
Entah berapa lama Yi Changyin tertidur, namun yang pasti ketika ia berangsur sadar, sinar matahari terasa hangat menerpa wajahnya. Juga ada jari jemari halus yang mencengkram erat tangannya.
Yi Changyin perlahan membuka matanya. Yang pertama lihat dia adalah langit-langit kamar familiar. Kemudian dia menoleh ke arah samping dengan dahi yang mengenyit. Terdapat Yi Xuemei yang sedang tersenyum ke arahnya. Ternyata dia lah yang memegangi telapak tangannya.
"Kakak?" Sambutnya riang. Senyuman Yi Xuemei tambah mengembang, namun gadis itu tidak menjawab.
"Mengapa kau ada di sini?" Tambahnya sambil berusaha mendudukan diri. Namun ia begitu terkejut saat melihat perutnya yang sudah tidak mengembung.
Dia kemudian menoleh ke arah Yi Xuemei yang masih terdiam, dengan ekspresi wajah yang penuh dengan tanda tanya. "Apa aku sudah melahirkan?"
Yi Xuemei menatapnya sebentar. Yi Changyin bertambah heran. Mengapa gadis itu tidak menjawab?
"Yi Xuemei!" Yi Changyin mengguncang tubuh kakaknya. Namun gadis itu malah menghela nafas dan mengusap-usap punggung tangannya.
"Benar, kau sudah melahirkan." Jawab Yi Xuemei dengan nada yang pelan.
Mendengar hal itu Yi Changyin bertambah bingung. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari sesuatu. "Kalau begitu.. dimana bayiku?"
Yi Xuemei hanya terdiam.
"Yi Xuemei!" Panggilnya sekali lagi. Namun gadis itu semakin menunduk, menyembunyikan raut wajah yang pastinya telah menyiratkan sesuatu.
Jantung Yi Changyin berdebar kencang. Dia terus bertanya apa yang terjadi namun Yi Xuemei tidak menjawabnya. Gadis itu malah terlihat tambah murung.
"Mungkinkah Xuan Chen yang membawanya?" Gumam Yi Changyin. Kemudian dia beranjak pergi dari atas kasur, meninggalkan Yi Xuemei dengan cepat.
Tanpa di ketahui olehnya, saat itu Yi Xuemei tampak mulai menitikkan air mata.
Yi Changyin membanting pintu keluar ruangan. Dan ia langsung melihat Xuan Chen yang sepertinya telah berpergian ke suatu tempat.
Wajahnya terlihat murung dan pucat pasi. Namun Yi Changyin tak mempedulikannya. Dia berlari dan segera menabrak tubuh Xuan Chen kemudian mendekapnya.
"Kau sudah sadar?" Tanya Xuan Chen dengan nada yang tidak bersemangat sekalipun.
"Dimana.. bayiku?" Yi Changyin balik bertanya sambil menatapnya. Sementara Xuan Chen hanya bergeming sambil melihat sedikit ke atas. Tak berani menatap matanya.
"Xuan Chen?" Tanya Yi Changyin sekali lagi.
Xuan Chen mengerjapkan matanya. Dia berusaha tetap tenang walaupun sebenarnya hatinya terguncang. Lalu memeluk Yi Changyin dengan erat. Masih tidak berbicara, ia hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya.
"Xuan Chen aku bertanya dimana bayiku? Bukankah Yi Xuemei bilang aku sudah melahirkan?!" Tanya Yi Changyin lagi tidak sabaran. Hatinya mulai mencemaskan sesuatu yang tidak pasti.
"Apakah.. bayiku di bawa ke istana ibu selir?" Gumam Yi Changyin dengan nada yang begitu yakin. Dia mendorong Xuan Chen dan hendak berlari pergi menuju tempat yang di maksud.
Namun Xuan Chen tiba-tiba mencekal tangannya. Membuat langkahnya berhenti. "Xuan Chen?"
"Dia tidak ada di sana." Katanya tanpa menoleh.
"Lalu? Dimana dia?!" Seru Yi Changyin. Kemudian dia menarik-narik pakaian Xuan Chen. "Katakan dimana dia?!"
Firasat buruk sudah terlintas berkali-kali di kepalanya. Membuat ia tak tahan untuk menangis sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam dada Xuan Chen. Sambil terus menerus menanyakan bayinya dimana.
"Apakah.." tiba-tiba Yi Changyin memikirkan satu tempat yang tepat. Walaupun Xuan Chen terus menggeleng, dia tetap mengatakannya. "Apakah ayah Yi Wang telah membawanya?"
Kini matanya telah berkilat sebuah harapan. "Benar! Aku harus menyusulnya!"
Saat itu Xuan Chen semakin menahannya. "Dia tidak ada dimana-mana!"
Hal itu membuat Yi Changyin tertegun. Namun begitu jantungnya tetap berdetak tak karuan. Hatinya mulai sakit dan cemas. Kemudian teringat dengan mimpinya, ketika seseorang merebut Jinmi dari tangannya secara paksa.
"Kemari.. aku akan membawamu pada.. pada." Berat bagi Xuan Chen untuk mengatakannya. "Anak kita.."
Yi Changyin mengangguk tak ragu lagi. Dia mengikuti kemana Xuan Chen pergi dan berakhir di rumah lamanya yang masih bersuasana seperti beberapa hari lalu.
Namun kini dia di hadapkan pada sesuatu yang berada di bawah pohon persik. Sebuah batu nisan dan gundukan tanah, lengkap dengan dupa yang masih menyala.
Yi Changyin terbelalak melihatnya, namun ia tak bisa berkata-kata lagi. Hatinya kacau, pikirannya acak-acakan. Ketika melihat ukiran yang tertera jelas dalam batu bertuliskan,
...陈...
__ADS_1
...锦...
...迷...
(Xuan Jinmi)
Lalu terdapat deretan ukiran kecil di samping kanan,
...昭...
...阳...
...公...
...之...
...女...
(Putri Adipati Zhaoyang)
Dan di samping kiri,
...已...
...故...
...的...
...皇...
...孙...
(Mendiang cucu kekaisaran)
"Ini hanya mimpi kan?" Gumam Yi Changyin dengan suara yang parau. Membuat Xuan Chen berinisiatif untuk merengkuhnya, dia pun merasa sakit dengan kepergian putrinya.
"Maafkan aku.." hanya itu yang Xuan Chen ucapkan. Ia meminta maaf karena merasa gagal telah melindungi anaknya sendiri.
Flashback on
Ia ingat malam tadi, saat badai datang. Saat Yi Changyin tiba-tiba terbangun dan mengeluhkan rasa sakit. Ketika tabib datang, dia keluar ruangan meninggalkan Yi Changyin.
Dengan berat hati dia menutup pintu, setelah menatap Yi Changyin yang dikelilingi dua tabib wanita dan dua pelayan yang hendak membantu. Suara mereka yang memberi semangat terus bersahutan.
Tidak ada suara erangan dan kesakitan, hanya ada petir yang saling bersahutan di langit sana. Ketika tabib wanita itu melaporkan bahwa Yi Changyin jatuh pingsan, Yi Xuemei datang dan mendengar semuanya.
"Yang mulia, permaisuri Adipati jatuh pingsan tapi bayinya sudah di lahirkan. Walaupun sebenarnya malam ini adalah waktu yang jauh dari perkiraan, bayinya tetap berusaha mendorong keluar."
"Jadi maafkan kami yang harus mengeluarkan bayi permaisuri Adipati secara paksa. Karena jika tidak segera, Permaisuri akan kehilangan nyawanya."
Ia dan Yi Xuemei hanya bisa menyetujui saran tabib. Walaupun gejalanya sangat aneh, bayi yang siap di lahirkan namun belum waktunya, dia tetap berharap yang terbaik.
Dia menunggu di luar bersama kakak iparnya dalam waktu yang lama. Yi Xuemei tak henti-hentinya menggigit jari. Dan dia yang mondar mandir di depan pintu tak berhenti.
Ini malam hari, suasananya sangat mencekam. Dengan petir yang terus menerus menyerang langit malam dan hujan yang turun menusuk-nusuk tanah.
Hingga suara tangisan bayi terdengar menguar di udara. Membuat ia dan Yi Xuemei saling berbagi senyuman lega. Tak lama kemudian seorang pelayan membuka pintu, dan melaporkan kalau bayi yang di lahirkan adalah perempuan.
Saat itu Yi Xuemei berseru riang, "Sesuai tebakanku!"
Dia langsung memasuki ruangan dengan langkah yang tidak sabar. Yang pertama kali dia lihat adalah Yi Changyin. Gadis itu terbaring pucat di atas kasur. Dengan beberapa pelayan yang sibuk membereskan sisanya.
Yi Xuemei ikut memasuki ruangan ketika tabib wanita menyerahkan bayi perempuan itu pada pangkuan Xuan Chen. Dia menerimanya dengan senang hati. Dan tangisan bayi itu berhenti ketika berada di gendongannya.
Dia bahagia, walaupun langit sedang tak bahagia.
Dia mendudukan dirinya di atas kasur. "Yin'er, lihat bayi kita." Katanya walaupun yang di ajak bicara tidak mendengarnya.
"Sudahkah kau memikirkan namanya?" Tanya Yi Xuemei.
__ADS_1
"Aku dan Yin'er sudah memutuskan. Bayi ini akan diberi nama Xuan Jinmi."
"Nama yang bagus." Puji Yi Xuemei antusias.
"Selamat kepada Adipati Zhaoyang atas kelahiran putri Xuan Jinmi." Dua tabib wanita dan dua pelayan yang membantu persalinan itu memberi selamat.
Yi Xuemei memperhatikan bayi Yi Changyin dengan senyuman. Namun sejurus kemudian ekspresinya berubah menjadi heran.
"Mengapa dia.." Yi Xuemei mendongkak ke arahnya. Dia pun balik menatapnya dengan heran. Kemudian Yi Xuemei melanjutkan, "mengapa dia tidak bergerak lagi?"
Hatinya merasa tertohok mendengar hal itu, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar, dan berusaha memikirkan hal yang baik.
"Jinmi.." bisiknya sambil sedikit menggoyang-goyangkan tubuh mungil putrinya.
Matanya mulai memerah. "Jinmi, sayang.. apakah kau mendengar suara ayahmu? Jika mendengar maka setidaknya gerakkan tanganmu."
Namun bayi itu masih bergeming.
Kedua tabib wanita saling melirik heran dan khawatir. Sebelum akhirnya salah satu dari mereka maju, dan memeriksa Jinmi dengan seksama.
Tak lama kemudian dia mundur dengan warna wajah yang pias. Melirik rekannya dan menggeleng rendah.
"Apa yang terjadi?!" Seru Xuan Chen sambil berdiri dengan cepat.
Namun mereka berempat malah bersujud dengan badan yang bergetar.
"Maafkan kami yang mulia! Kami lalai dalam mengerjakan tugas!"
Lalu tabib yang tadi memeriksa Jinmi maju terlebih dahulu. Posisinya masih membungkuk dan dia berkata, "Putri Jinmi.. dia.. tidak bisa di selamatkan. Kami juga tak tahu penyebabnya, dan saat dibersihkan tadi, kami tidak menemukan tanda-tanda untuk hal ini terjadi."
"Yang mulia, maafkan kami!"
Petir menyambar bak menusuk ulu hatinya. Hujan deras kini bisa menggambarkan hatinya yang sedang menangis. Hatinya tertohok hingga membuat sendi-sendinya melemas, tak sanggup lagi berdiri.
Namun nyatanya tangisan itu meluap hingga tak bisa untuk dia tahan sampai meleleh di pelupuk mata.
Dia bisa membayangkan bagaimana sikap manja Yi Changyin saat mengandung Jinmi. Saat bayi kecil ini masih menendang-nendang di dalam perut yang mampu membuat kebahagiannya membuncah.
Tengah malam yang masih di selimuti hujan terpaksa dia harus menguburkan putrinya di rumah lamanya.
Namun Jinmi adalah keturunan Dewi tertinggi dari alam peri sekaligus ratu yang mendominasi. Tanpa pengecualian bayi itu telah memiliki dua belas jiwa dan tujuh inti roh. Yang kini sedang beterbangan bersamaan dengan menghilangnya tubuh mungil dalam pangkuan itu.
Xuan Chen hanya bisa menangis berat merasa kehilangan sebelum membuat kenangan.
Yang tertinggal hanyalah abu suci berwarna putih di dalam kain putih. Yang ia masukan ke dalam botol kaca dan menguburkannya dengan layak.
Flashback off
Apa daya, dia tak bisa menghentikan kepergian, hanya bisa menangisi dan menyesali. Sekaligus berhati penuh emosi sambil memikirkan siapa yang berani melakukan hal ini.
Tidak mungkin putri dari seorang Bai Suyue bisa mati semudah itu.
Dia masih merengkuh Yi Changyin ketika memikirkan kata-kata Wen Yuexin kemarin.
"Lepaskan Yi Changyin jika tak ingin sesuatu terjadi padanya."
Apakah dia? Apakah benar-benar wanita itu yang melakukannya? 'Sialan!' Makinya dalam hati.
Namun sejurus kemudian dia terkejut ketika mendapati Yi Changyin yang lari dari pelukannya. Gadis itu menghampiri gundukan tanah dan merusaknya, berusaha menggalinya.
"Jinmi, mungkin ibu bisa menghidupkanmu kembali.." Gumamnya dengan nafas yang memburu.
Namun sukses membuat Xuan Chen terbelalak dan berusaha menghentikan aksi gila Yi Changyin dengan menarik-narik tangannya untuk pergi dari sana. "Yin'er, jangan melakukan gila seperti itu! Sadarlah, Jinmi tidak akan bisa kembali!"
"Aku bisa menghidupkannya kembali!" Teriaknya sambil menangis, kemudian menghempaskan Xuan Chen dengan gelombang spiritual hingga pria itu mundur beberapa langkah.
.......
.......
__ADS_1
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗