Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 57


__ADS_3

“Mau kemana pagi-pagi gini? Bukannya lo bilang semalam nggak ada jadwal kuliah ya? gue juga nggak ada tapi siang nanti ke kantor disuruh Papa,”


“Aku mau keluar sebentar,”


“Iya kemana?”


“Mau belanja bulanan,”


“Ya udah ayo gue temsnin,”


“Kamu ‘kan lagi nonton tv, udah nikmatin aja waktu istirahat kamu. Aku sendiri aja,”


Dio berdecak pelan. Sekarang Ia bukan lagi suami yang tak acuh. Ia mau diandalkan oleh Shena tanpa disuruh-suruh lagi oleh Mamanya.


“Gue ikut pokoknya, tunggu bentar,”


Tadi Dio menonton televisi di ruang keluarga. Dan begitu Ia masuk ke kamar rupanya Shena sedang bersiap ingin pergi sebelumnya tak ada pembicaraan apapun. Makanya Dio kaget melihat istrinya tiba-tiba sedang bersiap di depan cermin.


Dio mengambil kaos berwarna putih dan juga celana panjang. Sebelum Ia kenakan, Ia minta pendapat istrinya dulu.


“Menurut kamu ini gimana? Bisa aku pakai nggak? Maksudnya, cocok atau nggak?”


“Cocok kok, aku aja cuma pakai one set gini,”


“Ya udah bentar ya,”


Shena menganggukkan kepalanya. Ia sudah siap sekarang keluar dari kamar. Shena pamit pada Ardina yang sedang melihat-lihat tanamannya di luar.


“Mama, aku pamit belanja sebentar ya, Ma,”


“Oh iya, sama Dio ‘kan?”


“Tadinya mau sendiri tapi dio mau temenin aku,”


“Iyalah, mumpung Dio di rumah kenapa kamu sendiri? hati-hati ya, Nak,”


“Iya, Ma,”


“Tapi tumben nggak hari minggu, biasanya hari minggu kalau belanja bulanan? Ini masih sabtu,”


“Iya lagi mau keluar aja, Ma,” ujar Shena sambil terkekeh kecil.


“Oh bosan di rumah ya, Nak?”


“Iya lumayan, Ma. Jadi aku pengen keluar aja sekalian belanja gitu. Aku liat Dio lagi nonton jadi nggak aku ajakin belanja tapi dia pas masuk kamar liat aku udah sial langsung nanya mau kemana dan setelah aku jawab dia mau ikut,”


“Iya ditemenin sebaiknya, Nak,”


Dio datang dari dalam dengan membawa kunci mobil. Dio langsung mencium tangan mamanya.


“Jalan dulu ya, Ma,”


“Iya, Nak. Hati-hati ya,”


“Iya, Ma,”


Dio dan Shena langsung masuk mobil dan melaju ke pasar tradisional langganan Shena yang mana tak jauh dari situ ada supermarketnya juga.


“Kita ke pasar jelek abis itu ke pasar bagus ya?”


“Ih kok kamu ngomongnya gitu sih? Nggak ada ya sebutan pasar jelek atau bagus! Semuanya sama tau!”


“Beda kalau yang satu itu agak jelekan, nah yang satu lagi bagusan,”


“Sebut aja pasar tradisional dan modern jangan jelek dan bagus. Itu sebutannya nggak baik tau. Kalau ada yang dengar orang pasar sana gimana? ‘Kan nggak enak! Nanti kamu diusir lho,”


“Ya ‘kan gue nggak ngomong di depan mereka, Shen,”


“Tetap aja nggak boleh tau,”


“Ya udah iya iya, apaar tradisional dan pasar modern,”


“Nah gitu dong, sebutannya jangan yang kejam,”


“Emang itu kejam?”


“Iyalah, orang bisa tersinggung tau,”


“Siapa yang tersinggung?”


“Ya siapa aja di pasar itu yang dengar, apalagi kalau didengar sama pedagangnya, mereka itu orang-orang hebat tau, cari nafkah yang penting halal nggak peduli tempatnya gimana, nyaman atau nggak yang penting pulang dapat uang,”


“Iya, gue nggak nyebut gitu lagi deh,”


“Jangan mentang-mentang tempat kerja kamu nggak jelek, nggak bau, nggak rame, nggak becek, kamu jadi ngatain tempat orang-orang hebat itu dengan sebutan ‘jelek’ nggak baik,”


“Iya, Shen, gue paham gue minta maaf,”

__ADS_1


Shena bersyukur suaminya bicara masih did alam mobil, coba kalau sudah di dalam pasar dan ada yang dengar, mereka pasti tersinggung. Mulut suaminya ini memang terkadang susah untuk dikendalikan.


“Atau bisa aja kamu sebutnya pasar sama supermarket kan gampang tuh bedainnya, kalau misal kamu susah untuk nyebut yang lengkap pasar tradisional, atau pasar modern,”


“Iya pasar sama supermarket,”


“Nah gitu dong?”


Dio terkekeh, Ia seperti seorang anak yang tengah diajarkan untuk lebih solan dalam berbicara.


“Gue beruntung deh punya lo, Shen,”


“Kenapa emangnya?”


“Ya karena, lo bisa ngasih tau gue hal-hal baik, tanpa menghakimi. Lo tau kalau gue suka asal kalau ngomong dan lo ngaish tau gue baik-baik, makasih ya untuk pengertian lo,” ujar Dio sambil mencubit singkat pipi Shena yang terasa dingin.


“Ih masih dingin pipi lo,”


“Iya abis mandi ‘kan tadi, nggak pakai apa-apa langsung aja jalan, pakai pelembab bibir doang,”


“Tapi tetap ya, nggak beda,”


“Maksudnya?”


“Ya tetal cantik maksud gue,”


“Halah bisa aja kamu,”


“Emang bener kok, tetap keliatan cantik meskipun tanpa dandan,”


“Muka aku lagi agak jerawatan nih, jangan sering dipegang-pegang dong, tangan kamu abis darimana coba?”


“Maafin, gue lupa. Abisnya gemes makanya gue cubit. Emang kenapa kok jadi tumbuh jerawat?”


“Iya ada beberapa, nggak tau kenapa ya,”


“Hormon kali,”


“Iya mungkin,”


“Antara mau dapet, atau mau hamil. Biasanya gitu ‘kan?”


“Hah? Kata siapa?”


“Gue sering dengar sih gitu, salah ya?”


“Hmm iya benar,”


“Kok tanya aku? Ya tanya diri kamu sendiri lah,”


“Udah benar gue nanyain lo, karena yang bakal ngerasain ‘kan lo,”


“Kalau aku sih udah siap ya. Kalau udah nikah ya tandanya apapun kemungkian aku harus siap, salah satunya dikasih keturunan,”


“Kalau gue belum siap, gue takut salah-salah,”


“Wajar, namanya juga lagi belajar. Kamu ataupun aku itu sama-sama orangtua baru. Jadi kalau ada salah ya wajar. ‘Kan masih belajar, nanti seiring berjalannya waktu pasti bisa kok,”


“Gue masih nyaman sama kehidupan gue yang sekarang,” ujar Dio dengan dingin tanpa ekspresi. Ia tidak sependapat dengan Shena. Mma g mereka irnagtua baru, maish dalam tahao belajar tentunya, tapi Dio bukan hanya sekedar itu, tapi Dio maish sulit untuk meninggalkan kehidupannya yang sekarang. Dimana Ia bisa santai, seperti tidak ada beban, pulang kerja, pulang kuliah tidak ada yang membuatnya repot.


“Jadi kamu kalan siapnya?”


“Ya nggak tau, mungkin karena itu juga kali ya lo belum hamil, ya karena gue belum mau, belum siap,”


Shena menghembuskan napas pelan. Dadanya seperti dihimpit dengan sesuatu yang berart hingga Ia sedikit kesulitan untuk bernapas setelah mendengar ucapan Dio.


Mereka tiba di pasar dan tentunya langsung keluar dari mobil. Dio merangkul bahu Shena sesaat sebelum masuk ke dalam pasar.


“Ih kenapa harus rangkulan sih? Kayak mau nyebrang aja,”


“Ya emang kenapa sih? Gue mau jagain lo emang nggak boleh?”


“Hahaha ya ampun jagain dari apa? Nggak ada yang mau nyulik aku, Dio. Siapa yang mau sama aku udah nggak laku kali,”


“Dih kata siapa? Orang masih muda, maush cantik begini lo bilang nggak laku?”


“Masih banyak yang mau sama lo, tuh si setipen buktinya,”


“Steve, bukan setipen, ih dia mah suka ganti-ganti nama orang,”


“Ya biarin aja, lidah gue lidah Indonesia,”


“Tapi kamu jago tuh bahasa asing, itu emang sengaja aja ngeledek, padahal aslinya gampang nyebut nama dia,”


Dio terkekeh, memang Ia sengaja melafalkan nama Steve jauh dari yang seharusnya. Biar aneh dan kedengaran lucu.


“Suka-suka gue ah mau manggil dia gimana, lo jangan ribet jadi orang,”

__ADS_1


“Ya udah okay-okay, ampun, Bang,”


“Mau beli apa nih kita? Bikin udnag telung dong request gue makan siang nanti, Shen,”


“Boleh, terus mau apa lagi?”


Pertanyaan Shena itu tidak dijawab oleh dio yang terlalu fokus melihat penjual ikan membersihkan isi dalam ikan, Ia smapai terperangah melihatnya.


Shena terkekeh melihat duaminya fokus pada kegiatan penjual ikan sampai harus menghentikan langkahnya. Shena mencengkram lembut dagu Dio dan sengaja mengarahkan Dio untuk menatapnya.


“Kamu ngapain sih? Sampai melongo gitu liat penjual ikan,”


“Jago banget, apa nggak takut luka sama duri ya?”


“Ya itulah kehebatan mereka, makanya kita sesama manusia nggak boleh saling merendahkan, dalam hal apapun itu, profesi lah, status sosial, sampai ke tempat kerjanya sekalipun,” ujar Shena sambil mendekan tiga kata terakhir dari ucapannya barusan. Ia kembali mengingatkan suaminya untuk tidak lagi mengelompokkan jenis oasar dengan sesuka hatinya.


“Yuk kita cari udang, jangan ngeliatin abang ikan ntar kamu jadi pengen ngerasain iadi abang ikan lagi,”


“Wah gue sih angkat tangan ya. Nggak sanggup lah gue. Ngeliatnya aja udah ngeri gitu,” batin Dio sambil mengangkat kedua tangannya rendah dan itu membuat Shena terkekeh.


“Ayo kita cari udang,”


“Okay,”


“Abis itu cari apa?”


“Cari hati kamu ciee, ihiw,”


“Apa sih, Shen? Nggak jelas ah, garing,”


“Cari ayam, nggak cari hati kamu, karena hati kamu adanya di sini,” ujar Shena sambil menunjuk dada suaminya itu.


“Bisa-bisanya di pasar romantis begini,” gumam Dio mengomentari kelakuannya dan Dhena saat ini. Sudah berangkulan, Shena menggombal, lengkap rasanya.


“Kalau hati lo dimana?”


“Ya sama lah, di sini juga,”


“Salah,”


“Lho, terus dimana?”


“Kan udah dititipin di sini,” ujar Dio smabil menunjuk dadanya sendiri dan itu mengundnag tawa Shena.


“Hahahahaha ih alay banget,”


“Iya ya alay banget,”


“Aku nggak pernah ah nitipin hati di kamu, jangan ngarang,”


“Ya udah gue aja yang nitip kalau gitu,”


“Nggak terima titipan gimana dong?”


Dio terkekeh dan mencubit pipi istrinya. Terhitung sudah dua kali, dan Shena jadi sebal. “Jangan pegang pipi aku dong! Udah aku bilang, aku lagi ada jerawat beberapa,”


“Eh iya maaf-maaf, aku nggak sengaja,”


“Ih nyebelin banget,”


“Makanya perawatan aja gih ke klinik, mau gue temenin nggak?”


“Nggak, mahal,”


“Ya elah orang lo banyak duit juga,”


“Dih, itu bukan duit aku, kamu nitip di aku,”


“Jangan ngomong gitu! Itu punya lo,”


“Sayang, pake uang kamu,”


“Lo waktu masih gadi perawatan masa setelah nikah nggak sih, Shen?”


“Ya kalau kulit aku baik-baik aja ngapain perawatan? Aku rasa pakai skincare aja udah cukup sih,”


“Ntar gue temenin, balik dari sini mau nggak?”


“Nggak, aku mau masak,”


“Ya udah besok deh,”


“Nggak janji, aku malas jalannya seriusan,”


“Ya ‘kan naik mobil,” ucap Dio pada istrinya yang sedang memilih udang di penjualnya.


“Iya deh,”

__ADS_1


“Beneran ya?”


Shena menganggukkan kepalanya. Ia masih suka perawatan tapi memang setelah menikah lebih pikir-pikir lagi. Ia merasa lebih baik menggunakan uang untuk keperluan yang lain ketimbang harus perawatan, dan lagipula wajahnya baik-baik saja. Tapi belakangan ini memang sedang berjerawat, sepertinya karena hormon kehamilannya.


__ADS_2