Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 64


__ADS_3

“Okay, mau tanya apa?” Tanya Dio seraya mengusap wajahnya dan Ia duduk mendongak menatap istrinya yang berdiri di tepi kolam sementara Ia masih ada di dalam kolam.


“Ini foto siapa?” Tanya Shena dengan wajah yang sengaja dibuat ketus supaya Dio panik sendiri. Dan apa yang Ia inginkan itu benar terjadi. Seketika wajah Dio panik.


“Aku nggak merasa nyimpan foto siapa-siapa deh,”


“Terus kenapa muka kamu panik?”


“Ya karena kamu salah paham, Sayang, makanya aku keliatan panik. Emang muka siapa sih? Kamu plis jangan salah paham dulu ya, aku tuh nggak tau foto siapa yang kamu liat di handphone aku tapi foto-foto mantan aku udah nggak ada kok, foto perempuan lain juga,” ujar Dio mengakui kalau di ponsel itu tidak ada foto perempuan lain.


“Nih liat sendiri!” Ujar Shena seraya mengarahkan layar ponsel kepada sang suami yang memicingkan matanya bahkan sampai lebih mendekat ke arah Shena supaya bisa lebih jelas mengenali foto perempuan yang sudah membuat Shena ketus seperti ini.


“Astaga, itu foto kamu,”


“Hahahaha ya emang foto kamu,”


“Ish kamu jahat amat sih. Aku pikir foto siapa tau,”


“Hahahaha cie panik,”


“Aku pikir foto siapa yang udah nangkring di handphone aku sampai bikin kamu salah paham kayak gini,”


“Aku sengaja bikin kamu panik hahahaha,”


“Jahat kamu ah,”


“Tapi kamu beneran nggak simpan foto perempuan lain di handphone kamu?”


“Nggak sama sekali, nggak ada foto siapa-siapa, kamu cek aja,”


“Nggak usah, aku percaya sama kamu. Lagian ya kalau misalnya kamu simpan foto perempuan lain juga nggak apa-apa kok,”


“Lho kok gitu sih? Kamu nggak cemburu gitu?” Tanya Dio dengan wajah yang kesal. Ia kesal karena istrinya malah kelihatan tak peduli kalau seandainya Ia menyimpan foto perempuan lain di ponselnya. Padahal Ia ingin istrinya cemburu karena itu tandanya Shena benar-benar mencintainya.


“Kalau nggak cemburu berarti kamu nggak cinta lagi ya sama aku?” Tanya Dil seraya beranjak meninggalkan kolam renang dan kini berhadapan dengan istrinya. Dengan badan yang maish basah kuyup Ia mengarahkan istrinya untuk lebih dekat dengannya, kedua tanganmya juga Ia gumakan untuk memeouk pinggang Shena.


“Ih kamu masih basah, baju aku ikutan basah deh,”


Saat Shena akan mundur menciptakan jarak, Dio menggelengkan kepala tidak mengizinkan. Kemudian Ia menatap Shena dengan sorot mata sedih.


“Apa kamu udah nggak cinta lagi sama aku?”


“Kata siapa?”


“Ya buktinya barusan kamu ngomong nggak apa-apa kalau misalnya aku simpam foto perempuan lain,”


“Ya makanya dengerin dulu aku ngomong sampai selesai,”


“Apa? Coba lanjutin ngomongnya kalau gitu,”


“Biarin aja kamu simpan foto perempuan lain di handphone kamu, aku doain handphone kamu rusak, terus semua data-datanya nggak bisa balik lagi aamiin,”


“Hahahaha, oh gitu,”


Pecah sudah tawa Dio. Jadi ternyata Shena sudah mempersiapkan harapan kalau-kalau Ia mendapati foto perempuan lain di ponsel suaminya.


“Itu tandanya kamu cemburu ‘kan?”


“Ya iyalah, siapa yang nggak cemburu kalau liat foto perempuan lain di handphone suami? Aku rasa semua istri di dunia ini bakal cemburu deh,”


“Ya bagus kalau gitu, tandanya kamu masih cinta sama aku,” ujar Dio sambil mencium bibir istrinya itu sekilas.


“Ih bibir kamu dingin banget, Dio,”


“Ya namanya juga abis berenang, Sayang,”


“Iya juga sih, okay sekarang aku mau nanya sesuatu sama kamu,”


“Tanya apa?”


“Sejak kapan kamu pakai foto aku untuk wallpaper?”


“Sejak—-sejak kapan ya? Hmm lupa sih aku,”


“Tapi ini ‘kan foto pas aku mandi bola ya?”


“Iya, lucu kan? Aku sengaja motret kamu diam-diam,”


“Ih romantis banget, kok aku nggak sadar ya,”


“Iyalah orang kamu fokus sama mandi bolanya, jadi kamu nggak sadar deh,”


“Hehehe makasih ya udah fotoin aku terus jadiin foto aku wallpaper,”


“Jangan bilang makasih ah, masa kayak gitu aja makasih,”


“Lho, aku emang harus bilang makasih ke kamu karena kamu tuh ternyata romantis juga. Udah ngambil foto aku diam-diam, terus kamu jadiin foto aku itu sebagai wallpaper handphone kamu,”


“Tujuannya supaya ingat aja gitu sama kamu, dan jadi kalau ada orang liat terutama perempuan yang mau caper ke aku, dia udah bisa tau nih kalau aku usha nggak aendiri lagi, buktinya wallpaper handphone foto perempuan, nyar kalau dia nanya aku jawab aja ini istri saya,”


“Hahahaha harus gitu ya?”


“Ya harus dong, biar kalau ada yang mau deketin mikiri ribuan kali dulu, soalnya siangar dia berat,”


“Aku siangannya?”


“Ya iyalah, smangs iapa lagi istri aku? Cuma kamu aja jadi otomatis saingan cewek-cewek yang mau caper ke aku itu ya kamu, siangan mereka berat, jadi jangan macam-macam,”


“Halah bisa aja,”


“Ya udah nih aku balikin handphons kamu,”


“Jadi kamu nenteng handphone aku karena mau nanya soal ini aja, Shen?”


“Iya, aku soalnya tuh penasaran, kenapa kamu pakai wallpaper foto aku. Jujur alu nggak nyamgka sih,”


“Lho, kenapa nggak nyangka? Ya harusnya kamu nyangka dong, aku ‘lan suami kamu jadi ya wajar-wajar aja aku pakai foto kamu untuk wallpaper handphone,”


“Ya tapi aku nggak mikir kamu bakal pakai foto aku, biasanya ‘kan cowok pakai foto pemandangan yang cantik, atau benda-benda mati gitu ‘kan? Nah ini kamu pakai foto aku,”


“Ya ngapain pakai foto wallpaper foto pemandangan yang cantik kalau istri aku lebih cantik? Dan buat apa juga pakai wallpaper foto beda mati? Jadi kurang menarik gitu untuk diliat, ya mending pakai foto kamu lah,”


“Hmm okay-okay makasih ya untuk fotonya, ntar kirim ke aku ya, aku suka juga nih sama hasil kamu fotoin aku tadi aps mandi bola di timezone,”


“Okay nanti aku kirim ke kamu ya, Sayang,”


“Makasih,”


“Sama-sama,”


“Nih handphone kamu, aku kembalikan ke tangan kamu,” ujar Shena sambil mengulurkan ponsel yang ada di tangannya kepada sang pemilik


“Pegang aja dulu sama kamu, aku masih basah kuyup gini, lagian aku mau lanjut berenang. Kamu temenin aku aja, duduk di situ,” ucap Dio sambil menunjuk kursi yang ada si tepi kolam di atasnya terdapat payung, dan juga ada meja bulat.


“Okay deh aku duduk di sana ya,”


Shena langsung mendekati kursi yang barusan ditunjuk oleh suaminya. Setelah itu Ia mengamati Dio yang aktif sekali di kolam renang.


Karena merasa bosan hanya memperhatikan Dio berenang, dan itu membuat Ia tergiur juga untuk berenang tapi Ia malas untuk basah-basahan akhirnya Ia bicara pada Dio.


“Dil, aku pinjam handphone kamu boleh nggak?”


“Boleh, pakai aja, Shen, ngapain harus izin segala sih,”


“Makasih ya,”


“Iya,”


Dio yang sempat berhenti berenang karena dipanggil istrinya tadi yang minta izin untuk pinjam ponselnya, sekarang kembali melanjutkan renangnya.


Shena membuka akun instagram sang suami yang tidak ada postingannya. Ia gulir beranda instagram suaminya itu dan menonton video-video lucu.


“Berandanya banyak video lucu hahahaha


Shena menonton satu persatu video dan itu berhasil membuatnya terhibur. Sepertinya sang suami sering juga menonton video yang menggelitik perut makanya tanpa Ia cari sudah ada di beranda.


“Iseng buka DM ah,”


Shena gulir direct message instagram suaminya, hanya ada obrolan dengan teman laki-lakinya sebanyak tiga orang. Ia buka obrolan mereka ternyata itu adalah teman semasa Dio sekolah, mereka saling bertegur sapa, setelah itu tidak ada obrolan lagi. Salah satunya juga ada yang teman kuliah Dio karena membahas tugas kampus.


“Sepi banget kehidupan sosmednya Dio ya,” guman Shena.


Setelah itu Shena meninggalkan instagram, dan Ia melihat aplikasi apa saja yang ada di ponsel suaminya, ternyata didominais oleh game.


“Hadeh, game mulu deh yang aku liat,” gumam Shena.


Setelah itu Shena buka whatsapp, Ia gulir asal tidak kau terlalu tau, Ia hanya iseng saja membuka whatsapp, kemudian Ia beralih membuka galeri. Begitu Ia buka ternyata banyak juga foto-fotonya.


“Astaga, Dio koleksi foto aku ya? Kok bisa sebanyak ini?” Tanya Shena dengan wajah terkejutnya.


“Sejak kapan dia suka ngambil foto aku diam-diam? Lumayan banyak juga lho ini dan anehnya aku nggak pernah sadar,” batin Shena yang entah kenapa merasa senang, dan hatinya menghangat. Suaminya benar-bsnar seperti pengagum rahasinya. Memotretnya banyak kemudian tersimpan rapi di galeri nya.


Setelah itu Shena keluar dari galeri, dan tiba-tiba suaminya menyentuh bahunya. Ia tentu langsung kaget. “Ih kamu kenaoa sih bikin kaget aku! Bilang dong kalau mislanya mau datang,”


“Hahaha kaget emangnya?” tanya Dio smabil tertawa, dan setelah itu Ia duduk di hadapan sang istri.


“Ia aku kaget tau,”


“Iya deh maaf,”


“Kamu ngapain, Sayang?”


“Lagi isenga ja buka instagram kamu, buka whatsapp kamu, ternyata banyak game di handphone kamu dan kenapa ada banyak foto aku di handphone kamu? Hmm? Kamu kapan fotonya sih? Kok aku nggak pernah tau?”


Dio meneguk air minumnya dulu sebelum menjawab dengan santai. “Ya kamu liat aja sendiri itu kapan waktunya, ‘kan ada tanggal-tanggalnya, Sayang. Intinya sejak aku mulai kagum sama kamu, aku naksir kamu, aku mulai tertarik untuk foto-foto kamu tanpa kamu tau, terus kadang aku suka perhatiin deh,”


“Beneran?”


“Ya beneran lah masa bohongs ih? Kamu nggak percaya?”


“Ya—-percaya sih, cuma kok bisa jadi orang bucin gitu kamu? Merhatiin foto aku emang nggak mau muntah apa?”


“Eh sembarangan! Kenapa aku harus muntah coba?”


“Ya karena liat foto aku,”


“Dih, justru aku senang tau,”


“Kenapa senang?”


“Ya senang lah, aku berhasil ambil foto kamu diam-diam tanpa kamu tau jadi aku bisa liatin deh foto kamu kalau aku lagi kosong waktunya. Kok jadi muntah sih?”


“Ya kamu ‘kan udah ngeliat aku mulu tiap hari di di rumah, di kampus juga gitu, terus masih suka ngeliatin foto aku? Emang nggak bosan apa? Nggak mau munta ya?”


“Ngeliatin cewek cantik nggak ada bosannya apalagi mau muntah. Jangan ngomong gitu lah, aku nggak suka ah,”


Shena terkekeh dan mengusap pipi suaminya itu. Dio kelihatan tidak senang mendengar kata-katanya barusan. Tidak ada cerita bosan apalagi mau muntah lihat foto Shena. Kalau suku Shena bicara begitu mungkin tidak Dio bantah, kalau sekarang akan Dio bantah dengan tegas.


“Iya okay deh kalau gitu,”


“Aku kaget banget waktu liat foto aku banyak di handphone kamu,”


“Hahaha, kamu kaget?”


“Iyalah, aku pikir kamu nggak sekurang kerjaan itu motoin aku,”


“Aku bukan kurang kerjaan. Asal kamu tau ya, motoin kamu tuh keinginan dari hati aku, jadi ya udah aku lakuin aja lah,”


“Bahkan foto kamu aja kayaknya tadi nggak aku temuin deh, yang ada cuma foto aku, terus sama foto dari dokumen-dokumen gitu yang aku liat,”


“Iya emang galeri aku isinya kayak gitu hahaha,”


“Foto kamu, aku jarang foto, terus yang paling banyak ya dokumen tentang kuliah atau kerjaan,”


“Galeri laki-laki emang begitu ya?”

__ADS_1


“Aku nggak tau ya kalau isi dari galeri orang lain tapi galeri aku sih kayak gitu aja isinya,”


“Nih handphone kamu aku kembalikan ya,”


“Udah lega g aja dulu, pinjam sepuas hati kamu,” ujar Dio seraya tersenyum menatap istrinya itu.


“Aku tadi sempat nonton video-video lucu di beranda instagram kamu lho, kamu sering juga ya nonton video lucu di beranda?”


“Sering banget kalau lagi butuh hiburan, bosan nggak tau mau ngapain ya udah nonton yang lucu-lucu aja, daripada nonton gosip,”


“Aku jadi suka juga deh nonton video lucu,”


“Ya udah nggak apa-apa tonton aja, Shen. Untuk hiburan biar nggak stres, sh ngomong-ngomong tadi ‘kan kamu bilang kalau kamu pusing, sekarang gimana? Masih pusing? Atau udah mendingan?”tanya Dio sambil memijat lembut kening Shena hingga membuat Shena memejam karena rasanya nyaman sekali dipijat oleh Dio. Shena tidak pernah membayangkan bisa mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya mengingat awal pernikahan mereka tidak baik-baik saja.


Sekarang tidak ada rasa selain bersyukur karena suaminya sudah bisa menghargai keberadaannya, tidak menganggap Ia sebagai musuh lagi yang hampir setiap hari diperlakukan kurang baik oleh suaminya sendiri.


“Tangan kamu dingin,”


“Kayaknya dnak ya pijatan aku smapai merem-merem gitu?”


“Iya rasanya mau tidur lagi nih. Satu dua tiga aku tidur!”


Tiba-tiba Shena bersandiwara menjadi orang tidur, yang kepalanya jatuh ke bawah dan Dio tertawa melihat kelakuan istrinya itu.


“Kamu kenapa sih? Menghibur banget deh,”


“Hehe biar kamu ketawa. Udah ah jangan mijitin aku terus, kamu capek lho,”


“Nggak apa-apa olahraga tangan,”


“Ya tapi kamu pegal, kamu harus panjangin tangan kamu untuk bis apinat kepala aku karena posisi kamu duduk di dpean aku,”


“Nggak apa-apa, pijat istri dapat pahala ‘kan ya? Nah aku lagi berusaha ambil pahala itu,” ijar Dio sambil tersenyum menatap istrinya.


“Udah cukup, aku nggak pusing lagi kok,”


“Bentar!”


Dio tiba-tiba beranjak meninggalkan kursinya kemudian Ia berdiri di belakang Shena dan Ia memijat Shena lagi.


“Ya ampun sampai pindah tempat kamu,”


“Ya mggak apa-apa biar makin leluasa,”


“Ih udah, aku nggak pusing lagi kok,”


“Tapi kamu kelihatannya nikmatin peinatan aku banget ya?”


“Iyalah, nggak aku sia-siakan, tapi beneran deh pijatan kamu endul, tau endul nggak?”


“Enak,” jawab Dio yang langsung diangguki oleh istrinya.


“Iyap betul, pijatan kamu endul,”


“Apa sih bahasanya endal endul udah kayak apaan tau,”


“Hahahaha kenapa sih kamu? Aku seorang dengar itu dari teman-teman aku jadi aku kebawa deh,”


“Endul itu bahasa apaan sih?”


“Nggak tau cuma pelesetan dari kata enak aja, ih random ah obrolan kita. Kenapa jadi bahas endul coba?”


“Ya kamu yang mulai, Shen,”


Dio benar-benar memijat istrinya dengan lembut dan itu membuat Shena nyaman sekali hingga terbuai ingin lanjut tidur.


“Udah, aku mau masak nih,”


“Ntar aja,”


“Ih aku mau masak, awas ah,”


Shena akan beranjak meninggalkan kursi namun ditahan kedua bahunya oleh sang suami. Kepala Shena mendongak menatap suaminya yang berdiri di belakangnya dna kini menundukkan kepala hingga kening mereka bersatu.


“Nggak apa-apa sih aku pijat dulu bentar, jangan nolak kebaikan suami dong,”


“Aku aja pernah ‘kan minta tolong pijitin sama kamu,”


“Ih tapi itu jarang banget, terakhir kapan tuh,”


“Ya udah jadi nggak apa-apa dong kalau misalnya aku pijat kamu juga sekarang,”


Shena pasrah saja sekarang. Suaminya tidak mau Ia menghentikan pijatan. Bisa-bisa Ia tertidur sungguhan di kursi ini karena pijatan suaminya di kepala memang benar-benar membuatnya terbuai ingin tidur.


“Ini aku sampai kapan dipijatnya?”


“Sampai—-nggak tau sampai kapan,”


“Sampai kamu capek ya,”


“Kayaknya sih nggak bakal capek,”


“Ya udha nggak usah lagi deh, kamu kerjainan deh, nanti tangan kamu kram lho mijitin aku lama-lama,”


“Okay sebentar lagi ya, Nona. Kamu ceritanya klien aku ya,” ucapan Dio itu mengundang tawa Shena. Bagaimana Shena tidak tertawa kalau suaminya sekarang bersikap seolah-olah sedang melayaninya sebagai klien.


“Jadi ini kamu ceritanya buka jasa pijat dan aku pelanggan kamu gitu?”


“Iya bener,”


“Ya ampun, Dio,”


Shena tidak bisa menahan tawanya karena lelucon suaminya yang sedang alih profesi ceritanya.


“Kamu ada-ada aja,”


“Maksudnya bagaimana, Nona? Apa pijatan saya kurang endul?”


“Hahahaha endul juga yang disebut,”


“Endul banget, Mas, makasih ya,”


“Sama-sama, Nona,”


“Sekarang saya rasa sudah cukup ya, Mas. Saya mau masak dulu,”


“Kamu manggil aku Bang dong,”


“Eh kamu panggil aku kayak gitu lagi dong,” pinta Dio yang tiba-tiba rindu mendengar Shena memanggilnya dengan sebutan Mas seperti itu.


“Kamu emangnya mau aku panggil kayak gitu lagi? Bukannya waktu itu kamu nghak bolehin aku manggil Mas atau apapun itu selain nama ya? Karena kata kamu pernikahan kita bukan kayak pernikahan orang lain, kamu nggak perlu ikut-ikutan istri di luar sana yang manggil suaminya pakai sebutan kayak Mas, dan lain-lain,”


Tiba-tiba Dio berhenti memijat kepala istrinya itu. Kemudian Ia membuang napas panjang, dan menunduk mencium bibir sang istri yang masih mendongakkan kepalanya sehingga mudah bagi Dio untuk memijat kepalanya dna juga sekarang mencium kening ataupun bibirnya. Tinggal Ia menunduk dan menempelkan bibirnya pada target, dan Ia berhasil mengecup.


“Aku emang pernah sejahat itu sama kamu, bahkan soal panggilan pun, aku ngatur kamu segitunya. Maafin aku ya, Sayang,”


Shena tersenyum dan menarik lembut tangan suaminya supaya duduk berhadapan lagi dengannya, kemudian Ia menggenggam tangan Dio setelah Dio duduk.


“Kamu nggak usah minta maaf, barusan aku cuma mau mastiin aja, kamu beneran serius mau aku panggil kamu kayak gitu lagi? Soalnya waktu itu kamu pernah marahin dan aku nggak mau kejadian itu terulang lagi makanya aku nanya untuk sekedar memastikan aja sebenarnya,”


“Iya aku serius, aku pengen kamu manggil aku kayak gitu lagi, kalau dipanggil dengan abeutan itu nggak tau kenapa hati aku jadi hangat, terus aku merasa senang aja gitu, dulu sebenarnya juga gitu kok, cuma ketutup sama rasa benci aku ke kamu jadi apapun yang kamu lakuin, apapun yang keluar dari mulut kamu jadinya salah terus di mata aku. Aku minta maaf untuk semuanya ya, Shen. Maaf udah bikin kamu jadi merasa serba salah waktu itu dan makasih juga udah mau paham kalau aku butuh waktu untuk nerima kamu dan lupain masa lalu aku, makasih banyak untuk semuanya,”


“Iya, udah ah jangan mellow gitu dong mukanya,”


Shena mengusap rahang suaminya yang kelihatan murung, kedua matanya berkaca. Shsna langsung menggenggam kedua tangan suaminya lagi dengan erat.


“Okay mulai sekarang aku panggil kamu Mas Dik lagi, gimana?”


Dio tersenyum sumringah mendengar itu. Ia langsung mencium tangan Shena berulang kali dan itu membuat Shena tertawa.


“Makasih ya, aku senang banget dengarnya, sediusan,” ujar Dio setelah mencium tangan istrinya itu.


“Ya udah sekarang aku mau ke dapur dulu ya, kamu mau lanjut renang atau udahan?”


“Aku udah selesai,”


“Kamu lupa belum bawa handuk ya?”


“Astaga? Iya aku lupa, Shen,”


“Ya udah aku ambil dulu tunggu bentar, Mas


Shena langsung pergi meninggalkan Dio yang senyum-senyum sendiri mendnegar istrinya memaggil Ia dengan aebutan yang dulu lagi, sama seperti awal mereka menikah.


Waktu itu Ia tidak suka sekali kalau Shena memanggilnya dengan sebutan ‘Mas’ walaupun tidak bisa dipungkir ada rasa senang karena Ia merasa sangat dihargai dengan panggilan seperti itu, tapi karena Dio sering mendengar para istri di luar sana memanggil suaminya dengan sebutan serupa dan pernikahN mereka adalah pendikahan yang ‘normal’ sementRa pernikahannya dnegan Shena itu asbaliknya jadi Ia tidak senang ketika Shena menyamai padahal jelas-jelas beda.


Maka dari itu Ia marahi Shena dan Ia minta Shena untuk memanggil namanya saja tanpa ada sebutan apapun di depan atau dibelakang namanya. Itu menggambarkan betapa asingnya mereka, walaupun suami istri dan memang itulah yang diinginkan oleh Dio supaya Shena sadar diri.


“Nih handuk kamu, Mas,” ujar Shena sambil berjalan ke arahnya dengan membawa handuk.


“Bilas dulu ya sebelum masuk ke dalam,” ujar Shena seraya mengisyaratkan suaminya untuk membilas badannya terlebih dahulu di tempat pembilasan dan Dio menganggukkan kepalanya.


“Makasih ya,”


“Sama-sama, Mas. Aku mau ke dapur dulu,”


“Masak apa buat makan malam?”


“Itu kayaknya Mama udah mulai masak deh, Mas. Makanya aku mau bantuin. Mama udah aku bilangin biar aku aja yang masak sh malah Mama yang masak,”


“Ya mungkin Mama nggak mau kamu kecapekan kali,”


“Padahal niatnya smang abis tidur dulu baru masak,”


“Ya udah nggak apa-apa, ‘kan smang Mama yang nggak ngasih kamu masak, kamu disuruh istirahat,”


“Aku ke dapur dulu ya, Mas,”


“Okay, Sayang,”


Shena berjalan menuju dapur sementara suaminya ke tempat pembilasan untuk membilas badannya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam.


*****


“Ma, ya ampun aku padahal udah niat abis tidur mau masak, tapi udah keburu Mama duluan yang masak,”


“Nggak apa-apa, Sayang,”


“Aku bantuin, Ma


“Ih nggak usah, kamu kok cepat banget sih tidurnya? Bukannya baru tidur ya kata Dio?”


“Iya tadi kebangun karena mau buang air kecil, Ma. Terus nggak tidur lagi deh.”


“Oh gitu, Dio udah selesai berenang?”


“Udah, Ma, lagi bilas tuh,”


“Mama mau masak apa, Ma?”


“Soto betawi sama perkedel kentang, Sayang,”


“Wow enak banget tuh,”


“Semoga kamu nafsu makannya nanti ya,”


“Pasti nafsu, Ma,”


“Udah saja ke kamar aja,”


“Mama gamoang kok ini, bumbu soto udah jadi, tinggal celup-celup aja lagi,


“Aku buat perkedel kentangnya kalau gitu ya, Ma,”


“Duh anak ini kok bandel ya dikasih taunya, nggak usah, Sayangku, biar Mama aja, kamu nggak usah repot-repot,”

__ADS_1


“Nggak repot kok, Ma, biar aku bantu ya, Ma,”


Shena tetap mau membantu ibu mertuanya itu. Ia yang mengambil alih perkedel kentang, sementara Ardina sedang menumis.


Mereka sering bekerja sama di dapur, biasanya bertiga dengan Bibi juga tapi Bibi sedang pulang menjenguk anaknya jadi kali ini hanya mereka berdua saja yang bekerja sama di dapur.


*******


Dio langsung masuk kamar mandi untuk menggunakan shampo, sabun, dan menyikat giginya setelah berenang. Setelah itu Ia keluar dari kamar mandi dengan penampilan segarnya. Ia langsung mengambil baju sendiri karena sepertinya Shena lupa menyiapkan baju dan Dio tidak mempermasalahkan itu.


Setelah berpakaian Dik mengeringkan rambutnya menggunakan handuk di depan cermin. Kemudian Ia menyisir rambutnya yang setengah basah itu. Tak lupa menggunakan minyak wangi. Ia harus tetap wangi meksipun di rumah saja.


“Dah ganteng, dah wangi, jadi Shena betah,” gumamnya smabil terkekeh.


Dio meraih remot televisi di nakas dan Ia tak sengaja melihat ponsel istrinya yang berkedip-kedip karena ada panggilan masuk. Dengan cepat Ia keriah ponsel istrinya itu dan membaca nama si penelpon.


Seketika rahangnya mengeras setelah tahu kalau Steve kembali menghubungi istrinya. “Ini si setipen maunya apa sih? Ganggu istri gue aja, gue blokir tau rasa lo ya!”


Dio langsung memblokir kontak Steve, beberapa hari diam tidak ada tanda-tanda kehidupan sekarang Steve menghubungi istrinya lagi.


“Hah rasain gue blokir nomor lo biar nggak bisa hubungin istri gue lagi mampus lo!”


Dio meletakkan ponsel sang istri di nakas lagi sambil bergumam “Semoga aja dia nggak hubungin Shena lagi, kalau dia masih nekat hubungin istri gue. Wah benar-benar cari masalah dia,” batin Dio.


Dio menghidupkan televisi dan Ia duduk di tepi tempat tidur mencari saluran televisi yang menarik untuk Ia tonton.


Kebanyakan acara infotainment dan Dio tidak tertarik sama sekali. “Sore-sore gini kok ada acara gosip sih?” Ia menggerutu sambil terus mengotak atik remot televisi.


Ketika berhasil menemukan acara pertandingan sepak bola, Ia langsung tersenyum sumringah padahal sebelumnya mudung karena seringnya dapat acara gosip yang tidak Ia sukai sama sekali. Makanya apa yang terjadi dalam dunia selebriti benar-benar tidak Ia ketahui sedikitpun.


Dio pindah posisi menjadi duduk bersandar di kepala ranjang menatap televisi dan setelah itu fokus menonton televisi. Sekitar satu jam Dio menonton televisi, tiba-tiba ada panggilan tapi bukan dari ponsel melainkan istrinya yang baru masuk ke dalam kamar.


“Mas,”


“Iya kenapa, Shen?”


“Aku ada sesuatu buat kamu,”


Dio mengernyitkan keningnya ketika sang istri masuk-masuk membawa sesuatu di tangannya dan raut wajah gembira Shena tidak bisa ditutupi.


“Kamu bawa apa itu?”


“Ini aku beli baju buat kamu di online,”


Shena membuka kemasan belanjaan online nya yang sudah datang. Setelah melihat baju pesanannya sudah ada di depan mata, Ia langsung menyerahkannya kepada Dio.


“Coba kamu dong yang buka ‘kan kamu yang beli, Sayang,”


“Okay coba ya kita buka,”


“Kamu beliin buat aku doang, Shen?”


“Iya aku sengaja beli buat kamu aja soalnya aku liat lucu dipakai sama kamu,”


Shena menunjukkan baju yang kemasannya sudah Ia buka kemudian Ia minta pendapat suaminya yang langsung tersenyum melihat gambar di kaos biru tua yang saat ini dipegang oleh sang istri.


“Ini beneran buat aku?”


“Iyalah beneran buat kamu, masa aku bohong sih,”


“Ya ampun, makasih ya,”


“Sama-sama, senang nggak?”


“Senang banget, tapi kok kamu kepikiran ngambil yang ganbar ini? Aku penasaran deh alasan kamu,” ujar Dio seraya meraih baju yang telah dibelikan oleh istrinya itu kemudian Ia tatap bordiran di kaos yang dibeli oleh sang istri.


Ada gambar seorang laki-laki dewasa yang sedang bertekuk lutut di hadapan seorang anak kecil perempuan. Shena tertarik membeli itu karena maknanya sampai sekali ke hatinya. Ia jadi teringat bagaimana papanya memperlakukan Ia bagai ratu. Ia berharap kalau anak mereka perempuan, Dio bisa memperlakukan anak mereka layaknya ratu juga.


“Soalnya aku suka sama gambarnya, lucu dan menurut aku berkesam banget,”


“Iya sih memang, kesannya nyampe ya. Ini gambar ayah sama anak perempuannya ‘kan?”


“Iya bener, aku beli itu sebenarnya juga karena teringat sama papa aku yang sikapnya tuh baik banget ke aku dan aku dianggap kayak ratu sama Papa aku,”


“Okay-okay aku paham sih makna nya apa. Tapi ‘kan—aku belum—aku belum punya anak, Shen. Dan kalaupun punya anak nih, emang anak aku perempuan?”


“Ya aku ‘kan jatuh cinta sama gambarnya ya. Jadi nggak apa-apa dong aku beli aja? Walaupun kita belum punya anak atau kalau nantinya anak kita bukan perempuan ya nggak amsalah, baju ini ‘kan bagus, aku beli ya karena suka ganbarnya, makna, eksannya tuh dapet banget di aku. Makanya aku beli deh,”


“Jangan-jangan ini pertanda kalau nanti aku bakal punya anak perempuan?”


Shena terdiam mendengar ucapan Dio yang sekarang senyum-senyum sendiri mengamati gambar di kaos pemberian sang istri.


“Jangan-jangan iya nih anak aku cewek nanti,”


“Anka kamu doang nih? Anak aku juga dong,”


“Iya maksud aku, anak kita. Kayaknya iya deh cewek makanya kamu kepikiran beli ini,”


“Nggak tau deh, tapi terlepas dari apapun itu intinya adalah aku senang sama gambarnya,” ujar Shena.


“Iya sama, aku juga senang, Sayang. Makasih ya udah dibeliin baju yang penuh kesan, penuh makna ini, aku senang banget,”


Dio langsung memeluk istrinya kemudian mencium puncak kepalanya betulang kali.


“Makasih ya, Sayang,”


“Iya sama-sama,”


“Semoga kamu suka ya,”


“Aku suka banget, aku mau langsung lake nih sekarang juga,”


“Eh jangan, nanti aja pakenya kalau udah aku cuci setrika, okay?”


“Emang kenapa kalau dipakai sekarang?”


“Ya nggak usah sekarang juga, Mas. Aku cuci dulu biar kamu pakainya nyaman, dan bersih nggak gatal, takutnya kotor,”


“Tapi ini bersih kok, aku juga nggak alergi baju baru alias harus cuci dulu baru pakai,”


“Udah pokoknya ini aku cuci dulu ya, Mas. Jangan bandel kalau dikasih tau, okay?”


“Hmm padahal aku mau pakai sekarang lho,”


Entah kenapa Dio antusias sekali ingin mengenakan baju pemberian istrinya saat ini juga.


“Nanti ya, aku cuci dulu, aku strika suku nah kalau udah, baru deh aku kaish ke kamu, Mas, okay?”


“Okay, aku nggak sabar pakainya karena dibeliin sama istri dan gambarnya bagus, ada maknanya gitu. Aku anggap itu harapan kamu ya, Shen, kamu berharap nanti kalau misalnya kita punya anak, apapun jenis kelaminnya, aku bisa memperlakukan mereka dengan baik, apalagi kalau anak perempuan,”


“Iya, aku berharapnya kayak gitu,”


“Okay, mudah-mudahan aku bisa penuhi harapan kamu itu ya, semoga aku nggak ngecewain anak kita nanti, nggak ngecewain kamu, nggak ngecewain penciptanya juga. Aku berharap bisa jadi figur ayah yang baik untuk anak kita kelak,”


“Aamiin,”


“Aku pasti nanti banyak kurangnya deh, aku minta maaf ya, Sayang. Aku bakal belajar terus pastinya,”


“Iya, aku juga banyak kurangnya nanti, emang kamu doang,” ujar Shena seraya terkekeh.


“Kita ‘kan masih sama-sama baru jadi orangtua,” ujar Shena.


Shena membuang bungkusan paketnya ke tempat sampah kemudian Ia meletakkan baju baru milik suaminya di tempat cucian setelah itu Ia mengulurkan tangan mengajak suaminya untuk beranjak keluar dari kamar.


“Sholat, udah maghrib,”


“Ayo,”


“Abis itu kita makan ya,”


“Makan dimana?” Tanya Dio pada istrinya.


“Di meja makan lah,”


“Aku pikir kamu ngajakin aku makan di luar,”


“Nggak, di rumah aja, Mama masak,”


“Masak apa tuh?”


“Ntar liat aja sendiri aku yakin kamu suka deh,” ujar Shena pada suaminya yang langsung tersenyum antusias.


“Masakan kamu sama Mama tuh nggak pernah gagal jadi nggak sabar deh pengen tau apa yang dimasak,”


“Ya makanya sekarang sholat dulu ayok,”


“Kaki aku kesemutan, makanya belum bangun nih,”


“Yah, terus gimana dong, Mas?”


“Ya tunggu bentar aja,”


“Aku ambil wudhu duluan boleh?”


“Boleh dong, Sayang,”


Shena menganggukkan kepala lantas bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu Ia menyiapkan peralatan sholat untuknya dan juga sang suami.


“Jangan dipaksa kalau masih kesemutan, Mas. ‘Kan jadi susah jalan aku sering begitu,”


“Iya tunggu bentar ya,”


Dio menunggu tidak sampai lima menit, setelah kakinya sudah baik-baik saja, rasa tidak nyamannya hilang, Ia langsung beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah itu Ia langsung mulai beribadah dengan istrinya sebagai makmum. Selepas menjalankan kewajiban sholat maghrib sebanyak tiga rakaat dan berdoa, Shena langsung mencium tangan suaminya dan suaminya mengecup keningnya.


“Shen, ntar kalau kamu nggak malas, kita jalan malam yuk,”


“Hah? Kamu mau jalan malam kemana? Besok ‘kan mau pergi ke Lombok,”


“Ya justru itu, makanya aku mau ngajak kamu jalan soalnya besok aku pergi,”


“Cuma pergi bentar aja kok, nggak usah murung gitu dong,”


“Ya gimana nggak murung, aku bakal ninggalin kamu, Shen,”


“Aku baik-baik aja di sini, Dio. Ya udah yuk kita ke ruang makan,”


Dio menganggukkan kepalanya, setelah melipat sajadah, kain panjang dan mukena yang mereka gunakan untuk sholat, mereka berdua langsung bergegas ke ruang makan.


“Dio, besok nggak jadi ke Lombok ya, tunda minggu depan,”


Baru tiba di ruang makan, Dio langsung dapat informasi dari papanya bahwa besok tidak jadi berangkat ke Lombok.


“Seriusan, Pa?”


“Iya, minggu depan,”


“Okay aku mau liburan ke luar negeri deh kalau gitu sama Shena ya, Pa, Ma?”


“Kemana?”


“Itali, mumpung ada waktu gitu,”


Shena membelalakkan kedua matanya kaget. Suaminya belum membahas apapun dengannya tiba-tiba punya rencana ke Italia.


“Yah Mama udah siapin liburan buat kalian ke Bali. Udahlah ke Bali aja dulu,”


“Hah? mama udah siapin liburan ke Bali?” Tanya Dio yang langsung diangguki oleh Mamanya.


“Iya Mama udah siapin semuanya kalian tinggal berangkat, ya sebagai pengganti kamu ke Lombok lah istilahnya,”


“Yah, Ma, kenapa nggak bilang-bilang dulu kalau mau nyiapin liburan ke Bali? Aku padahal mau ajak Shena ke luar negeri,”


“Dio, nggak boleh gitu, harus bersyukur dong dikasih liburan sama Mama,” bisik Shena.

__ADS_1


__ADS_2