
“Gue tiba-tiba mau gulai,”
Shena tengah sibuk menata lemari yang sudah berantakan padahal baru satu minggu yang lalu Ia rapikan lemari bagian dirinya dan juga suaminya.
“Mau apa, Dio?”
“Mau gulai buat makan malam,” jawab Dio sambil menggosok kepalanya dengan handuk kecil. Dio pulang kuliah langsung mandi, dan istrinya sudah menyiapkan pakaian gantinya.
Sejak masih di kampus Ia sudah membayangkan gulai ayam. Di kamar mandis aat mandi juga begitu. Dan Ia tidak kuat untuk tidak menyampaikannya pada Shena.
Entah kenapa Ia ingin menikmati gulai buatan Shena walaupun sebenarnya bisa saja pesan melalui online.
“Mau gulai?”
“Iya,”
__ADS_1
“Maksudnya aku yang bikin?”
“Ya kalau lo nggak keberatan sih,”
“Orang bubur ayam aku aja kamu nggak makan. Malah kamu taruh di kulkas. Dan kamu beli bubur ayam di luar. Iya ‘kan? Mama yang cerita ke aku. Kamu nggak mau ya hargain masakan aku? Udah keseringan kayak gitu jadi aku sejujurnya malas masakain kamu lagi,”
Tidak, Shena bohong. Sampai kapanpun shena tidak akan bosan ataupun malas memasak untuk Dio hanya saja Ia lelah tidak dihargai perkara masakan. Ini bukan tidak ikhlas atau ikhlas memasak untuk suami. Tapi Ia boleh ‘kan minta dihargai? Sudah sering seperti itu, jadi kali ini Shena melontarkan protesnya.
“Sumpah gue lupa lo bikin bubur makanya pas selesai nganter lo, gue beli bubur. Eh sampai rumah, Mama bilang lo bikin bubur juga jadi gue bingung mau makan yang mana awalnya. Tadinya gue mau makan punya lo dulu tapi gue pikir biasanya bubur yang dibeli itu ‘kan suka cepat basi soalnya di dalam kemasan gitu ‘kan, akhirnya ya udah gue makan bubur yang dibeli tuh duluan, punya lo gue simpan di kulkas, ntar deh gue makan,”
“Nggak usah ‘kan udah masak untuk makan malam. Gulainya mau sekarang juga? Nanti aku buatin, tapi kalau nggak mau dimakan sama kamu ya nggak usah. Sayang kalau dibuang,”
“Gue minta maaf, Shen. Sumpah gue lupa banget kalau lo tuh masak bubur ayam. Lain kali gue nggak gitu kok,”
“Ya udah nggak usah minta maaf, toh udah keseringan juga,”
__ADS_1
Dio berdecak sambil mengacak rambutnya. Sekarang Ia tidak tebang kalau habis membuat Shena kecewa.
Dio menatap Shena yang diam tak mengatakan apapun lagi. Dio menghembuskan napas kasar lalu memutuskan untuk turun ke bawah, Ia ambil bubur yang Ia simpan setelah itu Ia panaskan dan Ia santap di meja makan.
“Hmm ternyata masih enak banget,” gumamnya.
Ardina kebetulan hendak mengambil air minum dan Ia melihat anaknya tengah makan bubur ayam. “Lho kok tumben?”
“Aku mau makan ini, Ma,”
“Lauk buat makan malam udah ada tuh,”
“Iya tapi aku mau makan ini dulu nggak apa-apa ‘kan?”
“Ya nggak masalah, itu ‘kan emang punya kamu buatan istri kamu. Kamu merasa nggak enak nih?”
__ADS_1
“Iya, aku nggak mau lagi dia mikir aku nggak hargain masakan dia,”
“Ya bagus lah, jangan keterlaluan jadi suami ya. Udah terlalu sering beli makanan di luar, bodo amat sama masakan istri padahal dia tuh masak pake energi lho, bukan asal masak aja. Berharap kamu makan tapi kamu anggurin,”