Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 123


__ADS_3

“Mas, aku mau tanya deh sama kamu,”


Shena mendekati suaminya yang baru saja mengembalikan keponakannya kepada orang tuanya dan Shena tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bicara pada Dio mengenai Tari.


Sebelum suaminya sibuk yang lain, lebih baik diajak bicara sekarang. Dio juga tidak keberatan mendengarkannya. Lelaki itu duduk di sofa sementara dirinya di tepi ranjang. Mereka saling berhadapan.


“Iya mau tanya apa?”


“Jadi gini…” Shena pindah posisi. Sekarang Ia duduk di samping suaminya.


“Si Tari sekarang gimana? Kayaknya kamu enggak ngomongin dia lagi sama aku,”


“Oh dia, kirain mau tanya apa. Dia masih kerja di kantor, cuma rencananya aku mau berhentiin dia, Bee. Tapi aku bingung. Berhentiin atau dipindahkan aja gitu tugasnya biar enggak di kantor pusat. Soalnya kalau aku berhentiin tiba-tiba gitu ‘kan enggak sopan ya. Kesannya aku kejam banget padahal asal kamu tau, Bee, dia semakin berani deketin aku, cuma aku aja yang enggak cerita ke kamu. Daripada bikin kamu kepikiran, mending aku diam aja, dan aku ambil keputusan,”


“Mas, kalau diberhentikan jangan lah, kasian, dia kerja dan hasilnya itu mungkin nggak hanya untuk dia sendiri aja tapi keluarganya yang benar-benar butuh. Kamu enggak usah lihat dia lah, lihat keluarganya. Kalau kamu berhentiin dia enggak bijak aja, Mas,”


“Iya aku juga mikir gitu. Cuma aku tuh pengen dia jauh-jauh gitu lho dari aku dan biar dia jera juga,”


“Enggak usah diberhentikan, biarin aja dia kerja di sana,”


“Kamu kenapa tiba-tiba ngomongin dia?”


“Ya enggak apa-apa. Enggak usah mikirin dia lah, Mas. Biarin aja dia mau kayak gimana juga, dia yang dosa kalau macam-macam,”


“Asal kamu tau, Aku risih, enggak nyaman kalau dia udah cari perhatian gitu,”


“Enggak usah diladenin, Mas,”


“Iya emang enggak pernah aku ladenin, cuma ‘kan yang namanya risih tetap aja, Bee,”


“Jangan kamu berhentikan,”


“Tapi kalau dipindah ke kantor cabang gitu, kira-kira kamu setuju enggak?”


“Ya...terserah kamu aja, Mas. Kata aku sih biarin aja dia di kantor sekarang. Lagipula dia juga enggak tiap saat ketemu sama kamu karena dia bukan kayak sekretaris gitu yang sering komunikasi sama kamu, jadi ya biarin aja dia di tempat sekarang,”


“Ya udah deh, aku dengar saran kamu, semoga aja ya dia enggak bertingkah lagi,”


Shena terkekeh melihat wajah badmood Dio. Tari rupanya benar-benar membuat calon ayah itu kesal dengan tingkahnya.


“Padahal aku udah berkali-kali ngomong sampai berbusa rasanya ini mulut. Aku ini udah bukan single lagi, aku suami orang, bahkan udah mau punya anak, eh dia masih aja cari perkara. Makanya mau aku pecat sekalian. Cuma aku mikir juga apalagi setelah kamu ngomong kayak tadi. Aku enggak pandang dia lah sekarang, aku lebih pedulikan keluarganya yang nunggu hasil dia bekerja di rumah,”


“Lebih bijak aja untuk ambil keputusan, Mas,”


“Iya, aku juga enggak langsung pecat gitu aja kok, aku juga masih mikir-mikir mekang, cuma kayak udah nggak sabaran aja gitu untuk tendang dia dari kantor,”


“Udah, Mas. Jangan begitu, harus baik sama orang,”


******


“Mas, kita keluar yuk, beli apa gitu di luar. Aku mendadak pengen keluar nih,”


Shena mengguncang oelan dengan suaminya yang tengah menonton di laptop. Setelah membuka pekerjaan sebentar, lelaki itu mencari hiburan karena istrinya sendiri sibuk dengan novel yang Ia baca.


“Kemana?” Tanya Dio seraya menolehkan kepalanya singkat kemudian fokus lagi dengan film laga yang Ia tonton sekarang.


“Kemana aja terserah Mas deh, intinya aku mau keluar bentar, Mas,”


“Tapi ini udah malam lho,”


“Ya enggak apa-apa. Naik mobil aja kita biar aman,”


“Tumben enggak minta naik motor,”


“Enggak deh mobil aja,”


Biasanya Shena senang sekali naik motor apalagi kalau pergi malam-malam. Malam ini tumben mau naik motor.


“Ayo, Mas,”


“Ya udah yok,”


“Masih mau nonton ya?”


“Iya, tapi enggak apa-apa pergi sekarang,”


Mereka bersiap dengan mengenakan jaket setelah itu barulah keluar kamar. Di lantai bawah mereka berdua bertemu dengan Sehan dan Tania yang berada di ruang tengah dengan Shofea dan Shanti.


“Mau kemana ini?”


“Keluar sebentar, Ma,”


“Oh ya udah, hati-hati ya, jangan terlalu malam pulangnya,”


“Iya, Ma,”


“Mau jajan ya, Bumil? Ketauan nih,” ledek Tania pada Shena yang terkekeh.


Selain mau jalan-jalan memang Shena ingin membeli makanan tapi belum tahu juga mau makan apa.


“Seatbelt jangan lupa,”


“Orang cuma deket,”


Dio berdecak karena istrinya yang tak mau dengar omongan. Akhirnya Ia maju memasangkan seatbelt ke badan Shena.


“Kamu tuh kalau dikasih tau kadang susah ya, enggak mau dengar banget, padahal untuk kebaikan kamu juga. Mau dekat kek, sejauh ujung kulon kek, tetap aja yang namanya bahaya bisa dimana aja. Kewaspadaan dan usaha melindungi diri itu harus ada dong,”


“Okay, Pak, siap,”


Dio memutar bola matanya. Kalau Ia sudah berceloteh barulah Shena tersenyum bercanda, tadi cemberut karena disuruh pasang seatbelt mana tidak dipatuhi pula.


******


“Itu ada, Mas. Berhenti-berhenti, stop!”


“Astaga, ya sabar dong, Bee,”


Shena berseru cepat seraya menunjuk sebuah kios penjual empek-empek, Ia minta Dio segera menghentikan mobilnya padahal sedang asyik jalan. Untung tidak rem mendadak.


“Akhirnya ada juga, semoga masih ada deh, belum habis,”


“Itu keliatan di dalam etalase masih ada, Bee,”


“Ayo-ayo, udah enggak sabar aku nih, Mas,”


“Pelan-pelan eh! Bisa pelan enggak? Jangan grasak-grusuk aja kamu tuh,”


Shena terlalu bersemangat, sebelum keluar dari mobil suaminya sudah mewanti-wanti agar Ia tidak sembarangan melangkah.


“Ibu, aku mau satu porsi,”


“Empek-empek tinggal kapal selam aja,”


“Iya enggak apa-apa, sama minumnya es kacang merah masih ada ‘kan ya?”


“Masih, silakan ditunggu sebentar,”


“Ih kok aku enggak dibeliin?”


“Eh iya lupa,”


“Astaga, bisa-bisanya lupa sama suami sendiri, aku juga mau dong,”


Terlalu semangat memesan miliknya sendiri, Shena sampai lupa kalau suaminya belum dipesankan juga satu porsi.


“Ibu semuanya jadi dua porsi ya, empek-empek sama minumnya,”


“Okay, ditunggu sebentar ya,”


Shena dan Dio langsung mencari tempat duduk yang aman, dekat dengan kipas itu pilihan Shena. Karena semakin hari rasanya semakin mudah merasa gerah.


“Parah banget suaminya enggak diingetin, masa lupa kalau ke sini sama aku,”


Shena tertawa karena suaminya masih membahas perkara itu. Ia meminta maaf pada suaminya itu seraya meraih tangannya.


“Iya maaf, Mas. Aku udah kelaperan jadinya begitu, enggak niat melupakan kok,”


“Tadi buktinya bilang lupa,”


“Bukan lupa, tapi belum waktunya ingat aja,”


“Lah terus kapan waktunya? Tunggu kamu abisin empek-empek nya dulu baru ingat aku gitu ya?”


Tawa Agatha makin geli mendengar ucapan sang suami. Dio masih tidak terima dengan ucapannya tadi yang mengatakan bahwa Ia melupakan Dio jadi hanya pesan satu porsi saja padahal Ia ke sini dengan Dio, suaminya itu rela menuruti ngidamnya tapi malah dilupakan. Pantas saja Dio jengkel, ya walaupun tidak sungguhan, hanya Ia tak habis pikir saja dengan istrinya itu.


“Lama banget, aku udah enggak sabaran,”


“Sekarang enggak sabaran, nanti kalau enggak habis awas aja ya, aku cium kamu di sini,”


“Dih yang bener aja kamu, Mas? Enggak tau malu kalau beneran,”


“Nantang dia, ntar beneran aku cium baru deh jantungan,”


“Enggaklah, biasa aja, orang sudah sering dicium,”


Polos sekali jawaban Shena hingga mengundang tawa Dio. Memang benar bisa dicium tapi kalau dicium di tempat umum apa tidak jantungan dia?


“Beneran? Ini ‘kan di tempat makan, Bee,”


“Aku sih malu banget, Mas. Kamu enggak malu? Kayak enggak punya kamar aja di rumah,”


“Kayak bule-bule gitu, Sayang. Aku perna lho, enggak sengaja liat bule ciuman waktu liburan ke luar kota,”


“Idih, kamu liatin? Bener-bener kamu pantengin mereka ciuman?”


“Ya enggak dipantengin lah, enggak sengaja aja ngeliat, terus aku buang muka. Itu posisinya di pantai. Mereka berdua itu lagi berjemur gitu lah ceritanya,”


Shena membayangkan ada di posisi Dio saat itu. Ia pasti akan kikuk apalagi Ia belum pernah melakukannya semasa belum menikah.


“Kamu buang muka apa kamu pantengin terus, Mas?” Goda Shena yang membuat Dio memutar bola matanya jengah. Shena tidak percaya kalau Ia risih melihat orang saling beradu bibir di tempat umum.


“Seriusan, aku langsung canggung sendiri, terus malu juga. Enggak tau kenapa malah aku yang malu padahal bukan aku yang diliatin orang waktu lagi ciuman,”


“Kamu pernah, Mas?”


Mata Dio melotot mendengar pertanyaan istrinya.


“Pernah apa coba?”


“Pernah ciuman?”


“Enggak!”


“Heleh boong,”


“Ya udah kalau enggak percaya,”


“Sekalipun di tempat tertutup?” Tanya Shena lagi kali ini dengan senyum usilnya. Shena sama saja dengan kebanyakan perempuan yang biasanya hobi mencari tahu informasi di masa lalu suami, nanti giliran tercetus jawaban dari bibir Dio yang tak sesuai bayangan, maka dipastikan akan merajuk.


“Enggak, beneran enggak,”


“Ah kamu bohong,”


“Lah ya udah kalau enggak percaya. Mulai deh ya mau cari tau soal masa lalu, nanti aku jawab malah salah, terus kamu nya ngambek dan aku yang repot,”


“Baru juga sekali ini tanya,”


“Enggak, kamu pernah tanya soal itu sebelum-sebelumnya, Bee,”


“Emang iya?”


“Lupa ingatan dia,”


“Tanya soal pernah datang ke bar sama mantan enggak? Pernah ketemu sama orangtua mantan-mantan enggak? Pernah mau dijodohin sama anak teman bunda enggak? Pernah ini enggak pernah itu enggak? Ada aja yang ditanyain, padahal udah lewat masanya,”


“Ya ‘kan aku penasaran, Mas,”


“Ya udah aku jawab semuanya, ini ditanya lagi, males aku ngulangnya,”


Empek-empek dan es kacang merah pesanan mereka sudah jadi dan kini tengah dihidangkan di hadapan mereka.


“Pengantin baru ya?”


“Hmm? Enggak, Bu,” jawab Shena dengan senyum canggungnya. Ia bingung kenapa tiba-tiba ditanyakan seperti itu.


“Enggak baru lagi, Bu. Tuh udah melendung mau tiga bulan,” ujar Dio yang langsung membuat si penjual kaget.


“Oalah calon orangtua ya. Kirain pengantin baru, soalnya auranya kayak begitu, kelihatan bahagianya. Semoga akur-akur ya,”


“Iya, Bu, terimakasih,”


Shena dan Dio menahan senyum setelah ibu penjual pergi. Mereka senang ketika didoakan yang baik-baik apalagi dibilang pengantin baru.


“Dih jadi malu, dibilang pengantin baru kita, Mas,”


“Auranya keliatan katanya. Aura apaan ya? Asal bukan aura mistis aja,”


Shena mencubit punggung tangan suaminya dengan gemas. Ada saja celotehan Dii yang membuat Shena ingin tertawa.


“Kamu keseringan nonton horor kali ya? Jadi bawaannya mistis terus,”


“Enggak, aku mah nontonnya yang berantem-beranteman sama komedi, emang kamu sukanya yang romantis muluk, akhirnya baper sendirian sampe nangis sampe ketawa cekikikan sendiri, aneh banget,”


“Selera tontonan orang itu beda-beda, Mas. Ada yang suka laga dan komedi. Ada yang sukanya nonton film romantis,”


“Iya sih, cuma kamu tuh kadang bapernya kelewatan sih, sampai nangis, aku pikir kenapa eh enggak taunya karena nonton film. Padahal akur film romantis itu udah mainstream kata aku dan gampang ketebak, tapi kamu suka banget nontonnya. Ya itulah selera,”


“Selera nonton sama selera makan itu hampir sama ya, Mas. Masing-masing orang punya perbedaan. Ada yang suka ini ada yang suka itu,”


“Aku suka kamu eh kamu juga suka aku,”


Benar-benar keluar dari pembicaraan dan kedengaran aneh tapi Shena tetap dibuat tertawa oleh ucapan suaminya.


“Aku suka kamu eh kamu suka dia,”


“Suka siapa? Jangan ngada-ngada ngomongnya, Bee,”


“Enggak, ini aku lagi asal ngomong aja, kenapa dibawa serius?”


“Ya kirain kamu nuduh aku suka sama yang lain gitu,”


“Enggak, Mas,”


“Duh lembut banget ngomongnya,”


Shena tersenyum mengerlingkan matanya pada Dio yang membuat Dio terbahak. Ada-ada saja tingkah wanita hamil itu yang bisa menghiburnya.


“Ada yang pernah ngedip ke kamu juga enggak, Mas?”


“Tuh mulai, pertanyaan aneh banget,”


“Ya ‘kan aku cuma tanya, ada enggak?”


“Enggak ada sih, kenapa emangnya?”


“Beneran enggak ada yang ngedip genit ke kamu gitu, Mas? Itu si Tari pernah begitu enggak?”


“Enggak, kalau pernah, udah pasti sepatu aku mendarat ke jidat dia,”


“Galak amat,”


“Iya lah, macam-macam aja ngedip begitu, dikira aku demen apa,”


Sampai tidak terasa empek-empek hampir habis karena dimakannya sambil ngobrol dan bercanda. Bagaimana orang yang melihat mereka tidak berpikir kalau mereka pasangan yang baru menikah? Sebab memang kelihatan sekali akrabnya, bahagianya, dan hangatnya. Orang mengira karena itulah mereka pengantin baru.


“Kalau yang lain pernah begitu enggak, Mas?”


“Enggak pernah, paling cuma senyum aja, tapi enggak pernah yang terang-terangan genit gitu sampai harus ngedip segala, beneran aku timpuk sih kalau kayak begitu,”


“Kenapa? Bukannya suka liat yang centil?”


“Enggak, tapi beda cerita kalau yang centil itu kamu,”


Gantian Dio yang mengedipkan sebelah matanya seraya menggigit bibir bawahnya. Ekspresi nakalnya itu membuat Shena tertawa.


*******


“Saya mempertimbangkan ucapan istri saya soal kamu yang enggak seharusnya dikeluarkan dari sini. Tapi saya minta sama kamu sekali lagi ya, fokus bekerja. Jangan menyukai saya, apalagi mencoba untuk cari perhatian ke saya, karena sampai kapanpun saya ini enggak akan berpaling pada siapapun, paham?”


Tari menganggukkan kepalanya pelan. Ternyata Dio memanggilnya ke ruangan karena mau membicarakan perihal ini. Ia senang bukan main karena Dio tidak jadi mengeluarkan dirinya dari perusahaan.


“Terimakasih, Pak,”


“Ya, bekerja lebih baik, Tari. Jangan sia-siakan kesempatan kamu. Lebih tau diri. Jujur awalnya saya serius mau mengeluarkan kamu tapi karena istri saya, pikiran saya jadi lebih terbuka, dia meminta saya untuk lebih bijak mengambil keputusan. Karena saya lihat juga kerja kamu bagus, itu yang saya perhitungkan,”


“Iya, Pak. Sekali lagi terimakasih. Saya permisi keluar dulu,”


Tari keluar dari ruangan Dii dengan hati yang lega bukan main. Ia sempat berpikir Shena tidak berhasil bicara pada Dio agar memikirkan ulang keputusannya. Ternyata tidak, Shena berhasil menyelamatkan nasibnya di kantor.


Dio yang sebelumnya kelihatan benar-benar ingin mengeluarkan dirinya, sekarang berubah pikiran.


“Pengen banget berhenti naksir sama laki orang, tapi enggak bisa. Gimana dong? Mana dia udah baik banget lagi,”


******


"Alhamdulillah, kalau memang kembar, Dok. Jenis kelamin enggak masalah, kalau boleh minta sama Allah sih pengen laki-laki sama perempuan,"


"Aamiin, semoga dikabulkan ya, Pak,"


Dokter tersenyum melihat Shena dan Dio yang berbunga-bunga, senyum keduanya sumringah sekali. Jelas saja, hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin yang harus Shena lakukan dan mereka dapat kabar kemungkinan besar anak yang dikandung Shena adalah kembar.


"Tapi keadaannya sehat ya, Dok?"


"Alhamdulillah sehat kok, masih istirahat 'kan Ibunya?"


"Masih, Dok. Belum saya kasih izin kerja dulu dia, sama di rumah selalu saya wanti-wanti supaya enggak ngelakuin kegiatan yang berat,"


"Iya, mengandung satu anak aja berat dan luar biasa pengorbanannya, apalagi kalau kembar. Makanya dijaga baik-baik ya, Bu. Vitamin tetap diminum, nutrisi dari makanan diperhatikan, istirahat yang cukup,"


"Siap, dokter,"

__ADS_1


"Terimakasih atas bantuannya ya, Dok,"


"Sama-sama, semoga sehat terus sampai tiba waktunya melahirkan ya,"


"Aamiin, kami permisi ya, Dok,"


Dii dan Shena keluar dari ruangan dimana dokter kandungan Shena melakukan prakteknya.


Dii menemani istrinya periksa kandungan seperti biasa. Kali ini selain mendapat kabar bahagia mengenai janin Shena yang sehat, mereka juga diberitahu kemungkinan besar Shena hamil anak kembar.


"Cie masih senyum," goda Dio seraya menjawil dagu Shena. Kelihatan sekali istrinya itu masih dibayangi-bayangi dengan rasa bahagia setelah mendengar kabar mengenai kehamilan kembarnya.


"Mas, semoga benar kembar ya,"


"Insya Allah benar dong, Bee. Dokternya 'kan udah bilang, kelihatan dua kantung katanya,"


"Iya semoga sehat juga sampai lahir nanti,"


"Aamiin, makanya jaga kesehatan, Bee. Kalau diatur jangan susah, harus nurut apa kata aku dan orang-orang yang sayang sama kamu," ujar Dio seraya merangkul bahu istrinya. Yang Shena tahu, risiko kehamilan anak kembar itu memang lebih berat ketimbang hamil satu anak, jujur Shena cemas akan hal itu. Tapi Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Ia bisa melahirkan mereka nanti dengan keadaan sehat.


"Aku enggak sabar jadi mama, Mas. Terus sekali lahir dua,"


"Ngebayanginnya kayak seru ya, Bee, tapi memang katanya sih bakal repot kalau punya anak kembar. Ya enggak masalah. Punya anak dari mulai mengandung, melahirkan, sampai membesarkan memang enggak ada yang mudah. Nah kalau kembar, kesulitannya jadi bertambah. Dan di situlah letak keseruannya,"


"Apa kita ceritakan soal kehamilan aku ini ke ayah bunda sama mama papa, Mas?"


"Iya dong, mereka pasti selalu tanya kalau kamu udah selesai periksa,"


"Nanti pas udah bilang kembar, enggak taunya yang keluar cuma satu gimana, Mas?" seloroh Agatha seraya terkekeh.


"Ya apapun itu yang penting sehat, Bee. Lagian kamu enggak percaya sama dokternya?"


"Bukan enggak percaya lebih tepatnya. Tapi masih enggak nyangka aja gitu, Mas. Aku kayak enggak yakin bakal ada dua anak dalam perut aku ini,"


"Kamu enggak nyangka ya? susah yakin gitu?"


"Hmm..." Shena menganggukkan kepala.


"Dokter udah bilang kayak gitu, terus juga tadi 'kan dokter nunjuk dua kantong yang dokter maksud, disaat itu hati aku kayak bergetar gitu lho, Mas. Seolah aku tuh kayak lagi dikenalin sama anak aku sendiri,"


"Nah, berarti kamu udah punya feeling sama mereka,"


Dio juga merasa ada yang beda setiap kali dokter memberitahu kabar kehamilan istrinya yang sehat. Ia pasti merasa terharu dengan buncahan bahagia di dadanya.


"Mas, cari minum yuk, aku haus,"


"Boleh, ke kantin rumah sakit?"


"Iya, kaki sama pinggang aku juga udah pegal nih padahal belum lama jalannya,"


"Bawaan hamil kali, Bee. Jadi baru jalan pelan aja udah kerasa pegalnya,"


"Iya, enggak apa-apa sebenarnya. Nanti aku bakal kangen sama masa-masa hamil kalau aku udah lahiran,"


"Nah iya, biasanya begitu. Kangen mualnya, kangen ngidam, kangen pegal-pegalnya juga,"


Dio dan Shena terus berjalan berdampingan dengan tangan saling menggenggam menuju kantin rumah sakit.


"Jangan nyasar ya, Mas. Aku nih ikut langkah kaki Mas aja, kalau nyasar, aku capek dua kali lipat nanti,"


"Enggaklah, tenang aja. Udah sering ke sini,"


"Kamu ingat ya, Mas. Aku mah enggak,"


"Dimaklumi, mungkin kalau lagi hamil jadi gampang lupa,"


Shena tertawa lepas dan mencubit lengan suaminya yang baru saja berkelakar. Setahunya tidak ada hubungan antara kehamilan dengan ingatan.


"Orang enggak ada hubungannya, Mas. Apa ada tapi aku yang enggak tau?"


"Adain aja udah,"


"Mana bisa begitu, kamu bikin teori sendiri,"


"Duduk, mau minum apa? biar aku yang beli,”


Dio menekan bahu istrinya agar duduk di sebuah kursi kantin rumah sakit sementara Ia berdiri di hadapan Shena.


"Hmm..."


Shena melirik minuman-minuman yang dijajakan. Ia bingung ingin apa. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Ia memilih air putih saja dan juga jus alpukat supaya segar.


"Air putih sama jus alupkat boleh, Mas?"


"Boleh, bentar ya. Eh iya mau makan apa? kali aja kamu lapar, Bee,"


Shena menggelengkan kepalanya. Ia tidak butuh makan kalau sekarang, entah nanti. Yang sekarang ini Ia butuhkan adalah air minum.


Dio duduk di depan istrinya seelah memesan minuman. Di tangannya ada kantung plastik putih berisi pisang cokelat dan air putih.


"Mau enggak? aku sedikit lapar jadi beli ini,"


"Enggak, buat Mas aja,"


"Beneran? ini enak lho, Bee,"


"Bener, Mas makan aja ya, aku enggak lapar. Oh iya, aku belum bilang terimakasih nih sama kaku, Mas,"


"Ya Allah, kamu mah bilang terimakasih mulu, sampai bosan aku dengarnya,"


"Emang aku mau bilang terimakasih untuk apa? Mas bisa nebak emangnya?"


"Terimakasih karena udah temenin cek kandungan 'kan?"


Shena mengangguk karena tebakan suaminya benar. Tidak salah ‘kan kalau Ia ingin mengucapkan terimakasih pada suaminya yang tidak pernah absen untuk mendampinginya periksa kandungan di rumah sakit.


"Kalau Mas temenin aku, jadi aku enggak merasa berjuang sendirian gitu, Mas,"


"Enggaklah, Bee. Aku eggak akan biarin kamu berjuang sendirian,"


Jus pesanan Dio dan Shena datang kemudian langsung dihidangkan di depan mereka berdua.


"Ayo diminum jusnya, itu air putih kok belum diminum juga?"


"Eh iya lupa. Karena ngobrol jadi lupa sama rasa haus ya,"


******


"Kenapa sih? katanya ada yang mau diomongin tapi kok enggak ngomong? Bunda jadi penasaran nih, deg-degan juga,”


“Eh iya gimana kabar cucu ayah? Sehat ‘kan?”


Di ruang keluarga Dio berkata pada orangtuanya bahwa ada yang ingin Ia sampaikan pada mereka.


Ardina sudah tidak sabaran mendengarkan hal yang ingin disampaikan oleh putranya, sebab sekarang Dio hanya diam saja sambil tersenyum usil ke arahnya.


“Dio, mama tabok ya! Cepetan ngomong!”


Dio tertawa lepas karena omelan bundanya. Bahkan Ardina tak hanya mengomel dengan mulut, Ardina juga mencubit lengannya supaya Ia segera bicara.


“Buruan ngomong, Dio!”


“Jadi gini, Mama, Papa—-“


Dio sengaja memenggal ucapannya dan itu berhasil membuat Ardina makin mendidih. Shena menatap suaminya dengan jengah.


“Jangan iseng sama papa mama kenapa sih? Tinggal ngomong aja ribet banget Mas nih,”


“Emang, suami kamu ribet banget, sukanya bikin orang deg-degan,”


“Ini enggak bikin deg-degan sih sebenarnya, tapi ya semoga aja ayah sama bunda senang ya dengarnya, sama kayak mama papa tadi setelah aku ngomong soal ini,”


“Iya ini apa? Ih lama banget ngomongnya,”


“Dio ini mau papa jitak ya?”


“Enggak, Yah. Masa calon papanya baby twins mau dijitak sih?”


“Hah?”


Ardina dan Sakti terperangah beberapa saat mencerna ucapan Dio. Mereka saling menatap satu sama lain kemudian menatap Dio yang menahan senyum.


“Maksudnya gimana?”


“Tadi kamu salah ngomong enggak? Baby twins itu maksudnya kembar? Anak kamu kembar?” Tanya Sakti benar-benar ingin memastikan Ia salah dengar atau tidak.


“Tadi juga Mama dengarnya baby twins gitu, bunda salah dengar enggak nih?”


“Iya bener. Tadi dokter bilang, kemungkinan besar Shena ini hamil anak kembar, Ma, Pa, karena—-“


“Alhamdulillah ya Allah, senang banget dengarnya,”


“Alhamdulillah,”


Belum selesai Dio bicara, orang tuanya sudah mengucap syukur. Mereka kelihatan sumringah sekali mendengar penuturan Dio.


“Beneran enggak sih?”


“Ya bener dong, Ma. Enggak mungkin lah aku bohong, ini ‘kan menyangkut jiwa dan raga jadi harus jujur,”


“Kata dokter, dua kantong nya keliatan jelas,”


“Masya Allah, Mama enggak sabar banget,”


Ardina menggertakkan giginya gemas kemudian mencubit pipi Dio. Ia benar-benar semangat menyambut kelahiran cucunya yang kembar.


“Aduh Mama, aku nih bukan anak kecil, jangan dicubit-cubit pipi aku,”


“Abisnya Mama semangat banget ini,”


“Tenang-tenang, Ma. Masih lama, kita diminta sabar lagi lebih lama,”


“Sehat-sehat ya, Sayang. Jaga kesehatan kamu sama si kembar, Mama enggak mau kalian sakit,” pesan Ardina pada menantunya itu.


“Iya, Ma,”


“Semoga sampai lahiran lancar, Aamiin,”


“Aamiin, terimakasih doanya, Ma,”


“Semangat ya! Hamil kembar itu kata orang lebih seru lho,”


“Iya bakal semangat, Ma, ini yang aku tunggu-tunggu ‘kan,”


“Alhamdulillah sekalinya dikasih langsung kembar. Kurang baik apalagi Allah ya? Benar-benar luar biasa kebaikannya, makanya harus rajin bersyukur,”


“Alhamdulillah,”


“Kaget ya? Aku aja kaget banget tadi,”


“Iya, kaget banget, kirain mama kamu mau ngomong apa, sengaja banget dilama-lamain supaya mama makin penasaran, eh enggak taunya mau bawa berita bahagia itu, Masya Allah enggak sangka banget bunda, Dio,”


“Sama, Ma. Aku juga enggak sangka bakal dapat anak lebih dari satu sekaligus dan alhamdulillah sehat kata dokter. Berharap sampai lahiran nanti sehat terus, anak ataupun mamanya,”


“Aamiin, pintar-pintar ngejaga, Shen. Makan diperhatikan, minum vitamin jangan absen, istirahat yang cukup,”


“Siap bu dokter Mama,” sahut Shena seraya memasang sikap hormat. Ia meletakkan tangan kanannya di pelipis.


*****


“Mau apa? Kok bangun?”


Shena duduk melamun setelah beberapa detik lalu Ia tiba-tiba saja terbangun. Dio yang menyadari itu langsung ikut bangun. Sekarang Dio lebih peka dalam tidurnya. Kalau Shena bangun, biasanya lelaki itu juga akan bangun.


“Enggak mau apa-apa,”


“Lapar, Bee?”


Shena menggelengkan kepalanya. Ia duduk bersandar kemudian melipat kaki dan menangkup kepalanya di lipatan kakinya itu.


Dio mengusap kepala istrinya dengan lembut. “Ada yang sakit?” Shena menggeleng dna itu tidak membuat suaminya puas.


“Beneran? Bilang kalau ada yang sakit,”


“Enggak kok, tenang aja,”


“apa kamu pegal? Sini, biar aku pijat,”


“Enggak pegal, Mas,”


“Oh, lapar? Aku ambilin makan mau? Atau aku cariin di luar?”


“Enggak lapar,”


“Minum?”


Ada saja yang ditawarkan Dio pada istrinya itu sampai Shena merasa seperti diundang untuk tertawa.


“Enggak usah nawarin aku ini itu. Kalau ada yang aku mau, pasti aku ngomong, tadi tiba-tiba aja kebangun enggak tau kenapa,”


“Mimpi buruk?”


“Enggak, Mas. Aku enggak bangun karena mimpi buruk,”


“Ya terus kenapa dong? Jangan bikin aku cemas, Bee,”


“Enggak kenapa-napa, jangan cemas,”


“Tidur lagi yuk, aku masih ngantuk nih,”


“Ya udah kamu duluan aja, aku juga paling bentar lagi ngantuk, Mas,”


Dio kembali berbaring, Ia menarik-narik pelan pengan baju istrinya agar ikut berbaring juga namun Shena tetap memilih duduk.


“Ayo tidur, jangan duduk terus nanti pegal lho,”


“Enggak kok, nanti juga kalau udah ngantuk bakal tidur. Mas duluan aja tidur,”


“Beneran enggak ada yang kamu rasakan sekarang, Bee? Rasa sakit maksud aku,”


“Aman, Mas,”


Dio menganggukkan kepalanya. Ia merasa tenang istrinya tidak merasakan sakit apapun sebab itu yang Ia cemaskan.


“Aku beneran boleh pergi ‘kan?”


“Kemana?”


“Sama papa ke Kalimantan itu lho,”


“Oh, iyalah boleh, masa enggak boleh? Orang bajunya udah siap,”


“Eh iya Tari masih merhatiin kamu, Mas?”


Shena belum mengantuk, akhirnya Ia mengajak Dio yang sulit lagi tidur apalagi kalau istrinya tidak tidur untuk mengobrol.


“Enggak, eh enggak tau deh, aku sih enggak merhatiin. Emang kenapa?”


“Enggak apa-apa cuma tanya aja, kirian dia masih suka merhatiin kamu gitu,”


“Aku ‘kan sudah bicara sama dia. Aku bilang kalau aku enggak jadi keluarin dia itu karena aku dengar kata-kata kamu. Jadi aku minta dengan tegas sama dia supaya enggak usah neko-neko kalau mau aman di kantor,”


“Wuih serem dengarnya, Mas,”


“Iyalah, harus kayak begitu supaya dia segan, Bee,”


“Berarti sudah mulai keliatan perubahan dia ya?”


“Hmm iya sih kayaknya, semoga aja dia mau dengar ucapan aku ya. Karena aku benar-benar malas deh ngurusin hal-hal kayak gitu, tapi kalau enggak diurus takut malah ngelunjak,”


“Kamu kayaknya anti banget mau dideket-deketin sama perempuan lain?”


“Aku enggak mau macam-macam, enggak berani. Ngapain bikin dosan? Dosa aku aja udah banyak,”


“Semoga aja beneran enggak berani macam-macam ya!”


“Kamu enggak percaya sama aku?”


“Percaya kok percaya,” ujar Shena seraya mencubit pipi bak porselen milik Dio.


“Kamu sendiri gimana? Udah enggak pernah ngobrol lagi sama Arun kayaknya,”


“Dia sering sih ajakin aku ketemuan gitu, tapi aku enggak mau,”


“Ngapain?”


“Ya makan aja kata dia, Mas,”


“Enggak usah lah, kalau mau makan tinggal di rumah aja, atau pergi makan sama aku,”


“Iya aku juga nolak kok, lagian aku makin malas keluar akhir-akhir ini, enggak tau kenapa,”


“Yes! Bagus kalau gitu, jadi enggak keluar-keluar, termausk ke toko,”


“Tapi kalau ke toko mau,” rajuk Shena dengan wajah cemberut. Kalau ke toko justru Ia ingin sekali tapi Dio tidak juga memberi izin, Dio sudah takut diawal kalau Ia akan bekerja padahal Ia hanya ingin bertemu teman-temannya.


“Bolehin dong, Mas. Aku mau ketemu mereka tau,”


“Nanti kerja di sana bukannya cuma mau ketemu aja, atau yang lebih padah lagi pulang dari sana malah minta balik kerja. Ih enggak mau aku,”


“Enggaklah, aku enggak minta balik kerja kalau sekarang. Serius aku cuma pengen ke sana aja ketemu teman-teman,”


“Enggak sibuk di sana ‘kan? Sibuk kerja ini itu,”


“Enggak, paling bantu dikit-dikit soalnya udah kangen banget kerja,”


“Tuh ‘kan, ujung-ujungnya kamu mau sibuk,”


“Tapi enggak sibuk, cuma bantu dikit aja masa ke sana enggak ada yang dilakuin sih, Mas?”


“Enggak apa-apa, mereka juga ngerti kok,”

__ADS_1


“Tapi boleh ya? Tolonglah, Mas, bolehin aku, udah berapa kali aku mohon-mohon tapi kamu nya enggak ada tanggapan, eh ada sih tapi enggak diizinin malah,”


“Aku antar mau?”


“Mau banget, jadi berarti boleh nih?”


Dio diam sesaat kemudian menganggukkan kepala. Padahal awalnya Ia sudah senang begitu Shena mengatakan Ia malas keluar rumah, tidak tahunya ke toko malah tetap mau.


“Yeayy senang banget kamu bolehin ke toko, terima kasih Mas yang ganteng,”


“Tumben ada pujian di belakangnya,”


“Ya biar sering-sering dibolehin, jadi aku enggak bosan di rumah aja,”


*****


“Tha, lo enggak capek bawa anak lebih dari satu di dalam perut?”


“Belum kerasa capeknya, kenapa, Kal?”


Shena meladeni pertanyaan Kalina sambil tangan mereka terus bekerja. Shena membantu para karyawan bagian packing untuk melaksanakan tugasnya.


“Enggak apa-apa, oh belum kerasa capeknya ya? Gue kirain udah mulai lho, Tha,”


“Mungkin karena belum besar kali ya, tapi mulai nyeri-nyeri pinggang sih udah banget, bahkan makin sering,”


“Terus kalau lo nyeri pinggang gitu diapain, Tha? Lo diemin aja?”


“Aku balur minyak aja sih, nanti hilang sendiri. Kalau udah enggak kuat ya paling dipijat pelan-pelan sama aku atau aku minta tolong sama Mas Dio, habis itu hilang,”


“Lo selama di rumah ngapain aja?”


Kali ini gantian yang bertanya. Lala penasaran dengan kegiatan Shena selama tidak datang ke toko. Shena yang biasanya produktif tiba-tiba harus di rumah saja pasti cukup membosankan.


“Enggak ngapa-ngapain. Paling tiap pagi ikut Bunda aku ke taman aja ngurusin tanaman di sana. Habis itu jadi ibu rumah tangga biasa,”


Shena senang kalau setiap ada obrolan santai seperti ini, jadi pelerjaan tidak terasa berat dan cepat selesai.


“Bosan enggak di rumah?”


“Kalau ditanya bosan atau enggak, ya pasti bosan banget, La, tapi mau gimana lagi? Aku harus istirahat dulu sampai benar-benar kuat,”


“Iya lo harus nurut apa kata dokter, Shen,”


“Jujur aku aja masih suka keluar flek,”


“Eh ya ampun, kok bisa gitu? Lo kacapekan?”


“Kata dokter sih iya, padahal selama di rumah aku enggak ada kegiatan apa-apa,”


“Ya lo nggak sadar aja sama kegiatan yang udah lo lakuin, Shen. Badan lo sebenarnya udah capek tapi masih lo gunain buat ngelakuin ini itu,”


“Hmm iya mungkin. Padahal aku di rumah kebanyakan istirahat tau,”


“Kalau lo banyak istirahat enggak bakalan flek, gue rasa,”


“Tapi kandungan lo sehat ‘kan?”


“Alhamdulillah sehat semoga smapai lagiran nanti, tapi ya gitu, kadang masih suka datang flek dan emang iya sih itu datangnya kalau aku lagi ngerasa capek gitu,”


“Aamiin, lo harus sehat lah, Shena. Gue mau ketemu ponakan gue dan lo sama ponakan gue itu harus sehat,”


“Terimakasih ya, tiap hari kalian tuh selalu aja ngasih hiburan, bercandaan enggak pernah abis jadi aku kalau di rumah liat grup chat bawaannya tuh ketawa aja, jadi hilang bosan aku,”


“Lo kayak enggak tau kita gimana. Emang suka rada-rada ‘kan, Shena. Becandaan mulu, mana suka enggak jelas lagi candaannya,”


“Enggak apa-apa yang penting lucu,”


“Kemarin aja ketawanya si Kaleela di jadiin bahan ketawaan ya. Kata Erik kayak suara pintu rusak,”


“Suka ngadi-ngadi emang si Erik,” sahut Kaleela si pemilik tawa seperti suara pintu rusak kalau kata Erik. Yang lain langsung tertawa lepas mendengar voice note yang Kaleela kirimkan berupa suara tawanya dan Erik yang meledek Kaleela.


“Ngomong-ngomong lo kapan boleh balik lagi ke toko? Pak bos udah mulai ada obrolan ke arah situ enggak? Tapi kalau liat dari kondisi lo, kayaknya bakalan lama ya, Shena?”


“Iya kayaknya, aku ke sini aja dilarang terus, aku benar-benar selalu disuruh istirahat, sama siapa aja yang ada di rumah. Kadang aku mikir aku nih hamil atau kenapa sih, pada khawatir banget kayaknya,”


“Mungkin lo keliatan sibuk mulu kali ya, mondar mandir terus ada aja kerjaan yang dipegang makanya disuruh istirahat,”


“Enggak juga ah,”


“Iya lo orangnya enggak bisa diem, Shena. Enggak heran kalau orang-orang terdekat lo nyuruh istirahat terus,”


“Nanti kalau udah punya anak apalagi, beuh makin sibuk si Shena,”


“Lebih sibuk ke anak,”


“Rencana bakal ada pengasuh enggak, Tha?”


“Belum ada pikiran untuk punya pengasuh. Pengen aku aja yang ngurus bayi aku. Aku makin enggak sabar tau enggak, apalagi setelah aku punya keponakan di rumah,”


“Perempuan ya, Shen? Yang lo bilang sempat dirawat dulu setelah dilahirkan karena dia lahir prematur. Lo kalau enggak salah pernah minta doa sama kita di grup chat,”


“Iya waktu itu yang aku ceritain terus aku minta doa sama kalian, tapi alhamdulillah sekarang Shofea sehat. Bahkan berat badannya nambah terus kata dokter, awalnya ‘kan kecil tuh, sampai mau gendong aja agak-agak takut,”


“Huwaaa pengen juga,”


Shena, Kaleela, dan Kalina menatap Lala yang tiba-tiba merengek. Kalina melekatkan punggung tangannya ke dahi Lala untuk memastikan temannya itu sehat.


“Lo kenapa?”


“Pengen juga,”


“Pengen apaan sih?”


“Pengen punya anak,”


“Kawin aja dulu sana,”


“Nikah, baru kawin,” sahut Shena.


“Iya maksudnya nikah dulu baru kawin dan nanti terciptalah seorang anak yang lo idam-idamkan itu, La,”


“Masalahnya jodoh gue dimana, Kal? Kayaknya belum lahir deh,”


“Emang yang kemarin kemana, La? Kalian udah bubar?”


“Putus!” Sahut Lala dengan galak dan itu berhasil mengundang tawa teman-temannya. Lala melirik mereka dengan sebal. Kisah percintaannya barus aja kandas dan Ia malah ditertawakan? Benar-benar tega sekali mereka.


“Ya udah, berarti bukan jodoh kamu, La. Yang sabar, nanti bakal ada gantinya kok,”


“Tapi kapan datang si pengganti itu, Shen? Udah mau nikah nih,”


“Belum lahir tadi kata lo,”


“Lah jodoh gue brondong ya?”


“Mungkin aja, enggak ada yang tau soal jodoh selain Tuhan,”


Saat Shena sibuk membantu sambil mengobrol, Ia mendapatkan telepon dari Dio yang pasti ingin bertanya ini itu padanya.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, halo, Mas,”


“Lagi ngapain?”


“Lagi bantu-bantu aja nih, cuma dikit aja kok,”


“Oh jangan kecapekan ya,”


“Okay siap,”


“Terus nanti udah tau bakal makan apa? Jangan yang pedas-pedas, Shen. Nanti diare lagi, baru juga sembuh,”


Tiga hari lalu Shena sempat diare karena makan sambal. Shena memang suka pedas tapi yang kemarin itu berlebihan sekali sampai diare. Shena kalap menyantap sambal pecel lele yang nikmatnya luar biasa.


“Iya enggak kok, Mas,”


“Yang normal aja kalau makan, Shena,”


“Lah emang selama ini enggak normal ya?”


“Enggak, kamu suka rada-rada kalau makan,”


Shena tertawa mendengar sahutan suaminya. Sangat rada-rada makanya sampai diare dan membuat suaminya kesal sekali saat itu. Karena sebelumnya Dio sudah mengingatkan tapi Shena beralibi bahwa Ia kebanyakan menuang sambal. Kalau kebanyakan harusnya bisa dibuang sebagian, ini malah tidak. Semuanya Ia santap.


“Jadi aku jemput nanti sore setelah aku pulang kerja?”


“Jadi, Mas. Jemputnya jangan terlalu cepat atau terlalu lama ya,”


“Oh okay, kabari aja kalau udah mau pulang ya,”


“Iya, nanti aku telepon enggak apa-apa ya?”


“Boleh dong, ya udah aku tutup deh teleponnya. Baik-baik di toko, jangan bandel, Bee,”


“Emang aku anak kecil?”


“Kamu kayak anak kecil bandelnya. Assalamualaikum,”


Sebelum istrinya protes lagi, Dio sudah mengucap salam dan setelah mendengar jawaban salam dari Shena barulah Ia menyudahi sambungan telepon.


“Duh gimana gue enggak mau cepat-cepat nikah. Liat lo teleponan kayak tadi sama Pak bos aja udah bikin jiwa jomblo dalam diri gue meronta-ronta,”


“Padahal biasa aja teleponannya ya, enggak mesra-mesraan,” sahut Kalina seraya tertawa. Kalina pun sama. Hanya mendengar Shena dan Dio bicara di telepon membicarakan hal yang biasa sudah membuatnya ingin cepat-cepat nikah juga.


“Enggak mesra sama sekali kalau aku sama Mas Dio mah, biasa aja. Dia barusan telepon karena mau tanya-tanya aja,”


“Ya gitu deh kalau udah punya suami, ditanyain terus. Lah gue ditanyain sama siapa?”


“Mau minta tanyain sama Erik aja enggak? Nanti gue suruh Erik tanya-tanyain lo,” ledek Lala pada Kalina yang membuat Kalina tertawa.


“Lo mau gue hantem ya, La?”


“Eh Kalina anu sama Erik?”


Shena merasa ketinggalan berita. Kenapa Lala menggoda Kalina seperti itu? Apa ada sesuatu antara Kalina dengan Erik? Ia ketinggalan berita selama tidak datang ke toko.


“Anu apaan?! Enggaklah, Shen,”


“Iya anu, Shen,”


Kalina ingin memukul Lala dengan gulungan bubble wrap tapi Lala berhasil menghindar dan Lala terbahak puas.


“Oh aku ngerti. Kamu naksir sama Erik, Kal?” Shena bertanya dengan pelan. Erik sedang memindahkan barang-barang yang datang ke gudang, di tempat packing hanya ada mereka berempat saja yang lain sibuk dengan tugas yang berbeda.


“Enggak! Ih apaan sih? Kok jadi ngelantur obrolannya?”


“Ah boong nih, beneran naksir ya? Jujur aja deh sama aku,”


Kalina tertawa dan menggelengkan kepala sambil menyilangkan kedua tangan. Shena yang melihat itu semakin merasa curiga.


“Kalau ketawa-tawa kayak begitu berarti beneran, Kal,”


“Astaga, enggak. Lo kok percaya aja sama Lala?”


“Halah! Jujur aja deh lo! Sempat suka abis itu enggak, terus sekarang suka lagi, kayak gitu polanya, Shen,”


“Hah seriusan?”


“Lala kompor meleduk banget mulutnya,”


*****


“Udah aku jemput nih, masih aja lama enggak keluar-keluar, pasti sibuk banget di dalam ya, Bee?”


“Enggak juga kok, Mas. Aku keasikan ngobrol tadi, maaf ya telat keluarnya,” ujar Shena seraya tersenyum lebar. Memang Ia membantu jadi sedikit sibuk di toko tapi Ia bisa menjamin apa yang Ia kerjakan tidak melelahkan baginya. Ia lama keluar menemui Dio yang sudah menjemputnya sebab Ia terlalu asyik mengobrol dengan para karyawannya,


“Enggak apa-apa, demi kamu mah aku rela nunggu berpuluh-puluh jam juga,”


“Bener ya? Okay, aku masuk lagi nih, biar Mas nunggu—“


“Ya jangan dong, Sayang. Masa sengaja ngerjain suaminya,”


Shena terkekeh dan mendorong pipi suaminya dengan pelan hingga wajah Dio berpaling ke kanan.


“Langsung pulang ya?”


“Okay, Mas,”


“Enggak mau mampir kemana-mana dulu ‘kan?”


“Enggak, langsung pulang karena aku mau istirahat,”


“Capek? Udah aku bilang—“


“Enggak capek sama sekali kok, aku senang datang ke toko. Sering-sering bolehin aku ya, Mas,”


“Insya Allah, tapi kayaknya kecapekan nih?”


Dio mengacak lembut rambut istrinya yang minta sering-sering diizinkan untuk datang ke tokonya.


“Apa aja yang kamu kerjain di toko tadi?”


“Bantu dikit-dikit aja, kayak packing, terus balas-balas chat customer. Cuma itu aja, Mas,”


“Oh iya makan apa kamu? Enggak yang pedas ‘kan? Yang wajar-wajar aja ‘kan?”


“Iya wajar kok, Mas. Aman semuanya,”


“Ah syukurlah, makan apa emangnya?”


“Beli nasi pecel tadi, tapi pedas dikit,”


“Pedas dikit menurut kamu itu udah pedas banget bagi orang, aku jadi curiga, mudah-mudahan aja nanti enggak diare lagi ya, karena itu tandanya kamu bohong,”


“Beneran cuma sedikit aja kok, Mas,”


“Okay, mudah-mudahan kamu lagi enggak bohong ya,”


“Aku jujur, curiga terus deh,”


******


“Shofea, lagi apa anak cantik?”


“Lagi ngobrol, Aunty,”


“Yah papanya belum pulang ya? Kecian nih ponakannya Aunty,”


“Sini Aunty masuk,”


“Enggak deh, nanti aja main sama Shofea kalau Aunty udah mandi,”


Shena dan Dio baru tiba di rumah dan kebetulan Ia melihat pintu kamar Sehan dan Tania terbuka. Ia mencuri pandang ke dalam ternyata hanya ada Tania dan Shofea saja di atas ranjang, sudah Ia duga, Sehan belum pulang karena mobilnya belum ada.


“Okay nanti kita main ya Aunty,”


“Tunggu ya, Aunty mau mandi dulu biar harum kayak Shofea,”


Shena pamit pada Shofe auntuk mandi sejenak setelah itu Shena masuk ke kamarnya menyusul sang suami yang sudah lebih dulu masuk, bahkan kini tengah mandi.


Shena menghembuskan napas lega setelah duduk di atas sofa. Ia duduk bersandar dan mendongakkan kepalanya ke atas sembari menikmati sejuknya udara dari pendingin ruangan yang menerpa kulitnya.


“Bee, sabun kamu habis?”


“Kenapa emangnya, Mas?”


“Di kamar mandi enggak ada lagi,”


“Tapi kayaknya masih ada stok deh,”


“Aku boleh minta enggak?”


“Hah? Masih suka minta sabun aku?”


“Iya kadang, enggak apa-apa ‘kan ya?”


“Enggak apa-apa kok, Mas. Sebentar, aku ambil dulu,”


Shena terpaksa beranjak dari duduknya untuk mengambil stok sabun badannya yang masih ada.


Setelah itu Ia berikan pada Dio yang ada di dalam kamar mandi. Tangannya terulur masuk melalui celah pintu yang Dio buka. Dan Ia terkejut karena tiba-tiba Dio menarik serta tangannya hingga Ia masuk ke dalam kamar mandi.


“Aarghhh Mas burung kamu tuh!”


Shena menutup matanya kaget karena begitu masuk langsung disambut dengan pemandangan tidak senonoh yang disajikan oleh Dio.


Dio tertawa dan segera berbalik melanjutkan mandinya usai mengunci pintu kamar mandi. “Sayang, mandi bareng yuk,” ajak Dio pada Shena.


“Enggak ah, aku mau keluar aja, mandi nanti,”


“Enggak boleh ih, mandi sama aku aja, ayo,”


Dio meraih tangan istrinya yang masih menutup mata. Ia ingin mengajak Shena untuk mandi bersama makanya Ia menarik Shena untuk masuk ke dalam kamar mandi.


“Enggak mau, Mas, aku mandi belakangan aja,”


“Mandi sama aku lebih cepat, terus hemat air juga, Bee. Ayo kita mandi,”


Shena sudah menolak, dan tetap menutup kedua matanya tapi Dio terus membujuk agar mereka segera memulai mandi bersama.


“Ayolah, enggak usah malu-malu. Orang udah sering liat juga,”


“Enggak sopan banget itu,”


“Ya wajar dong mandi enggak pakai baju. Cepat kamu buka baju terus mandi sama aku supaya hemat waktu dan air,”


“Alesan kamu ada-ada aja, Mas. Biasanya juga enggak menerapkan hidup hemat,”


“Kali ini lagi mau berhemat, Sayangku. Udah buruan deh enggak usah tutup mata segala, kita mandi sekarang,”

__ADS_1


Dio akhirnya berhasil membuat Shena melepaskan kedua tangannya yang menutupi mata, Ia juga berhasil membujuk Shena agar bersedia mandi bersamanya.


*****


__ADS_2