
Ada mayat!!"
Feng'er dan Heilong bersembunyi di belakang Xuan Chen, mereka bertingkah seperti seorang penakut. Namun Xuan Chen menyingkirkan mereka berdua, berjalan menuju seorang wanita yang Feng'er Heilong sebut sebagai mayat.
Xuan Chen membalikan badannya. Hatinya tersentak, merasakan sesuatu yang menusuk-nusuknya. Melihat wajah pucat Yi Changyin dengan luka di bagian kepalanya. Penuh darah, hingga sebagian wajahnya berwarna merah.
Juga ada luka tusukan di bagian dadanya. Membuat tangan Xuan Chen bergetar untuk menyentuh wajahnya. Ekspresinya jelek, hendak menangis. Dia segera meraih tubuh Yi Changyin dan memeluknya erat.
Pemandangan apa ini?! Hingga membuat hatinya semakin hancur dihantam sesuatu.
"Yin'er, mengapa kau ada disini?" Gumamnya lirih, sambil mendekap erat tubuh Yi Changyin.
Awalnya Feng'er dan Heilong heran, namun saat tuannya itu menyebut nama 'Yin'er', mereka terbelalak. Menutup mulutnya yang terbuka dan ingin menangis.
Menyesal telah mengatakan 'ada mayat'
Mereka berdua tak bisa berkata-kata, namun tambah terbelalak melihat jari jemari Yi Changyin yang bergerak-gerak.
"Ibunda masih hidup! Ibunda masih hidup!" Seru Feng'er sambil sedikit melompat-lompat. Heilong pun turut bahagia.
Xuan Chen melepaskan pelukannya. Dia meletakkan Yi Changyin dalam pangkuannya. Pria itu merasa lega saat Feng'er dan Heilong mengatakan bahwa Yi Changyin masih hidup.
Benar saja, karena sentuhannya kesadaran gadis kesayangannya itu terasangsang. Yi Changyin membuka matanya perlahan, dan langsung melihat pemandangan wajah pria yang dirindukannya beberapa bulan ini.
Dia berkata dengan susah payah dan suaranya terdengar lemah, "apakah.. ini mimpi?" Sambil berusaha meraih pipi Xuan Chen.
Xuan Chen mencengkram tangannya, meletakkannya di pipinya. Dia segera menoleh ke arah Feng'er dan Heilong yang masih terdiam.
"Cepat! Siapkan beberapa obat di ruang dimensi spiritual, aku akan mengobatinya di sana!"
Tak menunggu lama, Feng'er dan Heilong langsung memasuki ruang dimensi spiritual untuk menyiapkan segalanya. Mengikuti perintah mutlak tuan mereka.
Sementara Xuan Chen menatap mata Yi Changyin, gadis itu tampak berkaca-kaca. Tersenyum senang di bibirnya yang pucat. Membuat hatinya terasa tambah sakit.
"Apa yang terjadi padamu? Kemana selama ini kau pergi?" Tanya Xuan Chen dengan nanar.
Yi Changyin hanya tersenyum, dia menggelengkan kepalanya. Tidak ingin memberi tahu. Namun Xuan Chen menganggap itu jika Yi Changyin tak mengingat semuanya.
"Xuan Chen.." panggilnya lemah.
"Aku disini." Sahut Xuan Chen cepat.
Namun betapa terkejutnya Xuan Chen saat melihat gadis itu kembali jatuh pingsan. Membuat dia buru-buru untuk menggendongnya, kemudian masuk ke ruang dimensi spiritual.
Xuan Chen menatap kosong Yi Changyin yang terbaring lemah di atas kasur. Pakaiannya sudah ia ganti, semua lukanya sudah ia balut. Namun bibirnya masih terlihat pucat.
"Mengapa kau bisa terluka seperti ini? Memangnya dimana Shen Lan?" Gumam Xuan Chen tak bersemangat.
Xuan Chen meraih tangannya, mencengkeramnya erat. Dia tersenyum begitu melihat kalung mutiara bunga Peony yang masih tersemat indah di pergelangan tangannya.
Detik berikutnya ia merangkak, mencium pipi Yi Changyin yang bersebrangan dengan luka di kening. Menatap wajahnya sesaat. Melihatnya yang begitu pucat dan kepalanya di balut, membuat hatinya terasa berdenyut.
"Ini semua salahku, seharusnya aku mencarimu." Gumamnya dengan nanar. Ia terus menyalahkan diri sendiri.
Kemudian dia mendesah, kembali dalam posisi semula. "Aku akan menunggu dan memulihkanmu." Dia tersenyum menatap Yi Changyin, "tak akan meninggalkanmu."
.......
.......
.......
__ADS_1
Tujuh hari Xuan Chen lewati dengan merawat penuh Yi Changyin. Tak pernah meninggalkannya walaupun satu detik. Dia bahkan tak datang menghadiri pengadilan pagi.
Setelah pertolongan pertamanya di ruang dimensi spiritual, Xuan Chen membawa Yi Changyin pulang ke rumah kecilnya. Ia tak membawanya menuju kediaman Adipati Zhaoyang. Itu hanya akan mengingatkannya pada pilihan yang akan menyakiti Yi Changyin.
Ya, setidaknya dia akan membiarkan sang ayah mertua bebas. Dan akan membunuhnya di malam tepatnya nanti. Dan Yi Changyin tidak pernah boleh tahu hal ini. Rencana yang sangat rahasia.
Pagi ini Xuan Chen sedang menumbuk obat di dapur. Ia selalu mengoleskannya pada luka tusuk dan goresan besar di kakinya. Juga benturan di kepala Yi Changyin.
Lalu menyuapinya obat-obatan untuk tenaga dalam, melalui mulut ke mulut menggunakan energi spiritual. Dan terakhir, tak lupa Xuan Chen selalu mengisi dantian Yi Changyin secara perlahan.
Apa yang gadis itu lakukan saat pergi hingga terluka seperti ini?
Selama seminggu, setidaknya dia berhasil membuat bibir gadis itu kembali memerah. Memikirkannya saja membuat Xuan Chen ingin segera menuju kamar dan menatap wajahnya kembali.
Dengan langkah yang terburu-buru, Xuan Chen membawa dua mangkuk sekaligus ke dalam kamar. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat kasur yang kosong melompong. Hanya ada bekas selimut yang di singkirkan.
Dengan jantung yang memompa kencang, Xuan Chen meletakkan kedua mangkuk itu di meja dengan sembarangan. Dia kembali ke dapur dan mencari Yi Changyin. Tidak ada siapa-siapa.
Kemudian berlari keluar, mencari sampai berkeliling rumah. Namun tidak ada siapapun di sana, hatinya semakin cemas.
Xuan Chen kembali ke dalam rumah. Ia berhenti di hadapan nisan Jinmi sambil meredakan nafasnya yang tersengal-sengal.
"Yi Changyin, dimana kau.." gumamnya gelisah.
Namun sejurus kemudian ia terkejut ketika merasakan bulu-bulu halus yang menggesek-gesek kakinya. Xuan Chen sontak melihat kebawah dan mendapati hewan berbulu putih yang sedang bermanja-manja.
Xuan Chen berjongkok. Dia dapat mengenali kalau hewan berbulu putih itu adalah seekor rubah, dan memiliki ekor sembilan. Dia menyunggingkan senyuman, "Yin'er? Kau mengerjaiku?"
Ya, dia tau karena di kepala rubah itu ada perban yang melilit.
Sejurus kemudian rubah kecil berekor sembilan itu diselubungi cahaya. Setelah cahaya memudar, sosok Yi Changyin terlihat. Ia bahkan tak sempat menatapnya karena gadis itu langsung memeluknya erat.
"Aku sangat merindukanmu.." Bisik Yi Changyin sambil terisak. Dia tak bisa diam dalam pelukannya, terus mendesak seakan pelukan ini belum terasa erat.
"Aku juga sangat merindukanmu.." balasnya sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Yi Changyin, dia sangat merindukannya.
Rasa rindu yang sangat dalam ini mendorongnya untuk mencium puncak kepala Yi Changyin dalam-dalam. Kemudian keningnya, sampai menyentuh bibirnya dengan lembut.
Setelah itu dia menatap lamat-lamat wajah Yi Changyin. Yang ini sedikit memerah karena kelakuannya. Xuan Chen tersenyum dan mengelus-elus pipi putih itu sangat ibu jarinya.
"Apakah kau baik-baik saja, A Chen?" Tanya Yi Changyin dengan lembut, sambil balas mengelus pipi Xuan Chen yang menurutnya menggemaskan itu.
Namun Xuan Chen malah tergelak dengan panggilan intim itu. "A Chen? Sejak kapan?"
Yi Changyin memberenggut kesal. Dia mencibir. "Ku kira sangat tidak sopan memanggil suami dengan nama lengkap. Tapi nyatanya kau malah menertawakan panggilan seperti itu."
Xuan Chen hanya tersenyum simpul sambil membenarkan perban di kepalanya yang sedikit miring. "Apakah masih sakit?"
"Kau mengalihkan topik?" Yi Changyin balik bertanya dengan sinis.
Namun Xuan Chen hanya tersenyum tipis. Pria itu selalu memperhatikan tiga luka berdarah dalam tubuhnya. Dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.
"Apakah luka ini masalah besar bagimu?" Tanya Yi Changyin lagi.
Xuan Chen terlihat serius saat menatapnya dalam, "melihatnya aku merasa gagal dalam hal melindungimu."
"Aku tidak apa-apa.." Sahut Yi Changyin. Ia meraih lengan Xuan Chen dan memeganginya. "Aku tidak mau merepotkanmu."
"Tapi aku mau direpotkan olehmu." Xuan Chen tersenyum. "Aku sangat berharap hal itu jika terjadi sesuatu nanti."
Yi Changyin kembali mempertemukan bibir mereka berdua dalam-dalam, namun sesaat. "A Chen, aku menginginkan satu hal darimu."
__ADS_1
Tanpa bertanya apa itu, Xuan Chen langsung mengangguk. "Katakan saja, aku akan mewujudkannya."
"Jangan pernah menjadi Wu Yun sepenuhnya. Sudah cukup sampai di sini, jika menemukan satu lagi kristal jiwamu, hancurkan saja." Itu yang diminta Yi Changyin dengan penuh harap. Yang semata-mata bukan untuk dirinya sendiri.
Xuan Chen mengangguk tanpa ragu. "Aku berjanji."
"Jika Wu Yun kembali, auranya tidak bisa di tekan, dan menyebabkan para peri akan kembali berubah menjadi iblis. Aku tidak mau itu terjadi lagi." Tambahnya serius.
"Aku mengerti, dan aku tidak akan mengembalikan diriku." Xuan Chen tersenyum sambil mencubit pipi Yi Changyin, wanita miliknya ini sangat memikirkan orang lain. Ratu sejati.
"Yin'er ku terlihat sangat kurus." Gerutunya.
Yi Changyin tergelak. "Aku tidak tahu kapan terakhir kali makan. Tapi aku tidak kelaparan, tenang saja." Gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya.
Benar, Peri berpangkat Dewi tertinggi sepertinya tak memerlukan makan. Yi Changyin hanya menjadikan itu sebagai kesenangan saja.
Kecuali saat ia menyamar atau menurunkan kultivasi seperti saat di akademi Tianjin, membuat ia terus menerus merasa lapar.
"Tapi tetap saja kau harus memiliki energi cadangan bukan?" Gerutu Xuan Chen lagi sambil mengangkat tubuh Yi Changyin. Membawanya ke kamar dan didudukan ditepi kasur.
Xuan Chen terduduk di sampingnya. "Boleh aku tahu apa yang terjadi selama tiga bulan kau pergi?" Tanya Xuan Chen lembut. Namun bagi Yi Changyin, dia seperti sedang mengintrogasi.
"Aku menjadi Bai Suyue sepenuhnya." Yi Changyin tersenyum. Xuan Chen pun ikut tersenyum.
"Baguslah.."
"Lalu.." Tiba-tiba alisnya menurun. "Aku bertemu ayah."
Xuan Chen menatapnya tak percaya. Dia sungguh bahagia mendengar hal itu. Apa yang dilakukannya kemarin-kemarin tidak sia-sia. Yi Changyin bertemu dengan ayahnya.
Dengan perasaan yang senang, Xuan Chen bertanya dengan tak sabaran, "dimana dia? Mengapa kau tak mengajaknya kemari?"
Tiba-tiba Yi Changyin terisak-isak. Air matanya turun bercucuran. Xuan Chen segera merasakan firasat buruk. Dia segera merangkul Yi Changyin, memberinya pelukan hangat.
"Jangan menangis, nanti kepalamu sakit.." Tutur Xuan Chen lembut sambil memberikan usapan penenang di punggungnya.
Melihat Yi Changyin yang menjawabnya dengan tangisan, membuat Xuan Chen tak ingin bertanya lagi. Dia bisa menebak, tapi dia tak berani menebak.
Namun tangisan Yi Changyin semakin kencang. Tangannya mencengkram erat pakaian Xuan Chen.
Setelah puas menumpahkan air mata, Yi Changyin kembali menegakkan badannya. Dia mengeluarkan tiga liontin berisi abu dari liontin spiritual.
Dengan senyuman gentir, Yi Changyin menjelaskan, "kau pasti tahu ini adalah putri kita. Aku sudah menunjukannya pada ayah, ayah senang dan menyetujui pernikahan kita walaupun dia tahu kalau kau adalah Wu Yun."
Entah kenapa hati Xuan Chen terus merasa berdenyut. Praduganya semakin kuat, dan rasa ingin membunuh Wen Yuexin semakin besar.
Yi Changyin memberikan liontin yang berisi abu Jinmi pada Xuan Chen. Kemudian menunjukkan dua liontin yang berisi abu. Yang satu penuh dengan titik-titik biru, yang satu lagi penuh dengan kelopak kecil bunga mawar.
"Aku baru mengetahui kalau nama asli Shen Lan adalah Xu Nian. Dia seorang kultivator, namun dikirim oleh ayah untuk melindungiku. Dengan kelopak bunga jiwa ayah, Xu Nian menyamar menjadi roh bunga dan menjadi Shen Lan."
Dilihatnya bahwa Yi Changyin sedang tersenyum, penuh derita. Hatinya bertambah sakit, matanya memerah.
"Namun sayangnya, aku mengetahui hal itu ketika Shen Lan.. sudah meninggalkanku untuk selamanya." tambah Yi Changyin sambil terisak.
Xuan Chen melotot tak percaya. Awalnya dia mengira hal itu hanya terjadi pada ayah mertua. Namun ternyata... Shen Lan juga? Pria serba biru itu? Yang selalu memarahinya di akademi? Pria yang disukai Xuan Rong? Dia tidak sedang bermimpi kan?
.......
.......
.......
__ADS_1
Bukannya kemarin gak up, udh ada tiga chap tapi nyatanya sistem MT/NT eror dan berakhir up tadi pagi😌 MT/NT lagi ultah katanya😂
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗