Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 104


__ADS_3

Shena bangun terlampau siang sekali hari ini. Sudah pukul delapan Ia baru bangun padahal biasanya tidak seperti ini.


Berdasarkan yang Shena ingat, kalau tidak salah ini bangun tersiang yang pernah terjadi sepanjang dirinya ada di dunia.


"Astaghfirullah, ini mah udah nggak bener lagi jadi istri. Mas Dio aja udah berangkat kerja kayaknya,"


Shena semalam tidur larut sekali bahkan hampir jam tiga pagi itupun bangun lagi di pukul lima karena harus menunaikan kewajiban ibadah uda rakaat. Niatnya hanya ingin membaringkan badannya sebentar karena kepalanya pusing tapi ternyata justru lanjut tidur.


Semalam Shena susah tidur tapi Shena juga tidak tahu apa penyebab Ia sulit memejamkan matanya. Ia tidak merasakan yang namanya kantuk sama sekali. Justru betah melamun dan berubah-ubah posisi sementara lelaki di sampingnya yang tidak lain adalah suaminya justru tidur setelah shalat Isya bersamanya.


Shena turun ke lantai bawah untuk memastikan suaminya sudah berangkat kerja.


Ia bergegas ke meja makan, ternyata Dio belum berangkat. Ia tengah sarapan dengan mamanya saja, sementara Sakti belum Shena lihat sosoknya.


"Ya Allah, Mas, aku minta maaf bangun kesiangan,"


"Eh udah bangun ternyata,"

__ADS_1


"Kok Mas ngak bangunin aku?"


"Sengaja, soalnya kamu pulas dan kasian mau bangunin kamu,"


"Harusnya bangunin aja, Mas. Tadi niatnya habis shalat shubuh cuma mau baringan bentar eh malah ketiduran,"


"Ya udah nggak apa-apa, Sayang. Nggak ada yang marah kamu bangun siang, lagian biasanya juga pagi terus kalau bangun,” ujar Ardina seraya tersenyum mengusap bahu Shena yang panik sekali kelihatannya hanya karena perkara bangun lebih siang dari biasanya.


"Kamu kok tumben belum berangkat, Mas?"


"Iya lagi mau agak santai, nggak apa-apa lah telat dikit,"


"Mas, kenapa harus nunggu aku? duh, aku makin merasa bersalah ini. Harusnya nggak usah pamit, Mas,"


"Selain emang maunya pamit langsung, aku emang lagi pengen santai dikit hari ini,"


"Terus Papa kemana, Ma? apa udah berangkat?"

__ADS_1


"Oh kalau Papa jangan ditanya. Papa berangkat kayak biasa, Shen,"


"Duh, sekali lagi maaf ya,"


"Ish kamu nih kenapa minta maaf terus sih, kamu nggak salah, Sayang. Udah daripada minta maaf terus lebih baik kamu sarapan deh, bareng sama Mama dan Mas kamu tuh,"


"Aku nggak enak banget masa nggak bantu bikin sarapan malah kesiangan bangunnya,"


"Ssst eh! kenapa harus nggak enakan sih? di sini nggak ada aturan si ini atau itu harus bantu bikin sarapan. Walaupun kita nggak turun ke dapur, Bibi 'kan Insya Allah bisa diandelin. Malah tiap mau kita bantuin bibi yang nyuruh udahan,"


"Iya mending kamu sarapan sekarang yuk,"


Shena menganggukkan kepalanya. Ia segera menuang sedikit nasi goreng di atas piring makannya setelah itu Ia pamit ke dapur sebentar ingin membuat susu hamilnya.


"Mama liat-liat kamu nih nggak perhatian ya sama Shena. Kok kamu nggak pernah nurutin ngidam dia sih? terus nggak pernah juga tuh bikin susu hamil,"


Dio membelalak terkejut begitu mamanya punya anggapan seperti itu kepadanya.

__ADS_1


"Bukan nggak nurutin, Ma. Emang Shena yang nggak ngidam. Hampir tiap hari aku tanyain mau apa? dia bilang nggak mau apa-apa terus. Nah masalah bikinin susu hamil, aku sebenarnya udah pernah cuma dua kali gagal,"


__ADS_2