The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XL - Yue Xingfei & Hua Mu Dan


__ADS_3

"Apa?! Dia ayahmu?!" Pekik kakek bulan yang sontak membuat Yi Changyin menoleh ke arahnya dengan wajah yang pucat. Xuan Chen juga tak luput dari keterkejutannya.


Secepat itu terbongkar? Tentu saja! Salah dia sendiri.


Yi Changyin tidak bisa terus menatap wajah tua yang terkejut sekaligus bertanya-tanya, yang berubah menjadi menyeramkan bak bencana besar di depan mata. Dia menunduk meruntuki kebodohannya sendiri, masih bersembunyi di balik kipas.


Pikirannya kacau, tidak memperdulikan kakek bulan yang mungkin sedang menatapnya dengan cara yang seperti apa. Atau dengan otaknya yang berencana akan melakukan apa setelah menyadari kenyataan. Kenyataan yang bagi kakek bulan seperti di kubur dalam bongkahan kaca tembus pandang. Terlihat jelas.


"Jadi, kau putri kepala klan rubah ekor sembilan?" Tanya kakek bulan, nada bicaranya berubah lembut. Mendorong Yi Changyin untuk lebih berani menatapnya sekarang.


Wajah gadis itu masih memerah dan cemberut. Bola matanya bergerak menuju belakang punggung kakek bulan. Menangkap sosok Xuan Chen yang juga tak sengaja sedang menatapnya, dia juga masih bersembunyi di balik kedua tangannya, menghindari tatapan Yi Wang.


Yi Changyin meminta bantuan untuk bicara melalui tatapan mata yang bagaikan melayang-layangkan seuntuyan kata-kata.


Xuan Chen sekali lihat saja langsung bisa menangkap maksud si rubah kecil. Pria itu mengangguk dan mendapat senyuman manis dari Yi Changyin.


"Kakek rubah.." Panggil Xuan Chen dan kakek bulan langsung menoleh ke arahnya.


"Apakah kau yang ingin menjelaskannya?" Tanya kakek bulan yang menebak dengan sangat tepat.


"Benar.. Tapi, kami tidak bisa terus bersembunyi seperti ini. Apakah kakek bulan memiliki sesuatu untuk menyembunyikan kami berdua." Katanya memohon.


Kakek bulan mengerti. Dia sempat terdiam dan menerawang. Membayangkan apa saja yang dia bisa lakukan untuk kedua anak muda ini.


Lama...


Sangat lama...


Mereka menunggu sambil melihat lalu lalang para dewa dewi yang meminta sulang dengan dewa dewi lainnnya. Dengan bosan menekuri melalui ujung kipas dan ujung telapak tangan. Bahkan saat raja ratu klan Phoenix dan Naga tiba, belum ada tanda-tanda dari sang kakek bulan mengutarakan idenya.


Sempat sesekali melirik kakek tua itu, yang hanya membelai janggut dengan kening berkerut tajam. Memangnya seberapa banyak dia bisa melakukan sesuatu sampai lupa?


Sempat saling bersitatap dengan Xuan Chen, gadis itu memberikan tatapan memelas sebelum akhirnya menenggelamkan wajahnya di lengkupan tangan.


Xuan Chen mengerti gadis itu merasa takut jika ketahuan ayahnya, dia segera menoleh ke arah kakek bulan yang masih memikirkan sesuatu.


"Kakek.."


Ucapannya terhenti saat kakek bulan menunjukkan punggung tangannya pertanda peringatan untuk berhenti bicara. Xuan Chen hanya menghela nafas panjang, lalu mengikuti apa yang di lakukan Yi Changyin.


Yi Changyin masih menatap kosong, pandangannya jatuh pada singgasana kaisar dan permaisuri langit. Namun tiba-tiba sesuatu yang berbobot berat sedang menindih matanya. Sangat berat untuk di buka kembali, hingga singgasana mewah berwarna putih dengan dipadukan emas itu memudar dari pandangan matanya.


Lama-lama dia terkantuk-kantuk bahkan telinga yang menangkap riuh suara dalam perjamuan terdengar menggema. Perlahan sesuatu seperti menyeretnya masuk ke dalam alam mimpi. Pemandangan yang terakhir kali dia lihat adakah teko arak yang berada di atas meja. Setelah itu dia tidak tahu apa yang terjadi.


Tapi tiba-tiba, sesuatu masuk ke dalam telinganya.


"Aku sudah menemukannya.." Ujar kakek bulan.


Namun mengejutkan seperti bom, teriakkan -yang sebenarnya pelan- itu memekakkan di telinga Yi Changyin. Sontak dia terbangun dengan perasaan terkejut dan langsung celingak-celinguk tidak jelas. Mengedarkan pandangannya, lalu menyadari kalau sekarang dia berada di perjamuan besar alam langit.


"Kakek bulan, kau menemukan sesuatu?" Tanya Xuan Chen yang masuk ke dalam gendang telinganya. Membuat ia langsung menoleh dan segera ingat apa alasan dia tertidur.


Menunggu kakek bulan menemukan ide!!


"Itu benar, aku menemukannya." Ujar kakek bulan senang dan terkekeh di akhir kalimatnya. Xuan Chen juga ikut terkekeh walaupun garing yang membuat Yi Changyin mencibir sebal.


Mengingat dia butuh bantuan kakek bulan, Yi Changyin menghela nafas dan mengembangkan senyumannya. "Apa yang kakek bulan temukan?" Tanyanya.


"Aku mempunyai teratai penyamar untuk kalian. Tapi.. itu hanya bisa bertahan selama beberapa jam. Tidak sampai selamanya." Jelas kakek bulan.


Yi Changyin tertegun. Namanya hanyalah teratai penyamar? Lalu kenapa kakek bulan begitu lama untuk mencarinya?!


"Teratai penyamar?" Gumam Xuan Chen. "Apakah itu benar-benar bisa menyamarkan wajah seseorang?"


"Haish!" Kakek bukan menepuk tangan Xuan Chen. "Percayalah pada kakek serba bisa dan serba tahu ini.." Katanya memuji diri sendiri.


"Kakek bulan serba bisa dan serba tahu?" Tanya Yi Changyin sedikit sinis.


Sementara kakek bulan hanya mengangguk senang. "Benar! Memangnya kenapa?"


"Tapi mengapa mencari ide seperti itu saja sangat susah?"


"...."


Sempat terdiam, akhirnya kakek.bulan terkekeh. "Sebenarnya teratai itu adalah sebuah benda. Jadi sebenarnya..."


Sebenarnya kakek bulan diam-diam menghubungi salah satu bidadari yang berada di rumah jodohnya. Karena di rumah jodoh begitu banyak barang-barang aneh dan serupa, bidadari itu kesulitan mencarinya. Ketika ditemukan, bidadari kecil itu langsung memberikannya pada kakek bulan melalui teleportasi.


"Apakah bisa seperti itu?!" Tanya Yi Changyin berbinar. Baru kali ini dia mendengar ilmu memindahkan barang secara teleportasi.


"Tentu saja ada!" Sahut kakek bulan antusias.


Xuan Chen hanya tersenyum melihat mereka berdua.


"Di dunia langit tidak ada yang tidak mungkin." Tambahnya walau tidak se-antusias tadi.

__ADS_1


"Kakek bulan, bolehkah mengajarkanku ilmu aneh semacam itu? Aku ingin mencobanya!" Ujar Yi Changyin tidak sabar.


"Selesaikan dulu sekolahmu.. setelah itu carilah aku dan mulai belajar." Jawabnya yang membuat Yi Changyin memekik senang. Pria tua itu menoleh ke arah Xuan Chen. "Apakah kau mau di ajari juga?"


"Itu adalah suatu kehormatan bagiku, aku tidak akan mungkin menolaknya." Xuan Chen tampak penuh hormat, membuat kakek bulan itu terkekeh.


"Jangan terlalu seperti itu. Bersamaku jangan terlalu tegang.." Sarannya yang membuat Xuan Chen terkekeh garing.


Tanpa berlama-lama lagi, kakek bulan mengeluarkan sekuntum bunga teratai merah muda di tangannya. Dia segera mencabut dua kelopak bunga itu dan memberikannya masing-masing pada Yi Changyin dan Xuan Chen, setelah itu dia kembali memasukkan sisanya.


"Makanlah dan katakan dalam hatimu siapa saja yang masih bisa mengenalimu saat memakan bunga itu." Titah kakek bulan.


Yi Changyin dan Xuan Chen tanpa ragu memakan kelopak bunga bergradasi itu. Segera badannya di selimuti aura merah muda lalu menghilang kembali. Tidak ada yang terjadi, seperti biasa.


Tapi lihatlah perubahannya. Saat Yi Wang meminta bersulang dengan kakek bulan, dia tidak menghiraukan keberadaan Yi Changyin ataupun Xuan Chen. Hanya tersenyum pada satu sosok dan meminum arak dalam cawan emas putihnya.


Yi Changyin sangat senang dengan hal ini. Walaupun terasa gugup, dia akan terselamatkan dari yang namanya dimarahi. Kakek bukan yang terbaik!!


"Terimakasih kakek bulan." Ungkap mereka berdua.


Kakek bulan hanya terkekeh sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Tidak apa.."


Tak lama kemudian, setelah Yi Changyin menceritakan asal usulnya pada kakek bulan. Sosok yang di tunggu-tunggu semua orang telah tiba. Seseorang yang sangat mendominasi dan terkenal di seluruh penjuru dunia. Yang berpakaian mewah dan di segani bak Dewa Naga dan Dewi Phoenix.


Pada kenyataannya adalah, kaisar langit adalah keturunan langsung dari klan Naga, melalui ibunya. Dan Permaisuri langit adalah putri kerajaan klan Phoenix.


Di sebelah kanan, tepatnya di belakang kaisar, ada dua sosok yang pastinya di kenali semua orang. Juga di segani dan sangat mendominasi. Yaitu pangeran mahkota langit Yun Haojing bersama putra semata wayangnya, Yaitu Yun Jihao.


Di kiri belakang permaisuri langit, adalah pangeran kedua Yun Zhao bersama istrinya, putri agung Feng Lian. Kedua pangeran itu adalah putra permaisuri, kaisar langit tidak pernah berniat untuk memiliki seorang selir.


Pakaian mereka bereenam serempak berwarna putih dengan hiasan emas. Berekor panjang hingga ketika berjalan menyeret hamparan kelopak bunga yang di hadirkan dari atas atap. Tentu saja riasan kaisar dan permaisuri langit lah yang paling mewah. Lengkap dengan mahkota naga khas kaisar dan mahkota Phoenix untuk sang permaisuri.


Yi Changyin dan Xuan Chen tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Ini adalah yang pertama. Dan mungkin untuk terakhir kalinya mereka datang ke alam langit. Bisa dibilang ini adalah kesempatan emas.


Setelah memberi salam penghormatan dan berbasa-basi, semua orang menyantap makanannya sambil sesekali bercanda dan bersulang. Lalu menyaksikan pertunjukan yang di bawa oleh beberapa gadis-gadis yang molek dan ternama.


Contohnya He Qing. Yi Changyin hanya mencibir ketika melihatnya. Dia masih kesal karena kejadian tadi pagi saat berjalan-jalan di sekitar istana utama alam langit. Dia begitu sombong! Jauh lebih sombong dari Wei Qiao.


Gadis itu bahkan berpakaian terbuka yang memperlihatkan perut putih dan datarnya. Gerakannya sangat gemulai apalagi saat bagian pinggul, sambil sesekali mengedipkan sebelah mata ke arah Long Chu. Menyebalkan!


Yi Changyin sempat melirik Xuan Chen. Nyatanya pria itu bahkan sama sekali tidak berminat untuk meliriknya. Hanya fokus menekuri makanan-makanan yang terhampar di depannya. Tak seperti kakek bulan yang aktif menerima sulangan dari beberapa dewa.


Sepertinya selain di segani, kakek bulan memiliki banyak teman dekat. Mungkin karena keterbukaan dan keramahan hatinya. Sangat disayangkan dia tidak menikah dan memiliki anak atau cucu.


Tapi mengingat saat pria itu memegang pangkal pedang, Yi Changyin akan terbang ke langit ketujuh dengan wajah yang terkagum-kagum. Alhasil dia senyum-senyum sendiri dengan mata yang masih setia menekuri wajah tampan itu.


Sampai kepala Xuan Chen bergerak dan tak sangka menangkap basah dirinya. Dia tersentak, senyumannya menghilang. Lalu bersikap tenang biasa saja dan menghadap kedepan, walaupun jantungnya berpacu kencang. Xuan Chen hanya tersenyum lebar sambil mendesis. Gadis itu...


'Menggemaskan..'


Kakek bulan tidak mungkin jika tidak melihat apa yang mereka berdua lakukan. Dia berkata dalam hati, 'Bersenang-senanglah sebelum bencana itu menghampiri kalian. Semoga kalian dapat menghadapinya dengan sabar..'


Tatapan kakek bulan menerawang, kemudian menghela nafas. 'Ini bukan bencana biasa.. bahkan aku tidak bisa meramalkannya.'


.......


.......


.......


Setelah perjamuan selesai, sebagian yang hadir akan langsung pulang menuju kediamannya masing-masing. Tidak termasuk kepada para tamu jauh seperti rombongan tetua Ling Zhao. Mereka di haruskan menginap satu malam di sana.


Tapi saat itu kakek bulan memaksa mereka untuk menginap di kediamannya. Awalnya tetua Ling Zhao menolak, tapi kedua muridnya tanpa ragu mengikuti sang Dewa perjodohan itu sambil tersenyum senang.


Dia pun hanya menghela nafas dan mengekori langkah mereka.


Sesampainya di rumah jodoh, keduanya langsung di antar ke kamar tamu. Setelah itu berkumpul di ruangan besar untuk makan malam bersama. Tetua Ling Zhao duduk bersebrangan dengan kakek bulan. Sementara Yi Changyin dan Xuan Chen duduk berdampingan.


Sedari tadi kakek bulan hanya terkekeh kekeh sambil menceritakan apapun yang terlintas di pikirannya. Mulai yang lucu sampai yang garing, hingga yang serius dan menyeramkan. Sampai berbagai macam hidangan datang, barulah dia mau berhenti.


"Hua Mu Dan!! Yue Xingfei!!" Teriaknya memanggil seseorang, semuanya mengenyit heran.


Terutama Yi Changyin yang merasa nama mereka berdua terasa begitu familiar. Siapa Hua Mu Dan dan Yue Xingfei?


"Yaa, kami datang.." Tiba-tiba datang dua orang gadis yang masing muda dan cantik. Wajah mereka ayu dan berseri-seri. Yang satunya memakai setelan serba bunga Peony, sesuai dengan namanya. Sementara yang menyusul di belakangnya berpakaian serba putih.


(Note : Mu Dan dalam bahasa China artinya bunga Peony)


Mereka berdua duduk berdampingan di sebrang Yi Changyin dan Xuan Chen. Tetua Ling Zhao, Yi Changyin dan Xuan Chen masih mengeyit heran, tapi kakek bulan selalu tersenyum senang.


"Dewa Ling, murid akademi.. ini adalah Hua Mu Dan dan Yue Xingfei, putri angkatku."


Semua orang mengangguk ketika mendengarnya.


"Mu Dan, Xingfei, ini adalah Dewa Ling Zhao beserta kedua muridnya. Yi Changyin dan Xuan Chen. Mereka..."

__ADS_1


Ucapan kakek bulan seperti masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri bagi Hua Mu Dan. Gadis yang berias serba bunga Peony itu menatap Yi Changyin dengan ekspresi yang terkejut, tidak percaya.


Terutama saat dia melihat tusuk rambut Peony yang terpasang diantara hiasan-hiasan rambut emas bermutiara merah itu. Pikirannya bertambah kacau seiring masuknya beberapa ingatan yang terlintas di benaknya.


Ekspresinya tiba-tiba berubah sendu, 'Ra...'


"Mu Dan!" Panggil kakek bulan menyadarkan lamunannya. Dia tersentak dan langsung menoleh ke arah kakek bulan yang sedang cemberut.


"Kakek?" Sahutnya masih grogi.


'Putri angkat, tapi kakek bulan tetap ingin di panggil kakek..' Pikir Yi Changyin sambil tersenyum tipis.


"Aku ini sedang memperkenalkan kalian pada teman baru kakek. Tapi kau malah melamun. Huh!" Ucap kakek bulan kecewa sambil mendengus di akhir Kalimatnya.


"Maafkan Mu Dan, kakek. Aku.. aku.."


"Sudahlah.." Potong Kakek bulan. Dia kemudian menoleh pada Yi Changyin dan Xuan Chen. "Yin'er, Chen'er.."


Tunggu, sejak kapan kakek bulan memanggil mereka seperti ini?!


"Mu Dan adalah bidadari yang ku sebutkan tadi, dia yang mencari sekuntum bunga teratai untuk kalian. Tapi.. sepertinya efek teratai itu sudah habis.." Katanya sambil cemberut.


Mendengar hal itu sontak membuat Yi Changyin dan Xuan Chen menelungkupkan kedua tangannya pada Hua Mu Dan. Membuat gadis itu terkejut. "Kami sangat berterima kasih kepada bidadari Mu Dan."


"Jangan memberi seperti itu! Itu sangat tidak pantas bagimu!" Seru Hua Mu Dan dengan ekspresi yang cemas. Berlebihan, membuat Yi Changyin dan Xuan Chen mendongkak karena terkejut. Bahkan kakek bulan dan tetua Ling Zhao turut kaget.


"Hua Mu Dan.. tolakan mu terlalu berlebihan.." Ujar kakek bulan. sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Yi Changyin dan Xuan Chen, menyuruh mereka untuk duduk kembali.


"Eh?" Saat itu Hua Mu Dan tampak salah tingkah.


'Ada apa dengan dia?' Pikir Yi Changyin heran.


"Kakak Mu Dan, apa yang terjadi padamu?" Tanya Yue Xingfei setengah berbisik.


"Aku.."


"Sudahlah! Cepat makan!" Teriak kakek bulan tidak sabar. Membuat semua orang menurut padanya.


.......


.......


.......


Kolam air yang jernih memantulkan bayangan seseorang di sela-sela ikan yang berenang-renang dan riak air. Hua Mu Dan menatap wajahnya sendiri dengan pikiran yang kosong sambil sesekali menaburkan makanan ikan ke kolam.


"Kakak Mu Dan.." Tiba-tiba suara Yue Xingfei terdengar di belakang telinganya, membuat dia mengangkat bahunya terkejut. Hampir saja terjatuh ke kolam, karena dia duduk tepat di atas batu sisi kolam.


Dia menoleh ke arah Yue Xingfei yang tengah berjalan ke arahnya. Hua Mu Dan cemberut sambil bergrutu, "berhenti mengangetkanku!!"


Yue Xingfei hanya terkekeh sambil duduk di salah satu batu dekat Hua Mu Dan. "Aku hanya ingin bertanya perihal tadi.."


Tiba-tiba wajah kesal Hua Mu Dan memudar, di ganti dengan perasaan berat dan tidak enak. Ada sedikit rasa sedih di matanya yang sipit.


"Apa yang membuat kakak Mu Dan salah tingkah tadi?" Tanya Yue Xingfei langsung pada intinya, tidak bertele-tele.


Hua Mu Dan menghela nafas, kemudian menatap nanar Yue Xingfei. Membuat gadis itu berkerut heran.


'Andai waktu itu Gaoqing Dijun tidak...' Kata hati Hua Mu Dan terhenti, dia terkejut dan tersadar akan sesuatu. 'Sudahlah!'


"Apakah kau merasakan sesuatu yang berbeda pada nona Yi?" Hua Mu Dan balik bertanya.


Yue Xingfei termenung sesaat. "Sebenarnya.. saat pertama kali melihatnya, aku merasakan kehangatan di hatiku. Tapi, entah kenapa itu bisa terjadi." Jedanya. "Ah mungkin! Nona Yi adalah orang yang ramah. Maka dari itu aku merasa hangat saat melihatnya!" Lanjut Yue Xingfei langsung menyimpulkan sendiri, kemudian terkekeh pelan.


Hua Mu Dan ikut terkekeh dan kembali menatap pantulan wajahnya dalam kolam air. Kekehan nya berhenti, kurva di bibirnya menghilang. 'Xingfei.. andai kau mengingat semuanya..'


Tanpa di sadari keduanya, Yi Changyin memperhatikan mereka berdua dari jauh. Di balik tiang besar berjejer yang menghadap langsung ke arah kolam air belakang gazebo itu.


Pikiran Yi Changyin bekerja seperti benang kusut, berusaha mencari tahu untuk membuka jalan keluar bagi misteri-misteri yang dia temui akhir-akhir ini. Membingungkan!


'Siapa Hua Mu Dan dan Yue Xingfei?'


'Mengapa mereka mengatakan hal yang semacam itu?'


'Lalu.. kenapa aku juga merasa hangat saat melihat mereka berdua? Terutama.. Yue Xingfei.'


'Dunia.. Dewa.. Dewi.. sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku?'


.......


.......


.......


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉

__ADS_1


__ADS_2