Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 50


__ADS_3

“Lo beneran hamil nggak sih?”


“Hah? Kok tiba-tiba nanya gitu?”


“Ya abisnya gue kepikiran aja sama omongan Mama. Kenapa Mama punya feeling lo hamil?”


“Ya aku nggak tau, lagian itu ‘kan cuma feeling Mama belum tentu kenyataan. Mama juga udah bilang ‘kan ada kemungkinan aku kram perut juga karena mau datang bulan,” ujar Shena.


“Ya kalau lo beneran hamil gimana?”


“Nggak gimana-gimana. Nggak kepikiran juga, dan nggak tau harus ngapain selain terima karena itu ‘kan anugrah. Kenapa? Kamu nggak mau punya anak ya?”


“Ya bukan gitu tapi ‘kan terlalu cepat nggak sih? Gue senang-senang aja cuma—nanti gue bingung harus ngapain,”


“Ya udah lah nggak usah dipikirin dulu sekarang. Mending kamu berangkat ke kampus sekarang, abis itu mau langsung ke kantor ‘kan? Daripada telat gara-gara bahas yang nggak begitu penting karena belum tentu feeling Mama benar ‘kan,”


Mendadak Shena jadi sedih. Dio boleh merasa belum siap tapi tidak perlu ketus seperti ini bicara kepadanya. Padahal Ia belum juga dipatikan hamil. Baru sebatas pendapat Ardina saja.


“Ya ini penting juga lah, Shen,”


“Iya-iya ini penting, tapi ‘kan ini cuma karena aku mau datang bulan belum tentu hamil. Lagian kamu tuh kenapa sih? Kayak nggak senang banget kalau misalnya kita punya anak,”


“Bukan nggak senang tapi terlalu kecepatan ‘kan, menurut lo gimana?”


“Iya, tapi kalau Allah udah berkehendak masa iya kita harus nolak. Kamu jangan ngomong kayak tadi dong, itu nyakitin hati perempuan lho. Lagian kalaupun aku ditakdirin hamil dalam waktu dekat, aku yang merasa belum siap bakal belajar untuk siap kok. Karena banyak ibu di luar sana yang masih bingung jadi ibu itu gimana sih? Cara jalanin tugas atau kewajiban istri dengan sebaik mungkin juga masih bingung. Tapi akhirnya mereka berhasil ‘kan jadi ibu-ibu hebat yang keturunannya nggak kalah hebat,”


“Ya udah deh ntar kita ngobrol lagi sekarang aku berangkat dulu. Mau ngomong biasain pakai aku kamu soalnya takut kedengeran Mama lagi. Namti Mama ngomong panggilan lo gue kurang enak didengar lah, apa lah, males banget gue dengar Mama ngomel,”


“Orangtua yang baik itu ngasih tau anaknya untuk berbuat atau bersikap baik juga. Ya emang benar kata Mama, kalau lo gue itu lebih cenderung pantas dipakai untuk teman atau sahabat aja. Mama cuma nggak mau kamu kayak anggap aku ini sama dengan teman-teman kamu,”


“Ya udah gue bakal biasain. Eh Aku maksudnya,”


Shena terlekeh melihat Dio yang masih salah-salah. Dio sedang berusaha dengan giat untuk terbiasa bicara menggunakan kata aku dan kamu ketika bicara dengan sang istri. Supaya ada pembeda dari teman-temannya.


“Berangkat dulu ya,”


Shena menganggukkan kepalanya dan mencium tangan suaminya itu sambil berpesan “Hati-hati ya, Dio,”


“Okay, kamu juga baik-baik di rumah ya. Istirahat lo! Jangan—eh istirahat kamu! Jangan kebanyakan aktifitas,”


“Sip aku bakal banyak-banyak istirahat,”


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Dio keluar dari kamar meninggalkan istrinya. Di lantai bawah Dio bertemu dengan Ardina yang sedang melepas Sakti berangkat bekerja.


“Aku juga mau berangkat nih, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, hati-hati,”


“Ke kampus ‘kan ini?” Tanya Sakti pada anaknya yang langsung menganggukkan kepala.


“Iya nanti baru ke kantor, Pa,”


“Ya udah semangat deh belajarnya, semangat juga cari uang biar bisa ngasih yang terbaik buat istri, sama nanti kalau punya anak ya buat anak juga,”


******


“Shena, lo kenapa nggak masuk kampus?”

__ADS_1


“Lagi kurang enak badan nih, Der,”


Shena membuka ponselnya disela mencuci baju. Ia tetap melakukan tugasnya sehari-hari meskipun badannya sedang kurang sehat. Karena Ia tidak nyaman melihat ada cucian kalau biasanya dicuci setelah dari kampus kali ini berhubung Ia tidak ke kampus jadi Ia cuci begitu Dio berangkat. Ketika Ia mengecek ponsel tiba-tiba ada panggilan masuk dari temannya, Dera.


“Oh gitu, semoga cepat sembuh ya,”


“Aamiin, makasih doanya,”


“Jangan sakit-sakit dong, nggak enak ah nggak ada lo,”


“Hahah iya nanti kalau udah sembuh langsung kuliah kok, tenang aja,”


“Ntar gue ke rumah boleh nggak?“


“Boleh kok,”


“Tapi boleh sama suami lo?”


“Ya ampun, masa nggak boleh? Ya boleh lah,”


“Heheh takutnya nggak boleh gitu, soalnya lo maish belum pindah ke rumah sendiri ya?”


“Belum, aku juga belum mau sih. Masih betah di sini. Soalnya kalau tinggal sendiri tanpa orangtua tuh aku udah bayangin susah banget. Aku tinggal sama Mama Papaku sendiri udah biasa, terus harus biasain diri lagi nanti tinggal tanpa orangtua Dio dan itu nggak gampang juga pasti. Karena mereka baik banget sama aku. Aku benar-benar dianggap anak kandung mereka sendiri,”


“Ya bagus dong kalau mereka baik dan anggap lo kayak anak kandung sendiri, ‘kan menang itu keinginan para perempuan di luar sana yang udah pada nikah. Nggak dikit malah nggak betah di rumah mertua, sementara lo betah. Berarti emang mereka sebaik itu. Paling ya lo dibolehin keluar dari situ kalau udah punya anak,”


Shena hanya terkekeh menanggapi kalimat terkahir Dera itu. Ia belum tahu juga kapan punya anak, dan apa benar akan dilepas ketika sudah punya anak supaya hidup mandirinya setelah hadir anak saja.


“Emang nggak enak sih tinggal berdua doang kalau udah biasa sama orangtua atau mertua yang baik, beda kalau mereka rese ya,”


“Sama rumahnya terlalu luas sih menurut aku. Jadi makin berasa sepinya,”


Shena baru diajak sekali ke rumah masa depan Ia dan Dio. Ia ingat rumah itu terlalu luaa untuk mereka yang hanya tinggal berdua sepasang suami istri dan mungkin akan ada dua asisten rumah tangga. Itu masih terasa sekali sepinya.


“Iya, Der,”


Sambungan telepon mereka berakhir. Setelah itu Shena kembali sibuk dengan cuciannya. Setelah mencuci Ia langsung menjemurnya dan tak sengaja dilihat oleh asisten rumah tangga yang hendak menjemput kain-kain lap.


“Ya ampun, Mba Shena. Kok nyuci? Ntar kalau ketauan Mas Dio sama Bu Dina dimarahin lho. Udah atuh, biar saya aja,”


Shena tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa, Bi. Aku udah mendingan banget kok badannya,”


“Jangan gitu, Mba. Takut nanti jadinya sakit Mba malah parah,”


“Nggak kok, Bi. Aman-aman, Bibi tenang aja ya,”


“Udah buar saya aja yang jemur, Mba,”


“Nggak—“


“Mba, biar saya aja. Udah Mba istirahat,”


Wadah untuk menyimpan cucian sudah direbut oleh Bibi, akhirnya Shena terkekeh. “Ya udah kalau gitu, makasih banyak Bibi udah bantu aku,”


“Iya sama-sama, Mba. Udah Mba istirahat aja ya jangan capek-capek. Nanti takutnya malah makin sakit,”


“Iya, Bi, ini aku istirahat kok,”


******


“Kafe dulu ah. Mau minum hot matcha,”

__ADS_1


Alih-alih ke area parkir mengambil mobilnya, Dio melangkah ke kafe kampus. Sebelum ke kantor, Ia perlu secangkir minuman panas yang membuatnya semangat, dan merasa tidak mengantuk.


“Tadi di kelas ngantuknya kayak apaan tau, giliran keluar dari kelas buset mata gue langsung melek,”


Dio tidak sendiri, melainkan bersama seorang temannya, Ryan. Mereka berdua keluar dari kelas bersamaan dan sama-sama mau singgah ke kafe dulu sebelum meninggalkan kampus.


“Iya sama, gue juga ngantuk tadi. Makanya mau minum,”


“Minum apaan dulu nih?”


“Ya minum hot matcha lah, geblek. Minum apaan emang?”


“Hahahah kirain minum yang lain. Eh tapi boleh ntar malem yuk,”


“Ah gue malas. Sekarang minum dikit aja rasanya udah mau terbang, anjir,”


“Hahaha,”


“Mungkin karena udah jarang-jarang banget kali,“


“Kenapa emang? Dilarang istri ke bar gitu ya?”


“Nggak sih, dia nggak pernah larang, maish bawel nyokap bokap gue. Kalau ketauan, wah abis gue. Kalau Shena mah nggak,”


“Tapi dia keliatan nggak sukanya ya?”


“Oh kalau itu bener. Dia ngeliat gue mabok tuh ilfeel langsung, cuma nggak pernah bawel gitu lho. Nggak kayak nyokap bokap gue langsung marah-marah kalau gue pulang malam abis party, tapi itu ‘kan dulu, dan nggak sering juga sebenarnya cuma emang mereka nggak senang aja kalau gue ini party,”


“Lo terbilang anak baik-baik sih sebenarnya, jarang ah party,”


“Ya makanya itu, sekalinya party dimarahin sampai rumah, karena guenya minum, kalau gue nggak kinum mungkin gue nggak dimarahin. Itu kenakalan zaman sebelum sama Shena. Setelah sama dia, gue kayaknya baru sekali deh minum lagi,”


Mereka tiba di kafe dan langsung memilih meja. Setelah memesan, mereka lanjut mengobrol lagi.


“Kenapa tuh? Setelah punya istrinkayak ada penbatas ya? Mau ngapa-ngapain tuh ngerasa takut salah, takut ini, takut itu, bener nggak?”


Dio menganggukkan kepalanya. Meskipun Ia belum mencintai Shena tapi mau berbuat sesuatu itu jujur saja selalu memikirkan ujungnya akan ke Shena.


“Mau macam-macam di luar, gue langsung mikir ‘oh iya ntar Syena gimana ya? Ntar dia masalah nggak nih’ gue jadi kayak gitu anjir setelah sama dia. Aneh banget, padahal gue sempat nggak suka ada dia awal-awal,”


“Hahaha itu tandanya lo cinta sama dia tapi lo nggak nyadar mungkin,”


“Gue ‘kan dijodohin,”


“Nah iya, awalnya emang nggak cinta, tapi nggak lama dari situ hati lo diam-diam udah naruh perasaan lebih buat dia tanpa lo sadar. Makanya lo selaku mikirin dia,”


“Eh gue tuh kesal sama dia waktu itu karena kita dijodohin! Dan gue ngira dia yang nyuruh nyokap supaya jodohin gue sama dia, dan bilang ke mantan gue kalau gue bakal nikah sama dia. Eh nggak taunya emang mantan gue kurang ajar juga. Bener kata nyokap, mantan gue itu ada cowok lain,”


“Anjir, sakit banget sih jadi Shena. Ternyata gitu ya cobaan pernikahan lo,”


“Sekarang udah baik-baik aja sih sebenarnya,”


“Masih kesal sama Shena?”


“Nggak, gue malah udah mulai bisa nerima dia,”


“Terus udah jujur soal perasaan?”


“Perasaan apa?”


“Ya cinta lah, geblek,”

__ADS_1


“Ya orang gue belum—“


“Ah itu mah udah lama gue yakin. Buktinya lo mikirin dia mulu. Mau ngelakuin apa-apa selalu ingatnya Shena. Ya itu tandanya lo udah cinta sama dia lah,”


__ADS_2