The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CXL - Masa Lalu


__ADS_3

(Note Bab ini hanya menceritakan masa lalu)


Sementara di alam bawa sadar, mereka melihat...


Tampak seorang anak perempuan kecil berjalan berdampingan dengan seorang wanita dewasa. Tapi melihat mereka, hati Yi Changyin sedikit bersedih. Anak kecil sekitar usia tiga belas tahun itu adalah dirinya, dan wanita dewasa itu adalah ibunya, Bai Jiyuan.


Mereka berjalan tampak anggun diiringi oleh beberapa pelayan dan pengawal. Menuju sebuah pagoda bercat merah. Bisa ditebak, itu adalah pagoda kelahiran kembali di alam peri yang melegenda.


Saat masuk, mereka menuju benda yang mirip telur. Bai Jiyuan menyuntikkan energi spiritual hingga telur raksasa itu bersinar terang, kemudian meredup kembali. Tak lama kemudian, telur raksasa itu mekar seperti bunga.


Tampak di dalamnya terdapat teratai kehidupan berwarna merah yang kuncup, persis milik Sifeng dan Sijiu saat lahir. Tiba-tiba teratai itu mekar, tampak seorang bayi tengah menangis di dalam sana.


Bai Jiyuan meraih bayi itu dan menimangnya. "Bayi ini akan dinamai Wu Yun." Katanya. "Dia adalah peri Phoenix yang terakhir."


Setelah itu waktu bak bergerak cepat, mereka dapat melihat kebersamaan Bai Suyue dan Wu Yun dalam masa pertumbuhan, tubuh mereka masih anak-anak. Keduanya selalu bersama setiap saat, seperti benang takdir telah menghubungkan mereka.


Di sisi lain, Dewa kegelapan Wen Yuexin yang mengincar Wu Yun untuk dijadikan pendampingnya sejak awal murka. Dia tak suka Wu Yun dekat-dekat dengan Bai Suyue.


Terlebih saat membuka buku takdir, hanya satu kalimat yang dapat Wen Yuexin lihat. Yaitu Bai Suyue dan Wu Yun akan hidup bahagia, menikah lalu memiliki banyak anak.


Pribadi, Wen Yuexin tak menyetujui takdir yang telah ditetapkan Dewa itu. Hatinya gigih, apapun yang terjadi dia harus mendapatkan Wu Yun.


Suatu hari diam-diam dia menciptakan dua buah topeng yang berbeda. Topeng berwarna putih keperakan dan topeng berwarna hitam legam. Wen Yuexin bilang pada bawahan setianya, bahwa dalam topeng itu mengandung efek penghilang ingatan yang saling berhubungan.


Siapapun yang memakai topeng berwarna putih, maka akan melupakan sosok yang nantinya memakai topeng hitam. Begitupun dengan sebaliknya. Jika topeng itu dilepas, maka ingatan mereka akan kembali. Sayangnya topeng itu tidak bisa dilepas tanpa kematian.


Selain itu, dua benda aneh itu memiliki fungsi lain. Topeng putih berisi bola racun putih yang akan menyerap pada si pemakainya, bersarang di jantung.


Racun itu akan hidup jika pemakai topeng putih jatuh cinta pada pemakai topeng hitam. Dan semua tebakan Yi Changyin dan ketua alam peri tentang racun itu adalah benar.


Sementara topeng hitam, mengandung aura iblis yang menyerap ke dalam inti rohnya. Aura itu bisa dihidupkan oleh penciptanya kapan saja, namun memiliki jarak waktu tertentu untuk hidup.


Aura iblis itu dapat mempengaruhi orang lemah disekitar pemakai topeng. Merangsang jiwa mereka menjadi iblis. Dan hal itu terjadi saat pengangkatan Bai Suyue menjadi Ratu.


Bola racun putih dan aura iblis Wu Yun itu jelas berasal dari topeng yang tidak akan terlepas tanpa kematian. Meskipun begitu, fungsi topeng tidak akan hilang karena sudah menyerap sampai ke akar.


Selain itu juga, Wen Yuexin telah menyiapkan penawar bagi kedua benda yang dia ciptakan. Dia tidak berfikir sembarang, khawatir akan membutuhkannya di masa depan.

__ADS_1


Saat hari pertama mereka memakai topeng dan kehilangan ingatannya, Bai Jiyuan mengetahui sesuatu. Wanita itu segera menutup-nutupi segala dengan alasan tertentu. Selain dia, tidak ada orang yang tahu.


Bai Jiyuan sendiri tidak bisa mencegah bencana yang terjadi pada putrinya ataupun Wu Yun. Karena dia sendiri bisa membuka buku takdir dan tidak bisa mengubahnya. Jadi, dia hanya bisa membiarkan itu terjadi.


Di alam sadar dalam keadaan koma, Yi Changyin dan Xuan Chen telah mengetahui segalanya. Seperti telah direncanakan, air sungai kelupaan itu secara tidak langsung telah memberi tahu rahasia Wen Yuexin pada mereka.


Setelah itu ingatan mereka pindah pada saat cahaya meledak di bibir jurang danau penghancur jiwa. Dan ingatan inilah yang Yi Changyin tunggu-tunggu.


Saat itu Bai Suyue dan Wu Yun di tempatkan di suatu tempat yang penuh dengan bintang-bintang dan latar biru tua. Atas bawah, kiri kanan dan depan belakang seperti tak ada batasnya.


Topeng mereka retak dan hancur begitu saja. Setelah ratusan ribu tahun, akhirnya mereka dapat melihat wajah asli Bai Suyue, ataupun Wu Yun. Dan mereka berdua tertegun. Saling menatap dalam waktu yang lama.


"Yue'er..." Gumam Wu Yun tanpa sadar. Dan Bai Suyue sedikit berkaca-kaca mendengar kata-kata itu.


Sampai akhirnya sosok berpakaian serba biru datang menghampiri mereka berdua. Juga pria berpakaian abu-abu mengikutinya dari belakang.


"Ayah!" Seru Bai Suyue sambil memeluk ayahnya, Shui Jifeng. Dan pria di belakangnya adalah Shen Lan. Di alam bawah sadar, Yi Changyin ingin menangis saat melihat dua pria itu.


"Ayah, dimana aku? Mengapa kita ada disini?" Tanya Bai Suyue kebingungan.


Saat itu Shui Jifeng mengulum senyum. "Yue'er, aku hanya ingin memberitahumu. Kau dan Wu Yun adalah takdir, tapi kalian malah bermusuhan."


"Tapi... Rasa cinta kalian yang terkurung, akhirnya bertemu kembali." Tambah Shui Jifeng seraya tersenyum. Di sisi lain hatinya, ia merasa kasihan dengan putri semata wayangnya. Perasaan cinta gadis itu dan Wu Yun telah terkurung puluhan ribu tahun lamanya.


Mereka berdua saling mencintai. Namun tidak saling menyadari. Seseorang telah membuat mereka saling melupakan cinta. Tentu saja itu adalah perbuatan dewa kegelapan.


"Sayang sekali, kalian harus mulai bersatu dikehidupan selanjutnya. Apa yang harus kalian lupakan, maka akan hilang dari ingatanmu walaupun kelak, suatu saat jiwamu bangkit kembali." Shui Jifeng menambahkan lagi, dia menarik nafasnya, merasa sedih.


"Ayah, apa maksudmu?" Bai Suyue tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Namun sang ayah dan pria dibelakangnya tiba-tiba menghilang dari pandangan.


Bai Suyue kembali berteriak memanggil ayahnya, namun tiba-tiba tempat itu bergetar. Wu Yun dengan sigap meraih tubuh Bai Suyue dan memeluknya. Bersiap jika tempat ini runtuh kapan saja.


Namun yang terjadi bukanlah runtuh, tapi tempat itu seperti meleleh. Setelah meleleh, menghilang begitu saja. Dalam keadaan berpelukan, mereka segera jatuh kebawah.


"Danau penghancur jiwa..." Gumam Bai Suyue. Dia menatap pria yang berada di depannya dengan nanar. "Wu Yun..."


"Yue'er.." pria itu menyebut namanya dengan tenggorokan yang tercekat. Sebentar lagi mereka akan mati di dalam danau penghancur jiwa. Tekanan di sana tidak akan bisa membuat mereka kabur.

__ADS_1


"Maaf, karena tidak menyadarinya." Ujar Bai Suyue dengan suara yang tercekat, dia menitikkan air mata.


"Kau tidak salah." Wu Yun memeluknya erat. "Jangan lupa untuk kembali bersatu di kehidupan selanjutnya..."


Bai Suyue mengangguk singkat, sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam danau penghancur jiwa, menciptakan cipratan yang besar.


Di dalam air, mereka mulai terluka. Tubuh mereka seperti tersayat pedang dan tercambuk. Intinya, penuh dengan luka dan mengalirkan darah.


Mereka saling bersitatap, sebelum akhirnya saling mempertemukan bibir dengan lembut. Tangan mereka saling terjerat, bersama untuk terakhir kalinya. Setidaknya karena itu, dia tidak akan mati dengan perasaan yang menyesal.


Tak lama kemudian, tubuh mereka benar-benar hancur berkeping-keping. Jiwanya berubah menjadi kristal yang cantik. Bening milik Bai Suyue dan hitam milik Wu Yun.


Sementara di bibir jurang, pria yang berpakaian serba biru dan pria berpakaian abu-abu memperhatikan dari atas. Rambut pria serba biru itu berwarna putih tampak berkibar lembut. Mereka adalah Shui Jifeng dan Shen Lan.


Shui Jifeng menggerakkan tangannya, cahaya biru berputar-putar di atas telapak tangannya. Perlahan delapan kristal bening dan delapan kristal hitam naik dari bawah danau ke atas, ada dua yang besar di masing-masing warna. Kristal cantik itu melayang-layang sejajar dengannya.


Pria serba biru itu kembali menggerakkan tangannya. Tiba-tiba saja semua kristal berwarna hitam dan tujuh kristal bening ia lemparkan jauh, bahkan sampai keluar alam peri, menyebar kemana-mana. Dan yang terjauh, kristal berwarna hitam singgah di istana Dewa kegelapan.


Satu kristal bening paling besar kini berada di atas telapak tangannya. Shui Jifeng tersenyum penuh arti. Setelah itu mereka berdua menghilang bak terbawa angin, kemudian kembali muncul di tempat yang sedikit ramai. Itu masih di dalam paviliun.


Banyak orang yang berjejer, dan teriakan seseorang yang hendak melahirkan. Shui Jifeng dan Shen Lan berjalan di depan orang yang berjejer, tidak ada satupun yang menyadari mereka. Bahkan seorang yang tertua dan disebut tetua Yi Wutong itu.


Benar, Shui Jifeng dan Shen Lan sedang berada di klan rubah. Mereka menembus pintu seperti hantu, melihat tirai menutupi kasur. Di dalamnya ada orang yang hendak melahirkan.


"Kau benar Xu Nian." Ujar Shui Jifeng tanpa satupun yang mendengar, terkecuali Shen Lan tentunya. Pria itu masih dipanggil Xu Nian oleh Shui Jifeng.


"Bayi dalam kandungan nyonya Qin Ruyi telah meninggal, tapi tidak ada satupun yang menyadarinya." Dia menambahkan. Kemudian menatap kristal jiwa putrinya—Bai Suyue yang melayang-layang di atas telapak tangannya.


Dengan dorongan energi spiritual, kristal jiwa itu melayang ke arah Qin Ruyi. Masuk ke dalam perutnya, menciptakan cahaya terang dan meredup kembali. Hanya mereka berdua yang melihat cahaya itu.


"Putriku, akan menggantikan putri mereka yang meninggal." Setelah mengatakan itu, Shui Jifeng dan Shen Lan berteleportasi keluar ruangan.


Setelah memastikan bayi itu lahir dan menangis kencang, Shui Jifeng dan Shen Lan segera pergi di sana. Meninggalkan jiwa putrinya yang kini dititipkan pada keluarga rubah ekor sembilan alam langit.


.......


.......

__ADS_1


.......


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2