
Pagi ini Shena bangun lebih cepat seperti biasanya karena kepalanya sakit sekali dan Ia juga merasa mual hingga menyebabkan Ia harus ke kamar mandi beberapa kali.
Tidak hanya sampai disitu keluhannya, Shena juga merasa suhu tubuhnya tinggi. Maka Ia memutuskan untuk mencari obat.
Entah dimana Ia meletakkan kotak obat sampai Ia harus sulit mencarinya. Membuka satu persatu laci di kamar hingga menimbulkan suara yang lumayan mengganggu Dio yang sedang beristirahat.
Matanya terbuka dari pejaman erat. Ia melirik ke samping dan Ia tidak menemukan kehadiran Shena. Suara kursi digeser membuat Ia menoleh.
"Shen, kamu cari apa?"
Shena sedang berjongkok membuka laci paling bawah meja riasnya. Ia menjawab tanpa menoleh pada Dio.
"Cari obat,"
"Kamu sakit?"
Dio secepat mungkin meninggalkan ranjang dan menghampiri Shena. Ia menyentuh kening Shena.
"Astaga kamu demam. Sejak kapan sakitnya? hm? semalam kamu baik-baik aja,"
__ADS_1
Bahkan semalam Dio merengkuh Shena yang awalnya menolak enggan tapi pada akhirnya menerima pelukan hangat dari Dio karena sedikit banyak pelukan itu menghadirkan rasa nyaman juga untuknya.
Mungkin jabang bayinya yang menginginkan itu. Dio mencari obat dan menyuruh Shena menunggu di ranjang. Setelah dapat, Ia segera mengambil air putih kemudian Ia menyerahkan gelas air minum dan juga obat pada Shena yang pukul satu terbangun menyantap roti karena lapar.
"Sekarang masih jam empat. Kamu tidur lagi ya. Kalau sampai nanti kamu bangun demamnya enggak turun, aku bawa kamu ke rumah sakit,"
Dio bergegas mengambil kompres untuk membantu menurunkan suhu tubuh Shena disamping obat yang telah dikonsumsinya.
"Kamu mau kemana?"
"Aku siapin kompres dulu ya,"
"Enggak usah, udah minum obat,"
Dio mengindahkan larangan Shena. Ia tetap menyediakan kompres. Ia duduk di tepi ranjang sementara Shena kini terpejam dengan posisi berbaring. Ia mulai mengompres dahi Shena.
"Panas banget, ya ampun. Semoga cepat turun suhu tubuh kamu,"
Dio cemas merasakan suhu tubuh Shena. Ia juga bisa melihat bibir Shena yang kering namun pucat, juga seluruh wajahnya yang sedikit memerah.
__ADS_1
"Sembuh ya, Shen, plis jangan sakit. Aku nggak bisa liat kamu sakit. Aku selalu khawatir banget,"
Shena sudah tertidur lagi. Tidak mendengar harapan Dio terhadap kondisi tubuhnya saat ini. Hampir enam puluh menit Dio mengamati Shena dalam diam sembari mengganti kompres sesekali.
Tidak mungkin Ia hanya diam saja di sini sementara nanti Shena bangun harus ada yang dimakan supaya pemulihannya cepat.
"Kira-kira Shena mau makan apa?"
Dio bermonolog menatap istrinya yang tidur dengan napas teratur. Dio mengarahkan telunjuknya ke dekat jalur napas Shena. Ia bisa merasakan panas dari hidung Shena.
"Masih panas aja," keluhnya dengan rasa cemas belum berakhir.
Dio tadinya ingin membuat bubur untuk Shena. Tapi seprtinya Ia keberatan meninggalkan Shena barang sebentar untuk ke dapur.
"Nanti beli aja mungkin. Gue enggak tahu Shena mau makan apa," pikirnya seraya menjatuhkan keningnya di kening Shena. Ia meringis merasakan panas dari kening perempuan itu.
"Kenapa tiba-tiba sakit begini sih? tadi malam kamu sehat kok,"
SHENA menggeliat saat Dio mencuri ciuman singkat di bibirnya. Dio berdesis menenangkan Shena, jangan sampai Shena terjaga hanya karena Ia menciumnya tiba-tiba.
__ADS_1
“Jangan ganggu,”
“Ya udah kamu tidur deh. Maaf udah ganggu. Ntar aja bangunnya,”