
Alih-alih makan siang di dalam penginapan, Shena justru mengajak suaminya yang sudah bangun tidur untuk makan siang di luar penginapan.
Mereka berjalan di sekitar penginapan untuk mencari tempat makan yang nyaman dan menu-menunya membuat mereka tertarik untuk mencicipi sambil melihat suasana Bali di dekat penginapan.
“Makan siang kita udah telat banget. Kamu lagian nggak bangunin aku sih. Masa udah setengah tiga baru makan, perut aku udah bunyi, cacing pada demo teriak-teriak minta jatah,”
“Aku mana tega sih bangunin kamu. Ya sama, aku juga lapar kok. Tapi daripada aku bangunin kamu yang lagi pulas tidurnya mendingan aku nunggu kamu bangun sendiri aja,”
“Lah kalau aku nggak bangun-bangun gimana?”
“Hah? Maksudnya apa? Kok kamu ngomong begitu? Jangan bikin aku takut dong, Mas,”
Shena gagal paham dengan maksud ucapan suaminya. Pikirannya jadi ke mana-mana mendengar Dio bicara seperti itu. Dio kalah tertawa karena tanggapan istrinya itu.
“Maksud aku, kalau aku nggak bangun-bangun sampai malam gimana?” Tanya Dio.
“Oh, ya nggak apa-apa lah. Aku nggak masalah nungguin kamu bangun. Walaupun sebenarnya udah pengen banget jalan-jalan,”
“Barusan kok bilang takut? Apa kamu takut kehilangan aku maksudnya?” Tanya Dio sambil menaik turunkan alisnya. Shena berdecak pelan dan merotasikan bola matanya.
“Iyalah, aku takut kehilangan kamu, pakai ditanya lagi. Mana ada istri yang mau kehilangan suaminya,”
Dio sempat terdiam beberapa saat. Ia pikir Shena tak masalah kalau seandainya Ia pergi, baik untuk selamanya meninggalkan semua orang, atau pergi dari Shena saja. Padahal Ia belum tahu pasti Shena itu sudah mencintainya sepenuh hati atau belum.
“Walaupun nggak cinta tetap takut kehilangan?” Tanya Vano.
“Kayaknya sih aku udah cinta sama kamu ya,” jawab Shena tapi tidak keluar dari mulutnya, melainkan hanya bergumam dalam hati.
“Takut kehilangan itu pasti, apalagi kamu suami aku. Mau gimanapun perasaan terhadap satu sama lain. Aku yakin kamu juga kayak gitu. Takut kehilangan aku nggak?”
Kaki mereka bergerak melangkah mencari tempat makan, dan mulut sambil berbincang. Menyenangkan berbincang di tengah kaki melangkah.
“Eh Mas, kita belum jauh nih dari hotel, udah ketemu ayam betutu. Makan ini aja yuk,”
Shena menunjuk papan nama sebuah restoran sekaligus menu andalan yang menjadi kesukaan pelanggannya yaitu ayam betutu.
Mereka sebentar lagi akan melintasi restoran itu dan Shena langsung mengajak suaminya untuk makan di sama.
“Ya udah terserah kamu. Mau makan di sana aja?”
Shena mengangguk antusias. Dari jarak beberapa meter saja aroma masakannya sudah bisa sampai ke hidung mereka dan itu membuat mereka berdua semakin merasa lapar.
“Ayo kita makan di sana kalau gitu. Aku ngikut apa maunya kamu aja lah, biar nggak ribet,”
“Aku ribet maksudnya?”
“Ya bukan gitu. Daripada aku milih-milih yang lain mendingan samain aja kayak kamu. Jadi nggak ribet. Lagian feeling aku enak sih makan di sana,”
“Mas, habis itu kita makan gelato ya,”
Sio menganggukkan kepalanya. Dio bertepuk tangan kecil karena suaminya tak menolak.
“Kayak bocah, padahal udah bisa bikin bocah,” gumam Vano melihat kelakuan istrinya itu.
“Hah? Apa, Mas?”
Dio menggelengkan kepalanya. Shena bertanya karena yang Ia dengar hanya kata bocah saja selebihnya tidak. Tapi suaminya tak mau mengulangi ucapannya.
Mereka memasuki rumah makan yang cukup luas dengan tampilan tradisional khas Bali sekali. Kalau dari tempat cukup nyaman dan bersih. Inilah yang mereka cari sebenarnya. Mereka berharap cita rasa dari masakan juga sesuai harapan.
Mereka langsung memesan menu-menu yang bagi mereka cukup asing di telinga karena baru dengar nama, dan pasti asing juga di lidah karena mereka biasa dengan makanan di ibukota.
“Eh aku suka ayam betutu sama sate plecing tau. Kalau aku ke Bali pasti wajib cobain itu. Rasa pedasnya nagih, mantap deh pokoknya,”
“Pantesan ngajakin ke sini karena di depan ada gambar ayam betutu,”
“Iya, kalau kamu sukanya makanan apa?”
“Semua suka,”
“Ih kok semua suka? Cerita yang spesifik maksud aku, Mas,”
“Aku emang suka semuanya. Daerah mana aja yang aku datangi, semua makanan khasnya enak-enak banget,” puji Vano yang tidak ragu lagi kalau masaka Indonesia.
“Kamu pernah ke Bali ‘kan?”
“Pernah, ini di Bali,”
“Maksud aku ke Bali sebelum ini udah pernah ‘kan?”
“Udah,”
“Oh, sambil temenin Papa kerja atau liburan?”
“Dua-duanya. Ke Bali karena urusan Papa kerja pernah, karena liburan juga pernah,”
“Liburannya sendiri atau sama keluarga?” Tanya Elvina yang penasaran bila suaminya liburan itu hanya seorang diri atau justru ada temannya, bisa keluarga, teman, atau mungkin temannya.
“Sama keluarga pernah, sama teman pernah, sama pacar juga pernah,”
“Oh sama pacar pernah ya?”
“Pernah lah,”
“Berdua aja? Kayak bulan madu dong,”
“Ya berdua doang, tapi namanya bukan bulan madu karena beda kamar. Kalau bulan madu satu kamar,”
“Kayak kita gitu ya? Satu kamar nggak ngapa-ngapain mah kedengarannya jadi lucu,”
“Nggak lucu, malah langka,”
Shena terkekeh dan geleng-geleng kepala. Orangtua mereka taunya liburan kali ini merupakan bulan madu bagi mereka juga tapi kenyataannya tidak ada sama sekali. Ini murni liburan berdua saja tanpa melakukan apapun.
“Sama pacar kamu sering ke sini? Kalau ke tempat lain?”
“Nggak tau ah, kamu kenapa sih tanya-tanya itu. Kamu nggak berhak tanya kayak gitu,”
Shsna terkejut ketika Dio bicara seperti itu sambil menatapnya dengan tajam. Shena tidak mengerti kenapa Ia tidak berhak bertanya soal itu. Ia hanya ingin tahu seberapa sering Dio pergi menjelajah tempat satu ke tempat lain bersama kekasihnya itu.
“Kenapa nggak berhak? Aku cuma pengen tau aja kamu itu pernah kemana aja? Dan seberapa sering liburan berdua,”
“Sekalipun aku sama mantan aku liburan berdua, kamu tenang aja, kami nggak pernah macam-macam. Pacaran kami nggak pernah melebihi batas wajar,”
“Iya aku percaya aku cuma penasaran aja tapi kalau emang kamu keberatan aku tanya kayak gitu ya udah, kamu bisa omongin baik-baik, bukan dengan cara kasar kayak tadi,”
“Kasar darimana sih? Berlebihan banget penilaiannya,”
“Kasar lah, ucapan kamu tajam, terus tatapan mata kamu juga keliatan kalau kamu marah gara-gara aku tanya kayak gitu,”
__ADS_1
“Ya lagian aneh-aneh aja pertanyaan kamu. Masa lalu nggak usah dibahas lagi. Jangan tanya soal masa lalu karena itu udah lewat,”
“Ya udah aku minta maaf,”
Menu yang mereka pesan sudah datang dan langsung disajikan di hadapan mereka berdua. Ada beberapa menu makanan, tapi minumnya masing-masing hanya satu gelas es jeruk saja.
“Ini kita sharing ya makanannya biar nyobain semua,”
“Ini makanan bersua anggap aja begitu. Abisnya kamu nggak cukup pesan satu menu aja,”
“Ya nggak apa-apa biar nyobain semua, Ga. Aku soalnya udah kangen,”
“Kangen? Maksudnya kangen apaan?”
“Kangen masakan Bali, emang kamu pikir kangen sama siapa?”
Shena bertanya seraya tersenyum usil menatap suaminya yang geleng-geleng kepala. Ia sempat bingung Shena merindukan apa atau siapa, ternyata makanan.
“Kalau aku sih, nggak pernah liburan sama pacar. Aku kalau liburan itu sama keluarga aja sama teman terdekat, sahabat lah aku sebutnya. Itupun berani liburan tanpa keluarga pas udah kuliah. Kalau masih sekolah sering tuh diajakin sahabat aku jalan keluar kota, tapi aku takut. Karena aku kalau liburan ya sama mama papa, atau sama keluarga besar. Berani pergi cuma sama teman ke Bali itu waktu pas kuliah,” jelas Shena.
“Ke Bali?”
“Iya ke Bali. Teman aku cewek ada sekitar lima orang waktu itu, kita beda-beda kamar. Seru juga sih sebenarnya. Pengen ulang masa itu deh rasanya,”
“Yakin nggak pernah liburan sama pacar? Kok aku nggak yakin?”
“Ya udah terserah kalau kamu nggak yakin. Aku sih udah jujur dan kamu boleh tanya ke mama papa aku. Mereka pasti tau kalau aku mau pergi karena aku selalu pamit sama mereka, aku selalu izin boleh atau nggak, dan mereka pasti tau aku sendiri atau ada temannya. Sama teman aja beraninya pas kuliah, gimana berani bawa pacar? Aku nggak ada nyali lah, apalagi aku tau mama papa aku nggak bakal ngizinin. Mereka takut aku kenapa-napa tanpa mereka di tempat orang ya ‘kan,”
Sambil menikmati makanan yang mereka pesan, mereka juga mengobrol soal masa lalu tapi kali ini lebih santai karena Jantungan membahas masa-masa kuliah dan ketakutannya untuk macam-macam. Liburan hanya dengan kekasih tanpa orangtua itu tidak pernah terpikirkan oleh Nurse yang setiap saat melekat sempurna dengan orangtua sudah seperti lem dan kertas.
“Kalau aku sih sebenarnya juga dilarang. Tapi aku kadang bohong, bilangnya sendiri padahal ada temannya, ada pacar,”
“Ih ternyata kamu tukang bohong, nakal juga ya ternyata,”
“Aku juga jalan sama pacar pas udah kuliah, dan pas kerja juga beberapa kali liburan sama pacar ke luar kota. Itu orangtuanya aku taunya aku liburan ya sendirian aja, atau sama teman. Kalau sama cewek mah pasti dihadang,”
“Ya Allah, kamu bandel banget. Kalau kenapa-napa gimana? Apa nggak pusing mama papa?”
“Nggak akan kenapa-napa. Aku bisa jaga diri dan jaga pasangan,”
Vano tersenyum tipis sambil berujar “Wuih manisnya yang bisa jagain pacar. Bisa jagain aku juga nggak?”
“Nggak tau,” jawab Chira tak benar.
Shena merengut setelah mendengar jawaban dari suaminya yang secepat kilat menjawab tidak tahu. Padahal harusnya langsung sigap menjawab ‘aku bisa jaga kamu juga kok’
Yang statusnya kekasih saja bisa Ia jaga, bisa Ia pastikan dalam keadaan baik-baik saja, sementara terhadap istrinya, Dio tidak bisa memastikan itu.
“Kok nggak tau sih? Bilang iya dong harusnya. Aku ‘kan istri kamu. Pacar aja digain, masa istri nggak bisa?”
“Ya,”
“Ih apaan sih, Mas? Nggak jelas banget jawab ya aja, singkat tapi nggak memuaskan sama sekali,”
“Ya aku jagain, kamu ‘kan nenek-nenek jompo,”
“Enak aja! Aku belum nenek-nenek tau,”
“Ya buktinya minta dijagain, berarti udah jompo,”
“Lah pacar kamu aja dijagain, maksud aku gitu lho, kok jadi bawa-bawa nenek jompo?”
“Tanpa diminta pasti dijagain, nenek jompo,”
“Ih kamu jangan ngatain aku nenek jompo dong, nyebelin banget sih. Kalau aku nenek jompo, kok kamu mau nikah sama aku sih?”
“Ya karena nenek jomponya masih cantik,”
“Hah?”
“Hah heh hoh!”
Dio hanya kaget saja ketika Vano berkata bahwa dirinya cantik. Reaksi terkejutnya itu dijadikan bahan ledekan oleh Dio.
“Hah heh hoh, kayak orang linglung kamu,”
“Ya abisnya aku ‘kan kaget,”
“Kaget kenapa?”
“Kaget dibilang cantik. Itu sadar nggak ngomongnya?”
“Kalau nggak sadar, aku pingsan dong berarti,”
“Ih maksud aku bukan itu. Sadar pas ngomongnya nggak? Tumben lho, kamu muji aku cantik,”
“Ya ‘kan emang kenyataannya begitu, tapi sayang aku nggak cinta, nggak deng bohong. Jangan dimasukin ke hati plis hahaha,”
Diana menahan ngilu yang langsung terasa di dada mendengar kalimat Dio. Memuji tapi setelah itu menegaskan bahwa kecantikannya tak membuat Dio mampu mencintainya. Dio buru-buru merangkum pipi istrinya dan meminta maaf.
“Eh kamu mau berenang nggak nanti?” Tanya Dio berusaha mengalihkan.
“Mau, kali aja mood aku jadi bagus lagi, soalnya kamu udah bikin mood aku jelek,”
“Lho, emang aku ngapain?”
“Ya ampun, dia nggak sadar kali ya kalau omongannya itu udah bikin aku sedih dan jengkel jadi satu. Sedih karena suaminya terang-terangan mengakui kalau dirinya tak dicintai dan jengkel sekali perasaannya tapi ternyata hanya candaan.
“Nggak semua orang tau atau bisa menjaga perasaannya,”
“Intinya kamu udah bikin mood aku yang tadinya bagus jadi jelek,”
Dio tak mau repot-repot mengevaluasi apa kesalahannya. Ia langsung meminta maaf saja karena sesungguhnya Ia menganggap bahwa itu yang diperlukan Shena.
“Ya udah aku minta maaf ya,”
“Nggak aku maafin, kamu harus dihukum,”
“Hah? Kok dihukum? Kamu pikir aku anak-anak yang nggak kerjain tugas sekolah?”
Shena menahan tawanya mendengar ucapan Dio yang tidak terima ketika Ia bilang akan menghukum Dio.
“Kamu harus traktir aku makan di pinggir pantai nanti malam,”
“Lah, aku pikir mau makan di tempat kita nginap aja, Shen,”
“Nggak mau, aku maunya makan di pinggir pantai biar enak gitu suasananya. Kurang seru kalau makan di penginapan, kalau di tepi pantai pasti lebih seru,”
__ADS_1
“Tapi makan malam di pinggir pantai apa kamu nggak masuk angin?”
“Ya nggak lah, Mas. Aku baik-baik aja malah happy karena liburan di sini dan pengen benar-benar puas jelajah, tapi sayangnya kamu cuma ngasih jatah liburan tiga hari,”
“Lah kamu sendiri yang bilang minimal liburan di Bali tiga hari,”
“Iya mendingan lah ya daripada cuma satu hari. Ini kalau kita jadi cuma satu hari di sini, bentar lagi kita udah pulang nih, Mas. Jantungnya nggak jadi cuma satu hari,”
“Karena kamu udah protes ya jadi tiga hari,”
“Lagian aneh-aneh aja masa liburan cuma satu hari, mana tempat liburannya jauh dan bagus lagi. Aku mau puas-puasin nikmati liburan tapi cuma dikasih waktu satu hari. Ya aku nggak bakal mau. Kurang banget kalau cuma satu hari, Mas. Istilahnya baru juga sampai, baru juga istirahat, sempat makan doang paling kalau cuma satu hari di sini, habis itu pulang. Ribet banget begitu, mendingan nggak usah sama sekali aku bilang. Tapi Alhamdulillah kamu ngasih waktu tiga hari, semoga kita bisa sama-sama nikmati liburan kali ini ya, Ga, dan bisa lebih kenal, lebih dekat satu sama lain,”
Makanan mereka tidak terasa sudah habis, terlalu menikmati makanan dan menikmati obrolan sampai tidak sadar semua menu sudah habis.
Ada nasi campur Bali, ayam betutu, sate lilit, nasi jinggo, sate plecing semua habis tak bersisa. Shena membersihkan kedua tangannya kemudian bertepuk tangan kecil mengetahui bahwa mereka sangat lahap menyantap sampai tidak sadar tahu-tahu sudah habis.
“Senang banget yang habis makan, cacingnya udah pada girang juga ya, Syi?”
”sedangkan terkekeh dan menganggukkan kepalanya. Tak ada lagi lapar, yang ada justru sensasi penuh di dalam perut.
“Kayaknya aku terlalu banyak makan deh, kenyang banget rasanya. Mungkin nanti nggak makan lagi, soalnya sekarang rasa kenyang banget,”
“Ya tetap makan lah, nggak apa-apa sekarang kenyang nanti juga makanan lama-lama turun,”
“Kamu kenyang nggak?”
“Ya kenyang kah, kalau nggak kenyang berarti aneh banget dong. Masa habis makan nggak kenyang,”
Dano mengangkat ibu jarinya dan kembali menyeruput air minum. Ia merasa kurang hanya dengan satu gelas es jeruk maka dari itu kembali meminta.
“Kamu mau minum lagi nggak?”
“Boleh deh, samain kayak kamu,”
Varumanity mengangguk dan kembali memesan es jeruk dua gelas untuknya juga sang suami yang rupanya masih haus juga.
“Habis ini kita ke penginapan ya?”
“Lho, katanya tadi mau gelato,”
“Oh iya aku lupa. Kamu masih ingat aja apa maunya aku. Okay habis ini kita cari gelato,”
“Mau sekarang?”
Elvina menggelengkan kepalanya sambil menyentuh perutnya. “Nanti aja, aku masih pengen duduk. Soalnya masih kenyang,”
“Bukannya kalau dibawa jalan lebih lega?”
“Nanti deh, aku malas jalan, pengennya tidur ini,”
“Ya udah tidur di atas meja ini, mau?”
Shena mendengus ketika mendengar jawaban suaminya itu. Yang benar saja, masa iya dirinya mau tidur di atas meja yang mereka gunakan untuk makan tadi.
“Lagian mau tidur, udah tau habis makan. Sebaiknya jangan tidur,”
“Tapi kalau kenyang bawaannya suka ngantuk ya, Dio? Itu kenapa ya?”
“Ya sama sih, aku kadang juga gitu tapi jangan diturutin, karena nggak baik,”
Pesanan es jeruk mereka datang. Kedua orangtua kormoanja langsung menyeruputnya dengan santai, begitupun Shelina.
“Kamu udah ngajakin sejarang aja orang kita lagi pesan es jeruk,”
“Ya aku pikir kamu sekarang, es jeruknya tinggalin. Kita udah bayar juga,”
“Jangan lah, sayang uangnya. Lagian es jeruk di sini enak,”
“Enak apa emang kamu doyan?”
“Dua-duanya,”
Shelina menjawab seraya tersenyum.Tapi tiba-tiba senyumnya itu hilang ketika ada yang menepuk pelan bahunya dari samping. Ia tentu kaget makanya langsung menoleh.
“Eh Gani. Kok bisa ketemu di sini kita ya?”
“Iya nggak nyangka ketemu lagi, waktu itu pas kamu lagi belanja ya,”
“Kamu lagi ngapain di sini?”
“Bulan madu,”
Bukan Elvina yang menjawab, tapi Dio. Asyira menoleh singkat ke arah suaminya kemudian menatap Gani lagi.
“Oh ini suami kamu?”
“Iya, ini Argantara suami aku,” ujar Asyira pada Gani memperkenalkan suaminya.
“Ga, ini Gani, teman aku,” Asyira memperkenalkan Gani pada suaminya yang tengah mengaduk es jeruknya.
Gani langsung mengulurkan tangan dan segera disambut dengan ramah oleh Argantara yang menyebutkan namanya, begitupun Gani.
“Have fun ya honeymoon nya, Shena. Aku pamit dulu,”
“Iya hati-hati, Gani. Kamu ada urusan di sini? Atau bulan madu juga?”
Gani terkekeh mendengar pertanyaan Asyira. Kemudian Ia menggelengkan kepalanya menjawab.
“Nggak lah, gimana ceritanya bulan madu kalau nggak ada pasangan. Aku di sini ada kerjaan,”
“Oh gitu, ya udah lancar-lancar ya,”
“Okay, bye,”
Gani sudah bergegas pergi meninggalkan Dio dan Shena yang masih bertahan di meja.
“Siapa? Teman?”
Shena mengangguk, Ia sudah beritahu Vano tadi bahwa Gani itu temannya tapi entah kenapa Dio masih bertanya.
“Bisa kebetulan gitu ya kalian ketemu,”
“Iya, pernah ketemu juga waktu di supermarket, kalau nggak salah aku udah cerita deh sama kamu,”
“Oalah, aku kirian mantan kamu,”
Shelina tersenyum kecil mendengar ucapan suaminya. Kemudian dengan usil Ia menjawil lengan Argantara yang mengundang tatapan bingung lelaki itu.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Kamu cemburu?”
“Ya iyalah, aku cinta masa nggak cemburu,” ujar nay dengan shopee Shena di rambut Shela.