
“Makannya santai aja, Shen, sampai celemotan gini,”
Shena meringis malu ketika suaminya membersihkan sudut bibirnya yang sedikit kotor karena es krim.
“Ya namanya juga anak kecil berkedok dewasa ya,”
Dio terkekeh mendengar ucapan istrinya itu. Kemudian Ia kulum jarinya yang tadi Ia gunakan untuk membersihkan es krim di sudut bibir sang istri.
“Itu ‘kan dari bibir aku, ngapain masuk ke mulut kamu?”
“Nggak apa-apa, halal,”
“Ih jangan, itu bekas istri tau. Ntar aku dosa lagi,”
“Orang gue yang mau kok, rasanya, jadi tambah manis ya?”
“Hah? Masa sih?” Tanya Shena dengan wajah polosnya. Dio terkekeh dan menganggukkan kepala.
“Beneran?”
“Iya beneran lah, masa bohong?”
“Kok bisa?”
“Ya karena bibir lo kali ya, jadi rasanya makin manis,”
“Ya elah, bisa aja,”
Dio terbahak karena mendengar Shena bicara seperti itu smabil merotasikan bola matanya jengah.
“Tapi beneran lho, rasanya makin manis,”
“Ah udahlah, aku paling nggak bisa dengar kamu ngomong gitu,”
“Kenapa? Mual ya?”
“Nggak, aneh aja gitu,”
“Orang gue serius kok, rasa es krimnya jadi lebih manis ya mungkin karena dari bibir lo,”
“Udah stop jangan ngomong yang aneh-aneh ih, aku nggak mau dengar,”
“Ya emang kenapa sih? harusnya senang kalau gue ngomong yang manis-manis,”
“Iya senang sih tapi aneh aja,“
Dio tersenyum mengamati istrinya yang sumringah sekali hari ini. Dibelikan es krim saja kelihatan bahagia sekali. Diajak ke timezone juga bahagia.
“Bahagia lo itu sederhana banget ya, Shen,”
“Iya, kamu baru sadar ya?”
“Iya gue baru sadar, selama ini gue terlalu nutup mata.
“Maafin gue ya, baru semoat bikin lo bahagia sekarang. Selama ini ynag gue lakuin tuh cuma bikin lo sedih aja. Gue benar-benar minta maaf sama lo,” ujar Dio semnari mengusap punggung tangan ustrinya yang ada di atas meja.
Shena tersneyum dan menganggukkan kepalanya, lalu Ia menggenggam tangan Dio dengan lembut.
“Kamu kok minta maaf sih? Jangan gitu lah, kamu nggak salah kok. Yang penting ‘kan sekarang kita udah baik-baik aja,”
“Dulu yang bisa gue lakuin cuma bikin lo sakit hati, kecewa, sedih, tapi sekarang gue mau bikin lo bahagia, Shen. Semoga bisa,”
“Aku juga banyak kurangnya, pasti pernah bikin kamu nggak bahagia. Maafin aku juga ya, jadi kita sama-sama minta maaf nih ceritanya,”
“Lo sih nggak salah, lo malah perempuan terbaik yang pernah gue temuin. Lo istimewa, Shen. Gue nggak bersyukur milikin lo, tapi sekarang gue udah belajar untuk bersyukur. Apalagi yang gue cari? Nggak ada. Ini kalau dalam hal pendamping hidup ya. Gue rasa lo aja udah lebih dari cukup. Cuma selama ini gue nggak sadar,” ujar Dio seraya tersenyum menatap istrinya yangs aat ini lanjut menikmati es krim lagi.
“Lo kayaknya tergila-gila banget sama es krim,”
“Iya emang dari sulu tergila-gila sama es krim, kalau minum es krim tuh nggak bisa kalem, selalu semangat,”
“Nggak apa-apa, malah gue semang ngeliat lo lahap, soalnya selama ini gue tuh hampir nggak pernah liat lo lahap makan sesuatu,”
“Ah masa sih? Perasaan aku kalau makan lahap terus deh,”
“Nggak, kayaknya gue hampir nggak pernah ngeliat lo makan lahap, gue juga bingung kenapa,”
“Kamu kebetulan ngeliatnya yang kurang lahap,”
“Nggak lah, irang gue sering makan sama lo kok, apalagi belakangan ini ‘kan gue udah makan di rumah mulu,”
“Tapi aku lahap terus, Dio,”
“Ya tapi nggak selahap minum es krim ini,”
“Karena es krim jarang, jadi sekalinya ketemu keliatannya kebih lagap, begitu kali ya,”
“Oh iya bener juga lo,”
“Iya makanya jangan bilang nggak lahap, orang lahap kok, tapi kalau minum es krim lebih lahap karena emang jarang ketemu es krim,”
“Ini kita jadi makan ramen, Shen?”
“Jadi dong, kamu nggak keberatan ‘kan?”
“Nggak lah, masa gue keberatan,” jawab Dio sambil tersenyum menaik turunkan alisnya. Shena mengajaknya makan pizza di Italia atau kebab di Turki rasnaya Dio tidak akan keneratan. Ia menganggap spapun kdbaikan yang Ia lakukan saat ini untuk Shena itu sebagai penebusan atas dosa-dosanya yang terdahulu pada Shena.
“Dio aku punya pertanyaan yang random untuk kamu,” ujar Shena seraya menatap duaminya dengan serius.
“Random tapi mukanya serius, gimana sih?”
“Ya ini random tapi—penting,”
“Oh okah apa pertanyaan lo?”
“Kalau aku pengen makan rendang di Padnag langsung, kamu keberatan atau nggak?”
Dio tertawa mendnegar ucapan istrinya itu. Yang benars aja. Makan rendang di Padang langsung tidak ada berat-beratnya untuk Dio. Malah nanti akan Ia anggap sebagai liburan.
“Ya nggak lah,”
“Hah? Seriusan kamu?”
“Iya gue nggak keberatan tuh,”
“Tapi ‘kan— itu jauh banget dari Jakarta,”
“Ya jangankan Padang Jakarta, Jakarta Italia aja gue jabanin, hitu g-hitung liburan, ya nggak?”
Dio menaik turunkan alisnya sambil menatap sang istri yang kebingungan. Padang saja sudah kejauhan menurut Shena, ini Dio malah membahas Italia.
“Kok makin jauh ke Itali? Smang mau ngapain ke sana?”
“Ya misalnya lo mau makan pizza langsung di sana, ayo aja gue nggak keberatan,”
“Ih yang bener aja kamu, itu ‘kan jauh banget tau,”
“Iya gue tau emang itu jauh, Shen,”
“Ya terus kenapa kamu nggak keberatan kalau misal aku minta ke sana? Itu ‘kan jauh banget,”
“Ya nggak apa-apa hitung-hitung liburan lah, gue seneng liburan apalagi sama lo,”
“Abis duit ke sana cuma karena mau makan pizza,”
“Nggak apa-apa dong, bikin senang hati lo, Shen,”
“Hmm ini serius kalau misalnya tiba-tiba aku pengen makan rendang di Padang langsung, kamu nggak keberatan?”
“Iya beneran masa gue bohong sih?”
“Ya ampun itu ‘kan jauh banget,”
“Udah gue bilang tadi, hitung-hitung kita liburan, Shen. Emang kapan lo mau ke padang?”
“Hah? Nggak? Ini tuh cuma nanya aja, Dio. Aku nggak serius, kamu anggap serius omongan aku?”
“Iya gue kira serius,”
“Hahahaha polos banget,”
“Tapi kalau serius juga nggak apa-apa kok, Shen. Gue temenin lo ke sana, pokoknya lo mau kemanapun gue temenin, pasti gue temenin okay?”
“Iya okay,”
“Jadi kalau misalnya lo mau beli makanan di suatu tempat, lo jangan sungkan ngomong sama gue biar kita bareng-bareng ke tempat itu okay?”
“Siap, Pak bos,”
“Hitung-hitung kita liburan, eh honeymoon deh biar kedengeran lebih mesra gitu ‘kan,”
Shena terkekeh, sepertinya kalau mereka liburan lagi sebutannya bukan honeymoon melainkan babymoon karena Shena sudah membawa manusia kecil di dalam perutnya.
“Tapi ya kalau mislanya lo beneran mau makan di suatu temlat yang lumayan jauh, lo kayak ibu hamil yang lagi ngidam aja, Shen,”
“Kenapa? Kamu nggak suka nurutin ngidam aku?”
“Hah? Gimana-gimana?”
Shena langsung terdiam, Ia barus aja bicara yang menjurus ke arah kehamilannya dan Dio dibuat bingung makanya Ia bertanya lagi supaya paham.
“Nggak,”
“Lah tadi ngomong apaan?”
“Nggak ngomong apa-apa deh perasaan, kamu salah dnegar kali,”
“Tadi kayaknya lo ngomong soal ngidam gitu, emang lo lagi ngidam, Shen?”
“Ya—ya—-nggak sih,”
“Lah terus?”
“Aku cuma nanya aja soalnya aku penasaran sama jawaban kamu. Kalau misal aku beneran ngidam nih pengsn makan sesuatu di tempat yang jaraknya lumayan jauh atau bahkan jauh banget, kamu beneran mau nurutin atau nggak? Aku cuma mau dengar jawaban kamu aja,”
“Nggak ngidam pun gue turutin apalagi ngidam, ya pasti gue turutin lah,” jawab Dio dmegan gegas dan itu mengundang senyum Shena terbit.
“Beneran?” Tanya Shena pada suaminya yang langsung menganggukkan kepala.
“Beneran lah,”
“Walaupun kamu capek, kamu habis uang, kamu bakal tetap nurutin kemauan aku?”
“Iya tetap, karena gue pengen banget bikin lo senang, sebagai penebusan dosa gue yang waktu itu pernah jahat banget sama lo. Gue tau maafnya gue tuh nggak cukup makanya gue pengen bikin lo senang, Shen,”
Shena tersneyum mendnegar ucapan siaminya itu. Hatinya menghamgat dan matanya berkaca. Dio tulus sekali kelihatannya. Dari cara Dio menatap, Dio bicara, dan kini menggenggam tangannya, Dio kelihatan benar-bsnar tulus ingin membahagiakannya dan juga menebus kesalahan yang pernah Dio lakukan di awal pernikahan mereka.
“Gue pernah buang makanan yang lo bikin, gue pernah nyuruh lo tidur di kamar tamu, gue pernah make baju lain padahal lo udah pikihin baku buat gue, bekal yang pernah lo taruh di tas gue malah gue buang. Gue benar-benar minta maaf ya untuk semuanya, Shen. Gue nyesal pernah nyakitin lo sedalam itu, gue bener-bener nyesel, maafin gue ya,”
“Iya aku maafin kok. Yang udah lalu jangan dibahas lagi. Es krim aku udah habis nih, kita makan ramen yuk,”
Dio mengangguk, es keim miliknya tidak habis dan hendak Ia buang namun Shena melarangnya.
“Ih kenaoa nggak kasih ke aku aja sih? Aku ‘kan suka, malah mau dibuang,”
“Ya ngapain lo mau bekas gue?”
“Nggak apa-apa dong, bekas duami sendiri ini, ya sajar, kecuali bekas duami orang tuh baru nggak boleh,”
“Heh! Bawa-bawa suamir orang, awas lo ya,”
Shena terkekeh melihat tatapan tajam suaminya. Shena langsung mencubit lengan Dio smabil mendinginkan suasana yang semula agak memanas karena Dio tak suka dnegan celotehannya yang padahal niat untuk bercanda.
“Aku bercanda, jangan dimasukin ke hati lah,”
“Ya lagian nggak lucu amat sih,”
“Ya udah aku minta maaf kalau nggak lucu,”
“Gue cemburu ya, Shen. Jangan ngomong yang lain kalau lagi sama gue,”
“Okay baik, Pak bos, eh tapi barusan kamu bilang apa? Kamu cemburu?”
Dio menganggukkan kepalanya. Sekarang Ia tidak ragu lagi menyampaikan perasaannya. Ia cemburu jadi Ia mengutarakannya.
“Cie yang ngaku cemburu,” goda Shena sambil menjawil dagu suaminya. Es krim sisa suaminya sudah berhasil Ia habiskan sekarang Ia membuang cup nya di tempat sampah dan mereka melanjutkan perjalanan ke tempat makan ramen.
“Iya ngaku lah ngapain ditutup-tutupin lagi,”
Setelah tiba di restoran Jepang, mereka langsung menempati salah satu meja atas pilihannya Shena sendiri. Setelah duduk, tiba-tiba Dio meraih tangan Shena dan berdehem hendak mengutarakan sesuatu dan Shena bingung dibuatnya.
“Kamu—kenapa? Mau—ngapain?”
“Cuma mau ngobrol, kenaoa tegang banget sih? Kayak lagi mau akad nikah aja. Kita udah ngelewatin itu, Shen jadi lo jangan gegang-tegang,”
Shena terkekeh mengalihkan rasa gugupnya karena Dio tiba-tiba meraih tangannya dan menatapnya dengan serius.
“Hmm kamu mau ngomong sesuatu ya kayaknya?”
“Iya,”
“Mau ngomong apa? Kayaknya penting ya, Dik?” Tanya Shena dengan ragu-ragu, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Dio.
“Okay kamu mau ngobrolin apa, Dio?”
“Aku cinta sama kamu,”
Shena meneguk saliva nya susah payah ketika mendengar pernyataan itu terlontar dari mulut suaminya.
“Kamu lagi ngomong serius ya ini?”
“Ya masa gue ngomong bercanda sih, Shen,”
“Kamu nyatain cinta jadi aku—“
“Nggak percaya nih? Aku cinta sama kamu, tapi kamu nggak percaya ya?”
“Sejak kapan, Dio?” Tanya Shena.
“Hmm sejak—gue juga nggak tau sejak kapan. Intinya gue cinta sama lo, gue takut kehilangan lo, dan gue mau bahagiain lo, Shen. Gue tau lo pasti bosan dengar kata maaf dari gue tapi gue nggak pernah bosan minta maaf sama lo. Maaf untuk semua kesalahan gue di masa lalu, sekarang kita mulai semuanya dari awal ya? Gue mohon kaish kesemlatan untuk gue memperbaiki semuanya, kasih kesempatan untuk gue bikin lo bahagia, Shen,”
Shena mengangguk dengan maga berlinang. Karena tidak mau dilihat ornag lain menangis, dengan cepat Shena memghapus air matanya. Ia terharu melihat kesungguhan di mata Dio ketika mengitarakan keinginannya barusan.
“Iya, aku mau mulai semuanya dari awal sama kamu, Dio. Aku kasih kamu kesempatan,”
__ADS_1
Dio langsung tersenyum sumringah mendnegar perkataan istrinya. Ia langsung merangkul wajah sang istri kemudian bertanya “Beneran ‘kan?” Tanya Dio yang langsung dijawab dengan anggukan oleh istrinya itu.
“Makasih ya,”
Dio beranjak ingin memeluk istrinya yang duduk di delannya, mereka dipisahkan oleh meja, tapi karena larangan sang istri akhirnya Dio tidak jadi melakukannya.
“Ini di tempat umum jangan peluk aku sembarangan ah,”
“Ya udah deh di rumah aja nanti,” ujar Dio dengan wajah murung, Ia setengah tidak ikhlas dilarang memeluk istrinya. Yang mengeluarkan larangan juga Shena sendiri.
“Eh aku mau tanya soal yang tadi. Boleh nggak?”
“Tanya soal apa, Sayang?”
Shena menahan senyum salah tingkah ketika dipanggil dengan sebutan ‘sayang’ oleh Dio. Seharusnya detak jantungnya biasa saja tidak perlu ribut seperti ini, hanya karena dipanggil mesra oleh sang suami. Sebenarnya wajar kalau dipanggil ‘sayang’ oleh suami. Tapi karena memang tidak biasa mendengar jadi salah tingkah sendiri.
“Tanya apa? Kok malah diam?”
“Aku mau tanya, kamu beneran bakal nurutin kemauan aku kalau misalnya aku mau ke suatu tempat untuk nyobain makanan?”
“Iya benera, yah ampun nggak percaya banget. Mau aku buktiin sekarang? Hmm?”
“Hmm jangan deh,”
“Lah terus?”
“Aneh aja gitu kok kamu mau nurutin kemauan aku? Okay lah kalau kamu bilang mau bikin aku senang tapi ‘kan rugi buat kamu,”
“Kok rugi? Nggak ada kata rugi kalau buat istri. Kamu pikir aku nggak serius gitu?”
“Hehehe okay aku kira kamu bercanda. Abisnya aneh aja gitu, kok kamu mau pergi ke tempat jauh demi nurutin kemauan aku? Padahal ‘kan kamu bisa nolak harusnya
“Ya karena gue pengen bikin lo senang. ‘Kan tadi udah gue jawab begitu, Shena,”
“Tapi jangan deh, nanti kamu nyesal lho,”
“Hah? Kok nyesal?”
“Iya nyesal, habis uang, habis tenaga demi nurutin mau aku yang aneh, timbang makan rendang aja harus ke Padang,”
“Lho nggak apa-apa. Walaupun nggak ngidam, aku tetap bakal nurutin, apalagi kalau ngidam kasian lah anak kita kalau nggak diturutin. Tapi kamu sekarang belum hamil ‘kan? Belum ngidam ‘kan?”
”Belum,” jawab Shena sambil tersenyum getir.
“Mau lagi ngidam atau nggak, pokoknya kalau kamu lagi kepengen sesuatu kamu jangan sungkan ngomong ke aku ya,”
“Okay,”
“Bakal aku turutin,”
“Makasih ya,”
“Sama-sama, aku senang aku bisa jadi sedikit berguna buat kamu. Disaat kamu ounya keinginan dan kamu ngomong ke aku, aku bakal berusaha untuk nurutin. Nah kalau berhasil, aku sedikit berguna jadi suami,”
“Ih kok sedikit? Ya nggak sedikit dong. Kamu itu berguna banget untuk aku,”
“Masa sih?”
“Iyalah,”
“Cium dulu dong kalau begitu,”
“Hadeh! Jangan mulai deh,”
Dio tertawa karena Shelina melotot ke arahnya. “Kamu jangan galak-galak gitu dong, aku jadi takut tau,”
“Ya makanya jangan aneh-aneh deh, orang lagi di tempat makan juga masih bisa ya nagih ciuman,”
“Ya udah deh ntar di rumah aja, boleh ‘kan?”
“Nggak tau ah, otaknya kesitu mulu deh,”
“Ya amlun emang otak gue ke situ mulu apa? Snak aja, gue otaknya kaish bener kok, Shen, nggak ke **** mulu—-“
“Ssstt! Jangan ngomong aneh-aneh bisa nggak sih? Aku nggak ngomong itu ya, maksud aku tuh otak kamu mikirin ciuman mulu, bukan itu!”
Beruntungnya Dio bicara pelan kalau tidak, bisa malu seklai mereka. Terutama Shena yang takut orang berpikir otak suaminya jorok alias kotor membahas hal seperti itu di tempat umum.
“Maaf-maaf, tapi nggak ada yang dengar kok, Shen. Kamu tenang aja,” ujar Dio sambil terkekeh.
“Ya udah ayo buruan diabisin tuh,”
Mereka makan dengan tenang, tak ada obrolan lagi, tapi di pertengahan makan, tiba-tiba Dio mengangkat topik pembicaraan.
“Jadi kamu mau kemana?” Tanya Dio pada istrinya yang langsung bingung ketika ditanya ingin kemana.
“Maksud kamu?”
“Jadi kamu mau kemana, Shentik alias Shena cantik,”
“Aku nggak kemana-mana lah, smang kamu pikir aku bakal kemana coba?”
“Ya ‘kan tadi kita udah bahas jalan-jalan sesuai dengan request kamu, nah sekarang tujuan kamu mau kemana?”
“Belum kepikiran,”
“Yah, kirain udah kepikiran mau kemana nya, Shen,”
“Belum ah, aku bingung,”
“Ya udah cari-cari referensi dulu yang seru buat liburan berdua,”
“Nggak berdua, tapi bertiga, Dio,“ batin Shena dan tangannya spontan mengusap perutnya dengan lembut.
“Ke Padang untuk makan rendanga asli sana boleh juga tuh, Shen,”
“Iya tapi kapan ya?”
“Mau pulang gue dari Lombok nggak?”
“Hah? Seriusan?”
“Iya serius kalau lo mau. Besok ‘kan gue berangkat ke Lombok mudah-mudaha aja balik cepat terus kita langsung ke Padang deh gimana?”
“Hmm ntar-ntar aja deh kamu ‘kan lagi mau pergi sama Papa,”
“Iya abis dari Lombok aja gimana?”
“Liat keadaan nanti aja,”
Sejujurnya Shena belum berani membawa kandungannya pergi jauh-jauh dulu. Ia belum meminta pendapat dari dokter, jadi belum bisa menjawab pertanyaan Dio sekarang.
Dio padahal sudah semangat sekali mau mengajak istrinya itu jalan-jalan selepas Ia bernagkat ke Lombok bersama Papanya karena urusan pekerjaan.
“Ya udah ntar dibahas lagi deh. Sekarang suapin aku dong, mau nggak?”
“Hah? Kamu minta suapin sama aku? Yakin? Smang nggak malu apa? Kamu ‘kan uda dewasa kenapa minta disuapin?”
“Ya emang nggak boleh gitu?”
“Boleh-boleh, okay aku suapin ya,”
Shena penuhi saja permintaan suaminya itu. Tidak biasanya Dio minta disuapi tapi apa boleh buat. Menyenangkan hati suami pahalanya besar jadi Shena lakukan sekarang juga. Ia menyuapi suaminya itu.
“Aku suapin kamu,”
“Ih nggak usah, aku makan sendiri aja nggak apa-apa,”
“Lah gimana caranya kamu makan sendiri kalau kamu aja lagi suapin aku kayak begini?”
“Ya gampang tinggal suap-suapan bergantian aja,” ujar Shena dengan santainya. Ia tidak mau merepotkan suaminya itu. Jadi biar Ia makan sendiri aja.
“Aku makan sendiri aja Dio,”
Dio bersikeras ingin saling menyuapi dengan istrinya. Namun sang istri menolaknya dan itu membuat Ia berdecak kesal.
“Nggak mau disuapin sama aku jadi ceritanya?”
“Ya ngapain main suap-siapan? Udah kayak anak-anak aja,”
“Lah emang yang boleh saling nyuapin itu cuma anak kecil doang ya? Tapi orangtua juga sering lho,”
“Iya tapi nggak usah ya aku takut ada yang ngeliat ke arah sini,”
“Lah kalaupun ada yang ngeliatin kita emang kenapa? Nggak apa-apa dong, nggak ada salahnya, kita ‘kan pasangan suami istri yang lagi dimabuk cinta,”
“Ya amlun lebay ah,”
Dio terkekeh dan Ia tidak peduli dibilang lebay. Ia kedipkan salah satu matanya ke arah Shena yang langsung geleng-geleng kepala.
“Udah cukup, aku makan sendiri sekarang,”
“Lho kok udahan?”
“Makan kamu jadi keganggu, Shen aku makan sendiri aja sekarang,” ujar Dio seraya meraih mangkuknya dan mulai makan semdiri lagi. Yang tadi hanya sleingan supaya suasana makan bersama istrinya tidak membosankan. Tapi Ia tidak tega karena Shena jadi terganggu makannya sebab harus menyuapi dua mulut yang pertama mulut Dio suaminya dan yang kedua mulut Shena sendiri.
“Abis kita makan, apa kita bakal pulang, Dio?”
“Terserah kamu, apa kamu mau keliling dulu?”
“Hmm? Keliling?”
“Iya barangkali kamu mau keliling,”
“Nggak deh, kita langsung pulang aja,” jawab Shena atas pertanyaan sang suami.
“Beneran nih?”
“Iya beneran, aku mau langsung pulang aja, kamu ‘kan harus istirahat cukup lho, soalnya kamu mau pergi ke Lombok,”
“Ah nggak masalah,”
“Ih jangan ngomong gitu tau, kamu harus istirahat cukup karena mau pergi jauh. Jadi nggak kurang istirahat juga,”
“Iya, Nyonya,”
Selepas mereka makan bersama, mereka benar-benar bergegas pulang ke rumah. Shena tidak tertarik kemana-mana lagi begitupun dengan Dio yang ikut saja apa maunya Shena. Sampai di rumah suasana sunyi menyambut mereka yang menebak kalau orang rumah di kamar masing-masing.
Tiba di kamar, Shena langsung ingin bergegas ke kamar mandi buang air kecil, sementara Dio duduk di sofa kamar menunggu istrinya, Ia ingin bergantian masuk kamar mandi.
Setelah Shena keluar dari kamar mandi barulah Dio yang masuk kamar mandi, Shena gunakan kesempatan untuk membuat susu kehamilan, selagi suaminya di dalam kamar mandi.
Shena mengambil susu kehamilan yang Ia simpan diam-diam di dalam laci tanpa sepengetahuan Dio. Kemudian Ia tuang di dalam gelas, tinggal Ia tuang dengan air panas.
“Shena,”
Shena panik karena Ia sedang menyimpan susu dan tiba-tiba Dio sudah keluar dari kamar mandi. Tapi Ia berhasil menetralisir rasa paniknya itu hingga susu berhasil Ia simpan di dalam laci dan suaminya berdiri di sebelahnya.
“Kamu ngapain, Shen?”
“Hmm? Nggak,”
“Ini apa?” Tanya Dio pada Shena seraya mengambil gelas yang sudah Shena isi dengan susu hamil.
“Aku mau bikin susu,”
“Oh, sini aku yang tuang air panas, tambah gula nggak nih?”
“Nggak usah, aku aja,”
“Aku aja, Shen,”
“Aku aja, kamu mending istirahat deh,”
“Hmm ya udah deh,”
Shena bergegas menghampiri dispenser kamar namun Ia ingat air nya habis dan belum diisi. Akhirnya terpaksa Ia harus melawan rasa malasnya untuk bergegas ke lantai bawah mengambil air panas.
“Mau kemana, Shen?”
“Air abis,”
“Ya udah sini makanya aku yang buat,”
“Nggak apa-apa aku turun aja,”
Sesaat setelah Shena meninggalkan kamar Dio menghembuskan napas kasar. “Sengaja gue nggak mau buat dia capek, gue aja yang ngambil air eh dia malah nggak mau,” gumam Dio.
Dio menyusul istrinya ke dapur tanpa sepengetahuan Shena sendiri. Di dapur istrinya bertemu dengan sang mama, Ardina.
“Sayang, mau buat susu?”
“Iya, Ma,”
“Itu susu buat kamu atau Dio?”
“Aku, Ma,”
“Oh gitu, tadi gimana jaal!-jalannya sama Dio?”
“Menyenangkan banget, Ma. Dio nurutin semua kemauan aku. Dari mulai ke tinezone, beli es krim, terus makan ramen, pokoknya Dio nurutin semuanya deh. Dio nggak marah-marah, dia baik banget tadi, lembut juga,”
“Ya syukurlah kalau Dio nggak hobi marah-marah lagi ya, akhirnya dia berubah juga,”
“Iya, Ma,” ujar Shena seraya tersenyum.
Tanpa sadar yang mereka bicarakan itu ada di pintu masuk dapur mendengarkan obrolan mereka.
“Besok dia mau pergi jadi hari ini katanya waktu dia buat aku,” ucap Shena menyampaikan apa yang disampaikan suaminya tadi.
Hari ini adalah waktu untuk Shena karena esok hari Dio akan pergi ke Lombok bersama Papanya
“Iya Dio besok mau eprgi sama Papa, ya bagus dia manjain kamu dulu sebelum pisah bentar ‘kan,”
“Hehehe iya, Ma. Aku merasa dimanja banget. Aku bersyukur Dio jauh lebih baik sekarang,”
Susu Shena telah jadi setelah Ia tuang dengan air panas. Shena langsung mengaduknya hingga tercampur rata kemudian Ia memperhatikan Ibu emrtuanya yang sedang membaca resep.
“Mama mau bikin apa? Itu lagi baca resep apa?”
“Nggak tau, Mama masih bingung mau bikin apa untuk makan malam ntar, Sayang,”
“Nanti aku aja yang masak, Ma. Mama katanya mau ada acara ‘kan sama papa?”
__ADS_1
“Iya kondangan ke acara nikah anak teman Papa,”
“Nah ya udah biar aku aja yang masak Mama nggak usah pusing-pusing,”
“Mending kamu istirshat deh, abis main soalnya. Nanti kecapekan, gih istirahat dulu,”
“Tapi aku aja yang masal, aku habisin susu aku bentar,
“Eh nggak masak dulu, ntar aja masak. Kamu istirahat aja di kamar dulu,”
“Nggak ah nanti Mama amsal,”
Ardina terkekeh karena menantunya takut sekali Ia yang masak padahal tidak masalah baginya. Ia tdiak merasa direpotkan.
“Nggak-nggak Mama cuma mau baca resep aja ini, nggak masam kok, kamu tenang aja. Udah sana kamu istirahat dulu,”
“Iya aku ke kamar bentar, mama nggak usah mikriin mau amsak biar aku aja,”
“Iya, Sayang, dah masuk kamar aja kamu, istirahat dulu, jangan capek-capek nanti sakit lagi,”
Ardina mendorong pelan bahu Shena supaya segera naik ke lantai atas dimana kamarnya berada. Tidak sengaja Shena bertemu dnegan Dio yang berada di depan pintu masuk daput.
“Eh kamu koka da di sini?” Tanya Shena dnegan bingung.
“Yee nguping ni anak,” ujar Ardina yang mengundang tawa Dio.
“Mama sama Shena ngobrolin apa sih?”
“Halah pura-puta nggak dengar,”
“Hahahaha bercanda deh, aku dnegar Mama sama Shena ngomongin aku tadi. Ngomongin aku eh aku nya denger,”
“Ya nggak apa-apa, orang juga nggak ngomongin yang jelek-jelek. Mama sama Shena senang kamu udah berubah jauh lebih baik, nggak kayak dio yang dulu lagi,”
“Hehehe karena aku nggak mau sia-siain Shena lagi, Ma,”
“Ya udah bagus. Sekarang bawa istri kamu istirahat gih,”
“Siap, Ibu ratu,”
Dio langsung merangkul bahu Shena. Ardina tidak mau Shena itu kelelahan dan akhirnya sakit lagi nanti, mengingat kalau Ia perhatikan daya tahan tubuhnya Shena itu suka lemah belakangan ini.
“Kamu tumben buat susu,” ujar Dio pada istrinya.
“Ya ‘kan aku punya susu bubuk, jadi aku buat lah kebetulan lagi pengen, kenapa? Kamu mau juga?” Tawar Shena seraya mengangkat gelasnya dan tidak disangka oleh Shena, Dio mau.
“Duh gimana ya kalau Dio mau minum susu buatan aku ini? Masalahnya ini tuh susu untuk ibu hamil. Emang nggak apa-apa ya kalau misalnya ini diminum sama Dio?” Batin Shena dengan cemas.
“Beneran mau? Aku buatin dulu ya,”
“Mau yang buatan kamu sekarang aja,”
“Hah? Yang ada di tangan aku ini?”
“Iya betul,”
“Aku buatin aja susu cokelat kamu, gimana?”
“Nggak usah, yang kamu pegang sekarang aja,”
“Ini nggak apa-apa atau bahaya sih kalau misal diminum sama Dio? Ih aku nggak pernah lagi tau hal-hal kayak gini, ntar kalau misalnya dia hamil gimana? Ah nggak mungkin lah. Dia ‘kan cowok. Masa iya dia hamil. Paling cuma sakit perut doang kali ya? Jangan deh, kasian Dio,” batin Shena.
“Eh eh eh Dio!”
Shena kaget ketika tiba-tiba suaminya merebut gelas yang Ia pegang dan langsung menyeruput. Shena terperangah kaget, sekaligus panik. Apa tidak masalah kalau misalnya Dio minum itu? Bahaya tidak? Karena itu susu untuk wanita hamil, kalau Dio kenapa-napa bagaimana? Pertanyaan-pertanyaan itu langsung berputar di kepala Shena pasca Dio meneguk sekali susu hamilnya setelah itu Dio kembalikan gelas itu ke tangan istrinya.
“Ih kamu kenapa main ambil aja sih, ini ‘kan punya aku tau
“Enak kok, walaupun rasanya—“
“Gimana rasanya?”
“Rasa—vanilla,”
“Ya emang vanilla, terus menurut kamu gimana rasanya? Kamu mau mual?”
“Nggak sih, enak-enak aja rasanya walaupun agak asing aja di lidah aku entah kenapa, tapi enak kok, hampir sama aja kayaknya, sama susu yang biasa aku minum, tapi tetap andalan aku susu cokelat, kamu kenapa sih beli vanila?”
“Ya adanya ini, aku ketemunya rasa vanilla jadi ya udah aku ambil ini. Darioada nggak sama sekali,” batin Shena.
Waktu itu Shena pulang kuliah langsung beli susu untuk dirinya sendiri tanpa sepengetahuan Dio. Jadi Ia ke supermarket sendirian tanpa ditemani oleh suaminya itu
Setelah sampai kamar Ia langsung simpan di dalam lacinya supaya aman, dan sejauh ini aman karena Dio memang jarang membuka laci di nakas di sebelah kepalanya dimana Ia biasa tidur.
“Mau lagi dong,” uahr Dio seraya menengadahkan tangannya ingin meminta susu hamil milik Shena lagi namun Shena menggelengkan kepalanya dan menjauhkan gelasnya dari jangkauan Dio.
“Dasar pelit,” ujar Dio.
“Biarin, bukannya bikin sendiri sana yang rasa cokelat kenapa malah minta sama aku sih?”
“Mau yang punya kamu, orang rasa susunya enak tuh,”
“Nggak mau ah, jangan ambil punya aku, bikin sendiri aja, atau aku yang bikin ya,”
“Nggak mau, aku maunya punya kamu aja,”
“Ih jangan, aku buatin aja deh, bentar!”
Shena langsung menghabiskan susunya dengan sekejap. Ia tidak mengizinkan suaminya itu untuk meminum susu buatannya lagi karena itu susu untuk dirinya yang sedang hamil tapi anehnya Dio suka.
Shena hanya berharap suaminya baik-baik saja setelah minum susu itu. Sebab Shena belum pernah tau pengelaman laki-laki minum susu hamil.
Setelah Shena menghabiskan susu buatannya Shena langsung bergegas ke dapur lagi membuat susu untuk suaminya itu. Sepanjang Ia membuat susu, Ia kepikiran dengan Dio yang tadi sempat menyeruput susu miliknya. Ia berharap Dio tidak sakit eprut saja.
“Tapi kalau dipikir-pikir, susu itu ‘kan aman untuk ibu hamil, yang sensitif banget, ya kayaknya aman juga sih untuk cowok, lagian Dio minum cuma dikit,” batin Shena.
“Si Dio emangnya nggak bisa buat sendiri apa, Shen? Kok kamu yang mondar-mandir sih?”
“Nggak apa-apa, Ma. Daripada dia minta susu punya aku ‘kan,”
“Lah, minta-minta, bukannya bikin sendiri,”
Shena terkekeh mendengar ibu mertuanya menggerutu. Ia tidak masalah harus bolak balik dapur hanya untuk membuat susu lagi yang kali ini untuk suaminya yang baru saja menikmati susu.
“Nggak apa-apa, Mama sayang,”
Setelah berhasil membuat satu gelas susu untuk suaminya Shena langsung ke kamar lagi dan memberikan susu buatannya itu untuk Dio yang saat ini hendak membuka laci dimana Shena menyimpan susu hamilnya. Shena yang melihat itu panik dan langsung memanggil Dio.
“Eh Dio dio! Kamu mau ngapain?” Tanya Shena pada suaminya yang akhirnya tak jadi membuka laci karena mendengar suara istrinya memanggil dari depan kamar. Suara Shena yang lumayan keras karena panik tentunya membuat Dio lumayan terkejut.
“Eh, Sayang, ini aku mau nyari minyak kayuputih dimana ya?”
“Hah? Kayuputih bukan disitu,”
“Ya abisnya nggak ada di meja rias ‘kan biasanya di situ,”
“Ya udah sini aku yang nyari, nih susu punya kamu,” ujar Shena pada suaminya seraya menghampiri sang suami. Ia menggantikan suaminya mencari minyak kayuputih setelah Ia serahkan susu buatannya itu kepasa Dio dan Ia menyuduh Ido untuk minum sambil duduk.
“Biar aku aja yang nyari deh, orang buman disitu kok, kamu kurang teliti kali nyari nya,” ujar Shena.
“Ya udah dimana coba? Orang biasanya—“
“Ya sabar nyari nya jangan buru-buru. Emang kamu butuh buat apa sih?”
“Buat dimainin,” jawab Dio dnegan asal.
“Ya buat gue pakel, Sayang,” jawab Dio.
“Udah sayang, pake lo lagi, aneh banget dengernya,”
“Hahahaha iya juga ya, masih belum biasa gue manggil sayang,”
Shena mencari kayuputih di meja rias dan ternyata ketemu. Ia langsung memberikannya kepada sang suami.
“Nah ini apa? Nyari nggak hati-hati sih,”
“Oh iya hehehe makaish ya,”
“Sama-sama, butuh bantuan aku untuk balurin?”
“Boleh-boleh, tolong balur di leher belakang aku ya,”
“Emang kenapa leher kamu?”
“Agak gatal, sama pegal,”
“Oh karena temenin aku main di timezone kali nih,”
“Ya elah nggak ada hubungannya, emang lagi pegal aja,”
“Ya tumben kamu pegal, gatal juga lagi,”
“Wajar lah, namanya juga badan, kadang ada sakit. ‘Kan kita bukan robot,”
“Ya emang siapa juga yang bilang kamu robot, Ganteng,”
“Hahaha ya makanya itu, Cantik. Kamu jangan merasa bersalah gitu. Ini bukan karena abis temenin kamu main, emang leher aku aku lagi pengen pegal dan gatal aja kali,”
Setelah membalur minyak kayu putih di leher suaminya Shena langsung menghela napas lega. Beruntungnya Dio belum sempat membuka laci dimana Ia menyimpan lima kotak susu untuk ibu hamil. Kalau Dio keburu membuka laci dan dia melihat semua itu, bisa gawat.
Dio akan sangat terkejut mengetahuinya. Dia pasti sudah bisa menebak susu ibu hamil itu punya Shena. Karena yang menghuni kamar itu hanya Dio dan Shena, di rumah ini juga tidak ada wanita yang kemungkinan sedang hamil kecuali Shena.
“Dih enak banget susu cokelat buatan kamu, Shen. Kenapa ya beda kalau aku buat sendiri?”
“Kamu emang manja,”
“Hehehe nggak apa-apa ‘kan sesekali aku manja sama istri sendiri?”
“Iya nggak apa-apa, aku nggak masalah kok ladenin suami aku yang lagi manja,”
“Aku mau tidur bentar ah, kepala aku agak pusing nih,”
Shena naik ke atas tempat tidur kemudian berbaring dan diikuti oleh suaminya yang langsung mengusap kening istrinya itu.
“Kamu kecapekan kali ya?”
“Iya mungkin,”
“Ya udah istirahat deh, jangan ngapa-ngapain sulu. Aku takut kamu sakit,” ujar Dio.
Shena menganggukkan kepalanya dan coba memejamkan mata. Sekitar tiga puluh menit kemudian Shena tidur. Dio mempercepat proses tidur Shena karena mengusap kening Shena dengan lembut.
“Tidur nyenyak, Shenaku,” gumam Dio setelah itu meninggalkan satu kecupan di kening istrinya. Kemudian Dio beranjak meninggalkan kamar. Ia bosan di kamar dan tidak mengantuk, akhirnya Ia memilih untuk keluar dari kamar.
Ia ke dapur ternyata Mamanya sedang membaca buku resep, masih sama kegiatannya seperti sebelumnya. Ardina lagi senang melihat-lihat resep masakan, dan sekarang ini Ia sedang mencari referensi untuk memasak makan malam.
“Ma, ngapain?”
“Lagi iseng baca buku resep aja, kamu ngapain ke sini?”
“Mau ambil air putih, aku kayaknya mau renang aja deh,”
“Ih kok renang matahari masih agak pana sgino? Nyar sorean aja,”
“Aku bingung mau nhapain, jadi aku renang aja deh,”
“Istri kamu mana?”
“Shena tidur, Ma. Kepalanya pusing katanya barusan,”
“Ya Allah, tuh ‘kan kecapekan Shena. Tapi pas pergi sama kamu tadi Shena baik-baik aja ‘kan, Dio?”
“Aman kok, Ma,”
“Ya udah jangan diganggu deh istirahatnya. Dia sekarang tuh daya tahan tubuhnya lemah ya? Gampang sakit. Jadi kasian Mama,”
“Iya aku juga mikir gitu, Ma,”
“Makanya kamu jagain Shen, jangan smapai dia kecapekan,”
“Iya, Ma,”
“Besok dan beberapa hari ke depan kamu ‘kan nggak ngawasin Shena ya, tapi kamu tenang aja, Mama yang bakal jagain Shena,”
“Okay makasih ya, Ma,”
“Sama-sama, Sayang,”
Dio mengambil air putih dingin setelah itu Ia bawa ke kolam renang. Ia langsung membuka bajunya kemudian menceburkan dirinya di dalam kolam renang dan sibuk berenang kesana kemari seorang diri.
Ardina menghampiri anaknya di kolam renang. Ternyata Dio benar-benar melaksanakan niatnya itu. “Udah dibilang sore aja renangnya, eh malah tetap berenang, bandel banget anak itu ya,”
Gumam Ardina sambil geleng-geleng kepala melihat putra semata wayangnya itu.
*******
Kurang lebih satu jam Shena terlelap, tiba-tiba Shena terbangun karena didesak dengan keinginan buang air kecil.
Setelah keluar dari kamar mandi, Ia baru sadar kalau suaminya tidak ada di dalam kamar. Tapi Shena melihat ponsel suaminya di nakas.
“Lah, Dio kemana ya?” Gumam Shena yang merasa bingung, padahal tadi suaminya ada di sebelahnya saat Ia akan tidur, tau-tau sekarang sudah pergi entah kemana.
Shena meraih ponsel suaminya yang tiba-tiba berkedip menandakan ada pesan masuk. Ternyata ada pesan dari teman kampusnya Dio. Shena tidak ingin membukanya karena tidak penasaran juga. Justru Ia malah salah fokus dengan wallpaper ponsel suaminya yang ternyata tidak dikunci.
“Ya ampun, wallpaper Dio foto aku. Sejak kapan dia pakai foto aku ya? Aku mau tanya langsung sama Dio ah,” ujar Shena seraya bergegas keluar dari kamar dengan membawa ponsel suaminya. Kalau ada bukti, Dio yang kemungkinan akan mengelak karena gengsi tentunya tidak akan bisa mengelak lagi karena sudah Ia berikan bukti.
“Hihi dia bakal bilang apa ya? Kayaknya nggak ngaku kalau aku nggak kasih buktinya,” batin Shena sambil senyum-senyum sendiri menuruni anak tangga.
Shena mengintip dari pintu masuk dapur barangkali suaminya ada di sana tapi ternyata cuma ada ibu mertuanya saja. Akhirnya Ia ke teras rumah barangkali suaminya di sana tapi ternyata tidak ada, Ia datang ke taman tidak ada juga, akhirnya Ia ke kolam renang barangkali saja suaminya di sana.
Ketika melihat suaminya ada di kolam renang sendirian, Shena tersenyum. Shena langsung mendekati kolam dan memanggil suaminya itu. Dio langsung berhenti ketika mendengar panggilan seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah istrinya. Ia sudah hafal suara istrinya itu.
“Eh kamu kok udah bangun?” Tanya Dio seraya menghampiri istrinya yang sedang berdiri di teli kolam.
“Iya aku kebangun karena aku pengen pipis,” jawab Shena.
“Oalah, terus udah pipis?”
“Udahlah masa ditahan-tahan,”
“Kamu kenapa pegang telpon aku? Abis telepon siapa, Shen?”
“Oh ini, aku mau tanya sesuatu sama kamu,”
__ADS_1