
"Abang, Kak Tania kenapa nggak ikut?"
"Kebetulan Tania lagi jenguk temannya yang sakit jadi Shofea gue ajak aja ke sini. Eh iya papa mana? belum balik dari kantor? terus mama juga kemana?"
"Papa tadi pulang agak cepat karena mau kondangan sama mama ke acara anak teman Papa, Bang," jelas Shena yang melepas kepergian kedua mertuanya tadi untuk menghadiri acara anak dari rekan Sakti yang menggelar pesta pernikahan.
"Oalah pantesan nggak keliatan,"
"Yah Shofea nggak ketemu Oma sama Opa, Nak,"
"Ya udah lo balik nanti-nanti aja. Kayaknya sebentar lagi ayah bunda pulang kok,"
"Masa iya bentar lagi? emang udah pergi dari kapan? dua jam ada?"
"Nggak, Bang. Kayaknya baru mau satu jam deh,"
"Ya udah gue tunggu aja deh. Tania juga gue suruh jalan-jalan kalau emang dia mau. Kasian dia bosen di rumah. Semenjak ada Shofea 'kan di rumah terus. Mumpung kali ini keluar ya biarin aja sekalian dia jalan-jalan sendiri menikmati waktu sendiri anggap dia belum nikah sama punya anak,"
"Wuidih pengertian banget abangku nih,"
Dio beranjak dari sofa ketika Shofea merengek. Sepertinya bosan dibawa duduk terus. Maka dari itu Dio mengajaknya untuk jalan-jalan bolak balik di ruang tamu sementara abangnya menyeruput teh dan juga memakan puding.
"Shofea rewel nggak awal-awal di rumah baru?"
__ADS_1
"Nggak, anteng malah. Tidur mulu kayak Shofea aja yang beberes mau pindah. Padahal mah emak bapaknya,"
Dio terkekeh kemudian menatap keponakannya yang sekarang menatapnya dalam-dalam.
"Shofea kenapa liatin Om? udah kangen ya? udah lama nggak ketemu Om ya?"
"Udah lama apaan. Orang baru mau seminggu pindah,"
"Makin cantik aja sih, tips nya dong, Kakak. Pakai skin care apa, Kakak? pipinya putih mulus banget, Kak,"
"Taunya dia cuma susu doang, Di. Skin care apaan yang dia tau,"
Dio mencium pipi Shofea kemudian sengaja menggerakkan hidungnya naik turun di pipi Shofea hingga anak itu merasa geli.
"Dih, ketawa dia. Eh kamu mau pulang nggak? kayaknya nggak usah aja ya. Kamu di sini aja. Biar papa yang pulang. Om belum puas ketemu Shofea soalnya,"
"Lah ada Kak Tania 'kan. Malah bagus cuma berduaan, kayak pengantin baru. Kali aja abis itu Shofea punya adik,"
"Pala kau adik! dia aja belum setahun,"
"Emang mau punya anak lagi kapan? setelah umur Shofea berapa tahun?"
"Ya kapan aja di kasih Alhamdulillah, nggak nuntut gue mah,"
__ADS_1
"Ah semoga secepatnya deh, biar jadi temen anak gue,"
"Udah ada si Shofea itu,"
"Kurang lah masa cuma satu doang sepupu anak gue,"
"Ya elah, Di. Lo mah banyak mau. Lo mau sepupu anak lo berapa? sekarung?"
"Baju kali ah,"
Dio mengobrol dengan Sehan sambil berjalan ke sana kemari tapi dalam lingkup ruang tamu, sementara Shena hanya menjadi pendengar saja.
Ketika suara salam terdengar, mereka langsung menoleh ke arah pintu yang memang sengaja dibuka tak lama kemudian Ardina dan Sakti masuk ke dalam rumah.
Ardina langsung bersorak senang melihat cucunya datang dan sekarang sedang digendong oleh Dio.
"Sayang, gimana kabarnya? Oma seneng banget Shofea datang, mama nya kemana? nggak ikut?"
"Tania lagi jenguk temen nya yang lagi sakit, Ma. Jadi aku bawa Shofea ke sini deh,"
"Yeayy diajak papa jalan, tapi sayang cuma berdua, coba bertiga, jadi bisa sekalian nginap deh,"
"Baru juga pindah udah disuruh nginap, Mama nih nggak bisa jauh banget sama aku kayaknya ya,"
__ADS_1
"Setelah ada Shofea sih nggak bisa jauh dari Shofea, Bang,"
"Yah aku kalah dari anak berarti,"