The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CXLI - Kehancuran hati yang sebenarnya


__ADS_3

Xuan Chen menarik nafas dan membuka matanya dengan cepat. Dia langsung terteduduk lalu tertegun. Dirinya kini sedang duduk di atas batu pinggir sungai kelupaan alam baka, sedang mencerna banyak informasi yang dia dapatkan.


Selain ingatannya yang kembali, informasi itu menusuk-nusuk kepalanya. Tak disangka... Argghh banyak sekali yang tidak bisa disangka.


Namun saat itu Xuan Chen merasakan sesuatu yang hilang. Setelah terdiam saat, dia baru ingat. Benar! Yi Changyin!


Pria itu berdiri, mengedarkan pandangannya ke segala arah. Saat ini dia masih memakai baju zirah peraknya. Tapi ketika melihat seseorang terbaring di antara celah batu, dia mengerutkan kening.


Apakah itu Yi Changyin? Tapi tidak mungkin menurutnya, rambut seseorang itu berwarna putih bersih. Tapi, Baju zirah itu...


Xuan Chen segera melangkah lebar dari batu ke batu dan menghampiri seseorang yang memiliki rambut putih bersih itu. Dia berjongkok meraih tubuh ramping yang pastinya perempuan ini.


Saat melihat wajahnya yang pucat, Xuan Chen terkejut. Itu benar Yi Changyin! Ada panah yang menancap di dada kirinya, jantungnya Tiba-tiba berdetak kencang.


"Yin'er... Yin'er..." Pria itu tampak panik sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya, menepuk pipi pucat Yi Changyin dengan keras. Tidak ada jawaban, dia semakin panik dan tidak karuan.


Tiba-tiba Xuan Chen berwajah jelek. Saat dia hendak menangis, Yi Changyin membuka matanya perlahan. Air mata itu bak tersedot kembali ke dalam mata. Xuan Chen tersenyum senang.


"Yin'er, kau sadar!" Serunya riang.


Yi Changyin tersenyum dan menyentuh pipinya sebentar. Kemudian mencabut panah yang menancap di dadanya, melemparkan ke sembarang arah. Sekilas dia tidak merasakan beban lagi, racunnya sudah menghilang.


Xuan Chen menyentuh tepian luka itu dengan nanar. "Yin'er..."


"Aku baik-baik saja." Tukas Yi Changyin dengan suara yang lemah.


"Kalau begitu, kita harus kembali ke alam peri, aku akan merawat lukamu." Ujar Xuan Chen sambil tersenyum. Pria itu hendak membopong tubuhnya namun Yi Changyin mencegah.


"Jangan! Tetaplah di sini sebentar saja."


Xuan Chen pun mengurungkan niatnya dan mengerutkan kening. "Yin'er, tapi lukamu..."


Yi Changyin cepat-cepat menggelengkan kepala. "Biarkan saja, sebentar lagi itu akan menghilang." Suaranya masih lemah, membuat Xuan Chen tidak tega tapi tidak tahu harus berbuat apa.


Tiba-tiba saja gadis itu kembali menyentuh pipinya, dia menangis. Xuan Chen tiba-tiba cemas dan cepat-cepat menghapus air matanya. Saat menyentuh rambut Yi Changyin, dia baru ingat. Rambut istrinya itu berubah menjadi putih.


Dia menggenang air mata di pelupuknya. "Yin'er, mengapa rambutmu menjadi putih?" Tanyanya dengan suara yang bergetar.


Prasangka buruk mulai menyerang kepalanya. Tangannya kini beralih memegangi tangan Yi Changyin yang mengelus-elus pipinya. Tatapan Xuan Chen terlihat kosong.


"Maafkan aku..." Tiba-tiba Yi Changyin berkata dengan suara yang tercekat.


Xuan Chen kembali sadar dan pikirannya kini dijejali beban berat dan hampir memecahkan otaknya. Setetes air mata turun membasahi pipinya. Yi Changyin masih menangis memandangi wajahnya.


"Xuan Chen..." Wanita itu berbicara lagi. "Aku tidak menyangka masa lalu kita.. Maafkan aku.. yang tidak menyadari perasaan ini dan malah membencimu."


Xuan Chen menggeleng-gelengkan kepalanya. "Yin'er, aku menganggap itu sebagai hukuman. Sungguh tidak apa-apa." Katanya dengan tulus. "Sebagian juga, karena disebabkan oleh racun itu, bukan?"

__ADS_1


Kini Xuan Chen pun telah mengetahui racun yang diciptakan oleh Wen Yuexin. Namun dia tak tahu apa penawarnya karena dalam informasi tidak nampak.


Saat itu Yi Changyin yang hendak tersenyum tiba-tiba memuntahkan seteguk darah. Xuan Chen panik, tubuhnya yang serba putih itu dinodai oleh darah.


Pria itu hendak menyuntikkan energi spiritualnya, tapi Yi Changyin menahan. "Ingat, jangan lakukan hal yang sia-sia." Ujar Yi Changyin sambil tersenyum, air matanya masih mengalir.


Xuan Chen tak bisa menahan untuk tidak menangis. Pikiran buruk itu terus menghantui kepalanya. Kemudian dia menjawab, "tentu saja tidak akan. Karena ada kau yang akan selalu mengingatkanku. Bukan?"


Yi Changyin tersenyum, tiba-tiba nafasnya tercekat. Berbicara saja sedikit sulit, hanya bisa menggerak-gerakkan mulut. Tapi tangannya masih bergerak untuk menghapus air mata Xuan Chen.


"Apa yang akan kau lakukan?!" Pria itu mulai meracau sambil menangis. "bukankah kau berjanji untuk hidup selamanya bersamaku? Dalam takdir kita akan memiliki anak banyak, kita harus mewujudkan takdir itu!"


Yi Changyin hanya bisa menangis mendengarnya, nafasnya semakin tercekat. Tangisannya tak bersuara, hanya bisa mendengarkan tangis pilu Xuan Chen.


Yin'er, mungkin ada rumah yang nyaman di alam fana, jauh dari pemukiman, Mu Dan akan mencarinya untuk kita. Setelah mengangkat Xingfei menjadi ratu, kita tinggal di sana bersama anak-anak, ya?" Tambahnya dengan hati yang berdenyut.


"Yin'er, mengapa kau tidak menjawabku?! Cepat bilang ya! Cepat bilang!!" Setelah mengatakan hal itu, Yi Changyin segera menghalangi mulutnya dengan tangan. Khawatir akan mengatakan hal yang menyakitkan untuk didengar lagi.


"Jangan.. terlalu berisik, aku.. mengantuk.." ujar Yi Changyin dengan nafas yang terputus-putus.


"Jangan tidur..." Gumam Xuan Chen terdengar menyakitkan. Hatinya benar-benar hancur kali ini. Sangat sakit melebihi waktu-waktu kemarin. Ini adalah kehancuran hati yang sebenarnya, ketakutannya selama ini.


"Xuan Chen, aku.. ingin tidur." Dia berkata lagi, tapi Xuan Chen menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi yang jelek.


"Selama aku tidur.. tolong.. jaga Sifeng.. dan Sijiu." Tambahnya parau. Dia ingin menangis kencang saat mengingat dua bayi kembarnya yang lucu.


"Tidak..." Pekik Xuan Chen sambil memeluk erat Yi Changyin. Tangan Yi Changyin masih mengusap-usap pipinya.


Namun setelah mengatakan hal itu, tangan Yi Changyin yang mengusap pipinya terkulai ke bawah. Nafasnya sudah tak terasa lagi. Xuan Chen segera melepaskan pelukannya dan menatap wajah Yi Changyin yang pucat.


Dengan jantung yang berdebar kencang, tangannya diam-diam menyentuh nadi. Tidak merasakan apapun, wajah Xuan Chen semakin pucat. Meletakan tangannya di depan hidung Yi Changyin, tidak merasakan hembusan hangat.


Xuan Chen menggoncang-goncang tubuh Yi Changyin dengan keras. Namun tidak ada respon apapun dari tubuhnya. Dia berteriak dan menangis lagi.


"Yin'er aku sangat menyayangimu tapi kau malah meninggalkanku seperti ini apakah kau akan membuatku gila?! Aku tahu aku salah, tapi sudah kubilang aku tak menyukai hukuman seperti ini!"


"Yin'er bangunlah! Bangun!! Jika kau bangun kau boleh menghukumku sepuas mungkin! Aku bersedia melayanimu sepenuh hati dan menjadi pelayanmu! Aku akan memasak, membersihkan rumah, memijitmu setiap hari, tapi kau harus bangun terlebih dahulu! Aku akan mewujudkan keinginanmu!"


Berteriak sekeras mungkin, berbicara sebanyak mungkin. Tapi yang di dapat hanya tubuh itu memudar. Ada sesuatu yang beterbangan ke atas langit alam baka. Seketika dia merasa kosong namun bayangan cantik nan pucat itu masih terlihat.


Xuan Chen terus berteriak membangunkannya, berteriak jangan pergi, mengancamnya, memberi jaminan dan sebagainya. Tapi yang di dapat tubuh itu malah menghilang dari pelukannya. Dalam titik ini Xuan Chen merasa dirinya tidak berguna sama sekali.


"Aku pria yang tidak berguna! Tidak bisa melindungimu.."


Hingga Xuan Chen tak kuasa menahan emosinya lagi, dia berteriak sekencang mungkin dan menimbulkan gelombang spiritual yang besar.


Hal itu memicu badai terjadi di langit alam baka. Awan hitam berkumpul dan petir menyambar dimana-mana. Hal serupa terjadi sampai ke alam langit. Kaisar dan permaisuri pun terkejut melihat hal tiba-tiba itu. Pangeran kecil Yun Fulei merasa cemas saat menatap langit.

__ADS_1


Alam iblis sama terkena dampaknya. Aoyi Jinqi yang masih terkurung menatap langit dengan nafas yang memburu. Langit di semua alam terlihat menyeramkan.


Bahkan alam fana tak terlewatkan, badai mulai muncul di atas langit-langit. Sangat menyeramkan hingga para manusia mengira ini adalah akhir dunia.


Alam peri yang selalu cerah kini di landa badai petir yang menyambar dimana-mana. Yue Xingfei berlari ke luar ruangan yang dibatasi oleh perisai pelindung.


Dia menatap langit yang tiba-tiba mendatangkan keanehan. Jantungnya berdetak kencang, dia merasa cemas.


Dan tiba-tiba saja Xuan Sifeng dan Xuan Sijiu menangis kencang. Dia berada satu ruangan dengan bayi itu. Yue Xingfei menghampiri mereka dengan cemas, menyuruh pelayan untuk menenangkan mereka.


Namun yang ada bayi itu malah semakin menangis kencang. Tubuhnya tak bisa diam seperti kejang-kejang. Suara tangisan bayi itu menambah suram ruangan itu. Sifeng dan Sijiu dalam keadaan hati yang tidak tenang.


Bahkan semua penghuni ruang dimensi spiritual yang sengaja ditempatkan disini pun saling bergantian untuk menimang bayi kembar itu. Namun tak satupun yang berhasil meredakan tangisnya.


Tak terkecuali singa roh api dan kalajengking es. Mereka bersantai di sudut ruangan. Walaupun hati mereka sebenarnya sedang diliputi kecemasan yang berlebih. Dan badai petir di luar sana membuat mereka sedikit merinding.


"Apa yang sebenarnya terjadi..." Gumam Yue Xingfei cemas sambil menggigit bibir bawahnya.


Di saat seperti ini, suatu ide yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Dia segera menghampiri meja dan menulis sesuatu di atas kertas, sangat panjang.


Setelah selesai, dia melipatnya dan menghilangkannya di udara. ""Angin, bawa surat ini pada Dewa jodoh." Gumamnya. Surat itu berubah menjadi abu emas dan menembus perisai.


Tanpa di ketahui Yue Xingfei, keadaan alam peri kini menggemparkan. Semua tanaman layu, daerah bukit bunga menjadi suram. Hewan-hewan bertingkah aneh, mereka meraung ke langit dengan mata yang sayu.


Termasuk paus terbang sekalipun. Seluruh alam peri tampak gelap. Para peri pun tak luput dari rasa cemas. Perubahan di alam peri ini adalah pertanda buruk.


Meninggalkan hal menggemparkan itu, kini di alam baka tubuh Xuan Chen melemas. Jatuh kedepan namun masih bisa menopang tubuhnya. Menatap abu putih dan suci itu dari dekat.


Air matanya sudah mengering, tak ada sisa untuk menangis lagi. Hatinya tengah hancur, langit-langitnya runtuh. Apa yang baru saja menimpa, sungguh membuat ia terbungkam.


Di atasnya badai terjadi, tapi tak menurunkan hujan. Hanya langit tampak menyeramkan. Bahkan Dewi Yuan Ji pun merasa tidak tenang.


Xuan Chen tersenyum gentir. Dia bergumam, "jika kau pergi... Maka gunanya aku hidup?" Kemudian dia tertawa miris dan menegakkan tubuhnya.


Menatap langit yang berduka atas kepergian seseorang. Xuan Chen tersenyum, "aku akan menyusulmu." Kemudian pandangannya beralih pada panah yang tadi Yi Changyin lemparkan.


Xuan Chen merangkak dan mengambilnya. Dia menatap panah itu dengan pikiran kosong. Panah ini yang membunuh istrinya. "Yin'er, tunggu aku."


Xuan Chen menutup matanya. Hendak menusukan panah itu ke dalam dadanya. Namun saat menyentuh kulitnya, tiba-tiba saja panah itu berubah menjadi abu. Xuan Chen terbelalak. Namun lebih mengejutkan lagi, dia mendengar seorang pria berbicara.


"Yue'er ku bisa kembali, menantu. Tapi sayang sekali jika kau sendiri ikut mati, dia tidak akan bisa kembali dan kalian akan berpisah selamanya. Tahan diri dan jangan mati, maka istrimu bisa kembali."


.......


.......


.......

__ADS_1


Tenang tenang, seseorang berkata Yin'er bisa kembali kok. Pria itu menyebut Yi Changyin dengan sebutan 'Yue'er', bisa menebak dia siapa?


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2