The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab LXXV - Usaha Membangunkan sang Pemimpi


__ADS_3

Tubuh besar burung Zhen Niao bercahaya terang. Semakin terang dan membuat sesuatu tumbuh di sana. Perlahan semakin besar dan membentuk gundukan tanah yang lengkap dengan komposisi setiap lapisannya.


Gundukkan itu terus membumbung tinggi dan bertambah lebar. Dengan pedang pusaka milik Bai Suyue yang masih tertancap di atas puncaknya.


Hingga beberapa meter lagi mengenai awan yang membumbung, telah berhenti. Gundukan itu penuh lika liku yang seperti gunung tanah yang besar.


Dan dari berbagai penjuru bahkan bisa melihat fenomena pembentukan gunung itu dari jauh. Mereka para manusia teramat kagum, takjub, heran dan penuh tanda tanya.


Di sisi lain Bai Suyue menjentikkan jarinya lima kali yang membuat mutiara berwarna putih, hijau, oranye, kelabu dan biru keluar berturutan. Menuju gundukan tak jauh di bawah kakinya. Yang bahkan bisa di sebut dengan gunung tinggi.


Mutiara berwarna hijau membuat gundukan itu di penuhi dengan pepohonan hutan yang segar dan tumbuh-tumbuhan lainnya, seperti puluhan bambu hijau yang membentuk hutan. Membuat yang berada di sana terlihat hidup dan tidak mati seperti saat menjadi gundukan tanah tadi.


Kemudian warna biru berubah menjadi air yang mengalir di setiap lekukan tanah yang di sediakan. Membentuk air terjun, sungai, kolam kecil bahkan danau. Warna kelabu berubah menjadi kabut-kabut yang menghiasi lembah.


Kemudian dari mutiara berwarna oranye, berubah menjadi ribuan kupu-kupu yang berterbangan kesegala arah secara acak. Namun ketika mendarat di suatu tempat, mereka berubah menjadi binatang roh dan binatang bisa yang buas maupun tidak.


Lalu yang terakhir, mutiara berwarna putih. Ia menyelubungi pedang pusaka Bai Suyue yang tertancap di tanah. Kemudian berubah menjadi batu dengan permukaan yang tidak rata. Lengkap dengan perisai spiritual pelindung yang pastinya tidak dapat di pecahkan semudah itu.


Setelah semuanya selesai dan tapi, dan gundukan tanah itu berubah menjadi gunung yang tinggi dan asri. Bai Suyue turun ke atas tanah puncak dengan perlahan.


Kemudian disusul dengan kedatangan seseorang dari belakangnya. Pria tua berjanggut putih dengan pakaian senada. Menghampirinya penuh sungkan dan hormat. Tapi jika Yi Changyin melihat pria tua itu mungkin akan terkejut, karena dia adalah tetua Ling Zhao.


Tetua Ling Zhao saat itu menelungkupkan kedua tangannya dan membungkuk. "Ratu.."


Bai Suyue membalikkan badannya dengan senyuman penuh arti. "Kau benar-benar datang, manusia.." Katanya dengan lembut.


Tetua Ling Zhao terkekeh pelan, masih dengan posisi menghormat. "Sekarang.. hamba sudah mendapatkan kekuatan dewa dan siap menjalani tugas darimu."


Bai Suyue mengangguk puas. "Bagus! Mulai sekarang ini adalah gunung Tianjin.. aku ingin kau menjadi penjaga gunung ini. Sampai mungkin waktunya telah berakhir kelak. Terserah kau akan mendirikan apa di sini." Jelasnya.


"Asalkan bisa menjaga itu.." Telunjuk Bai Suyue mengarah pada batu dengan permukaan tak rata dan dilindungi oleh perisai spiritual itu.


Tanpa menoleh, tetua Ling Zhao semakin membungkukkan tubuhnya pertanda mengerti.


Flashback Of.


Yi Changyin begitu terkejut ketika sadar. Dan cermin raksasa di hadapannya sudah menghilang tak berbekas. Ia mencoba menyalakannya kembali namun ternyata tidak bisa.


Benda itu.. seperti hanya bisa di buka di saat-saat genting saja. Ya mungkin memang seharusnya seperti itu.


Ia masih tertegun di ujung kasur. Dengan gumaman yang menunjukkan kebingungan akan apa yang dia dapatkan. Ingatan yang diberikan Bai Suyue bukan meringankan, tapi malah membebankan.


"Tetua Ling Zhao?"


"Batu itu?"


"Mengapa?"


Yi Changyin masih terus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dengan mulut yang terus bergumam pertanyaan serupa. Detik berikutnya ia menggeram rendah dan bergegas pergi.


"Aku harus berbicara dengan Shen Lan!" Gumamnya penuh semangat.

__ADS_1


Namun baru beberapa langkah mengenai pintu, Yi Changyin menoleh ke arah kasur. Melihat Xuan Chen yang masih terlelap dengan tenang. Ia tampak berfikir sesaat, apakah dia akan menunggu pria itu terbangun atau tidak.


Namun ia mencibir dan mulai berbalik pergi, tidak memperdulikan pria itu. Membuka pintu dan berjalan menuruni tangga. Saat melewati kebun di depan paviliun, ia melirik ke kiri sesaat.


Tampak Feng'er yang sedang santai di atas ayunan rotan yang penuh dengan bunga-bunga. "Sejak kapan ada ayunan di sana?" Cibirnya namun terlihat begitu penasaran.


Kemudian terlihat Heilong berwujud ular kecil sedang melingkar di atas bantalan kursi gazebo dengan nyaman. Tidak tahu Xiaobai dan Xiaoxuan berada di mana.


Ia kini telah keluar dari ruang dimensi spiritual. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati posisinya yang masih berada di tengah-tengah hutan bambu.


Gadis itu memijit keningnya dan menghela nafas frustasi berkali-kali. Kemudian ia kembali ke ruang dimensi spiritual. Berlari tergesa-gesa melewati kedua binatang ilahi yang sedang terlelap itu. Membuka pintu dengan keras dan berharap Xuan Chen akan terbangun karena ini.


Dan nyatanya hanya mimpi belaka.


Xuan Chen masih tergeletak dengan tenangnya di atas kasur. Dan selimut yang menyelimuti setengah badannya. Dengan posisi badan yang membelakanginya.


Dengan langkah yang penuh emosi Yi Changyin menghampirinya. Duduk di tepi kasur dengan hati-hati dan mulai menggoyang-goyangkan badan Xuan Chen dengan kencang. Sambil memanggil-manggil namanya dengan nada yang tidak sabaran.


"Xuan Chen!! Xuan Chen!!"


Pria itu bergerak dan membuat senyuman Yi Changyin merekah. Namun senyuman itu kembali hilang ketika Xuan Chen hanya membalikkan badannya menjadi terlentang, dengan mata yang tertutup. Pria itu masih terlelap dalam buaian mimpinya.


Ia masih mencoba memukul-mukul pipinya dengan keras, namun hanya tepisan halus yang dia dapatkan. Kemudian menjewer telinganya, mengapit hidungnya, menjitak jidatnya, sambil memukuli dadanya dan pria itu masih terlelap.


"Apa kau meminum obat tidur?!" Tanya Yi Changyin kesal dan setengah berteriak.


Terdiam beberapa saat memikirkan ide cemerlang yang mungkin bisa membangunkannya dengan mudah. Entah kenapa pria itu tidak mudah dibangunkan


Oh surga, siapakah pria tampan ini? Tentu saja, dia suamiku.. SUAMIKUUU.


Memikirkannya Yi Changyin menjadi tersipu sambil senyum-senyum sendiri. Namun sejurus kemudian senyuman itu berubah menjadi raut kesal. Dan kembali berfikir bagaimana cara membangunkannya.


Dan tiba-tiba satu ide tercetus dalam pikirannya. Ia tersenyum dan segera beraksi menaikkan badannya ke atas pria itu. Mendesakkan sebuah ciuman hangat pada bibirnya. Sambil berfikir dengan percaya diri kalau Xuan Chen akan terbangun kali ini.


Dan benar saja, tangan pria tampan yang merupakan suaminya itu bergerak memegangi pundaknya. Mendorong Yi Changyin hingga terlentang di atas kasur. Xuan Chen masih menempel di tubuhnya hingga menjadi selimut dadakan bagi Yi Changyin. Dan parahnya pria itu mulai menekuri setiap inci lehernya dengan lembut.


Membuat Yi Changyin tertegun sekaligus tersipu. "Xu.. Xuan.. Chen.."


Pria itu berhenti, kepalanya masih berada di sana. "Maafkan aku Yin'er sayang." Ujarnya dengan nada berat khas orang yang baru bangun tidur. "Aku masih mengantuk.." Tambahnya yang langsung di sambut desiran halus dan tenang menerpa lehernya.


Yi Changyin sempat tertegun, namun kembali tersadar saat benda besar bernyawa itu kembali tertidur di atas tubuhnya.


"Xuan Chen! Kau tertidur lagi?!" Cercanya sambil memukul-mukul punggungnya. "Kau pikir aku ini kasurmu?!"


Dengan susah payah dia berusaha mendorong benda besar bernyawa itu. Hingga akhirnya terguling kesamping dengan keras. Membuat Yi Changyin menghela nafas lega. Namun pria itu masih saja terlelap dengan tenangnya.


"Sialan!!!" Kutuk Yi Changyin sambil menendang-nendang udara kosong.


Namun tiba-tiba sebuah ide terlintas dengan cepat di kepalanya. Membuat ia tersenyum jahil sambil menatap Xuan Chen yang masih tertidur.


.......

__ADS_1


.......


.......


Yi Changyin menangis tersedu-sedu sambil memandangi kedua tangannya yang berlumuran darah. Sambil sesekali mencuri pandang ke arah Xuan Chen dan berharap pria itu terbangun karena tangisannya.


Dan benar saja, Xuan Chen tersentak dan segera mendudukan dirinya. Menatap pias tangan Yi Changyin yang berlumuran darah. Ia benar-benar cemas kali ini. Seolah rasa kantuknya menguap tanpa sisa setelah melihat derita wanita terkasihnya.


Dia terkejut ketika melihat kedua tangan Yi Changyin yang berlumuran darah.


"Apa yang terjadi denganmu? Bagaimana kau bisa terluka?!" Xuan Chen terlihat panik sambil memegangi kedua tangan Yi Changyin.


Namun sejurus kemudian tangisan Yi Changyin lenyap yang membuat ia mendongkak penasaran. Semua luka dan darah yang berlumuran di tangannya lenyap begitu saja.


Ia menatap Yi Changyin yang juga menatapnya dengan ekspresi dongkol. Sejurus kemudian satu tamparan melayang di pipinya hingga memanas. Diiringi dengan teriakan Yi Changyin di hadapannya.


"Dasar tukang tidur! Di dunia nyata matahari hampir terbit! Dan kau masih ingin bersantai-santai di sini?! Di hutan bambu?! Bagaimana kalau guru-guru memburu kita dan mengetahui semua rencanaku pada Wei Qiao?!"


Xuan Chen terkesiap dengan kata-kata, hingga hanya bisa terdiam seribu bahasa.


"Ayo kita pulang ke akademi!" Tambahnya sambil bergegas pergi. Namun kembali menghentikan langkahnya merasakan Xuan Chen tak kunjung bangkit dari duduknya.


"Xuan Chen, ayo!!!" Teriak Yi Changyin untuk yang kedua kalinya.


Dan berhasil membuat Xuan Chen tersadar, dia mengangguk kikuk. "Ba.. baik.." Kemudian mengikuti langkah Yi Changyin menuju luar paviliun.


Saat berada di luar, berjalan di atas jalan yang di apit dua kebun indah, Xuan Chen memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku, barusan aku bermimpi melakukan hal itu lagi denganmu. Jadi.."


"Dasar pemimpi mesum!" Potong Yi Changyin sambil berbalik dan memukul dadanya. Kemudian pergi begitu saja dengan raut wajah yang kesal. Tapi membuat pria itu tersenyum sendiri.


.......


.......


.......


"Dijun, apakah kau yakin akan membawa gadis itu?" Tanya seorang pria berpakaian serba hitam lengkap dengan topengnya. Berdiri di samping Gaoqing Dijun yang sedang termenung memainkan kuas di tangannya.


Setelah mendengar pertanyaan dari bawahannya itu Gaoqing Dijun menghela nafas. Ia meletakkan kuasnya dan menatap ke depan. "Benar, mungkin dia bisa di manfaatkan. Aku yakin itu setelah mendengar cerita dari Qi Xiangma. Dan sekarang dia sedang mencarinya.


"Namun tak lama kemudian, sosok Qi Xiangma muncul dari arah pintu dengan langkah yang tergesa-gesa. Setelah menghormat pada sang atasan, Qi Xiangma mulai melaporkan.


"Dijun, aku telah menemukannya. Tapi tidak bisa membawanya karena dia berada di hutan Diaoshi dan di lindungi oleh formasi Phoenix dan Naga!"


.......


.......


.......

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2