
Setelah sampai, mereka ditempatkan di tempat yang berbeda. Diikat dengan rantai perak neraka, siapapun tidak akan bisa lepas. Tempat itu dipenuhi dengan kabut putih tidak tahu sampai mana.
Saat itu Yi Changyin hanya seorang diri. Siap untuk di cambuk oleh senjata Dewa guntur dan Dewi petir yang luar biasa. Mereka berdua lah yang turun tangan langsung untuk menghukum mereka berdua.
Awan di atasnya sudah bergulung dan mengandung petir. Siap menyambar tubuh kecil terantai itu kapan saja. Yi Changyin menelan salivanya, merasa ngeri. Dia bisa membayangkan betapa menyakitkannya itu.
Saat petir itu mulai turun, dia menundukkan kepalanya. Namun sejurus kemudian dia terkejut ketika merasakan seseorang telah merengkuhnya dari atas. Petir itu pecah di tubuh orang lain, bukan dirinya.
Yi Changyin mendongkak, matanya terbelalak mendapati Xuan Chen yang berada di atasnya. Pria itu melindunginya dari Sambaran petir. Apa ini? Bukankah Xuan Chen punya tempatnya sendiri?
"Maafkan aku..." Tutur Xuan Chen pelan. Mempertemukan kembali bibirnya, yang ternyata mengandung obat tidur. Yi Changyin tak berdaya sebelum berbicara, dia pingsan saat itu juga.
"Sekarang... Giliranku, Yin'er." Bisiknya. Rantai yang membelenggu Yi Changyin menghilang, gadis itu dia masukan ke dalam ruang dimensi spiritual, dia aman.
Sementara itu, Xuan Chen siap untuk menerima bagian Yi Changyin. Dia menghukum dirinya sendiri, banyak petir yang menghantam tubuhnya. Hingga tak sanggup lagi berdiri dan berlutut di sana.
Tanpa sadar dirinya, seseorang telah memperhatikan dibalik kabut. Dia adalah seorang wanita, menggeram rendah. "Baiklah... Membunuhmu lebih dulu sangat baik dari pada Bai Suyue."
Sementara itu, petir yang diturunkan lebih banyak. Mungkin sekarang tubuhnya sudah mengalami beberapa kerusakan, muntah darah terus dia keluarkan tanpa henti.
Sementara itu, wanita yang menyaksikan diam-diam kini telah menyiapkan busur. Dengan anak panah sebuah senjata yang penuh dengan aura hitam dan menyeramkan.
Saat panah itu dilesatkan ke arah Xuan Chen, pria itu mendongak. Dia melompat dan menghindari serangan yang akan membuat jiwanya tidak bisa bereinkarnasi lagi.
Wanita itu terbelalak dengan Xuan Chen yang menyadari serangannya. Dengan tangan, dia mengendalikan panah itu untuk kembali ke tangannya.
Dia tambah terkejut, pria itu berdiri dan menatap ke arahnya, tersenyum. Walaupun dirinya tak nampak dan bersembunyi, sepertinya Xuan Chen tetap menyadari keberadaan seseorang.
Dan yang lebih anehnya lagi, petir di sana berhenti. Seperti hukuman telah berakhir saja, padahal belum dua puluh kali Xuan Chen menerima petir hukuman itu.
"Jangan menjadi hantu, keluarlah!" Xuan Chen berteriak menantang.
Wanita itu berwajah gelap. "Baiklah..." Dia melompat tinggi dan mendarat tak jauh di depan Xuan Chen.
Xuan Chen yang melihat sosok Qi Xiangma merasa puas. Dia menyusut darah yang mengalir di bibirnya. Lalu menyedekapkan tangannya di dada, berwajah sombong. Tidak terlihat kesakitan sedikitpun.
Sebenarnya, seminggu lalu saat Bai Suyue menyibukkan diri, dia membuat suatu rencana. Saat itu Wei Qiao selesai memberi tahu apa yang dia ketahui tentang rencana Gaoqing Dijun, dan dia mulai menyusun rencana di depan Wei Qiao.
Flashback on
"Tuan, biarkan aku membantu." Gadis itu mengajukan diri.
"Tidak." Xuan Chen masih bersikap sinis. Dia tidak mau ada baik-baiknya pada gadis ini walaupun mungkin suatu saat Wei Qiao akan memberikan keuntungan.
__ADS_1
"Tapi, menerima dua kali hukuman, aku yakin kau..."
"Kau meremehkanku?" Sela Xuan Chen menatapnya penuh permusuhan.
"Kau memang telah memberi tahuku semua. Tapi jangan harap aku bisa bersikap baik padamu, apalagi membagi tugas denganmu! Dan, setelah apa yang kau lakukan pada kami, kau pikir aku percaya?" Dia menjelaskan dengan kesal, kemudian pergi dari sana meninggalkan Wei Qiao sendirian.
Saat mencapai pintu. Dia kembali menoleh ke arah Wei Qiao. Menunjuknya penuh ancaman, "jika rencana ini gagal, aku akan menyalahkanmu."
Lalu besoknya Xuan Chen pergi menemui pihak pengadilan secara sembunyi-sembunyi. Dia meminta peraturan untuknya sendiri. Yang ternyata dengan mudahnya dia telah disetujui.
Xuan Chen telah siap untuk menerima dua ratus kali cambukan petir dewa. Mewakili dirinya sendiri dan Yi Changyin. Yang artinya, Yi Changyin tidak akan pernah disentuh oleh petir menyeramkan itu.
Sebenarnya tidak mudah untuk mendapatkan persetujuan dewa. Namun Xuan Chen telah menjanjikan satu hal yang menguntungkan...
Selama empat hari berturut-turut, setiap hari, dia menerima lima puluh kali cambukan dewa. Tanpa sepengetahuan siapapun bahkan Yi Changyin. Intinya selain pihak pengadilan, neraka dan dewa yang bersangkutan, tidak ada yang tahu.
Dia akan kembali pada siang hari dan tidur sampai esok harinya. Mengistirahakan raga sekaligus memulihkan dantian dan tenaga dalamnya. Dengan bantuan eliksir dari para dewa, dia bisa sedikit bertahan dari luka yang menyakitkan.
Jadi, saat Yi Changyin datang mengunjunginya, dia sudah tertidur. Wajahnya seperti orang sakit. Namun Yi Changyin tak mencurigai apapun saat itu.
Dia melakukan hal itu karena ingin melawan Qi Xiangma dengan bebas. Karena tahu dari Wei Qiao, bahwa pihak Gaoqing Dijun akan menyerangnya pada hari hukuman.
Ketika hukuman dia dan Yi Changyin telah selesai, semuanya aman dan bebas bertarung walaupun kekuatannya terbatas karena luka. Selain itu, dia tidak mau melibatkan Yi Changyin, biarkan gadis kesayangannya itu beristirahat dengan damai.
"Petir tadi, sebenarnya hanya benda yang menggelitik tubuhku saja." Ujar Xuan Chen sombong.
Qi Xiangma yang merasakan ini semua hanya jebakan, tersenyum miris. "Kalian sangat pintar!" Desisnya.
"Tentu saja, aku sangat pintar." Sahut Xuan Chen bangga.
Mendengar ocehan itu Qi Xiangma semakin kesal. Wu Yun memang alami suka membuat orang merasa jengkel. Sejurus kemudian dia mendengus, "kalau begitu... Terima seranganku ini!!"
Tiba-tiba panah itu kembali melesat dengan kendali tangan, secepat cahaya. Xuan Chen hanya ingin menghindar, melawan panah penghancur jiwa itu tidak ada gunanya. Dia tidak boleh tergores sedikitpun. Atau akan menyebabkan cedera parah bahkan kematian.
Namun Qi Xiangma saat menjadi lebih kuat. Xuan Chen dapat menebak-nebak kalau dia mendapatkan kekuatan dari Gaoqing Dijun. Khusus untuk menghadapinya atau Bai Suyue.
Permainan ini sedikit lincah. Kadang Xuan Chen hampir tergores hingga ia harus buru-buru menghindar. Lalu panah itu kembali dari belakang, dan hendak menusuknya. Untung saja dia punya kecepatan tinggi, masih bisa menghindari tepat waktu.
Tiba-tiba Qi Xiangma menyerah dengan panah yang dia gunakan. Tapi kembali menyerang dengan sejumlah energi spiritual yang besar. Xuan Chen juga segera mengembunkan energi spiritual hitam, pakaian dan rambutnya sedikit berkibar.
Ketika kedua serangan itu saling bertabrakan, menimbulkan gelombang spiritual yang besar. Angin besar terus mengiringi hingga membuat pakaian mereka berkibar. Rambut hitam mereka beterbangan kebelakang.
Xuan Chen sedikit terkejut ketika merasakan serangan ini tidak biasa. Dia melihat ke arah Qi Xiangma yang tengah serius. "Tidak, dia bukan Qi Xiangma..." Gumamnya cemas, kekuatan ini sungguh besar.
__ADS_1
'Sial! Dia pasti Gaoqing Dijun!' kutuknya dalam hati.
Jika bukan karena luka cambukan Dewa beberapa hari lalu, dia akan mudah mendorong Gaoqing Dijun yang menyamar sebagai Qi Xiangma ini.
Sialan! Pasti yang sedang merenung di tempat leluhur saat ini adalah Qi Xiangma yang asli. Mereka sungguh memiliki kejutan!
Karena luka itu terus menghalangi kekuatannya, Xuan Chen merasa kewalahan untuk melawan dorongan Gaoqing. Saat dia memuntahkan darah, pria yang menyamar menjadi wanita itu mendorongnya lebih kuat.
Xuan Chen terpental kebelakang dan kembali memuntahkan darah. Memegangi dadanya yang sesak. Saat mendongkak, sosok Qi Xiangma sudah menghilang digantikan oleh Gaoqing Dijun.
Xuan Chen mendengus, "Dijun sungguh punya banyak kejutan!"
Gaoqing Dijun terkekeh, "apapun yang terjadi, aku harus membuat kalian yang telah menjatuhkanku mati!" Dia berkata dengan angkuh.
"Jangan begitu percaya diri, serang aku jika bisa." Sahut Xuan Chen menantang.
Gaoqing Dijun semakin geram, pria itu sangat sombong! Tak menunggu lama lagi, dia segera mengendalikan panah itu. Gaoqing Dijun tersenyum puas, karena saat itu Xuan Chen belum bisa berdiri atau bergerak leluasa, serangan itu mengandung pelumpuh otot.
Namun diam-diam Xuan Chen tersenyum, menyiapkan sesuatu di tangannya. Heh! Dia tak selemah itu untuk terkena pelumpuh. Senyumannya berkembang, dia sedikit senang. Sebentar lagi panah itu.. akan berada di tangannya, apapun yang terjadi.
Panah penghancur jiwa melesat, sangat cepat mendekatinya. Namun saat Xuan Chen siap, tiba-tiba benda besar menghalangi laju panah itu. Hingga dia menangkapnya dengan mudah oleh tangan kosong. Yang tadinya akan menggunakan sesuatu untuk menangkapnya, urung karena terkejut.
Seorang wanita ambruk di depannya. Dia terkejut begitupula dengan Gaoqing Dijun. Panah penghancur jiwa yang berada di tangannya berlumuran darah. Bisa ditebak, itu menembus jantung.
Xuan Chen masih tertegun melihat tubuh Wei Qiao yang tergeletak lemah. Terdapat luka serius di dada kirinya. Dia tidak tahu harus berbuat apa, gadis itu berani mati dan tidak bereinkarnasi demi dirinya.
Tadinya dia akan menggunakan jaring spiritual alam peri untuk menangkap panah itu. Namun dia tahu kesempatan ini akan sangat minim keberhasilan. Panah itu melaju terlalu cepat, khawatir jaring akan pecah dan pada akhirnya panah itu mengenai tubuhnya. Namun mati lebih baik dari pada Yi Changyin yang harus menghadapi ini.
Wei Qiao jelas tahu apa yang dia rencanakan. Dia juga tahu tentang jaring yang tidak akan mempan pada panah itu. Hingga mengambil kesempatan untuk melakukan pengorbanan terakhir demi pria yang dicintainya.
Xuan Chen berjongkok di hadapan Wei Qiao yang sedang sekarat. Gaoqing Dijun hanya mematung di tempat. Xuan Chen tak berniat untuk meraih tubuhnya, memberi kasihan untuk yang terakhir. Karena dia telah berjanji, apapun yang terjadi tidak akan pernah mengasihani Wei Qiao.
"Xuan Chen..." Gadis itu memanggil dengan suara yang tercekat, benar-benar telah sekarat. Namun Xuan Chen sangat enggan untuk menoleh bahkan hanya sesaat.
"Hanya pengorbanan ini, hal yang bisa kulakukan di kehidupan sekarang." Wei Qiao mengambil nafas. Tenggorokannya semakin kering, pelupuk matanya basah. Dia merasa sakit, Xuan Chen tak menoleh padanya sedikitpun.
"Xuan Chen... Aku mencintaimu." Kata-kata terakhir yang menjadi penutup pintu hidupnya. Wei Qiao menutup matanya dengan lega. Dia senang, diakhir hidupnya bisa melakukan sesuatu untuk Xuan Chen.
.......
.......
.......
__ADS_1
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗