Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 49


__ADS_3

“Kamu hamil kali, Sayang,”


“Hmm? Hamil?”


“Iya hamil, makanya perut kram sampai segitunya, mual nggak?”


“Nggak, Ma,”


“Apaan sih, Ma? Hamil? Mana mungkin, orang—“


“Heh nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini! Apalagi kamu sama Shena itu udah nikah! Ya mungkin banget lah. Selagi kalian udah—maaf ya kalau Mama kotor ngomongnya—selagi kalian udah bercocok tanam ya pasti bisa hamil. Ngaco aja kamu kalau ngomong!”


Shena mendengus kesal mendengar ucapan suaminya. Benar apa yang dikatakan pleh Ardina. Ucapan Dio seperti meragukan kalau Ia bisa saja mengandung.


“Apa dia lupa ya kalau dia tuh udah ngapa-ngapain aku. Ya wajar lah kalau aku misalnya hamil. Tapi aku yakin ini nggak,“ batin Shena.


Pagi ini Shena mengeluh perutnya kram. Jadi Ia tidak berangkat kuliah bersama Dio. Tapi Shena tetap ingin sarapan bersama suaminya itu.


“Pantesan Mama liat kamu tuh kok lesu banget pagi ini. Ternyata lagi kurang enak badan,”

__ADS_1


“Ke rumah sakit, Dio. Antar Shena ke rumah sakit,” ujar Sakti apda putranya yang sedang menikmati sarapan berupa nasi gorengd an telur dadar itu.


“Pa, nggak usah. Aku nggak apa-apa kok, beneran deh. Cuma karena kecapekan aja kayaknya,”


“Atau mau datang bulan kali, Sayang,”


“Nah iya itu, Ma. Benar kata Mama, mungkin karena mau kedatangan tamu aja makanya perut kram banget,”


Dio menatap Shena dalam diam. Walaupun lagi sakit, Shena tetap berusaha terlihat baik-baik saja. Sampai Ia pun tidak kenyangka tadi kalau Shena tidak kuliah karena perutnya kram. Karena Shena tetap bangun pagi seperti biasa, memasak, menyiapkan semua keperluannya. Tidak ada tanda-tanda kalau kondisinya sedang tidak baik-baik saja.


“Lo biasanya kayak gitu nggak?”


Dio langsung gugup begitu mendapat teguran dari Ardina. Ia kelepasan, karena terbiasa seperti itu sementara di depan mama dan papanya, seharusnya lebih halus.


“Jarang banget aku ngerasain kram yang berasa banget kayak gini kalau mau kedatangan tamu,” jawab Shena.


“Lo gue itu kalau ke teman, masa kamu anggap istri kamu sama kayak teman sih?”


“Ya nggak apa-apa lah, Ma. Yang penting nggak kasar,”

__ADS_1


“Tapi aku kamu lah yang lebih pantas, dan enak didengar, nggak kayak ngomong sama teman. Masa lo gue sih,”


“Ya udah-ya udah aku kamu,”


Dio menyerah, tidak ada akan menang kalau adu sebat dengan Mamanya. Karena punya seribu satu cara untuk menang. Apalagi di sini Ia hanya dituntut untuk mengubah panggilan aja dan itu tidak sulit jadi sudah seharusnya Ia setujui.


“Kamu biasanya minum obat nggak kalau lagi sakit gitu?”


“Nggak, aku nggak pernah minum obat apapun kalau lagi datang bulan. Selama ini aku tetap bisa berkegiatan kalau kedatangan tamu jadi ya nggak mau minum obat,”


“Kalau kramnya udah keterlaluan ya minum obat aja tapi konsul dulu sama dokter, paham nggak lo—eh kamu?”


Shena tersenyum karena suaminya hampir mengulangi panggilan sebelumnya dimana sang mama menuntut untuk diganti.


“Hamil kali ya, feeling Mama gitu deh. Aamiin, ayo kita aamiin kan sama-sama doa Mama ini,”


“Aamiin,”


Hanya Sakti yang mengamini sementara Shena dan Dio saling menatap satu sama lain. Shena menunggu reaksi Dio sebenarnya. Kalau Dio mengamini dengan wajah sumringah, Ia akan mengikuti. Tapi yang Ia lihat sekarang, Dio datar-datar saja.

__ADS_1


“Kayaknya Dio nggak nau punya anak dari aku deh,”


__ADS_2