
Awalnya ekspresi Xuan Chen terlihat muram. Namun tiba-tiba berubah menjadi dingin lengkap dengan seringaian jahatnya. "Kau menyadarinya begitu cepat."
"Jika dia mengenalimu, maka bunuh dia." Suara Qi Xiangma menggema di benaknya.
"Xuan Chen laki-laki, butuh ke ahlian khusus untuk memeriksa denyut nadi wanita hamil. Lalu Xuan Chen tidak akan sekejam itu untuk membunuh nyawa yang tidak bersalah." Sementara pria itu semakin tersenyum miring. "Dan.. dia tidak mungkin langsung berbuat tidak senonoh saat pertama kali bertemu di suatu waktu."
Seseorang dalam tubuh Xuan Chen itu tertawa. "Kau sangat pintar telah menyadarinya dari awal." Pujinya di sela-sela tertawa.
"Siapa kau?!" Tanya Yi Changyin dengan hati yang dongkol, semakin mendekatkan belati itu ke leher seseorang yang meminjam tubuh Xuan Chen.
"Aku adalah Xuan Chen, Xuan Chen adalah aku."
Membuat kening Yi Changyin mengkerut, "apa maksudmu?!"
"Jika kau membunuhku dengan belati ramping dan cantik itu, maka Xuan Chen lah yang akan mati. Bukan aku." Jawabnya dengan nada yang mengejek.
Tangan Yi Changyin tiba-tiba bergemetar. Dia segera menarik kembali belatinya dengan jantung yang berdebar kencang. Lalu dia kembali bertanya, "siapa kau?!"
"Iblis hati." Jawabnya singkat padat namun tidak jelas bagi Yi Changyin.
Membuat kening Yi Changyin mengkerut. "Iblis hati? Ku pikir aku akan percaya dengan mitos leluhur itu?"
"Ini tidak mitos, buktinya aku ada di depanmu. Kau tidak pernah mendengar legenda siluman ular putih yang melawan iblis hati?"
(Iblis hati ini nyata ada di drama The Legend of white snake 2019 (Mungkin di legenda aslinya juga), tapi yg pemerannya Ju jingyi dan Yu Menglong, entah versi lain)
Yi Changyin mendengus. "Bukankah itu hanya setan yang ingin menguasai dunia?"
"Terserah padamu. Baca ulang sejarahnya jika ingin tahu." Pria itu mendekat, membuat Yi Changyin semakin berwaspada. Dan dia tidak akan bisa menyerangnya.
"Apa yang kau lakukan?!"
Tangan kekar berotot itu tiba-tiba mencekik lehernya, membuat Yi Changyin terbelalak dan berusaha melepaskannya. Entah kenapa seringaian dingin itu membuatnya hatinya sedikit teriris. Karena bagaimanapun wajah dan tangan itu adalah milik Xuan Chen.
"Lepaskan!!" Teriaknya dengan suara yang tercekat.
Namun cengkraman di lehernya itu semakin kuat hingga dia hampir kehabisan nafas. Seolah pria yang memanfaat keadaan itu ingin segera membunuhnya.
"Xuan Chen.." Panggilnya dengan suara yang lemah, tangannya berusaha meraih pipi Xuan Chen. Dan pertahanan seseorang yang merasuki tubuhnya itu menjadi sedikit goyah.
"Aku mungkin akan segera mati.."
Pria di hadapannya sudah di banjiri keringat. Seolah kesadaran Xuan Chen berusaha bangun tapi seseorang yang mengendalikannya tetap bertahan.
"Jaga dirimu.."
Benar-benar membuat dia tidak bisa mengendalikan diri lagi. Kekuatan alami Xuan Chen sudah berhasil mengikis kontrolnya. Namun dia tidak menyerah. Berusaha menulikan dengan suara-suara Yi Changyin yang mampu memecah tameng pertahanannya.
"Diam!! Tutup mulutmu!!" Teriaknya sambil mengeratkan cekikannya demi membuat gadis itu memekik dan kehabisan nafasnya.
"Xuan Chen, aku harap kau mendengarku. Aku.. aku mencintaimu.."
Alis yang tajam perlahan menurun. Tatapan ganas yang ingin membunuh berubah dalam sekejap mata. Xuan Chen melihat tangannya yang sedang menghabisi nyawa Yi Changyin, dia terbelalak. Lalu meraih tubuh Yi Changyin yang terkulai lemah.
"Yin'er bangun!" Teriaknya sambil berusaha menyadarkan gadis itu. Menggoyang-goyangkan tubuhnya, memukul-mukul kecil pipinya dan memberikan nafas buatan.
Setelah itu Xuan Chen segera menyuntikkan energi spiritualnya. "Mengapa kau tidak melawan?! Aku sungguh pria sialan!!" Kutuknya sambil menyesali kelengahan beberapa waktu lalu.
Di sisi lain Qi Zhongma memuntahkan seteguk darah. Dia terbatuk sambil menekan dadanya yang sesak. Dengan sesungai darah mengalir dari bibirnya, dia menatap kosong kedepan.
"Tak ku sangka Xuan Chen begitu kuat." Gumamnya dengan nafas satu-satu.
Tiba-tiba Qi Xiangma muncul menembus kegelapan. "Dia belum mati." Katanya. Kemudian dia tersenyum, "dan kau menjadi terobsesi untuk membunuhnya."
"Jika benar dengan Yi Changyin mati dengan kebencian terhadap Xuan Chen, lalu membuat Yi Changyin dan aku dapat bersama, aku pasti akan tega untuk membunuhnya. Bukankah itu yang kau janjikan, Qi Xiangma?"
Qi Xiangma mengangguk senang. "Tentu saja, Qi Xiangma tidak pernah ingkar janji."
Membuat Qi Zhongma mengulum senyum.
"Karena rencana kali ini gagal, maka rencana kedua akan berjalan tiga bulan lagi.." Tutur Qi Xiangma dengan bangga. "Tapi jangan takut, Yi Changyin tetap akan menjauhinya selama tiga bulan ini."
"Tiga bulan apanya?" Ujar Qi Zhongma dengan ekspresi wajah yang kecut.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Tadi guru yang sepertinya menyukai Yi Changyin datang dan memberi tahuku kalau hukuman di tambah menjadi enam bulan."
"Apa?!" Qi Xiangma terbelalak. "Maksudmu, Yu Qinghan?!"
Qi Zhongma mengangguk.
"Si siialan itu!" Maki Qi Xiangma kesal. "Artinya kau akan keluar ketika tiga bulan lagi menuju kelulusan?! Sialan!"
.......
.......
.......
"Sebentar lagi musim dingin, pakailah jubah hangat ini." Ujar Xuan Chen sambil mengenakan jubah musim dingin berwarna merah dengan bulu tebal di kerah lehernya pada Yi Changyin.
Gadis itu tersenyum sambil menatap tempat luas yang menjadi tempat mereka berdua bersujud kepada langit dan bumi. Dan dilindungi oleh perisai spiritual yang menghabiskan seperempat kekuatan Yi Xuemei dan Shen Lan.
"Apa kau benar-benar hamil?" Tanya Xuan Chen dengan suara yang bergetar.
"Aku tidak tahu. Tapi energi spiritual Yi Xuemei tidak mungkin membohongiku." Jawab Yi Changyin datar.
"Tepat sembilan bulan lagi kita akan menerima plakat tanda pelajar yang pernah bersekolah di akademi Tianjin. Mungkin kau melahirkan saat itu. Dan melewati masa kehamilan ketika berlatih. Kau yakin?'
Pertanyaan Xuan Chen tampak mencurigakan di telinga Yi Changyin. Gadis itu segera berbalik, memastikan kalau pria yang sedang bersamanya ini benar-benar Xuan Chen, bukan sosok yang mengaku-ngaku sebagai iblis hati dan menguasai kesadaran Xuan Chen.
Tapi tatapan mata ini.. benar-benar Xuan Chen.
"Apa maksudmu?" Tanya Yi Changyin dengan tatapan yang menyelidik.
Xuan Chen tampak gugup dan gelisah. Seperti ada sesuatu yang harus di katakan namun dia tidak tega. Lalu pria itu meraih tangannya. "Sebelum terlambat, aku ingin benar-benar memastikan."
Yi Changyin mengenyit heran. "Apa maksudmu?" Dia mengulangi pertanyaannya.
Xuan Chen terlihat menelan slivanya susah payah. "Aku.."
"Kau tidak ada bedanya dengan seseorang saat itu." Potong Yi Changyin dengan lugas. Namun mengandung rasa kecewa.
"Aku pikir, kau akan menyayanginya." Tambahnya dengan suara yang tertahan dan mata yang penuh dengan linangan air mata.
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi.." Kata-katanya terjeda, demi menahan sedih yang hendak meledak-ledak.
"Kau mengecewakan.." Ujar Yi Changyin sambil menekan dadanya yang terasa sesak dan sakit terhimpit batu yang berduri.
Namun tiba-tiba sebuah dekapan hangat datang dari belakang punggungnya. Terdengar olehnya jikalau Xuan Chen sedang terisak. "Tolong jangan berkata seperti itu.. aku tidak bermaksud mengecewakanmu."
Yi Changyin hanya terdiam, tenggelam dalam kesedihannya. "Hatiku terlalu menyayangimu. Sekarang jelaskan mengapa kau berniat menggugurkannya."
Namun yang di dapat adalah Xuan Chen yang mengeratkan pelukannya. "Aku tidak berniat menggugurkannya."
Membuat wajah Yi Changyin sedikit bersinar. "Lantas?"
Tangan Xuan Chen yang melingkar di pinggangnya bergerak. Menyuntikkan energi spiritual ke udara kosong. Hingga deretan-deretan hanzi kuno berwarna emas melayang-layang disana. Mata Yi Changyin langsung terpaku pada judul yang terpampang jelas di samping kanan catatan itu.
"Kehamilan dalam teratai.."
Hanya membaca judulnya, Yi Changyin terbelalak dan terlihat marah. Dia mendorong Xuan Chen dan menatapnya penuh permusuhan. "Apakah kau bodoh?! Teknik seperti ini hanya bisa dilakukan oleh tingkat Dewi tertinggi atau Dewi-Dewi agung yang ingin menjaga penampilan mereka dari perut buncit! Aku tidak bisa melakukannya!!"
(Note : Dewi agung itu sebutan (dari author:v) untuk Dewi yang mengendalikan alam. Contohnya Dewi angin dsb)
Namun Xuan Chen menatapnya dengan sabar. "Bukan yang itu. Tapi.."
"Jadi?! Jadi kau berniat menundanya?"
Xuan Chen mengangguk cepat. Karena memang ini lah yang dia maksud.
"Apakah kau tidak pernah berfikir dua kali?!"
Di luar dugaannya, Yi Changyin akan tetap memarahinya. Mungkinkah akibat dari awal kehamilan dia menjadi emosional? Atau memang Yi Changyin benar-benar sedang kecewa padanya. Entahlah.
Kemudian Yi Changyin melanjutkan tanpa titik koma, "apakah kau tidak tahu jika di tunda satu bulan dia akan kehilangan suaranya, dua bulan dia akan kehilangan pengecapnya, tiga bulan dia akan kehilangan pendengarannya, empat bulan akan kehilangan matanya, lima bulan akan.."
"Hentikan!" Xuan Chen sudah tidak tahan dengan beo-an Yi Changyin yang sangat menyakiti hatinya.
"Apa kau senang melihat anakmu cacat?!" Namun Yi Changyin tetap melanjutkan.
__ADS_1
"Yin'er, sudahlah. Aku akan menjaganya dengan seluruh energi spiritualku." Ujar Xuan Chen dengan yakin.
"Tidak mau dan kau tidak akan bisa!" Jawab Yi Changyin kukuh.
"Yin'er.."
Gadis itu menutup telinga nya dengan wajah yang frustasi. "Pokoknya aku tidak mau!!"
Xuan Chen menghela nafas. Dia berusaha meraih tubuhnya namun Yi Changyin segera menepisnya dengan kasar.
"Baiklah jika kau tidak menginginkannya, aku akan mengurusnya sendiri. Kau tidak boleh ikut campur.." Tuturnya dengan suara yang pelan.
Namun berhasil membuat Xuan Chen terbelalak. "Apa yang kau bilang?!"
Yi Changyin mendorong bahu Xuan Chen dan berlalu di depannya. Ketika Xuan Chen hendak meraihnya, tapi terhenti oleh kata-kata Yi Changyin. "Jangan menyentuhku. Juga.. jangan menemuiku selama sembilan bulan kedepan."
Apa dia tidak salah dengar? Dadanya terasa sesak hingga setetes air mata turun dari bibit matanya. "Yin'er?"
Gadis itu berlalu pergi. Punggungnya semakin menjauh. Namun kakinya terpaku di tanah tempat ia berdiri. Benar, terpaku oleh persyaratan Yi Xuemei yang mengharuskan ia menuruti apa yang diinginkan Yi Changyin. Jika kematian juga harus diikuti, bukankah hal seperti ini pun harus dia ikuti?
Xuan Chen mengeluarkan Heilong di balik lengan bajunya yang panjang. Naga itu kini bertubuh ular hitam bertanduk dan bersisik kasar.
"Selama sembilan bulan, jaga dia dengan baik.." Bisiknya yang di angguki Heilong. Lalu Naga itu berlalu mengikuti jejak perginya Yi Changyin.
Bersamaan dengan merosotnya tubuh Xuan Chen ke atas tanah. Mencengkram pakaiannya, menahan sesaknya dada yang terhimpit bebatuan berduri. "Dewa malam, Dewi Yuan Ji.. apakah mimpi itu sudah terjadi?" Gumamnya dengan suara yang parau.
"Aku harap.. semua yang di takdirkan tidak akan melukainya."
.......
.......
.......
Di sisi lain Yi Changyin telah sampai di kamarnya yang kosong. Dengan tubuh yang lemas dia duduk di salah satu kursi, berada di tengah-tengah kamar berkasur tiga itu.
Wajahnya terlihat pucat menatap kosong kedepan. Tidak tahu apa yang di pikirannya dan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Namun dia menoleh demi merasakan aura familiar.
Melihat ular hitam bersisik kasar dan bertanduk melaju ke arahnya. Lalu merubah dirinya menjadi Heilong bertubuh anak kecil. Tentu saja sangat lucu dan menggemaskan. Membuat dia seketika melupakan masalah dan meraih tubuh anak kecil berpakaian serba hitam di pangkuannya.
"Kau sangat lucu.." Pujinya sambil mencubit pipi Heilong dengan gemas.
"Ibunda.." Anak kecil itu memanggilnya dengan kalimat yang menggemaskan. Dan Yi Changyin sudah terbiasa walaupun hatinya sedikit dongkol. Terlebih dia terkalahkan dengan wajah imut anak kecil ini.
"Hmm?"
"Jangan bertengkar dengan tuan, aku sangat tidak nyaman." Ujarnya dengan jujur.
Yi Changyin terdiam sesaat. "Aku tidak bertengkar." Jawabnya tak yakin.
"Walaupun sekarang aku bertubuh anak kecil, tapi aku sudah besar. Kau tidak dapat membohongiku." Protesnya yang membuat Yi Changyin tertawa.
"Aku jujur, aku dan Xuan Chen benar-benar tidak bertengkar."
Heilong mengangkat sebelah alisnya. "Lalu tadi? Kau pikir kami tidak melihatnya?" Tanyanya dengan nada yang sedikit menantang.
"Aku tahu kalian melihatnya. Tapi, dari perihal itu aku sungguh kecewa padanya. Walaupun hatiku sama sekali tidak pernah membencinya."
"Jika kau meneteskan air kotoran dalam sungai, maka itu akan menghilang seiring dengan berlalunya arus." Tutur Heilong kecil. "Aku yakin, kekecewaanmu dapat di tebus suatu saat oleh kelahiran adikku."
"Siapa bilang ini adikmu?" Jawab Yi Changyin dengan sinis.
"Kataku!"
Dan Yi Changyin terkejut mendengar suara Heilong dewasa di telinganya. Juga benda besar yang tiba-tiba berada di pangkuannya. Yi Changyin sangat jengkel demi mendapati Heilong yang iseng mengubah ukuran tubuhnya.
Dan naga itu tersenyum tanpa dosa. Dengan kesal Yi Changyin segera melempar Heilong ke lantai, membuat dia mengaduh sakit. Saat itu pula Yi Changyin berdiri, meraih buku dan bersiap memukuli Heilong.
"IBUNDA AMPUNI AKU!!!"
.......
.......
.......
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉