
“Pulang liburan, kamu kok lemas sih? Ada masalah apa?”
“Nggak ada masalah apa-apa, aku cuma kecewa gagal ajak kamu ke luar megeri rencabanya kau ke Itali karena Mama udah keburu siapin liburan ke Bali. Abis aku sama Papa pulang dari Lombok aja ya, Shen,”
“Ya ampun kamu maish bahas itu aja sih. Jujur aku tuh nggak apa-apa ke Bali, malah senang banget tau, yang penting liburan aku tuh udah bahagiaaa banget, apalagi liburannya sana kamu, Mas. Udah jangan ngomong gitu lagi ya. Tandnaya kamu tuh nggak menghargai mama kamu lho, itu ‘kan liburan gratisnya dari Mama kamu, Mas,”
“Pokoknya aku mau ke luar sih sama kamu kalau emang urusan aku di Lombok udah kelar,”
“Aku harus ketemu dokter diam-diam lagi nih untuk mastiin aku bisa pergi jauh kalau emang Dio jadi ngajakin aku pergi ke luar negeri,” batin Shena sambil mengaduk air susu di dalam gelasnya.
Akhirnya Ia bertemu dengan susu itu lagi setelah sebelumnya Ia tak membawa susu ke Bali, Ia benar-bsnar lupa, hanya membawa vitamin untuk djribya dan sang jabang bayi dan obat-obatan saja yang seandainya diperlukan ketika sakit.
Setelah kembali ke rumah, akhirnya Shena bisa mengonsumsi susu itu lagi. Walaupun minumnya maish sembunyi-sembunyi tapi tidak masalah bagi Shena yang penting Ia bisa maksimal memberikan nutrisi untuk anaknya.
“Menurut kamu gimana? Kamu keberatan nggak kalau misalnya kita jalan-jalan lagi?”
__ADS_1
“Ya— gimana ya? Terserah kamu aja deh, aku nggak bisa jawab,”
“Lho kok nggak bisa jawab sih,”
“Ya karena ‘kan yang pengen liburan keluar itu kamu ya, aku sih cuma ikut-ikut aja. Tapi sebenarnya dimanapun aku liburan asal sama kamu aku udah cukup bahagia kok, malah lebih dari bahagia rasanya. Apalagi liburan kita kali ini ‘kan beda,”
“Beda? Emang kenapa beda?” Tanya Dio sambil mengamati punggung istrinya yang masih kengaduk sisi dalam gelasnya ketika Shena mendekatinya, Ia mengisyaratkan Shena untuk duduk di pangkuannya namun Shena terkekeh dan memilih untuk duduk di hadapannya.
“Masa iya dipangku? Apa kata orang rumah nanti? Berbuat mesum did apur. Hih ngeri banget,” ujar Shena yang mengundang tawa Dio.
“Duh nggak usah aneh-aneh dej, aku nggak mau,”
“Ya udah itu udah duduk di bangku sendiri, aku nggak maksa,” ujar Dio dengan ketus. Shena akhirnya duduk di kursi pantry tidak Ia pangku. Walaupun sebenarnya ingin. Kalan lagi ‘kan mesra-mesraan di dapur tapi Shena tidak mau.
“Tadi kamu bilang, liburan kita kali ini beda emang bedanya kenapa? Kamu belum jawab pertanyana aku tadi lho,”
__ADS_1
“Hmm….bedanya tuh—“
“Ya?”
“Karena liburan kali ini ada anak kita di perut aku, Mas,”
Tentunya itu hanya disampaikan Shelina di dalam hatinya saja. Tidak mungkin Ia sampaikan secara gamblang dnegan mulutnya.
“Eh cewek, kamu kok diam? jawab dong apa bedanya?” Tanya Dio sambil menjawil dagu Shena.
“Hmm bedanya apa ya?”
“Lah kamu nanya aku, orang kamu yang bilang beda,”
“Oh ini—hmm bedanya adalah kamu udha jauh lebih baik sikapnya ke aku, Mas. Jadi aku senang banget,”
__ADS_1
“Oalah kirain apa yang beda di liburan kali ini,”