Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 51


__ADS_3

-Dio, Shena jatuh dari kamar mandi. Tapi kondisinya baik-baik aja Alhamdulillah-


Dio langsung membelalakkan kedua matanya membaca pesan yang baru saja Ia terima dari Ardina, mamanya.


“Astaga, Shena jatuh dari kamar mandi?”


“Heh seriusan lo?”


“Iya, gue balik duluan, Yan. Nih gue nitip uang buat bayar bill. Sorry ya gue balik dulu,”


“Okay hati-hati, Bro. Semoga keadaan bini lo nggak apa-apa ya,”


“Aamiin, thanks doanya,”


Setelah meletakkan uang di atas meja, Dio langsung bergegas cepat meninggalkan kafe sekolah. Ryan yang melihat kepanikan di wajah Dio, Ryan tersenyum.


“Khawatir banget sama istrinya, yang kayak gitu belum cinta? Yakin? Gue nggak yakin,”


******


“Kamu istirahat ya. Mama uah kasih tau Dio soal kamu. Ya biar dia namti sampai rumah nggak kaget,”


“Duh kenapa dikasih tau, Ma? Takutnya ganggu Dio yang lagi sibuk ngampus,”


“Nggak apa-apa lah, Nak. Dio ‘kan suami kamu ya wajar aja kalau Dio tau keadaan kamu,”


Setelah membantu Shena untuk berbaring di atas ranjang dnegan nyaman dan mengompres kaki Shena, Ardina langsung memberitahu putranya bahwa Shena terjatuh di kamar mandi.


Jadi saat Ardina ingin melihat keadaan Shena yang sedang kurang sehat. Ardina mhawatir tak mendapati menantunya di tempat tidur, tapi mendengar suara gemercik air Ia langsung menghela napas lega. Ternyata menantunya itu ada di dalam kamar mandi. Ia berniat untuk menunggu Shena keluar dari kamar mandi untuk menanyakan kondisinya.


Tiba-tiba Ia dikejutkan dengan suara sesuatu terjatuh dari dalam kamar mandi diiringi dengan teriakan Shena.


Tanpa menunggu waktu lama Ardina langsung menghampiri menantunya itu di kamar mandi dan beruntungnya pintu tidak dikunci oleh Shena.


Melihat Shena terjatuh, Ardina panik sekali. Dan Ia buru-buru memanggil asisten rumah tangga untuk membantunya membawa Shena ke tempat tidur karena Ardina takut malah tidak bisa membopong Shena sendirian.


Setelah membaringkan Shena, Ardina langsung meminta tolong Bibi untuk mengambil air hangat guna mengompres kaki Shena.


Ardina tidak akan keluar dari kamar sebelum anaknya itu pulang. Karena Ia tahu Shena akan membutuhkan sesuatu dan Shena perlu dibantu, tidak bisa melakukannya sendiri disaat kakinya sedang tidak baik-baik saja.


******


Dio tiba di rumah dan langsung buru-buru masuk ke dalam. Ia bertemu dengan Bibi yang membukakan pintu untuknya.


“Bi, Shena jatuh ya?”


“Iya, Mas Dio. Tadi jatuh di kamar mandi, tapi udah dibaringin di tempat tidur sama dikompres sama Ibu,”


“Okay makasih, Bi,”


Dio bergegas cepat ke kamarnya di lantai dua. Dio kelihatan benar-benar khawatir dengan kondisi istrinya itu sampai cepat sekali menaiki tangga.


Dio langung membuka pintu kamarnya yang tidak dikunci. Di atas tempat tidur, Ia melihat mamanya bersama Shena.


“Lo jatuh di kamar mandi? Kok bisa, Shen?” Tanya Dio pada istrinya yang berbaring di tempat tidur dengan wajah lesu. Dio mengamati kaki istrinya dan juga menyentuh dengan lembut.


“Ke rumah sakit aja ayo. Biar diperiksa kaki lo,”


“Udah nggak apa-apa ini,”


“Mama kompres sih barusan, ya semoga aja membaik. Tapi kalau malah nggak membaik, kita ke rumah sakit aja ya, Shen. Benar kata Dio, biar kaki kamu diperiksa,”


“Nggak usah, Ma. Aku baik-baik aka kok. Ini bakal mendingan,”


“Lagian kenaoa bisa jatuh? Emang lo lagi ngapain? Nyuci? Hmm?”


“Nggak, aku emang mau keluar dari kamar mandi habis buang air kecil terus tiba-tiba kepleset dan jatuh deh, untungnya ada Mama. Jadi Mama langsung nolongin aku , dan Bibi juga nolong aku,”


“Astaga, makanya hati-hati dong, Shen. Lo jangan ceroboh gitu. Cuma kaki aja yang sakit? Kepala sama yang lain-lain ada yang sakit nggak?”


“Nggak ada, cuma kaki aku aja kayak terkilir gitu,”


“Makanya hati-hati, jangan ceroboh. Akhirnya gini ‘kan. Panik banget gue pas baca chat Mama,”


“Ya udahlah jangan dimarahin istri kamu. Namanya juga musibah, kita ‘kan nggak tau kapan datangnya musibah. Shena juga kalau bisa milih, dia nggak mau jatuh, Dio. Udah jangan dimarahin lagi Shena nya,”


“Ma, aku nggak marahin, dia emang kadang suka gitu ‘kan. Ceroboh, waktu itu aja pernah hampir jatuh di tangga, untung langsung aku tarik pinggangnya. Kalau nggak, udah gelinding tuh di tangga,”


“Maaf ya, aku emang suka ngerepotin,”


“Tuh ‘kan, ngomongnya udah beda konteks males gue,” ujar Dio sambil melepaskan jaket yang Ia kenakan. Ia sampai lupa menanggalkan jaketnya itu.


“Kok masih ya ngomongnya lo gue kayak ke teman? Elang Shena itu sebenarnya teman atau jstri sih? Ayo jujur sama Mama,”


Dio terdiam, Ia baru sadar sedari tadi bicara dengan Shena masih seperti yang lalu, menggunakan lo dan gue.


“Dia istri aku lah, Ma. ‘Kan aku nikah Shena di depan Mama juga,”


“Ya terus kenapa ngobrolnya kayak ke teman ya?”


“Maklum, Ma. Aku belum biasa,”


“Ya biasain dong mulai sekarang,”


“Iya-iya,”


“Orang lain yang dengar kamu ngobrol lo gue ngiranya kamu ngomong ke teman tau nggak, bukan ke istri,”


“Padahal nggak apa-apa juga lo gue biar makin akrab gitu kesannya,”


“Dih makin akrab-makin akrab. Mau tanya, akrab darimana?! Orang kayak ngobrols ama teman gitu kok,”


“Ya ‘kan istri itu teman juga, Ma,”


“Tapi harus ada pembeda dong. Mas ake teman cewek lo gue ke teman cowok lo gue, ke sitri juga gitu. Ya berarti nggak ada istimewanya tuh istri kamu,”


“Iya-iya aku minta maaf, Mama Cantik,”


Ardina mendengus ketika anaknya membujuk dnegan manis seperti itu. Shena terkekeh menyaksikan Dio sedang berusaha membujuk Mamanya yang sedang kesal, alias tidak terima ketika Dio belum juga terbiasa mengubah panggilannya.


“Ya udah kamu temenin Shena tuh, mama keluar diku ya,”


“Iya, makaish banyak udah bantu Shena ya, Ma. Emang Mama tuh terbaik banget deh. Dayang banget sama mantunya. Makasih ya, Ma,”


“Iyalah, Mama sayang sama mantu, apalagi Shena tuh mantu satu-satunya, ya udah pasti Mama sayang banget,”

__ADS_1


Ardina bergegas keluar dari kamar anak dan menantunya itu. Setelah Ardina tak ada lagi, Dio langsung berkacak pinggang menatap Shena yang berbaring di tempat tidur.


“Lo nggak boleh kayak gini lagi ya. Harus lebih hati-hati. Gue nggak mau lo kenapa-napa, Shen.”


Tadinya Shena sudah takut dimarahi oleh suaminya tapi ternyata Dio hanya berpesan supaya Ia lebih hati-hari sehingga kejadian ini tidak akan terulang lagi, dan Dio terang-terangan mengatakan bahwa Ia merasa khawatir.


“Iya maaf aku udah bikin kamu khawatir. Aku juga sebenarnya nggak mau jatuh, tapi yang namanya musibah ‘kan nggak ada yang tau, Dio. Aku nggak bisa nolak juga,”


“Pokonya lo harus lebih hati-hati, jaga diri yang bener! Jangan teledor jadi orang tuh,”


“Iya,”


“Jangan iya-iya doang lo,”


“Ya terus aku harus jawab apa?”


“Pokoknya gue nggak mau ya dibuat kaget lagi kayak tadi. Gue lagi di kafe kampus sama Ryan tiba-tiba dapat chat dari mama kalau lo jatuh. Gue panik, sampai buru-buru pulang,”


“Lain kali jangan gitu, bahaya untuk keselamatan kamu,”


“Ya iya Mama juga udah bilang kalau keadaan lo baik-baik aja tapi ‘kan gue tetap panik lah,”


“Kamu khawatir sama aku?” Tanya Shena pada suaminya yang langsung geleng-geleng kepala.


“Bisa-bisanya lo masih nanya kayak gitu? Lo nggak liat dari muka gue, Shen?”


Shena terkekeh, Ia bertanya hanya untuk memastikan. Lebih baik dipastikan daulu daripada gerlanjur senang tapi tidak tahunya Dio tidak benar-benar mengkhawatirkan keadaannya.


“Makasih ya udah khawatir sama aku, tapi aku ‘kan nggak apa-apa. Jadi kamu tenang aja ya,”


“Ya udah gue mau bersih-bersih dilu deh, mau ganti baju. Lo ada perlu sesuatu nggak? Biar gue ambilin dulu nih sebelum gue mandi,”


“Nggak ada, makasih ya,”


“Ya udah gue mandi dulu bentar,”


Setelah Dio masuk ke dalam kamar mandi, Dhena tersenyum selebar mungkin. Ia bahagia sekali dikhawatirkan oleh suaminya. Kali ini Dio benar-bsnar tulus mengkhawatirkan keadaannya. Dio rela meninggalkan kafe kampus cepat-cepat bergegas pulang sulaya bisa segera melihat keadaannya.


“Dil udah beda banget ya. Dulu waktu aku sakit, bahkan dirawat di rumah sakit, Dio emang khawatir sih kelistannya, tapi kali ini khawatirnya beda, benar-benar bisa sampai ke aku. Jadi aku senang dikhawatirin sama dia. Tanpa diminta sama orangtuanya, Dio datang sendiri, cepat-cepat lagi. Waktu itu pernah Dio sampai ditelponin berkali-kali sama Mama Papa karena aku sakit tapi Dio nggak pernah mau angkat. Duh kalau ingat momen itu hati aku masih perih aja,” batin Shena.


Shena memejamkan mata dan menutupnya dengan lipatan lengan kanannya. Ketika mendengar pintu kamar mandi dibuka, dan Dio keluar dari sana dengan rambutnya yang kering tapi badannya mengkilap karena air. Dio mengambil gsju di lemari kemudian Ia mengenakannya di kamar. Shena terkejut ketika suaminya tanpa malu mengenakan pakaian bukan di kamar mandi atau di walk in closet mereka.


“Ih Dio kok pake baju di sini sih? Nggak di kamar mandi aja,”


“Ya biarin orang sama aja kok,”


“Ya beda lah, di sini ada aku, kaget aku tiba-tiba kamu buka handuk,”


“Nggak apa-apa lah, Shen. Biar biasa, jadi nggak kagok,”


“Hih ngomong apa sih,”


Dio tertawa, setelah Ia mengenakan pakaiannya Ia langsung menutar badannya menatap Shena.


“Kan nggak gue pertontonkan langsung di delan mata lo, masih mending gue belakangin lo posisinya. Coba kalau gue berhadapan sama lo, reaksi lo bskal gimana? Kayaknya teriak deh, kayak ketemu hantu,”


“Iya emang hantu,”


“Maksud lo burung hantu?” Tanya Dio dengan senyum usilnya. Shena berdecak pelan dan membuang muka.


Dio menjemur handuk bekasnya mandi setelah itu Ia sisir rambutnya di depan cermin. Ia menatap Shena yang juga menatapnya melakui pantulan cermin.


“Kamu kenapa nggak keramas?”


“Biar lebih cepat,”


“Kamu keramas nggak keramas perasaan sama aja deh, tetap cepat juga,”


“Ya kalau nggak keramas ‘kan lebih cepat jadinya, Shen,”


“Emang kenapa mau cepat selesai?” Tanya Shena yang penasaran dengan alasan suaminya ingin cepat-cepat selesai mandi.


“Ya takutnya lo perlu gue,”


“Ah bisa aja deh. So sweet banget sih kamu,”


“So sweet darimana sih? Gue biasa aja,”


“So sweet tau. Kamu ‘kan jarang banget perhatian gitu. Jadi aku senang banget rasanya,”


Dio selesai menyisir kemudian Ia berdiri di sebelah tempat tidur menatap Shena. “Lo udah mendingan sakitnya?”


“Udah sembuh,”


“Secepat itu? Berarti besok udah bisa kuliah?”


“Udah,” jawab Shena dengan antusias seolah melupakan keadaan kakinya.


“Oh tapi gue nggak bakalan biarin itu terjadi,”


“Lho, emang kenapa?”


“Ya karena kaki lo lagi sakit. Lo lupa jalau abis jatuh di kamar mandi? Kaki lo aja lagi merah begitu,”


“Tapi ini nggak apa-apa kok,”


“Terkilir itu,”


“Nggak ah, aku baik-baik aja deh pasti. Kayaknya nggak sampai terkilir,”


“Dih sok tau. Lo bukan dokter yang bisa diagnosis,”


Shena langsung melipat bibirnya ke dalam. Ia salah sudah memancing perdebatan dengan suaminya. Ia merasa kalah dan itu yang membuatnya langsung diam. Ia hanya ingin meyakinkan Dio bahwa dirinya baik-baik saja tapi Dio tidak semudah itu percaya.


“Lo mau makan apa?”


“Aku nggak mau makan, karena nggak lapar,”


“Jajan gitu, martabak misalnya, atau—brownies,”


Shena diam sebentar, mendengar dua makanan itu disebut, Ia mulai bimbang dengan kata-kata yang Ia lontarkan barusan ‘Aku nggak mau makan’ sementara martabak dan brownies berputar-putar di kepalanya.


“Jadi mau nggak nih? Biar gue beli,”


“Kamu mau beli langsung atau lewat online aja,”

__ADS_1


“Ya online aja mendingan. Jadi nggak ribet beli sendiri,”


“Kita beli langsung aja yuk,”


“Hah? Kita?”


Shena langsung menganggukkan kepalanya. Dio tidak yakin dengan ucapan Shena makanya Ia bertanya untuk memastikan.


“Maksud lo, kita oergi beli martabak berdua gitu?”


“Iya kamu benar,”


“Astaga, nggak mau lah gue. Lagian lo mikir dong, Shen. Kaki lo aja lagi sakit gitu. Jangan aneh-aneh lah,”


“Tapi aku pengen,”


“Shena, denger ya, kalau kaki lo nggak lagi sakit ya okay gue nggak masalah pergi ngajak lo beli mabratabk. Tapi kaki lo ‘kan lagi sakit, jangan maksain deh. Jangan cari gara-gara,”


Dio tidak habis pikir dengan istrinya itu. Bisa dengan mudah mengajak Ia untuk heli kartabak disaat kakinya sedangs akit setelah terjatuh di kamar mandi tadi.


“Lo sendiri yang ngerasain sakitnya, jadi jangan aneh-aneh ya! Pokoknya beli online aja. Jadi lo mau apa? Martabak atau brownies?”


“Mau duanya-duanya,”


“Beneran?”


“Nggak deh, aku bercanda. Cukup satu aja. Aku mau martabak,” ujar Shena pada suaminya yang langsung mengangguk.


Dio meraih ponselnya untuk memesan martabak di aplikasi online. “Mau yang mana? Manis atau—“


“Aku mau manis, kamu mau apa?”


“Gue sama aja kayak lo. Keju, cokelat, atau campur aja?”


“Keju aja nggak usah campur kacang sama cokelat,”


“Okay gue pesan ya,”


“Iya makasih, Dio,”


“Iya,”


Dio tidak hanya memesan satu porsi karena untuk penghuni rumahnya yang lain juga, dan barangkali Shena kurang kalau cuma beli satu porsi untuk mereka berdua.


“Tunggu bentar ya udah gue pesan,” ujar Dio seraya meletakkan ponselnya di atas nakas. Dan Ia akan bergegas keluar dari kamar namun Shena menahan lengan Dio.


“Kamu mau kemana, Dio?”


“Gue mau bikin susu hangat, lo mau juga ‘kan? Ya buat teman makan martabak ntar,“


“Aku mau,”


“Okay gue buatin,”


Perhatiannya Dio yang seperti inilah yang diharapkan oleh Shena selama pernikahan mereka berlangsung. Akhirnya Ia bisa merasakan ditanya mau makan apa? Mau minum apa? Diingatkan sukaya hati-hati dalam menjaga diri. Perhatiannya Dio sangat membuat Shena merasa bahagia.


“Makasih ya,”


“Lo nggak perlu apa-apa ‘kan?”


“Nggak kok,”


“Ya udah gue tinggal bentar,”


Shena menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dio keluar dari kamar menuju dapur untuk membuat minuman hangat yang akan menjadi teman makan martabak nanti.


“Gimana Shena? Istirahat dia?”


Ketika melewati ruang makan, Dio bertemu dengan mamanya. Dan Ia langsung diberikan pertanyaan oleh wanita yang melahirkannya itu tentang Shena tentu saja.


“Orang baru juga ketemu Shena, yang ditanyain udah Shena aja,”


“Ya biarin Mama ‘kan khawatir,”


“Dia ada di tempat tidur, Ma. Ini aku mau buat susu hangat,”


“Duh perhatian banget,”


“Biasa aja,”


“Dih biasa aja darimana? Kamu tuh ‘kan jarang perhatian sama Shena. Jangan pura-pura lupa ingatan deh. Sekarang Alhamdulillah udah sadar ya? semoga gini terus ya,”


Dio ke dapur membuat susu dua gelas untuknya dan juga untuk Shena setelah itu Ia abwa ke meja makan.


“Mama mau juga nggak? Biar aku bikinin. Sengaja aku belum bikin takut Mama nggak mau,”


“Nggak, Sayang. Mama nggak mau,”


“Ya udah kalau gitu aku bawa susunya ke kamar dulu ya, Ma. Ntar aku turun lagi ngambil martabak,”


“Oh kamu pesan maratabak? Ya udah biar Mama yang antar ke kamar nanti, kamu nggak udah turun-turun lagi, jagain aja Shena di kamar takut dia butuh apa-apa ‘kan harus kamu yang bantu,”


“Nggak apa-apa orang cuma bentaran aja kok, Ka. ‘Kan cuma ngambil aja. Sekalian ngambil piringnya juga. Udah biar aku aja ya, Ma. Sekarang aku ke kamar dulu antar susu,” ujar Dio sebelum akhirnya Ia kelangkahkan kakinya ke kamar dengan membawa dua gelas susu untuknya dan Shena.


Sampai di kamar, Ia melihat Shena sudah duduk, tidak berbaring lagi. Dio langsung curiga istrinya mau sibuk sendiri.


“Mau ngapain lagi? Kakinya udah mau jalan-jalan? Kok lo susah banget sih disuruh istirahat disuruh diam?”


“Aku mau minum kok,”


Dio keletakkan susu yang Ia buat di atas nakas kemudian Ia mengambilkan air putih untuk Shena. Supaya Shena tidak perlu memanjangkan tangannya untuk meraih gelas.


“Nih minumnya,”


“Jangan dipindah jauh-jauh ya gelasnya,”


“Nggak kok, gue taruh aja di nakas bareng susu nih,”


Shena menyeruput air minum setelah itu Ia ingin meraih remot televisi di nakas satunya yaitu sebelah kiri, dekat dengan posisi kepala suaminya kalau tidur.


“Minta tolong dong, Shen. Jangan apa-apa sendiri,”


“Hehehe makasih,” ujar Shena setelah Dio menyerahkan remot televisi kepadanya.


“Iya sama-sama. Minta tolong dong, jangan sungkan. Lo tuh punya gue yang bisa lo mintain tolong,”

__ADS_1


__ADS_2