Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 110


__ADS_3

Ardina langsung antusias melihat putranya membawa belanjaan turun dari mobil. Tak cukup sekali, Dik kembali lagi ke mobil untuk mengambil belanjaan yang masih ada di bagasi mobil.


"Wuih banyak banget nih belanjaannya,"


"Iya nih, Ma,"


"Borong apa gimana?"


"Nggak, Ma. Tapi banyak banget ya? aku beli yang masih kurang-kurang, Ma,"


"Oh iya, Shen, biar tenang kamu lahirannya. Semua udah siap, ada di rumah jadi tinggal ambil aja deh,"


"Sini bunda bantu bawa ke kamar,"


"Nggak usah, Mama. Biar aku sama Mas aja,"


"Iya nggak usah, Ma. Aku bisa bawa sendiri kok,"


Dio dan Shena tentu tidak mengizinkan Ardina untuk membawa belanjaan mereka ke dalam kamar.


Shena juga tidak diperbolehkan oleh suaminya untuk membawa belanjaan. Sebab membawa perutnya sendiri saja sudah berat, tapi Shena malah mau ikut-ikutan bawa belanjaan yang lumayan juga beratnya.


"Banyak juga belanjaan kalian nih. Masih ada yang kurang ternyata ya?"

__ADS_1


"Iya, Ma. Tadi tuh tinggal tambah-tambahin aja sebenarnya, soalnya menurut aku masih kurang,"


"Terus apa lagi yang belum ada, Shen?"


"Udah semua kayaknya, Bun. Sejauh ini udah ada semua,"


"Ya udah Alhamdulillah. Kalian istirahat aja, pasti capek habis belanja,"


*****


Setelah terbangun dari tidurnya yang cukup singkat, Shena langsung bergegas untuk berenang. Tiba-tiba saja Ia ingin berenang. Padahal biasanya malas sekali apalagi kalau sudah sore.


"Bi, aku boleh minta tolong?"


"Boleh dong, Mba. Mau minta tolong apa, Mba?"


"Okay siap, Mba,"


Shena sudah siap dengan pakaian renangnya dan Ia langsung masuk ke dalam kolam sementara Bibi bergegas membuatkan susu hangat permintaan Shena yang akan berenang semnetara suaminya di kamar masih istirahat.


"Mba tumben banget mau renang sore-sore," gumam Bibi sembari tangannya bekerja. Bibi tahu betul yang suka berenang dan rajin hampir tiap minggu pasti ada kegiatan berenang itu Dio. Shena jarang sekali kelihatan menggunakan kolam renang di rumah.


"Nah, udah jadi,"

__ADS_1


Bibi segera meletakkan susu dan juga kue kering toples di atas baki. Setelah itu Ia bawa ke kolam renang.


"Mna, ini susu udah saya buatin, diminum dulu mumpung masih hangat, Mba,"


Shena mengangkat kepalanya dari permukaan air kemudian Ia segera berjalan ke tepian dan akan naik ke atas tapi sulit.


"Lewat tangga atuh, Mba. Jangan naik pakai tangan,"


"Kayaknya aku udah keberatan badan kali ya, Bi? biasanya gampang-gampang aja naik ke atas pakai tangan, eh iya deh kan sekarang aku hamil,” ujar Shena sambil terkekeh.


"Nggak apa-apa nambah berat badan, Mba, yang penting sehat,"


"Aku harus rajin renang kayaknya nih,"


"Iya boleh juga, supaya badan mba makin ramping singset,"


Ahena duduk di sebuah kursi yang dibawahi oleh sebuah payung besar dan di depannya ada satu buah meja.


"Mba, tumben banget mau berenang, gerah apa gimana, Mba?"


"Iya, gerah dan nggak tau kenapa aku pengen banget berenang. Aneh ya, Bi?"


"Nggak aneh kok, Mba. Namanya hamil ya emang kadang tuh suka gerah bawaannya,”

__ADS_1


“Karena bawa anak kali ya, Bi? Jadi engap gitu rasanya, panas lah intinya,”


“Iya, Mba. ‘Kan di perut Mba ada manusia lain yang lagi berkembang. Keluhan-keluhan gitu udah pasti ada malah kadang benar-benar banyak. Tapi Insya Allah bisa dilewatin kok, Mba. Ntar Mba langsung lupa sama semua yang pernah Mba rasain selama hamil setelah Mba liat mata dan wajah anak Mba,”


__ADS_2