Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 34


__ADS_3

“Kamu mau kemana?”


Shena bertanya pada suaminya yang akan beranjak dari tempat tidur. Mereka sejak tadi sama-sama menonton televisi dengan suasana yang hening di dalam kamar. Lalu tiba-tiba Dio beranjak bangun tentu saja mengundang rasa penasaran Shena.


“Gue mau pergi bentar,”


“Kemana?”


“Ngapain nanya-nanya? Mau ikut?”


“Kamu mau kemana dulu?”


“Gue baru ingat, teman gue ngajakin ngumpul di kafe malam ini. Kalau lo mau ikut ayo pergi sama gue,”


“Ke kafe? Sama teman-teman kamu ya?”


“Iya, Shen. Tadi ‘kan udah gue jawab, masih kurang jelas ya?”


“Hmm…nggak deh. Aku di rumah aja,”


“Kenapa? Kok nggak mau ikut? Padahal kayaknya penasaran banget tuh,”


Dio langsung memgambil kaos putih polos, jaket dan celana jeans, setelah itu Ia segera berganti busana. Tak lupa mengenakan jam tangan, dan juga parfum, serta menata rambut sebentar di depan cermin.

__ADS_1


Rasa cemburu atau curiga yang identik dengan kaum perempuan tiba-tiba saja hadir di dalam diri Shena ketika melihat suaminya tampil sempruan sekali malam ini, walaupun hanya dengan stelan jeans, tapi auranya benar-benar terpancar sekali.


“Kamu lama, Dio?”


“Lo daripada banyak tanya mending ikut biar nggak penasaran,”


“Ah nggak mau, udah malam. Aku ‘kan nggak biasa keluar malam,”


“Ya elah, orang sama gue ini. Lagian daripada lo cerewet mending ikut,”


“Ya udah maaf deh kalau aku cerewet. Aku cuma penasaran aja kok kamu kayak mau keluar kemana aja gitu. Rapi banget, wangi, makin keren deh pokoknya,”


“Rapi? Emang gue keliatan rapi? Berarti gue kayak orang yang mau ke kantor gitu maksud lo, Shen?”


“Eh nggak-nggak, maksud aku kamu keliatan niat banget mau keluar malam ini padahal cuma ketemu teman,”


“Iya sih bener, aku juga kalau keluar harus niat. Barusan aku nggak nyiapin baju kamu, tapi kamu udah milih sendiri. Keren banget pilihannya, kayak orang yang mau nge-date sama pacarnya gitu lho,” ucap Shena memuji sambil mengacungkan kedua ibu jari tangannya.


Kedua alis Dio terangkat. Entah kenapa Ia merasanya, kalimat Shena itu adalah sebuah sindiran atas penampilannya yang keren malam ini.


“Maksud lo, gue mau ketemu gebetan gue gitu? Mana ada, lo jangan sok tau deh,”


“Lho, ‘kan aku bilang kayak, aku nggak nuduh kamu. Aku minta maaf kalau kamu tersinggung sama kata-kata aku,”

__ADS_1


“Ya abisnya lo kayak nggak senang gitu sama penampilan gue,”


“Kata siapa aku nggak senang? Malah aku senang banget, karena kamu makin keliatan keren,”


“Iya lo muji gue tapi ada maksud terselubung. Lo sengaja nyindir gue secara halus. Lo ngiranya gue jalan sama cewek, terus gue panik deh karena lo sindir, maksud lo gitu ‘kan?”


Shena terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Suaminya sudah meras atersinggung. Jadi Ia harus menghilangkan rasa cemburunya dan mempersilahkan sang suami untuk berangkat sekarang.


“Ya udah daripada kita debat, mending kamu jalan sekarang aja. Kalau aku boleh minta, kamu jangan pulang terlalu malam ya,”


“Lo lagi cemburu ya?”


“Sejujurnya sih iya,”


“Pantesan negatif thinking. Udah deh, gue bernagkat sekarang. Lo jangan mikir kalau gue jalan atau nge-date sama gebetan gue. Nggak ada tuh!”


“Jaga mata, jaga hati. Walau sama aku belum pakai hati,”


Shena berkata sepeeti itu sambil menambahkan nada sehingga kesannya Ia bernyanyi. Ketika Dio menatapnya dengan ketus, Shena terkekeh.


“Aku ‘kan cuma pesan aja,”


“Diajakin nggak mau, bilangnya nggak biasa keluar malam,“

__ADS_1


“Aku takut ganggu kamu juga,”


“Ya udah berarti gue berangkat sendiri, tetap negatif thinking deh, gue bodo amat ya,”


__ADS_2