
Dio belum jadi pergi ke Lombok bersama Papanya ditunda hingga minggu depan. Dan senagai pengganti keberangkatannya, Dio dan Shena malah diberangkatkan liburan oleh Ardina dengan sebutan bulan madu. Baik Shena dan Dio, tidak ada yang menyangka kalau mereka akan diberangkatkan liburan disaat Dio tidak jadi mendampingi Papanya menyelesaikan urusan pekerjaan di Lombok.
"Shena, kamu baik-baik aja? kok mukanya pucat sih?" Tanya Dio sambil menatap istrinya dengan cemas.
Dio merasa perlu bertanya sebab Ia harus memastikan Shena baik-baik saja setelah melihat wajah Shena yang pucat di perjalanan dari bandara menuju penginapan.
"Aku masih ngerasa mual tapi nggak apa-apa kok,"
"Kenapa? kamu 'kan udah makan sebelumnya. Kok mual sih? apa masuk angin?"
Shena menggelengkan kepalanya. Menjelang tiba di bandara tiba-tiba Ia merasa sedikit mual tapi Ia bisa mengendalikannya dan perlahan mulai hilang.
"Apa kamu mabuk perjalanan? kamu pasti udah pernah naik pesawat 'kan? nggak mungkin belum,"
"Iya pernah kok. Aku sering ikut papa kerja waktu aku masih kecil sampai remaja tapi setelah dewasa ya naik pesawat paling kalau ada urusan diri aku sendiri aja. Biasanya sih nggak mual,"
“Ya iyalah itu belum hamil,” batin Shena.
"Ya udah berarti baru kali ini aja mualnya. Mungkin kamu masuk angin kali. Atau emang lagi mau nurun tuh kondisi kesehatan kamu. Harus dijagalah, jangan sampai malah sakit di Bali. Tujuannya mau liburan eh malah sakit. 'Kan nggak lucu kalau kayak gitu,"
"Iya aku bakal jaga kesehatan kok. Dan lagipula aku bawa obat-obatan juga . Insya Allah aman lah. Kamu khawatir sama aku?" Tanya Shena seraya menatap suaminya dengan senyum.
"Ya iyalah, karena kamu liburan sama aku. Kalau kamu pulangnya sakit otomatis yang ditanyain sama mama papa adalah aku. 'Kenapa Shena bisa sakit? kamu jagain nggak? makannya teratur nggak?' pasti aku dapat pertanyaan semacam itu, males banget jawabnya,"
Shena terkekeh mendengar suaminya berceloteh membicarakan orangtuanya yang akan cemas dan cenderung menyalahkan dirinya bila Shena sakit. Wajar saja karena Shena memang istrinya.
"Nanti sampai penginapan langsung tidur aja ya,"
"Lho, kok tidur? kita harus benar-benar nikmatin waktu yang ada, Dio. Soalnya kita cuma tiga hari di sini. Jadi harus puas eksplore dong, jangan tidur. Kalau bisa sih tidurnya malah aja, 'kan biasanya kita juga nggak tidur siang ya kalau di Jakarta, tidur paling malam aja,"
"Kamu lagi kayak gitu keadaannya. Nurut bisa nggak sih? kalau dikasih tau tuh jangan bantah. Aku malas banget kalau kamu udah bertingkah deh," ujar Dio dengan ketus dan itu membuat Shena sedikit merengut wajahnya.
"Aku baik-baik aja kok. Pengen jelajah Bali sepuasnya dengan waktu yang super cepat ini, Mas Dio. Aku nggak mau tidur,"
"Ya udahlah terserah kamu,"
"Kita kemana nanti?"
Dio diam, dan Shena menilai bahwa sang suami sedang jengkel karena Ia tak mau mendengarkan kata-katanya.
"Kita mau kemana, Mas Dio?"
"Saran aku mendingan kita tidur-tiduran bentar terus kita keliling nah barulah makan setelah itu,"
Shena diam sebentar dan akhirnya Ia menganggukkan kepalanya. Ia setuju dengan apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Daripada Dio kesal lagi karena Ia tidak mau mendengar omongannya.
Lagipula apa yang dikatakan oleh Dio benar. Biar mereka ada waktu untuk istirahat sebentar, setelah itu barulah keliling. Selama dalam perjalanan ternyata cukup mengurangi energi jadi seharusnya mencari energi pengganti dulu paling tidak dengan duduk atau berbaring sebentar menikmati nyamannya tempat penginapan mereka yang sudah dipesan oleh Ardina untuk mereka bermalam.
Mobil yang membawa mereka dari bandara menuju penginapan akhirnya sampai juga. Mereka langsung masuk ke dalam kamar dengan membawa koper dan tas ransel masing-masing.
Begitu memasuki kamar, mereka dibuat takjub karena fasilitas yang ada. Belum tidur di sana tapi sudah bisa menebak akan senyaman apa. Dan benar-benar private sekali.
"Ini sih kayak bulan madu beneran ya, Mas. Mama niat banget,"
"Ini mah keterlaluan niatnya. Liat aja, masa ada bunga di tempat tidur, segala ada angsa pula,"
"Tapi romantis kesannya, Mas,”
"Nggak romantis, malah aneh tempat tidur dikasih bunga, udah kayak kub--"
"Eh kamu tuh kayak nggak pernah liat fasilitas untuk bulan madu aja deh. Emang rata-rata bakal begitu kalau untuk yang bulan madu. Ada bunga, ada handuk bentuk angsa,"
"Aku sering liat tapi nggak senang begitu dikasih kejutan kayak gini,"
"Ih Mas, kamu harus hargain mama dong. Nggak gampang lho mama kasih kita liburan,"
"Gampang lah, Shen. Mama punya uang tinggal tunjuk doang udah beres," ujar Dio seraya terkekeh.
"Ah tapi tetap aja susah menurut aku ya. Mama harus cari-cari dulu mana yang cocok buat liburan, belum lagi harus ngeluarin uang juga," ujar Shena yang tidak setuju kalau suaminya mengatakan mudah bagi Ardina untuk mempersiapkan liburan mereka. Karena kenyataannya memang tidak mudah.
__ADS_1
"Kamu betah di sini? nyaman 'kan?"
Dio menggelengkan kepalanya. Tentu saja Ia tidak betah tapi apa boleh dikata, liburan ini sudah dirancang dengan sangat maksimal oleh mamanya yang bikin rencana secara mendadak.
"Kenapa nggak betah sih? bukannya di kamar ini nyaman banget? kok bisa nggak nyaman dan nggak betah? padahal semua di kamar lengkap 'kan,"
"Iya sih semuanya ada. Cuma karena emang awalnya nggak ada niat untuk liburan kali ya jadi ya gitu deh,"
"Harus betah dong, Mas. Ih berarti kamu nggak betah dong sama aku,”
Dio langsung terkekeh dan buru-buru mencium kening istrinya itu sambil berkata “Iya aku betah kok,”
"Ya udah jangan berisik, kita istirahat dulu bentar sebelum jalan. Kamu nanti mau kemana?"
Dio membaringkan badannya di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap. Setelah tiba di kamar,Ia benar-benar mewujudkan ucapannya untuk istirahat lebih dulu.
Kalau memaksakan diri untuk jalan-jalan selepas turun dari pesawat takutnya malah jadi tidak baik. Apalagi tadi Ia bisa melihat Shena yang wajahnya pucat.
"Kamu masih mual, Shen?" Tanya Dio pada sang istri.
"Nggak kok, Mas. Kenapa emangnya?"
Dio sempat mengangkat sebentar kepalanya untuk melihat wajah Shena guna memastikan Shena memang tidak pucat lagi. Kalau dia tidak pucat berarti benar Ia tidak mual lagi, tidak menahan desakan untuk mengeluarkan isi perutnya lagi, Dio menyimpulkannya begitu.
"Beneran kamu?"
Shena menganggukkan kepalanya. Ia merasa jauh lebih baik. Tidak ada rasa ingin mengeluarkan isi perut lagi. Tadi memang benar-benar mengusik sekali rasa mualnya itu dan sulit untuk ditahan makanya Dio jadi tahu, apdahal Ia selama ini berusaha menutupi kalau Ia suka mual.
"Lagian udah kayak orang hamil aja mual segala, padahal udah biasa naik pesawat juga. Aneh banget sih kamu,"
Shena memilih duduk saja bersandar di kepala tempat tidur melirik ke arah suaminya bergumam dengan mata terpejam.
"Apaan sih? kok bawa-bawa hamil? semua orang bisa aja mual, apalagi kalau habis perjalanan lumayan jauh. Sering naik kendaraan ini itu kayaknya juga nggak menjamin nggak akan merasa mual deh," ujar Shena dengan ketus. Ucapan Dio itu menyakiti hatinya yang memang sedang hamil. Ia tahu Dio tidak memaklumi karena Dio tidak tahu Ia sedang hamil, tapi harusnya diam saja, tidak usah bicara seperti itu.
"Hmm ya udah,"
"Duh, katanya cuma mau istirahat bentar aja, cuma mau duduk-duduk aja tapi kayaknya Mas Dio bakalan tidur nih. Aku udah nggak sabaran mau jalan-jalan lagi nih. Tapi Mas Dio keliatannya malah mau tidur," batin Shena.
Shena sebenarnya sudah ingin keluar dari penginapan sekarang untuk jalan-jalan melihat suasana sekitar karena rasanya Ia sudah lama Ia tidak mengunjungi pulau dewata ini. Tapi ingin melarang suaminya istirahat juga rasanya tidak mungkin karena Ia tidak setega itu.
"Ya udah aku tungguin Mas Dio bangun aja dulu kalau emang dia tidur,"
"Shen, kalau kita keluar pas mau makan malam aja nggak apa-apa?"
"Hah? nggak terlalu lama itu, Mas? terus gimana kita makan siang? ngomong-ngomong kita nih belum makan siang. Agak lapar perut aku sebenarnya tapi kalau kamu mau istirahat dulu nggak apa-apa. Kita makannya nanti aja kalau kamu udah istirahat,"
Dio menganggukkan kepalanya dan mata lelaki itu masih terpejam. Shena simpulkan suaminya memang ingin istirahat dulu. Jadi Ia pasrah saja.
"Kamu nggak mau istirahat dulu? supaya mual benar-benar hilang, Shen,” ujar Dio yang tidak ingin istirahat sendirian.
"Ini udah duduk santai, namanya udah istirahat, Mas,"
"Aku ngantuk kayak mau tidur begitu masuk kamar,"
"Berarti nyaman?"
Walaupun matanya terpejam tapi Dio masih saja mengobrol dengan istrinya. Ketika ditanya juga menjawab, seperti barusan Shena bertanya apakah Ia merasa nyaman? Dio menganggukkan kepalanya.
"Tadi sih seingat aku ada yang bilang nggak nyaman dan nggak betah," sindir Shena yang mengundang tawa Dio.
"Nyaman deh, tapi nggak betah,"
Shena mendengus kesal. Dio benar-benar tidak bisa mensyukuri liburannya gratisnya ini. Orang di belahan dunia manapun kalau diberikan liburan gratis yang luar biasa fasilitas dan kenyamanannya tentu akan merasa betah karena kenyamanan itu. Dio malah sebaliknya. Kurang baik apalagi Ardina? Tinggal liburan tanpa perlu memikirkan apapun jadi sudah sepatutnya Dio bersyukur.
"Dia benar-benar aneh. Masa iya nggak betah di sini? aku aja betah banget kok walaupun baru bentar di sini. Rasanya mau tinggal aja, atau minimal satu minggu lah di sini. Tapi sayangnya Mas ada batas waktu liburan sampai tiga hari aja. Sebenarnya kurang banget bagi aku yang emang udah pengen banget berlibur tapi mau gimana lagi? aku nggak bisa protes," lagi-lagi Shena hanya bisa membatin.
*****
Ardina tersenyum membaca pesan yang dikirimkan menantunya. Ia merasa tenang dan lega setelah tahu dari Shena sendiri bahwa Shena dan suaminya sudah tiba di Bali.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama Ia segera mengetik balasan untuk pesan yang dikirimkan oleh putrinya yang saat ini berlibur di pulau Dewata bersama suaminya itu.
-Alhamdulillah udah sampai. Okay Nak baik-baik ya, tetap jaga kesehatan ya. Selamat bersenang-senang, salam untuk Dio ya, Nak. Jangan lupa sering kabarin yang di Jakarta. Mama Lira udah kamu kasih tau kalau kamu udah sampai?-
Tidak lama kemudian Shena membalas pesan mamanya itu. Ia memberitahu juga kalau dirinya sudah mengabarkan ibu nya bahwa Ia dan Dio sudah tiba di penginapan.
-Istirahat dulu kali, Nak. Baru setelah itu jalan. Apa rencana kamu sama Dio?-
Shena yang membaca pesan mamanya langsung menghela napas pelan kemudian Ia melirik suaminya yang sudah tertidur pulas.
"Emang udah istirahat ini, Ma. Nggak tau aja mama abis dia ngomong nggak nyaman, dia malah tidur pulas," batin Shena yang masih tak habis pikir Dio mengatakan bahwa penginapan mereka tak nyaman dan Ia tidak betah juga hanya karena dari awal tidak ada niat untuk berlibur. Dio tadinya ingin mengajak Shena liburan ke luar negeri sebentar tapi ternyata diberikan loburan gratis oleh Ardina. Walaupun Dio kecewa, tapi biasanya kalau sudah sampai di tujuan pasti sudah tidak ingat lagi bahwa pernah menolak liburan dan tidak niat liburan ke Bali.
-Iya Dio maunya kami istirahat dulu, Ma. Sekarang dia udah tidur ini. Padahal aku maunya langsung jalan-jalan-
Karena Shena tidak bisa tidur, akhirnya sibuk berkirim pesan saja dengan mama mertuanya sambil menunggu Dio bangun.
Tak ada teman cerita dan kebetulan mama mertuanya datang dengan pesannya lebih dulu yang menanyakan apakah Ia dan Dio sudah tiba.
-Kenapa kamu nggak tidur? lebih baik kayak Dio tidur aja dulu baru deh explore. 'Kan jadi enak kalau udah tidur. Mata seger dan badannya juga enak dibawa jalan-jalan. Mungkin Dio masih rasa nggak nyaman kali habis dari perjalanan-
-Malah aku yang sempat mual tadi, Ma. Kalau aku lihat Dio sih kayaknya baik-baik aja. Tapi mungkin dia emang lagi ngantuk aja jadinya tidur deh-
Dio yang terlungkup tiba-tiba membalikkan badannya menjadi terlentang mengadap langit-langit kamar dan yang membuat Shena bingung adalah, Dio menempatkan kepalanya di atas pangkuannya.
Posisi Shena saat ini sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan kedua kaki yang sengaja diluruskan dan secara mendadak Dio menempatkan kepalanya di atas paha Shena yang sedang serius menatap layar ponsel karena berkirim pesan dengan mama mertuanya. Shena menatap suaminya dengan kening mengernyit.
"Ini Dio sadar atau nggak sadar tiba-tiba dipangku sama aku? kok aneh sih?"
Shena jadi canggung. Sebenarnya tidak masalah tapi Ia hanya kaget saja karena sebelumnya Dio tidak pernah seperti ini. Ya walaupun senang tetap saja Shena bingung.
"Mau gerak dikit aja takut dia bangun. Ya nggak apa-apa sih, aku senang kalau ada yang berguna dari aku untuk suami aku sendiri. Kapan lagi Dio butuh pangkuan ya 'kan,"
Shena terkekeh pelan setelah membatin. Ia menutup mulutnya supaya tawanya tidak keluar dam bisa mengganggu suaminya.
Shena mengamati suaminya dalam diam. Ia perhatikan satu demi satu bagian dari wajah sang suami yang terpahat dengan sempurna di matanya. Baru kali ini Ia bisa menatap Dio sepuasnya dari posisi di atas wajah Dio yang saat ini masih tertidur pulas.
Matanya yang tajam sedang tidak menampilkan pesonanya karena sedang terpejam. Tapi alis, hidung, dan bibir membuat Shena berdecak kagum dalam diam.
"Ternyata suami aku ganteng banget ya, udah sadar dari awal sih tapi baru kali ini benar-benar bisa nyimpulin kalau Dio seganteng ini. Kayak nggak ada yang kurang deh, tapi 'kan manusia nggak ada yang sempurna ya,"
Setelah bergumam seperti itu Shena kembali fokus dengan handphonenya, tidak mau berlarut-larut fokus menatap sang suami takut Ia malah pingsan, karena tidak kuat melihat ketampanan lelaki di atas pangkuannya ini.
"Kelamaan merhatiin dia tidur takutnya aku pingsan karena nggak kuat liat kegantengan dia. Heran aku, tidur aja ganteng,"
-Shen, istirahat aja, Nak. Nikmati liburan kamu sama Dio ya. Orangtua kalian di sini selalu doain-
-Okay, Ma. Mama yakin nih nggak mau oleh-oleh? tadi pas antar aku ke Bandara nggak mau oleh-oleh bilangnya. Itu beneran?-
Shena kembali melanjutkan obrolannya dengan sang ibu mertua dan kali ini
membahas oleh-oleh. Tadi mama dan papa Dio mengantarkan mereka ke Bandara.
Ia sempat bertanya ingin dibawakan apa nanti, tapi mereka mengatakan tidak perlu membawa apa-apa. Cukup pulang dengan keadaan sehat dan selamat saja sudah membuat mereka bahagia sekali.
Mereka juga sama seperti orangtuanya yang tak henti berpesan agar hati-hati, dan tetap jaga kesehatan.
Sekarang Shena tanyakan lagi karena barangkali Ardina menginginkn sesuatu dan tapi masih tidak mau mengungkapkan kepadanya.
-Nggak usah mikir oleh-oleh. Kalian senang, kita yang di Jakarta juga ikut senang. Semoga pulang dengan keadaan sehat selamat ya, Nak. Itu bikin kami lebih senang lagi-
-Beneran, Ma?- tanya Shena yang sebenarnya ingin ibu mertuanya itu menjawab spesifik tentang apa yang diinginkan olehnya.
-Iya, Sayang. Nggak usah mikirin oleh-oleh. Tapi kalau bawa cucu sih boleh banget-
Ardina sengaja menyematkan emoji tertawa di akhir pesannya. Respon Shena ketika membaca pesannya adalah terkekeh pelan sambil menutup mulutnya agar tidak mengganggu istirahat suaminya yang masih bertahan di atas pangkuannya dengan mata terpejam rapat dan deru napas yang teratur.
"Ternyata mama nggak mau dibawain oleh-oleh berupa barang, tapi manusia, malaikat kecil sebutannya,”
Shena langsung mengusap perutnya dengan spontan lalu tersenyum. “Kamu udah dinantikan sebenarnya, Nak. Semoga nanti begitu mereka semua tau tentang kehadiran kamu, mereka bahagia ya,”
__ADS_1