Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 15


__ADS_3

“Ibu,”


“Ibu,”


“ itu—itu Mba Shena dibangunin kok nggak bangun-bangun ya?”


“Astaghfirullah, ya Allah,”


Bibi dimintai tolong oleh Ardina untuk mengantar kue ke kamar Shena. Tapi begitu Bibi mengetuk pintu kamar, Bibi tak kunjung mendapatkan jawaban dari dalam kamar. Maka dari itu Bibi langsung masuk kamar karena perasaannya tidak enak.


Bibi letakkan piring kue di atas nakas, dan Bibi membangunkan Shena yang Ia anggap tidur. Ia guncang pelan pengan Shena, akan tetapi Shena tidak kunjung membuka matanya. Bibi panik dan tanpa pikir panjang Ia langsung berlari turun ke lantai dasar menghampiri Ardina yang berada di meja makan bersama Sakti.


Begitu Bibi membawa berita seperti itu, Ardina dan Sakti langsung bergegas menghampiri Shena di kamarnya tanpa pikir panjang, disusul oleh Bibi yang khawatir juga dengan keadaan Shena.


Benar, ketika mereka tiba di kamar Shena dan berusaha membangunkan Shena, tak ada reaksi apapun yang ditunjukkan oleh Shena.


“Ayo kita bawa ke rumah sakit aja, Pa. Mama takut Shena kenapa-napa, ayo buruan, Pa,”


“Iya-iya tenang, Ma,”


“Bi, minta tolong kasih tau Pak Karim supaya sipain mobil ya, Shena biar diantar ke rumah sakit,”


“Siap, Bu,”


Bibi langsung bergegas menghampiri supirnya Sakti supaya mempersiapkan mobil karena Shena akan dibawa ke rumah sakit.


“Kabarin Dio, biar dia langsung ke rumah sakit,”


“Dia itu emang nggak niat mau pulang lagi, Pa. Ini buktinya udah jam delapan dia belum sampai rumah. Marahnya Mama tadi ke dia nggak bikin dia jadi takut dan langsung pulang ke rumah. Emang benar-benar keterlaluan banget anak itu,”


“Ya udah tetap kirim pesan, Ma. Biar Dio tau kalau Shena dibawa ke rumah sakit, biar gimanapun Dio suaminya Shena,”


Sebelum diangkat oleh Sakti, Ardina berusaha membuat menantunya membuka mata dengan cara membalurkan minyak aromaterapi di dekat hidung Shena, memijat-mijat kaki Shena tapi tidak berhasil membuat Shena membuka mata.


“Pa, jujur ya, satu-satunya yang bikin Mama sedikit lega sekarang, perutnya Shena naik turun dan itu tanda kalau Shena masih bernapas. Mama takut, Pa, Mama takut Shena—“


“Ssstt mama jangan ngomong kayak gitu. Shena ‘kan lagi demam sama pusing, mungkin keadaannya memburuk makanya sampai pingsan. Insya Allah Shena nggak kenapa-napa, Ma,”


“Pak, mobil udah siap,”

__ADS_1


Bibi memberitahu bahwa mobil yang akan membawa Shena sudah dipersiapkan oleh Pak Karin, Sakti mengangguk sambil berucap “Iya makasih, Bi,”


“Mama bantu ya, Pa. Mama kuat kok,” ujar Ardina pada suaminya yang akan mengangkat Shena. Sakti menganggukkan kepalanya.


Sepertinya Ia memang butuh bantuan mengingat stamina nya bukan lagi seperti orang yang masih muda.


“Memang harusnya Mas Dio nih, Mas Dio pasti kuat, soalnya Mas Dio masih muda. Ya walaupun Mba Shena itu terbilang kurus, tapi takutnya Bapak nggak kuat. Bibi bantu juga, Pak,”


Bibi khawatir membiarkan Shena hanya diangkat oleh Ardina dan Sakti, maka dari itu Ia akan membantunya. Tapi belum sempat mereka mengangkat Shena, tiba-tiba Shena melenguh sambil membuka kedua matanya perlahan.


“Shena, Alhamdulillah kamu bangun, Nak,”


“Ma, ini kenapa ramai-ramai? Aku kenapa, Ma?”


Shena bingung melihat sorot kekhawatiran di mata mertuanya dan juga Bibi. Ia tidak tahu dirinya kenapa sehingga membuat mereka bertiga datang ke kamarnya.


“Nak, kamu pingsan tadi,”


“Hmm? Pingsan, Ma?”


“Iya pingsan, kami semua khawatir banget. Ya Allah, Alhamdulillah kamu bisa sadar,”


“Kita tetap aja ke rumah sakit,” ujar Sakti dengan lugas.


****


Karena ayah mertuanya sudah punya keputusan sendiri dan Shena takut untuk membantah, akhirnya Ia patuh ketika Sakti tetap ingin membawanya ke rumah sakit.


Sebenarnya Ia keberatan. Karena Ia tidak mau merepotkan semua orang-orang terdekatnya, akan tetapi mertuanya ingin Ia diobati di rumah sakit dan supaya ketahuan juga sebenarnya penyakit apa yang dialaminya sampai tidak sadarkan diri seperti tadi.


Shena ditemani oleh Sakti dan Ardina ke rumah sakit sekentara Bibi tetap di rumah. Di perjalanan, Shena sering diajak bicara oleh ibu mertuanya yang memastikan Shena tetap sadar.


“Sayang, sebenarnya kamu pernah pingsan nggak sih?”


“Selama ini, aku belum pernah pingsan, Ma,”


“Terus kalau sakit gitu, nggak pernah sampai pingsan juga?”


“Nggak pernah, Ma. Tapi kalau demam tinggi dan pusing itu sering, Ma. Itu ‘kan penyakit yang umum terjadi ya. Tapi kalau sampai pingsan aku nggak pernah,”

__ADS_1


“Tuh ‘kan, ya Allah Mama jadi makin panik deh,”


“Tenang, Ma. Shena itu kecapekan aja mungkin, dan banyak pikiran,” ujar Sakti.


“Iya benar kata Papa, Ma. Aku baik-baik aja kok, cuma demam biasa,”


“Ya tapi kenapa sampai pingsan? Duh, mana sebelumnya nggak pernah pingsan. Gimana Mama nggak cemas sekarang?”


“Insya Allah aku baik-baik aja, Ma. Udah ya, Mama tenang aja,”


“Makanya jangan capek-capek, Shen, jangan banyak pikiran juga,”


Shena tersenyum mendengar ucapan Sakti. Namanya kehidupan ada saja naik turunnya meskipun Shena baru sebatas mahasiswi, apalagi saat ini pernikahan Shena masih diuji, jadi pasti banyak yang Shena pikirkan.


“Iya, kamu nggak boleh kecapekan, nggak boleh stres mikirin ini itu, nikmati hidup aja, Nak. Mikirin Dio? Ah ngapain? Orang dia aja nggak mikirin kamu kok,”


“Mama, biar gimanapun Dio ‘kan suami aku, masa nggak aku pikirin. Sekarang aja aku udah kepikiran sama Dio. Kira-kira dia kemana ya? Kok nggak pulang? Padahal udah malam,”


“Mungkin dia emang nggak niat pulang. Biarin aja lah terserah dia mau pulang atau nggak. Lebih baik juga dia nggak pulang kali ya, soalnya hidup kamu bisa lebih tenang, iya nggak sih?”


“Astaghfirullah Mama jangan ngomong begitu. Aku malah nggak tenang kalau Dio nggak pulang,”


Ardina yang mama kandungnya Dio saja geram melihat tingkah laku Dio, ini Shena yang baru juga menjadi istri selama kurang lebih dua bukan, baiknya luar biasa pada Dio.


Ardina berharap anaknya tidak menyia-nyiakan kebaikan Shena. Ardina takut Shena malah mundur dan balik badan karena kebaikannya tak pernah dihargai oleh Dio.


*******


“Udah pada tidur, Bi?”


Dio bertanya dengan santai tanpa rasa bersalah, padahal hari ini Ia menjadi anak yang kurang ajar terhadap orangtuanya, dan juga jahat kepada istrinya,


“Boro-boro tidur, Mas Dio. Saya aja nggak bisa tidur soalnya belum tau kabarnya Mba Shena di rumah sakit, apalagi Ibu bapak yang temenin Mba Shena di sana, pasti mereka khawatir banget dan nggak bakal bisa tidur,”


“Hah? Rumah sakit? Shena jadi ke rumah sakit? Lho emang dia belum sembuh juga?”


“Mba Shena tadi sempat pingsan, Mas Dio. Makanya dibawa ke rumah sakit sama bapak ibu,”


Mendengar penjelasan Bibi, Dio langsung tercengang. Separah itukah sakitnya Shena sampai Shena tak sadarkan diri dan akhirnya dibawa ke rumah sakit oleh kedua mertuanya. Ia pikir keadaan Shena sudah lebih baik.

__ADS_1


“Beneran pingsan?”


“Iya beneran lah, Mas Dio. Masa iya bohongan. Orang Bibi kok yang nemuin Mba Shena pingsan. Tadinya mau ngasih kue, tapi pintu nggak dibuka-buka pas Bibi ketuk, akhirnya Bibi masuk aja. Bibi liat Mba Shena tidur di atas kasur, tapi pas Bibi bangunin, Mba Shena nggak bangun-bangun makanya Bibi laporan ke Ibu sama bapak,”


__ADS_2