
Shena melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya menahan agar Ia tidak meninggalkan kolam renang dulu.
Karena Dio tetap tidak melepas rengkuhannya, Shena akhirnya mencubit punggung tangan suaminya itu hingga Dio berteriak kaget dan kesakitan.
Shena kalau mencubit itu rasanya pedas sampai ke dalam. Makanya Dio paling menghindari cubitan Shena sebenarnya tapi kali ini benar-benar tidak terduga Shena mencubit tangannya.
"Makanya jangan iseng!"
"Dih orang aku nggak iseng. Kamu galak banget sih,"
"Kamu ngapain nahan-nahan aku? udah tau aku mau mandi tapi kamu malah nahan aku. Lepasin pelukan kamu, Mas! aku mau naik nih supaya cepat mandi,"
"Iya tapi mau 'kan diajak berhemat sama aku?"
Shena berdecak kesal karena suaminya yang lagi-lagi belum selesai bicara sementara Ia sudah kesal sekali dan dingin juga ingin cepat-cepat mandi air panas.
"Buruan lepasin, Mas! aku mau mandi ini,"
"Iya tapi mau 'kan aku ajakin berhemat,"
"Berhemat gimana sih? aku nggak ngerti sama maksud omongan kamu,"
"Maksud aku berhemat adalah, kita mandi bareng, Sayang. Jadi hemat air dan hemat waktu juga. Mau 'kan? mau dong pasti. Masa iya nolak untuk berhemat. Kamu sendiri kadang suka bilangin aku hemat. Sekarang aku ajakin kamu hemat juga,"
"Aku nggak mau! enak aja kamu, kayak nggak ada uang untuk bayar air aja, nggak begitu ngaruh kali kalau misalnya kita mandi sama-sama atau nggak,"
"Kata siapa nggak ngaruh, Sayang? ya ngaruh lah. Tagihan air jadinya--"
"Nggak usah macam-macam deh, Ken. Inget umur!"
__ADS_1
"Lah emang umur aku kenapa? masih muda sih,"
Shena sengaja menghentak tangan suaminya agar terlepas dari pinggangnya dan berhasil. Ia berhasil menaiki anak tangga kolam renang satu persatu meninggalkan Dio yang merengut geram.
"Udah nggak dikasih hadiah pas menang lomba renang, diajakin berhemat nggak mau, eh sekarang ditinggalin. Nasib...nasib,"
Shena sudah berjalan meninggalkan Dio yang masih di kolam renang. Dio meanggil-manggil istrinya tapi dia tetap saja melenggang santai ke kamar.
"Ih Astaga, basah-basah kamu nih,"
"Lah kamu juga begitu. Tenang aja nanti aku pel,"
"Nggak usah, biar aku aja, Sayang,"
"Barusan kamu komen," sahut Shena di anak tangga.
"Kita mode berhemat nanti ya, Shen,"
"Apa sih, Mas? nggak jelas kamu ih,"
"Nggak jelas gimana sih? emang salah kalau aku--"
"Salah banget! kamu ada-ada aja kalau ngomong,"
"Ih bilang aja mau,"
"Nggak!"
Shena hampir saja menutup pintu kamar tak menyadari Dio sudah ada di belakangnya dan hampir saja kepalanya terbentur dengan pintu.
__ADS_1
"Ih kamu kenapa sih nutup pintu? udah tau aku mau masuk,"
"Aku mana tau kamu ada di belakang aku, maaf ya,"
"Ada tebusan maaf. Aku nggak mau maafin sebelum dikasih sesuatu,"
"Ah kamu banyak maunya ah, dari tadi nggak selesai-selesai minta ini itu,"
Melihat Shena akan masuk ke dalam kamar mandi usai mengambil handuk, Dio langsung memanggil istrinya itu.
"Beneran nih?"
"Beneran apa?" tanya Shena yang tidak paham dengan pertanyaan sang suami.
"Beneran nggak mau mandi sama aku?nggak mau penghematan, Sayang?"
"Nggak mau. Aku tanpa mandi bareng aja udah berusaha hemat contohnya matiin lampu kalau nggak dipakai, nggak nyalain air juga kalau ngga mau dipakai, pokoknya aku udah hemat lah,"
"Ya udah jangan lama mandinya, aku juga udah dingin nih,"
"Mandi di kamar lain aja, Mas,"
"Emang kamu mau lama, Sayang?"
"Ya takutnya menurut kamu kelamaan,"
"Ya udah deh aku mandi di kamar mandi sebelah,"
Dio pikir daripada Ia menunggu istrinya sampai selesai mandi takutnya lama, lebih baik Ia mandi di kamar mandi lain saja ketimbang menunggu Shena yang entah sampai kapan selesai mandi.
__ADS_1