
Setelah belanja di pasar tradisional, dan supermarket, saatnya Dio dan Shena pulang ke rumah. Lalu lintas cukup padat mungkin karena hari libur dan banyak yang bepergian meskipun bukan ke sekolah ataupun tempat kerja.
“Rame juga, pada mau kemana ini orang-orang?”
“Berlibur, atau belanja kayak kita,” jawab Shena yang sebenarnya hanya menduga-duga saja. Karena sebelum menikah, Shena termasuk yang rajin keluar hari minggu bersama mama dan papanya. Entah itu olahraga, belanja, atau sekedar makan di luar saja.
Tiba-tiba perut Shena berbunyi pertanda Ia lapar. Memang sebelum berangkat belanja tadi, Shena tak menyempatkan dirinya untuk sarapan.
“Perut lo bunyi tuh,”
“Iya maaf ya, aku lapar. Padahal bentar lagi udah sampai rumah,”
“Ya udah lo mau makan apa?” Tanya Dio yang sebenarnya juga merasa lapar. Ia dan Shena sama-sama lapar jadi mana mungkin Ia tidak mencari makanan dulu sebelum sampai di rumah.
“Nggak usah, aku makan di rumah aja,”
“Gue lapar juga,”
“Hmm…kamu nggak mau makan di rumah? Mau aku buatin apa? Bibi tadi udah masak sebenarnya tapi barangkali kamu mau aku buatin sesuatu?”
“Nggak usah, kita beli aja sekarang. Lo mau apa?“
“Terserah kamu aja,”
Dio berdecak pelan. Ia tidak suka mendengar jawaban yang tidak pasti. Apa susahnya langsung menjawab satu jenis makanan?
“Jawab yang benar dong, jangan bikin gue bingung. Lo mau makan apa?”
“Jujur aku juga bingung mau makan apa, Dio. Makanya aku bilang terserah kamu,”
“Ya udah deh gimana kalau kita makan bubur ayam?”
Akhirnya Dio yang punya ide, dan Shena menyetujuinya. Shena bersyukur tidak dituntut untuk berpikir lagi.
“Bubur ya?”
“Iya itu aja,”
“Bubur ayam yang dimana nih?”
“Terserah kamu, aku nggak bisa jawab,”
“Lo tuh benar-benar ya, buat jawab pertanyaan aja nggak bisa diandelin banget,”
Shena terdiam mendengar Dio melampiaskan kekesalannya. Ia terbiasa apa-apa mengikuti Dio, jadi ketika Ia dimintai pendapat, Ia akan bingung.
“Aku biasanya ‘kan nurut sama kamu aja, jadi ya terserah kamu,”
“Ya tapi ‘kan lo harus bisa sesekali kasih pendapat, jangan cuma terserah aja,”
“Iya aku minta maaf,”
__ADS_1
Selang tiga detik dari Shena meminta maaf pada suaminya yang telah Ia buat kesal, tiba-tiba ada panggilan masuk di nomor Shena. Tanpa menunggu waktu lama Shena segera menerima panggilan yang ternyata dari ibu mertuanya itu.
“Siapa yang telepon lo?”
“Mama, aku jawab dulu ya,”
Dio menganggukkan kepalanya. Ia membiarkan Shena menerima telepon dari mamanya yang Ia yakin ingin bertanya dimana keberadaan Shena, apakah Shena baik-baik saja? Apa Shena sudah selesai belanja? Apa Ia bersikap baik pada Shena? Intinya adalah, mamanya mau memastikan Shena itu baik-baik saja. Shena sangat disayang oleh orangtuanya makanya Dio punya tebakan seperti itu.
“Assalamualaikum, Ma,”
“Waalaikumsalam, Nak. Kamu dimana? Udah kelar belanjanya atau belum?”
“Lagi di jalan pulang, Ma. Tapi lagi mau cari bubur ayam dulu, Ma, nggak apa-apa ‘kan, Ma?”
“Oh iya nggak apa-apa lah, Sayang. Masih sama Dio ‘kan?”
“Iya masih lah, Ma. Nggak mungkin aku tinggalin menantu kesayangan Mama ini,”
Bukan Shena yang menjawab melainkan Dio. Karena kesal mamanya bertanya seperti itu seolah mengira kalau Ia telah pergi membiarkan Shena belanja sendiri, makanya Ia yang menjawab pertanyaan mamanya yang sekaligus memberikan bukti dengan suaranya sendiri.
“Bagus kalau gitu, kirain Mama, kamu ninggalin Shena di pasar,”
“Nggak, aku temenin dia belanja, Mama tenang aja,”
“Serius? Wah Alhamdulillah ya, anak Mama ternyata bisa juga bikin hati istrinya senang,”
******
“Pakai ayam, kuah, kecap aja, Shen. Eh jangan lupa sate usus sama telur puyuh ya,”
“Okay, minumnya?”
“Minum teh anget,”
“Ya udah duduk aja, biar aku yang pesan,”
Berhubung masih ada pembeli lain yang sudah antre lebih dulu, sementara Shena dan Dio datang paling terakhir otomatis mereka urutan paling belakang. Shena tidak mau membuat suaminya bosan menunggu, oleh sebab itu Ia suruh Dio untuk duduk, dan Ia yang akan menunggu giliran pesanannya dibuatkan.
Sambil menunggu, Dio mengeluarkan ponselnya. Ada keinginan untuk menyampaikan pada Amira bahwa Ia begitu bahagia bisa bertemu dengan Amira yang sayangnya tadi pergi begitu saja tak ada tegur sapa dengan Dio. Oleh sebab itu sekarang Dio akan kirimkan pesan untuk Amira lewat direct message instagram.
-Amira, aku senang banget tadi bisa ketemu kamu. Walaupun cuma kebetulan tapi aku tetap senang. Maaf sekali lagi udah bikin kamu kecewa. Jujur tadi aku ada sedih juga karena kamu kayak nggak kenal sama aku. Tapi nggak apa-apa, aku tau kamu masih kecewa. Semoga di lain waktu kita bisa ketemu lagi, aku harap begitu-
Dio tersenyum setelah pesan yang barusan Ia ketik itu terkirim. Dio meninggalkan laman instagram, sekarang Ia bermain game.
Diam-diam Shena mengamati suaminya yang tak menatap ke arahnya sama sekali tapi fokus dengan ponsel genggamnya.
Terlalu fokus mengamati Dio, suaminya, sampai Shena tidak sadar kalau semua pembeli sudah dilayani, tinggal dirinya saja.
“Ayo mau berapa porsi, Mba?”
“Eh iya,”
__ADS_1
Shena tersentak kaget karena suara penjual bubur yang bertanya kepadanya. “Makan di sini dua porsi bubur cuma pakai ayam aja ya sama kuah dan kecap, terus sate ususnya dua, telur puyuh nya juga dua,”
“Okay tunggu sebentar ya, udah dapat tempatnya? Nanti diantar ke meja,”
“Di sana saya duduknya,” ujar Shena seraya menunjuk ke arah suaminya.
“Okay, nanti saya antar ke sana, oh iya minumnya apa?”
“Teh hangat dua, makasih ya,”
“Sama-sama,”
Shena bergegas menghampiri meja dimana suaminya berada, ketika Ia duduk berhadapan dengan Dio, Dio tidak langsung sadar. Baru sadar setelah Shena memberitahu bahwa Ia sudah memesan.
“Oh udah? Okay, berarti nggak lama lagi diantar ya. Gue udah lapar banget soalnya,”
“Iya sabar bentar ya,”
Dio menganggukkan kepalanya, tak lagi bersuara karena kembali sibuk dengan game. Shena nyaman menatap suaminya lama-lama. Jarang mereka bisa makan berdua di luar, Ia bisa menatap Dio sedekat ini tanpa Dio sadari, Shena pikir begitu, Shena tidak tahu saja kalau Dio sebenarnya sadar tengah diperhatikan oleh istrinya.
“Lo ngapain ngeliatin gue? Hah?”
Shena langsung gugup dan buru-buru mengalihkan pandangannya. Ia tak siap beradu tatap dengan Dio yang kini menyorotinya dengan tatapan tajam.
“Kenapa ngeliatin gue?”
“Nggak,”
“Gue bisa liat, walaupun gue fokus ke game,”
“Ya kalaupun aku ngeliatin kamu emangnya nggak boleh ya? Aku ‘kan istri kamu,”
“Iya, tapi istri yang nggak gue harepin,”
“Suka-suka mata aku, Dio. Mau ngeliatin siapapun itu, biarin aja lah, ini ‘kan mata aku,”
“Aneh, ngapain coba merhatiin orang lagi sibuk sama game?”
“Nggak apa-apa, merhatiin suami itu menyenangkan buat aku. Apalagi ‘kan jarang bisa merhatiin kamu. Sekalinya merhatiin, langsung diomelin kayak barusan nih,”
“Ngapain merhatiin gue? Awas nanti naksir gue,”
“Emang udah,”
Dio mengangkat salah satu alisnya mendengar jawaban Shena yang lugas. Dio tersenyum miring dan geleng-geleng kepala.
“Terus apa yang lo harepin dari gue?”
“Ada nama aku sedikit aja di hati kamu, boleh nggak?”
“Lo pasti tau jawaban gue. Amira belum bisa gue lupain, dia masih ada di sini—“ujar Dio sambil menunjuk dadanya sendiri kemudian melanjutkan ucapannya “Jadi jangan berharap bakal ada nama lo di hati gue. Karena hati gue cuma buat Amira,”
__ADS_1