlah..
"Adik seperguruan, silahkan makan.." Suruh Qi Zhongma yang menyadarkannya dari lamunan.
Yi Changyin kembali tersenyum kaku. Pikirannya mengatakan 'nanti', tapi itu tidak mungkin untuk diucapkan sekarang. Qi Zhongma sudah mengeluarkan semua makanan disana! Aih.. menyebalkan.
Ada empat piring yang terhampar dihadapannya. Daging, sayuran, udang dan bakpao. Tangan Yi Changyin melayang di atasnya, otaknya sedang berfikir keras dalam memilih mana yang lebih dulu agar tidak ketagihan. Karena dia sangat lapar!
Qi Zhongma tersenyum menatap wajah Yi Changyin. Dia tahu kalau gadis itu sedang kebingungan akan memakan yang mana terlebih dahulu. Dari tatapan matanya, ada hal lain yang terselip dan tidak dapat disadari. Tapi Qi Zhongma tidak tahu kalau Yi Changyin sedang menunggu orang lain.
Pria itu segera berinisiatif untuk menyuapinya. Dia menyumpitkan daging dan menyodorkannya pada Yi Changyin. Gadis itu terkejut dan segera merebut sumpitnya dan memakannya sendiri. Qi Zhongma hanya tersenyum. Dia tahu Yi Changyin akan malu-malu di depannya.
"Apakah pekerjaan ini melelahkan?" Dia mulai bertanya.
"Tidak, ketika masih tinggal di kediamanku, aku sudah terbiasa. Walaupun banyak pelayan, aku lebih suka membersihkan halamanku sendiri. Jadi.. pekerjaan ini tidak masalah bagiku." Jawab Yi Changyin jujur. Memang itu lah kebenarannya.
Pelayan-pelayan di paviliunnya dahulu adalah orang (Bawahan) Feng Chao. Membuat dia harus bekerja sendiri apapun yang terjadi. Dan Yi Wang tidak bisa memperhatikannya. Kaisar langit sering memanggilnya ke alam langit atas, tidak ada waktu untuk memperhatikan keluarga. Sudahlah, Yi Changyin harus melupakan hal itu. Ambil saja kenangan baiknya dan buang kenangan buruk.
"Selain cantik dan baik, ternyata kau adalah gadis yang rajin.." Pujinya spontan. Dia juga senang Yi Changyin bisa jujur dihadapannya.
Yi Changyin terkekeh garing, "kakak seperguruan terlalu berlebihan. Jangan memujiku seperti itu. Banyak di luar sana yang lebih rajin dariku.."
'Xuan Chen contohnya.'
Dia jelas-jelas menolak pujian. Tapi Qi Zhongma malah menganggap Yi Changyin sedang merendahkan dirinya. Dalam pikirannya, Yi Changyin mungkin merasa tidak enak saat di sanjung. 'Gadis yang baik..'.
Mungkin juga Yi Changyin merasa gugup, Apalagi dia baru kali ini mendekatinya. Walaupun beberapa hari kebelakang selalu tak sengaja berpapasan yang membuat pria satunya -Xuan Chen- kepanasan.
"Kau makanlah.." Pinta Qi Zhongma sekali lagi.
"Ah! Baiklah!"
__ADS_1
Sontak Yi Changyin mengambil bakpao dihadapannya, dia menggigitnya sedikit-sedikit. Qi Zhongma hanya tersenyum. Pikirnya mungkin dia berhasil membuat gadis itu merasa dipentingkan. Hey anda, jangan harap!
Tanpa disadari keduanya, seseorang memperhatikan mereka dari jauh dengan ekspresi wajah yang gentir. Dia mencengkram erat sesuatu yang sedang dia pegang. Bahkan sampai urat-urat hijau-nya keluar, ia sangat emosi.
Xuan Chen, itu dia. Dia melihat keduanya di depan paviliun. Melihat Yi Changyin bersikap ramah pada pria lain. Mungkin saat emosi dia tidak bisa membaca wajah rubah kecilnya. Tapi yang lebih parah, rubah kecilnya.. memakan makanan dari pria itu? Padahal dia sudah bekerja keras untuknya, dan gadis itu sudah berjanji kemarin.
Pikirannya kacau, marah pun tak ada gunanya, dia bukan siapa-siapa di hati Yi Changyin. Mungkin gadis itu hanya menganggapnya sebagai 'tuan yang paling disayangi', tidak lebih. Dia menunduk dan kembali memutar arah, menuju tempat asrama berada.
Saat dia berada di jembatan kolam teratai, Xuan Chen berhenti. Menatap kotak makanan yang dibawanya. Apakah harus di buang? Tidak!
Xuan Chen menghela nafas, menetralkan kembali wajahnya yang terlihat pucat. "Feng'er.."
Tidak ada sahutan.
"Heilong.." Tidak ada sahutan juga.
Xuan Chen kembali menghela nafas, "Xiaobai.."
Tak lama sosok Xiaobai muncul di hadapannya, memberi salam. "Tuan.."
"Apakah semua orang ada di dalam?" Tanya Xuan Chen langsung tanpa basa-basi.
"Mereka masing-masing sedang bertapa, hanya aku yang ditugaskan untuk berjaga. Padahal.. tidak akan mungkin seseorang dapat menerobos." Awalnya melaporkan, akhirnya Xiaobai malah merajuk.
Xuan Chen tersenyum mendengarnya, lalu menyodorkan kotak makanan itu padanya.
Tampak kedua mata Xiaobai berbinar, "tuan.. apa ini?"
"Aku sebenarnya tahu kau sendiri di dalam sana. Tadi aku hanya memastikan." Padahal Xuan Chen sama sekali tidak tahu. "Hari ini aku memiliki waktu senggang. Jadi.. sengaja memasak untukmu, sebagai imbalan karena sudah menjaga ruang dimensi spiritual."
Tanpa berfikir panjang, Xiaobai langsung mengambil kotak makanan itu darinya. "Terimakasih, tuan. Xiaobai pamit.."
Xuan Chen mengangguk sebelum akhirnya Xiaobai menghilang di udara kosong, kembali pada ruang dimensi spiritual.
Seketika wajah ceria Xuan Chen luntur, dia beralih menatap kolam yang sebagian teratainya sudah menghilang. Sebagai bunga musim panas, teratai tidak akan bertahan ketika musim dingin hendak menyapa.
Musim gugur, dimana daun-daun berguguran ketika hendak menyambut musim dingin, sama seperti semangatnya yang berguguran ketika melihat dia bersama yang lain.
Xuan Chen berdiri di sana tanpa bergerak sedikitpun. Bahkan sampai hari gelap. Dia tidak peduli semilir angin dingin terus menusuk kulit-kulitnya yang tidak seperti baja besi. Entah apa yang dia pikirkan.
Tiba-tiba Yi Changyin datang dari jalan aula utama. Xuan Chen belum menyadari keberadaannya. Pria itu sedang melamun, wajahnya menandakan dia sedang memiliki masalah hidup. Padahal hanya 'CEMBURU'
Yi Changyin berjalan jinjit, dia tidak mau langkahnya terdengar oleh telinga Xuan Chen yang tajam. Hey! Pria itu benar-benar tuli atau bagaimana? Padahal kadang langkah Yi Changyin terdengar pelan-pelan.
"Xuan Chen!!" Kejutnya sambil memeluk pria itu dari belakang. Jelas dia terkejut. Mungkin jika suara itu tidak familiar, dia akan mati karena terkejut berlebihan.
"Rubah kecil, kau sudah selesai?" Suaranya terdengar lemah.
"Apa yang terjadi padamu? Apakah kau sakit?"
"Aku.."
"Pantas saja kau tidak datang membawa makanan untukku! Aku kelaparan!" Sungutnya kesal.
Xuan Chen tertegun. Sebenarnya barusan salah dengar atau tadi sore dia salah lihat? Jelas-jelas keduanya terasa nyata. Mana mungkin dia berhalusinasi! Tapi kenyataan ini membuatnya pusing tujuh keliling.
Dia segera melepaskan pelukannya secara paksa, menatap wajah gadis itu. Tampak pucat. Persis seperti seseorang yang sedang kelaparan. Xuan Chen membelai pipi Yi Changyin yang mengembung karena cemberut.
"Mengapa kau sangat pucat?"
"Karena kau tidak memberi makan rubahmu!" Tuturnya dengan kesal.
Dahi Xuan Chen mengenyit pusing. "Apa? Bukankah.."
Sesuatu langsung masuk ke dalam pikirannya. Sekarang dia tahu apa yang terjadi. Yi Changyin terkekeh pelan, menepuk-nepuk tangan Xuan Chen yang masih menempel di pipinya.
"Jadi, kau marah saat melihat kakak seperguruan kedelapan memberiku makanan?"
Xuan Chen mengangguk tak berdaya. Sial.. ini semua salahnya sendiri. Bodoh! Dia mempermalukan diri sendiri!
"Xuan Chen kau salah paham! Sebenarnya aku tak memakan makanan itu. Kalajengking hitam yang menghabiskannya. Aku malah menunggumu.. Kau harusnya mengerti!"
Xuan Chen tambah terkejut. Ternyata... seperti itu.. Dia benar-benar harus menenggelamkan wajahnya!
"Maafkan aku.." Mohonnya dengan tatapan yang nanar.
Yi Changyin tersenyum. "Kau salah paham padaku. Dan.. kesalah pahaman ini membuatku kelaparan." Ketusnya yang membuat Xuan Chen terkekeh pelan.
"Jadi, apakah kau memaafkanku?"
Yi Changyin termangguk. "Tidak apa, itu bukan masalah besar."
"Sebaiknya aku kembali memasak untukmu.."
"Tidak perlu!"
"Kenapa?"
"Aku ingin kita makan ikan bakar spiritual." Dia menggosok-gosok tangannya dengan tatapan yang penuh nafsu. "Itu akan membuat perut sekaligus dantian kenyang."
Xuan Chen mencubit hidung mungil itu dengan gemas. Yi Changyin meringgis dan menepisnya. Pria itu malah terkekeh pelan.
"Dasar brengsek!"
*Flasback : yang sebenarnya terjadi*
"Sebenarnya, aku masih ada yang harus dilakukan bersama guru Ying. Kau makanlah di sini.." Ujar Qi Zhongma yang membuat hati Yi Changyin bersujud berkali-kali pada langit.
"Baik.." Jawab Yi Changyin singkat, tapi terdengar bersemangat.
Qi Zhongma hanya tersenyum, lalu pergi menuju halaman belakang. Mungkin menemui guru Ying, mungkin..
Setelah Qi Zhongma benar-benar pergi dan auranya tidak terasa, Yi Changyin mengeluarkan kalajengking hitam dari balik lengan bajunya.
"Hitam! Makanlah semuanya."
Kalajengking hitam terkejut. Tapi sepertinya dia tidak menolak dan segera memakan satu-satu makanan di sana, dengan senang hati. Sementara Yi Changyin kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Habiskan saja, tidak perlu pedulikan aku. Kemarin aku berjanji hanya akan memakan masakan Xuan Chen!" Tuturnya semangat, walaupun perutnya lapar.
Satu jam kemudian..
Yi Changyin terus menerus melihat ke arah jalan menuju asrama dengan harapan pria itu muncul dengan makanannya. Perutnya sudah lapar! Dia hanya mendesah kasar saat harapannya pupus. Dan makanan tadi sudah habis oleh kalajengking hitam yang rakus itu.
Dua jam.
Tiga jam.
Sampai hari gelap. Sampai seluruh halaman bersih. Sampai dinding-dinding akademi mengkilap, Xuan Chen belum datang juga. Dengan kesal, Yi Changyin melempar sapunya.
"XUAN CHEN!! AWAS SAJA KAU!!"
.......
.......
__ADS_1
.......
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉