Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 99


__ADS_3

“Ini bunga dari siapa lagi nih? Ya Allah, muak banget lihat bunga di sini,"


Dio yang niatnya pulang lebih cepat dari biasanya sebab pekerjaan sudah selesai dan kepalanya berat sekali seolah butuh istirahat di rumah, malah disuguhkan dengan adanya bunga di atas meja saat akan melangkah menuju kamar.


Tanpa aba-aba Ia meraih bunga tersebut dan mencari nama pengirimnya yang lagi-lagi hanya meletakkan sebuah kertas kecil dengan tulisan Mas A.


"Sialan! Mancing emosi aja ini orang ya,"


Dio melempar bucket bunga tersebut dengan sembarangan. Kemudian menginjaknya sesaat.


Tujuannya untuk pulang agar tenang, malah disajikan dengan hal yang membuat emosinya naik seketika.


"Di, itu ada kiriman bunga untuk Shena. Mama taro di situ—-lho kok udah di lantai?" Ardina mengernyit bingung ketika melihat bunga untuk menantunya sudah tergeletak di lantai. Padahal seingatnya sudah Ia letakkan dengan baik di atas meja.


"Sejak kapan pindahnya ya?"


"Itu aku yang pindahin, Ma. Aku lempar barusan," ujar Dio kemudian tersenyum masam dan berlalu ke kamar.


Ardina yang mendengar pengakuan anak bungsunya hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Sudah Ia duga, Dio pasti akan tidak senang mengetahui ada kiriman bunga untuk Shena dari orang asing.


"Kenapa dilempar coba? Harusnya mah biarin aja sampai Shena datang barulah mau dilempar ya lempar aja. Ini yang punya belum tahu, udah main lempar. Dio...Dio,"


Ardina turun ke lantai bawah. Niatnya menghampiri Dio tadi memang ingin menyampaikan soal bunga sebab saat Dio datang Ia lupa menyampaikannya.


Turun ke lantai bawah Ia bertemu dengan Pak Tris yang kembali menjinjing sesuatu di tangannya. Perasaan Ardina sudah tidak enak.


"Apa itu, Pak?"


"Saya udah sewot banget tadi, Bu. Saya 'kan enggak mau terima kuenya tapi kurir mohon-mohon. Padahal saya cuma mau dengar apa kata Mas Andra aja supaya enggak main terima paket,"


Ardina menghembuskan napas kasar dan wajahnya mulai kelihatan kesal. Bukan kesal dengan security rumahnya, melainkan orang asing itu.


"Maunya apa sih? Kalau niat kasih harusnya enggak pakai rahasiain namanya,"

__ADS_1


Ardina menerima kotak kue yang diulurkan Pak Tris kemudian Pak Tris langsung undur diri kembali ke pos.


Pak Tris juga sepertinya mulai bosan menjadi tangan pertama paket-paket itu. Karena masalahnya Dio sudah berulang kali menitip pesan. Tapi ternyata susah sekali untuk dilakukan kalau orang yang antar sudah benar-benar meminta agar kiriman yang diantarnya diterima.


"Lebih baik nggak usah dikasih tau ke Dio deh. Bunga aja udah bikin dia badmood padahal lagi enggak enak badan," ujarnya dalam hati seraya melangkahkan kaki ke meja makan untuk meletakkan kue tersebut.


Sekarang Ia bingung harus memperlakukan kue itu seperti apa. Dibuang atau diapakan, ia benar-benar bingung.


Ardina melihat label di atas kotak kue yang tulisannya lagi-lagi Mas A untuk Shena. Shanti ikutan geram sebab pengirimnya itu main rahasia yang membuat siapapun kesal. Masalahnya bukan sekali dua kali dia seperti ini. Ketahuan sengaja membuat Dio geram dengan kiriman-kirimannya untuk Shena.


*****


"Shen, lo tumben belum siap-siap pulang?"


"Iya, Mas Dio belum ngabarin aku nih mau jemput atau enggak,"


"Biasanya 'kan dijemput, Shen. Nunggu di luar aja sama gue yuk," ajak Lala pada Shena yang ragu. Biasanya Dio sudah mengabari kalau Ia akan berangkat dari kantornya ke toko untuk menjemputnya tapi kali ini tidak. Entah kemana suaminya itu. Tumben tidak memberinya kabar.


Shena menyampirkan tasnya di bahu kemudian menyusul Lala yang sudah keluar toko lebih dulu.


Shena segera meminta bantuan jasa ojek online untuk tiba di rumahnya. Kemungkinan besar Dio tidak menjemputnya tapi yang Ia sayangkan adalah Dio tidak mengabarinya sama sekali. Biasanya kalau jemput memberi kabar begitupun kalau tidak jemput.


"Mas Dio kemana sih? Enggak ngomong mau jemput atau enggak!" Batinnya menggerutu.


Ojek online yang akan mengantar Lala ke rumah sudah tiba dan Lala segera pamit pada teman sekaligus bosnya itu.


"Gue duluan ya, lo sama Pak bos hati-hati,"


"Iya, La. Kamu juga hati-hati ya,"


Lala tidak tahu saja kalau Ia sudah tidak mengharapkan Dii menjemput sebab suaminya itu tidak menghubungi sama sekali. Mau bertanya pada ibu mertuanya tidak enak. Nanti terkesan menyuruh Dio agar datang ke toko untuk menjemput. Tidak dijemput pun tidak masalah baginya karena Ia sudah terbiasa pulang pergi sendiri sebenarnya. Cuma memang setelah hubungannya dengan Dio membaik Ia hampir tidak pernah dibiarkan Dio sendiri baik itu pulang maupun pergi.


Shena menunggu di kursi bambu halaman toko. Tersisa Erik di dalam. Lelaki itu sedang menyelesaikan kesibukannya menyapu.

__ADS_1


Sampai Erik selesai menyapu, Shena belum juga dihampiri pengemudi ojek online. Erik mengernyit mendapati Shena yang duduk membelakanginya.


"Tha, kok lo enggak pulang? Belum dijemput ya?"


"Iya, sebentar lagi datang kok, Rik. Erik duluan aja,"


"Serius nih enggak apa-apa? Kok tumben Pak bos enggak jemput lo?"


"Belum datang aja, Rik," ujar Shena yang diangguki oleh Erik. Lebih baik orang tahu hal yang seperti biasanya saja. Semua tahu kalau Dio biasa menjemput tapi hari ini entah mengapa sudah hampir setengah enam belum datang juga.


"Ya udah gue balik duluan ya," ucap Erik seraya mengunci pintu toko. Shena mengangguk dan melambai singkat pada Erik yang sudah berjalan mendekati motornya. Erik menekan klakson untuk pamit pada Shena sekali lagi.


Setelah toko benar-benar sepi, Shena menghembuskan napas kasar. Ia makin jengkel sekarang. Sudah tidak dijemput, tinggal Ia sendiri yang belum pulang dari toko, lalu ojek belum juga datang sampai sekarang.


"Sabar, Shen. Yang sabar disayang pencipta," Ia menenangkan dirinya sendiri sampai tak lama kemudian buah kesabarannya itu terlihat. Pengemudi ojek dengan plat nomor sesuai yang tertera di aplikasi datang menghampiri Shena.


"Mba Shena ya?"


"Iya benar, Pak,"


Shena langsung naik ke atas motor kemudian Ia menggunakan helm barulah motor melaju dengan kecepatan yang normal atas permintaan Shena sendiri.


"Mba, jalanannya agak macet enggak apa-apa ya?"


"Iya enggak masalah lama sampai rumah yang penting selamat, Pak,"


Shena sudah pasrah saja dihadapkan dengan kemacetan. Wajar karena memang masih jam pulang kerja. Klakson berlomba mengeluarkan suaranya hingga memekakkan telinga pertanda mereka semua juga tidak sabaran untuk tiba di rumah bertemu dengan keluarga yang sudah menanti.


Sementara di rumahnya, Shena tidak tahu apakah Dio sudah menantikan kedatangannya atau tidak. Memberi tahu ingin jemput atau tidak saja enggan, mungkin untuk menunggu pun enggan.


"Mas Dio aneh deh. Aku buat salah apa sih? Kok kayak cuek gitu? Padahal tadi siang sempat chattingan sebentar,"


******

__ADS_1


__ADS_2