
Dinginnya hutan di sore hari berangsur-angsur hangat. Tanda-tanda pemukiman di depan sana sudah terasa oleh siapapun yang berada di tempat ini. Obor-obor padam di jalanan yang siap di nyalakan saat hari gelap berjejer dengan jarak yang rapi dan teratur
Dua kereta berjalan beriringan namun berbeda rombongan di jalan setapak itu. Yang berada di depan tampak agak besar dan sangat sederhana, yang menyeret kereta itu adalah kuda hitam, mungkin jika malam hari kuda itu tidak akan tampak terlihat. Xiaobai yang mengendalikannya, dia satu-satunya berjaga di luar.
Di belakang tentunya adalah kereta Wei Qiao. Sisi kanan kiri depan belakang di penuhi dengan penjagaan. Empat pelayan mengiringi dari dua sisi sambil membawa lentera. Seperti tuan putri saja! Tentu saja harus di perlakukan dengan baik, Peony kekaisaran Yunan harus di jaga layaknya mutiara. Tidak tahu bagaimana nasibnya jika dia diterima menjadi murid akademi Tianjin.
Berpakaian sederhana, makan seadanya dan harus satu kamar berisi maksimal empat orang, tidak boleh sendiri. Wei Qiao mungkin tidak tahan dengan hal itu. Tapi demi gengsinya yang tinggi, dia rela bersekolah di tempat terbaik namun penuh peraturan yang tidak memandang miskin dan bangsawan.
Atap-atap rumah penduduk sudah terlihat di banjiri oleh cahaya matahari oranye di sore hari. Ternyata di kaki gunung juga terdapat sebuah desa kecil. Udaranya sangat asri. Didesa itu, mereka dapat melihat pemandangan gunung Tianjin dari dekat. Menjulang dan hampir mencapai ketinggian awan. Pantas saja harus menempuh perjalanan selama satu minggu, itu sangatlah tinggi.
Soal pasokan makanan tidak perlu khawatir, puncak gunung itu memiliki segalanya. Mungkin jika seseorang bertempat tinggal di tempat seperti itu, dia akan betah dan sangat enggan untuk meninggalkan rumah. Walaupun terbilang berada di dataran tinggi, katanya puncak gunung itu begitu subur. Entah Dewi mana yang memberikan anugrah ini pada niat baik pendiri akademi Tianjin.
Yi Changyin menyembulkan kepalanya keluar untuk melihat pemandangan gunung Tianjin. Ini begitu indah, melebihi tempat-tempat abadi di alam langit. Walaupun tak sebanding gunung Kunlun, tapi gunung ini bisa berada di urutan kedua yang terindah di semua alam.
*Gunung Kunlun / Kūnlún shān (昆仑山) \= Adalah gunung mitologi di China. Tapi di ada juga di real life, yaitu: Pegunungan kunlun (terdapat catatannya di google : Pegunungan Kunlun adalah rangkaian pegunungan terpanjang di Asia terletak di Provinsi Qinghai di Tiongkok dan melewati perbatasan Tiongkok-India. Terbentang mulai dari Pamir di Tajikistan melewati perbatasan Xinjiang dan Tibet sampai ke Provinsi Qinghai). pegunungannya memang asli, tapi mereka menyebutkan bahwa gunung Kunlun adalah gunung mitologi China yang terbentuk dari tulang-tulang naga. Konon, disana terdapat beberapa hewan mitologi abadi yang tinggal dan tempat para Dewa Dewi. (Sekedar menambah wawasan:v Kalo salah komen ya, soalnya ini menyangkut kenyataan:v)
Yi Xuemei pun gak tahan untuk melihatnya. Dia sangat tertarik saat melihat wajah adiknya yang begitu berbinar. Gunung itu seperti ilusi atau lukisan. Tidak bisa di gambarkan dengan jelas. Banyak misteri di setiap jengkalnya. Apalagi di puncaknya. Konon, di sana ada sosok yang berjaga, menyebabkan orang-orang alam iblis dan siluman enggan mendekatinya. Entah itu hewan suci ilahi kuno yang berumur jutaan tahun, atau benda pusaka. Mungkin hanya alam langit atas yang mengetahuinya.
Beberapa orang juga menyebutkan, kalau gunung ini terbentuk enam belas ribu tahun lalu secara misterius. Pantas saja terlihat penuh misteri, seakan banyak kata-kata rahasia yang terkubur. Umurnya sama dengan usia Yi Changyin. Jika Yi Xuemei di tanya, dia tidak tahu apa-apa. Alam langit atas begitu tersembunyi. Entah apa yang terjadi kala itu.
Kedua kereta itu telah sampai di penginapan yang telah di tentukan. Terdapat puluhan penginapan berjejer yang telah di isi, mungkin yang mendaftar kali ini lebih banyak. Tapi sayang, hanya dua puluh orang yang di terima.
Lihatlah kereta Wei Qiao. Begitu datang di layani dengan baik, kereta milik Yi Changyin terabaikan. Apalagi satu kereta lagi yang baru datang, pasti berada di urutan ujung.
Xiaobai menyerahkan empat plakat palsu milik keempatnya. Dia seperti budak ketika di perintahkan untuk mengakui Shen Lan sebagai tuannya. Apapun pasti menyuruh pria serba putih itu. Tapi dia tidak merasa hal itu masalah, bagaimanapun hidupnya telah bergantung pada keempat manusia itu.
*Note : Xiaobai belum tau identitas kedua saudari Yi dan Shen Lan yaa><
Penjaga yang sedikit tegap dan berwajah ramah itu menerimanya dengan senang hati. Pria itu sepertinya salah satu murid akademi yang sudah lulus tapi berniat untuk mengajar. Tingkat kultivasinya berada di kristal level enam. Walaupun kuat, tapi terlihat ramah dan bijaksana, tidak sombong. Dia memeriksanya sambil bergumam, "Ji Xuan Chen, keluarga Ji. Shen Lanxiu, keluarga Shen. Yi Changyin dan Yi Xuemei keluarga Yi."
Yi Changyin dan Yi Xuemei tersenyum menahan tawanya. Dia ingin tertawa saat melihat penyamaran yang akan di pakai selama tiga tahun kedepan. Masih mending bagi Xuan Chen yang hanya menambahkan marga asing, Shen Lan malah mengubah namanya. Mungkin dia tidak ingin memendam malu jika ada murid yang mengatai namanya mirip perempuan.
Murid akademi senior itu tersenyum ramah. "Kalian telah melakukan perjalanan jauh, beristirahat lah. Silahkan.." Dia berbalik pada salah satu anak kecil di belakangnya. "Dua kamar besar untuk mereka berdua."
"Baik, senior."
Xiaobai menghilang di udara kosong, dia masuk ke ruang dimensi spiritual Xuan Chen, menumpang. Walaupun hatinya merasa was-was karena takut di rundung oleh Phoenix dua warna dan Naga hitam yang menyukai bersenang-senang itu. Meminta pertolongan Xiaolan pun tidak ada gunanya. Gadis merpati biru itu memilih untuk berada di cincin ruang majikannya.
Kedua saudari Yi, Xuan Chen dan Shen Lan berjalan mengikuti anak kecil itu untuk masuk. Ternyata saat itu Wei Qiao masih ada di ambang pintu dengan senyuman miringnya. Xuan Chen berwaspada, untung saja dia terhalang oleh Shen Lan dan Yi Xuemei, jadi tidak perlu khawatir.
Sembunyi-sembunyi, Wei Qiao mengeluarkan aura spiritualnya yang berwarna hijau, dia berada di tingkat kristal level satu. Perlahan es mengembun dan membeku di permukaan lantai kayu yang hendak di pijaki oleh Yi Changyin. Gadis itu tidak menyadarinya, hingga terpeleset dan hampir jatuh kebelakang. Untung saja seseorang menangkapnya dari belakang, mencegah ia untuk mengalami geger otak.
Dia bukan Xuan Chen, tapi orang asing! Mungkin orang alam langit atas akan mengenali pria itu. Dia adalah Qi Zhongma! Bahkan Qi Xiangma pun ada di sampingnya. Untuk apa mereka kemari?! Akan mendaftar sebagai murid akademi?
Qi Zhongma menangkap tubuh kecil Yi Changyin, membiarkan mata mereka saling menatap. Senyuman girang muncul di wajah Wei Qiao, dia berhasil lebih dari rencana intinya. Sementara otak Xuan Chen merasa panas melihat hal itu.
Kuda terbang yang menyamar sebagai kultivator itu merasa terpesona dengan wajah cantiknya. Padahal Gaoqing Dijun memerintahkannya untuk membunuh gadis itu. Dia pasti akan tidak tega. Tapi sebaliknya bagi Yi Changyin, justru dia merasa familiar dengan wajah pria itu. Makanya dia terus menatap.
Tak tahan lain, Xuan Chen menarik tangan Yi Changyin, membuat Qi Zhongma tersadar. Wajah Xuan Chen sudah memerah, dia sedang di liputi amarah. Dia mendekap Yi Changyin dalam pelukannya dan masuk menyusul anak kecil itu.
Murid senior yang melihatnya hanya tersenyum menahan tawa. Kisah pria yang cemburu adalah hal yang lucu menurutnya. Yi Xuemei dan Shen Lan menatap tajam Qi Zhongma. Beraninya dia menyentuh Yi Changyin. Mereka mendelik sebelum akhirnya pergi.
Walaupun Wei Qiao sedikit panas karena cemburu, tapi setidaknya dia berhasil membuat Yi Changyin di sentuh pria lain. Dan mungkin dia akan melakukan hal itu sampai kedekatan mereka berdua hancur.
.......
.......
.......
Xuan Chen menyeret gadis yang masih berada di pelukannya. Bahkan sampai ke lantai dua. Di sana sangat sepi dan aman. Mungkin ini adalah penginapan terakhir dari sekian banyak. Bahkan ada kabar kompetisi akan di adakan besok.
"Sebenarnya.. kau.. kerasukan apa?" Yi Changyin agak kesusahan untuk berbicara.
Tanpa menjawab, Xuan Chen membawanya ke ruang dimensi spiritual. Menghilang di sana tepat ketika Yi Xuemei dan Shen Lan datang menyusul.
Gadis itu berdecak kesal. "Pria itu.."
"Dia sudah masuk ke ruang spiritual. Dan mungkin akan menghabiskan waktunya semalaman di sana." Ujar Shen Lan sambil terus berjalan tanpa memperdulikan Yi Xuemei.
Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Masih kebingungan dengan kejadian tadi. Xuan Chen terlalu cepat membawa adiknya, bahkan mendahului anak kecil itu. Sekarang Shen Lan meninggalkannya. Nasib.. nasib.
Yi Xuemei memutuskan pergi menyusul Shen Lan, tak lama sosok Wei Qiao dan pelayannya muncul di sana. Bibir ranumnya itu tersenyum miring. Matanya bercahaya menatap tempat kepergian Xuan Chen.
"Ternyata.. dia memiliki ruang dimensi." Gumamnya kagum.
"Benar nona, artinya dia memiliki binatang ilahi. Dia.. tuan muda yang sangat kaya." Pelayannya ikut memuji, demi membuat majikannya senang.
"Tadi siapa namanya?"
Pelayan itu mendekat. "Tuan muda Ji Xuan Chen."
Senyuman miringnya berubah menjadi senyuman terpesona. Pipinya sangat merona memabukkan siapa saja yang melihatnya. "Ji Xuan Chen.. aku pasti akan mendapatkanmu.."
*Note : Jangan heran kalau kedepannya banyak orang yang manggil Xuan Chen pake marga 'Ji' di depannya😂
__ADS_1
.......
.......
.......
Feng'er, Heilong dan Xiaobai di kejutkan dengan kedatangan Xuan Chen dan Yi Changyin. Gadis itu sungguh malang di sekap dalam pelukannya. Teriakannya bahkan tak di dengar oleh Xuan Chen. Mereka bertiga memperhatikannya dari gazebo taman. Tunggu, sejak kapan ada gazebo?!
Feng'er mendengus. "Rubah itu melakukan kesalahan?"
Xiaobai yang tidak tahu Yi Changyin adakah seekor rubah, dia terkejut. "Apa.. kau bilang?"
Heilong mendorong pundak Xiaobai, mempermainkannya. "Sangat bagus kan ilmu seorang HEILONG untuk menyembunyikan ekornya?" Katanya bangga dengan menekankan nada saat mengucapkan namanya.
Xiaobai masih kebingungan. "Jadi.."
"Dia bukan hewan roh ataupun ilahi!" Ujar Feng'er santai sambil menyesap tehnya.
"Lalu..?"
"Dia adalah orang alam langit..." Saat hendak menjelaskan, tiba-tiba Feng'er terdiam. Dia menjadi teringat sesuatu setelah mengatakan kata 'alam langit'. Waktu itu Shen Lan bercerita kalau dia menemukan kuda itu di alam langit, tepatnya klan rubah ekor sembilan. Lalu kenapa dia tidak mengenali jati diri Yi Changyin?!
"Mengapa tidak di lanjutkan?" Tanya Xiaobai tidak sabaran.
Feng'er menatap Heilong. "Kau juga merasa aneh kan?"
Heilong mungkin sepemikiran, dia mengangguk. Entah kenapa hal itu membuat Xiaobai sedikit waspada. Dia sangat takut pada keduanya. Apalagi saat mengeluarkan aura tajam yang mencekik.
Keduanya menoleh ke arah Xiaobai secara bersamaan, membuat kuda putih jantan itu terkejut, semakin berwaspada.
"Apakah kau hilang ingatan?" Tanya Feng'er sedikit jengkel.
"Hi.. hilang.. ingatan?" Tanyanya ambigu namun gemetaran.
Heilong menggebrak meja. "Bukankah kau dan mereka bertemu di klan rubah ekor sembilan?!"
"Bagaimana.. kau tahu?"
"Lalu kenapa kau tidak mengetahui identitas mereka?" Ekspresinya berubah mengerikan. "Apakah kau akan pura-pura bodoh lalu menyuruhku untuk bercerita panjang lebar setelah itu kau mengejekku karena sebenarnya kau sendiri sudah tau cerita itu." Feng'er berbicara tanpa titik koma. Sejujurnya binatang ilahi tidak mau harga dirinya di rendahkan oleh hal kecil saja. Sementara Heilong hanya menatap kemarahan Feng'er dengan datar, sepertinya dia tahu sesuatu dalam waktu yang singkat.
Xiaobai beringsut dengan tangan yang memeluk tubuhnya sendiri. "Tidak seperti itu.. Saat berada di tubuh kuda itu, aku tidak bisa melihat, mendengar dan merasakan apa yang berada di luar." Katanya dengan jujur.
Feng'er mendengus. Sepertinya dia masih tidak percaya dengan kuda putih itu. "Lakukan apa saja yang bisa membuatku percaya." Katanya menggertak.
"Aku percaya. Apakah itu cukup?" Sahut Heilong dengan santai.
Tidak terima diteriaki, Heilong memukul meja dengan keras, hingga cangkir-cangkir di sana hampir terbang. "Kau Phoenix yang terlalu bodoh. Itu saja tidak tahu!!"
"Itu karena aku sangat sibuk berlatih untuk menjadi yang terkuat!" Dia merentangkan tangannya dengan sombong. Lalu menatap Heilong mencemooh. "Apakah aku salah, bodoh?"
"Kau yang bodoh!! Aku bahkan tahu apa yang tersembunyi di sana, makanya langit menutup mulut kita untuk menjaganya!!"
"Ohhh.." Feng'er menunjuk-nunjuk Heilong. "Ini semua gara-gara kau, aku jadi tidak bisa memberi tahu gadis itu yang sebenarnya!!"
"Kalian.. kalian sudahlah jangan bertengkar.." Xiaobai berusaha menengahi, tapi itu hanya angin lalu bagi mereka.
"Memangnya kenapa?!! Itu juga baik demi kita berdua!" Heilong mulai mencengkram kerah Feng'er. "Dasar bodoh!"
Xiaobai yang ketakutan, "Kalian.. sudahlah.."
"Kau yang pintar tapi terlalu bodoh!! Itulah alasan aku tidak mau pintar, hanya akan membawa pada kebodohan!"
"Mana mungkin seperti itu!! Yang tidak belajar, dia akan bodoh! Dan kau salah satunya!"
Feng'er mulai mencengkram kerah Heilong. Mereka saling tarik menarik. "Kau yang bodoh! Buktinya kau malah memberi tahu Gaoqing Dijun tentang pengetahuanmu!!"
"Kalian.. sudahlah! Nona Yi akan memarahi kita." Dan nasihat Xiaobai masih menjadi angin lalu.
"Kau yang berfikiran bodoh!!" Geram Heilong. "Itu hanya kecelakaan! Kau ingat waktu pertama kali nona Yi menemukan kita?! Hari itu kau bodoh!"
"Aku tidak ingat apa kebodohanku! Yang jelas, kau yang bodoh!"
"Masih tidak mengaku? Hari itu kau akan memakan bunga api spiritual. Apakah itu tidak termasuk bodoh?!"
"Hanya bunga api, apakah masalah aku memakannya?" Feng'er tertawa. "Di tubuhku ada unsur api, aku tidak akan mati terbakar." Mereka berdua bertengkar sampai mengeluarkan auranya, bahkan hampir berubah menjadi wujud aslinya. Xiaobai terjatuh dari kursi karena merasa tertekan dan ketakutan.
"Tetap saja kau bodoh karena bunga itu bukan untuk di makan!!"
"Kau.."
"TIDAKK!!!"
Teriakkan Yi Changyin dari dalam menghentikan pertengkaran anak-anak mereka. Ketiganya langsung melihat ke arah pintu, keadaannya masih di posisi yang sama. Xiaobai duduk di tanah dan kedua binatang ilahi itu masih tarik menarik kerah.
Tampak Yi Changyin keluar dari paviliun dengan ketakutan. Gadis itu langsung menghampiri Feng'er dan bersembunyi di belakang punggungnya. Matanya masih menatap Xuan Chen yang kini menghampirinya.
__ADS_1
"Yang mulia jangan lakukan itu. Atau hidupku akan hancur.."
Ucapan memelas Yi Changyin membuat semua orang salah faham. Wajah mereka bertiga seketika memerah karena mendengar hal itu. Seperti paham apa yang terjadi di dalam, Feng'er dengan percaya dirinya menasihati tuannya.
"Tuan, nona Yi adalah rubah kontrakmu. Sekalipun dia membuat kesalah, tapi.. kau tidak berhak untuk.." Feng'er menepuk tangannya. Jari-jarinya tercengkram erat seakan menggambarkan dua orang lawan jenis sedang melakukan hubungan intim. Dia tidak berani untuk mengatakannya secara jelas.
"Iyaa iyaa itu benar.." Heilong menyahuti sambil tersenyum tanpa dosa.
Xuan Chen memijit keningnya. "Sepertinya kalian salah paham. Apa yang terjadi bukan seperti apa yang terbayang di otak kalian."
Feng'er dan Heilong menatap Xuan Chen dengan rumit. "Tapi dia.."
"Apa yang di katakan Xuan Chen benar, apa yang berada di pikiran kalian sangat berbeda jauh dengan kenyataan." Ujar Yi Changyin membenarkan.
"Apa yang kau katakan?!"
Sekali lagi wajah Feng'er memerah malu. Sekarang dia di permalukan lagi di hadapan kuda jantan yang memang sedang tersenyum mengejek padanya. Heilong hanya tersenyum, untung saja dia tidak terlibat begitu dalam. Atau harga dirinya akan ikut runtuh di hadapan kuda roh putih jantan itu.
"Pikiran kalian.. sepertinya sudah ternodai." Sindir Xuan Chen sambil menarik Yi Changyin kembali kedalam pelukannya.
Feng'er mengacak-acak surai putih susunya. "Sial! Sial! Sial!" Runtuk Phoenix itu sambil menghentakkan kakinya.
Yang sebenarnya terjadi..
Xuan Chen mendudukan Yi Changyin secara paksa di lantai, tepatnya di depan meja kerja. Diikatnya dengan tali yang tembus pandang. Namun sangat kuat, gadis itu tidak bisa lolos.
"Xuan Chen.. apa yang kau lakukan?" Tanya Yi Changyin penuh kewaspadaan.
Xuan Chen berjongkok di hadapannya, menatap sepasang mutiara dengan iris hitam yang berkilat itu. Dia tersenyum, lalu mengacak-acak rambut Yi Changyin yang tergerai dan tidak memakai riasan apapun.
"Jadilah rubah baik." Setelah itu dia pergi menuju meja kerja dan mulai membaca salah satu gulungan. Isinya hanya tentang sejarah dunia saja. Tapi Xuan Chen terlalu fokus membacanya, hingga tak memperdulikan gadis jelmaan rubah kecil yang berada di dalam jeratannya itu.
Yi Changyin sempat tertegun dengan tatapannya, tapi begitu tersadar dia sudah menggerakkan tubuhnya. "Xuan Chen.. lepaskan aku." Tali tembus pandang itu akan bersinar keemasan ketika Yi Changyin bergerak.
"Xuan Chen.." Katanya dengan memelas. Pria itu sama sekali tidak peduli.
Yi Changyin memasang wajah imutnya, dagunya dia letakkan di atas meja, berusaha membuat pria itu menoleh ke arahnya. Tapi nyatanya pria itu hanya menoleh sekilas, kemudian melanjutkan aktivitas membacanya.
Gadis itu mengerucutkan bibir mungilnya, sudah banyak dia mencari perhatian. Bahkan sampai mengguling-gulingkan badannya di lantai. Xuan Chen melihat hal itu, dan dia tersenyum. Tapi saat Yi Changyin berbalik untuk melihat bagaimana reaksi pria itu, dia kembali fokus pada bacaannya.
"Xuan Chen.. aku lapar.. aku ingin keluar. Mohon kasihani aku.." Wajah Yi Changyin berpura-pura kesulitan. "Aku sudah pengap... Xuan Chen.."
Pria itu tidak menanggapi, membuat Yi Changyin merasa geram. "Xuan Chen bajingan!" Kutuknya berbisik.
Xuan Chen sebenarnya mendengar, dia tersenyum dan sedikit-sedikit mengintip gadis itu. Ekspresinya sangat lucu.
Tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar. Yi Changyin tahu itu adalah suara Feng'er dan Heilong. Tidak salah lagi, mereka sedang bertengkar karena hal sepele. Terlintas ide di kepala gadis itu, dia tersenyum. "Xuan Chen, Feng'er dan Heilong sedang bertengkar. Biarkan aku memisahkan mereka. Atau ruang dimensi spiritual ini akan hancur." Wajah imutnya kembali terpasang. "Ya?"
"Tidak."
"Xuan Chen, kau dengar kan? Heilong mengatakan ada sesuatu yang tersembunyi di tempat itu. Dan membahas rahasia alam langit yang berkaitan dengan Gaoqing Dijun. Pasti itu sangat penting, aku harus menanyainya."
"Tidak."
Senyumannya hilang, wajah kesal di campur memelasnya kembali. Yi Changyin memang lebih kuat dari Xuan Chen, tapi apalah daya ketika pria itu mengunci Yi Changyin atas hubungan kontrak mereka. Yi Changyin tidak bisa apa-apa.
"Xuan Chen! Jika kau mengikatku sampai kehabisan nafas aku akan mati!! Apakah kau rela aku mati, hah?" Dia menakut-nakuti. "Cepat lepaskan aku.. lepaskan aku!!" Teriaknya. "Xuan Chen.. aku akan mati.."
Tiba-tiba Xuan Chen berdiri dari duduknya. Bukannya senang, Yi Changyin malah ketakutan. Gadis itu mundur beberapa senti seiring dengan majunya Xuan Chen.
Pria menarik tangan Yi Changyin hingga berdiri, mendorongnya hingga punggung gadis itu menabrak tembok. Yi Changyin terbungkam, dia merasa bingung dengan apa yang di lakukan pria itu.
Xuan Chen menjepit hidung mungil itu dengan gemas. "Lain kali.. jangan berdekatan dengan pria lain."
"Apakah kau cemburu?" Gadis itu langsung menyimpulkan.
"Aku.." Xuan Chen tidak tahu harus menjawab apa, dia menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap sepasang mutiara jernih yang memabukkan hasratnya itu. Keadaan akan semakin canggung.
"Kau sudah menjalin kontrak denganku. Kau.. sudah menjadi milikku. Apa salahnya melarangmu berdekatan dengan pria lain." Katanya dengan gugup, masih tidak berani menatap wajah gadis itu.
Yi Changyin tersenyum, hatinya menghangat.
Xuan Chen sudah berani mengangkat pandangannya, dia menatap kedua manik hitam itu dengan senyuman. "Jika kau berani macam-macam lagi dengan pria lain. Aku akan memotong ekormu dan di jadikan pajangan."
"Apa yang ku bilang?! Kau berani? Kau一?!
"Karena kau telah melakukan sekali. Jadi.."
"TIDAAKK!!" Cepat-cepat Yi Changyin mendorong Xuan Chen, dia lari terbirit-birit keluar. Rubah ekor sembilan, paling takut adalah kehilangan ekornya. Satu ekor terputus, maka sama saja akan merasakan mati sekali dengan ribuan pedang yang menusuk. Selain itu, dia akan kehilangan kekuatan dan keindahannya, sangat di sayangkan.
Yi Changyin tahu Xuan Chen hanya bercanda, tapi itu terdengar sangat mengerikan. Pria itu hanya tersenyum sambil menyusul Yi Changyin keluar. Setidaknya, ini bisa mengusir kecanggungannya tadi.
.......
.......
__ADS_1
.......
Jangan lupa like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉