
Shena merasa tubuhnya semakin aneh. Suka mual tanpa alasan, dan itu lebih sering saat lagi, suatu makan yang biasanya Ia suka tiba-tiba jadi tidak suka lagi, perutnya sering merasa kram. Semua itu dialami Shena selama hampir dua minggu, tanpa ada yang tahu. Shena mual ketika suaminya masih tidur. Ia ke kamar mandi mengendap-ngendap ketika mual menyerangnya setiap sebelum adzan berkumandang.
Shena kenal dengan badannya sendiri. Jadi kalau ada yang aneh, Ia bisa sadar akan hal itu. Makanya hari ini tepat setelah Ia pulang kuliah,
Ia datang ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan guna mendiagnosis apa yang Ia alami. Shena sudah punya dugaannya sendiri tapi dokter lebih paham.
“Kamu hamil ya, usia mau masuk minggu keempat. Sehat-sehat ya. Saya resepkan obat mual dan vitaminnya,”
Shena seperti disambar petir begitu mendnegar penjelasan itu. Ia bahagia mendnegar kabar kehamilannya tapi seketika dibuat pening menebak-nebak bagaimana reaksi suaminya. Akanah senang atau justru sebaliknya mengingat Dio pernah bilang bahwa dia belum siap menjadi orangtua, dan terlalu cepat kalau dalam waktu dekat.
Shena sampai gemetar seluruh badan. Ia tidak menyangka kalau hari ini Ia mendapatkan kabar tidak terduga. Kabar yang menggembirakan sekaligus menegangkan karena entah bagaimana reaksi Dio nanti. Itu membuat Shena gugup.
“Apa respon Dio nanti? Dia ‘kan kayaknya belum mau punya anak. Lagi mau santai sementara aku udah hamil,” batin Shena sambil mengusap perutnya sendiri.
“Ini silahkan ditebus ya resepnya. Jangan banyak pikiran ya, jaga pola makan dan istirahat. Jangan stres mikirin hal yang nggak penting,” ujar dokter yang memeriksa Shena.
“Baik, terimakasih, Dokter,”
“Sama-sama, semoga sehat selalu ya ibu dan janinnya,”
“Aamiin, terimakasih sekali lagi, Dokter. Saya permisi,”
“Iya silahkan,”
Shena langsung ke instalasi farmasi rumah sakit untuk menebus resep dokter, barulah Ia pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak menentu.
“Shen, lo kemana sih tadi? Gue nyariin lo di kampus tau. Tapi lo nggak ada-ada,”
Dio sudah menunggu kedatangannya di ruang tamu. Dio niatnya mau pulang bersama Shena. Tapi ternyata Shena tidak ada lagi si kampus ketika Ia baru saja keluar kelas. Ia bertanya pada teman-teman Shena, dan mereka mengatakan Shena sudah pulang.
Begitu Ia sampai di rumah, nyatanya Shena belum sampai rumah. Baru sekarang Shena sampai. Dan tentunya yang Dio tanyakan adalah kemana istrinya itu pergi.
“Aku minta maaf ya. Aku emang ke rumah teman tadi,”
“Oh kok nggak bilang gue sih? Tumben banget,”
“Iya karena—aku lupa,”
Melihat Shena gugup menjawab, Dio langsung mengangkat salah satu alisnya dan menatap Shena dengan sorot mata serius.
“Kamu kenapa sih?”
“Nggak apa-apa, aku salah tingkah aja diliatin kamu,”
Padahal kenyataannya Shena sedang tidak baik-baik saja bukan karena salah tingkah. Pikiran Shena sedang kalut sekarang.
“Kamu beneran baik-baik aja ‘kan?”
“Iya baik-baik aja kok, Dio,”
“Ya udah istirahat deh;”
“Kamu kenapa nggak istirahat?”
“Aku nungguin kamu. Karena aku khawatir,”
“Duh so sweet nya suami aku ini ya. Sekarang aku mau istirahat dulu ya,”
“Okay silahkan,”
Dio mengikuti langkah kaki istrinya. Ia ingin memastikan istrinya itu benar istirahat dan mengerjakan lain.
“Shen, kamu beneran baik-baik aja? Kok keliatan lemes gitu sih, Shen?” Tanya Dio pada istrinya setelah mereka tiba di dalam kamar.
“Hah? Nggak lemes kok,”
“Kamu sakit lagi?” Tanya Dio pada istrinya itu.
Shena menggelengkan kepalanya. Ia tidak sakit, hanya sedang bimbang saja. Beritahu Dio sekarang atau nanti? Dan jujur Ia takut tanggapan Dio tidak sesuai dengan harapannya.
“Kamu kalau ada yang dirasa bilang aja,”
“Nggak, aku nggak apa-apa kok,”
“Oh iya tadi kamu bilang, kamu ke rumah teman kamu ya?”
“Iya, kenapa emangnya?”
“Ngapain?”
“Hmm main aja sih, sambil ngerjain tugas juga sebenarnya,”
“Lain kali bilang ya, biasanya juga bilang kok tadi nggak bilang?”
“Iya aku lupa, maaf,”
“Ah biasanya juga nggak lupa,”
Shena terkekeh meringis. Ia sengaja langsung ke rumah sakit dari kampus tanpa pamit dulu pada suaminya. Ia sengaja cepat-cepat meninggalkan kampus sebelum Dio menghampirinya di kelas.
Shena bergegas mengganti baju untuk mengalihkan rasa gugupnya. Sementara Dio duduk di tepi ranjang. Dio menoleh ke samping saat melihat ada tas Shena.
“Ck, giliran gue naruh tas sembarangan suka ditegur. Lah ini di tempat tidur. Sendirinya juga gitu si Shena,”
Dio langsung memindahkan tas istrinya itu. Bertepatan dengan bersentuhan tangan Dio dengan tas, Shena keluar dari kamar mandi dan Ia kaget melihat Dio memegang tasnya. Spontan Ia berseru dan buru-buru merebut tasnya dari tangan Dio.
“Kamu mau ngapain?”
“Dih, lo kenapa sih? Orang cuma mau mindahin doang, nggak gue apa-apain. Lo takut gue maling isi tas lo?”
“Ng—nggak—bukan gitu. Tapi aku pikir kamu mau—mau buang tas aku,”
“Ya kali gue buang tas lo. Gue cuma bingung aja. Kok lo taruh tas lo di tempat tidur? Giliran gue aja suka ditegur,”
“Iya maaf, aku lupa. Pengen buru-buru ganti baju,”
Dio jadi bingung, kenapa reaksi Shena sampai segitunya ketika Ia menyentuh tasnya? Memang ada apa di dalam tas itu? Benarkah hanya ada kekhawatiran sebatas Ia akan membuang tas itu? Entah kenapa Dio malah curiga Shena bukan takut tasnya dibuang, melainkan Shena takut Ia tahu isi di dalam tas Shena.
“Kayaknya nanti aja deh aku kasih tau Dio. Aku belum siap. Aku takut banget Dio nolak anak ini. Dia jelas-jelas bilang terlalu cepat kalau dalam waktu dekat. Aku takut kecewa, aku nggak tau kapan siapnya,” batin Shena setelah memindahkan tasnya ke sofa. Kening Dio mengernyit menatap istrinya yang kini duduk di sofa. Seperti mengamankan tasnya.
“Kamu lagi sembunyiin sesuatu dari aku ya?”
“Hmm? Nggak lah. Aku nggak pernah sembunyiin sesuatu dari kamu kok,”
Dio mengangkat salah satu alisnya. Entah kenapa hatinya mengatakan kalau Shena itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya dan Ia benar-benar penasaran.
“Kamu nyembunyiin apa hayo? Jangan bohong, Shen,”
“Ya ampun, kamu jangan nuduh gitu dong. Aku nggak nyembunyiin apa-apa dari kamu, beneran deh,”
“Tapi aku nggak percaya,”
“Ah ya udah lah terserah kamu,”
Dio terkekeh karena istrinya merajuk tidak terima dibilang menyembunyikan sesuatu darinya. Dil menghampiri Shena di sofa, dan Ia berlutut di hadapan Shena setelah itu menggenggam tangan Shena.
“Ya udah bagus kalau misalnya nggak ada yang ditutupi dari aku. Kalau ada apa-apa bilang sama aku, jangan ada yang ditutupi dari aku plis,”
Shena menganggukkan kepalanya. Ia akan bicara tapi bukan sekarang. Ia akan lihat situasi dulu. Ia takut kalau sekarang Ia bicara pada Dio, lalu melihat reaksi Dio yang kecewa atau bahkan marah-marah, Ia yang masih belum menyangka juga bahwa hamil malah drop. Ia tidak mau hal itu terjadi. Ia ingin menata hatinya dulu sampai siap menerima semua reaksi Dio nantinya.
“Sekarang kamu istirahat aja, tasnya nggak usah dijagain. Aku nggak mau ngapa-ngapain kok,”
“Aku nggak jagain tas ih. Kamu kenapa mikir kalau aku jagain tas? Kamu pikir ada sesuatu yang aku sembunyiin di dalam tas? Iya?”
“Jujur iya, aku mikir kayak gitu,”
Shena berdecak, lalu membuka tasnya untuk keyakinkan suaminya bahwa Ia tidak menyembunyikan apapun. Tentunya tanpa mengeluarkan vitamin dan obat mualnya di dalam saku kecil.
“Nih, aku keluarin ya isi-isi dalam tas aku. Orang nggak ada apa-apa kok,”
“Iya nggak usah, maaf ya aku nggak maksud kayak gitu,”
Dio panik karena istrinya nampak tersinggung. Shena mengeluarkan isi tasnya dan Ia letakkan di atas sofa.
“Tuh liat aja sendiri, aku nggak nyembunyiin apa-apa,”
Setelah tasnya kosong, Shena sengaja mengguncang tasnya dengan posisi terbalik dengan tujuan membuat Dio semakin yakin bahwa tak ada apapun di dalam tasnya.
“Iya-iya, Shen. Gue minta maaf, udah cukup, sekarang masukin semuanya lagi,”
Dio tidak memyadari kalau memang ada Shena simpan di dalam tasnya dan itu vitamin serta obat mual. Shena bersyukur Ia menggunakan tas yang di dalamya ada saku kecil, lumayan tersembunyi kalau tidak diperhatikan dengan seksama.
“Aku minta maaf ya udah bikin kamu tersinggung. Tolong jangan marah sama aku,”
“Aku nggak marah. Aku cuma mau buktiin kalau aku nggak sembunyiin apa-apa dari kamu. Nih mau cek langsung tas aku?” Tanya Shena seraya mengulurkan tasnya ke arah Dio. Shena yakin Dio tidak akan menerimanya, jadi Ia nekat saja.
“Nggak, aku percaya kok sama kamu. Aku minta maaf udah bikin kamu tersinggung. Aku nggak ada maksud. Aku minta maaf ya. Aku percaya kok, nggak ada yang kamu tutupi dari aku,”
“Sekarang kamu percaya?”
“Iya-iya aku percaya,”
“Kamu mikir aku maling barang kamu ya?”
“Astaga aku nggak kesitu mikirnya sumpah. Bukan harta yang ada di otak aku, Shen. Aku khawatir sama kamu, aku takut yang kamu sembunyiin itu ya misalnya sakit kamu, atau—apa aja yang kamu alami dan kamu nggak mau bagi itu ke aku,” ujar Dio yang langsung membuat hari Shena menghangat. Ia tersenyum kemudian merangkum wajah Dio dan menatap Dio dengan lembut.
“Kamu tenang aja. Aku nggak nutupin sesuatu dari kamu, apapun itu,”
Dio menghembuskan napas lega dan menganggukkan kepalanya. “Ya udah bagus, maaf udah sempat curiga sama kamu, sampai tas kamu dibawa-bawa,”
“Ini beneran nggak mau cek tas aku?”
Shena sengaja masih menawarkan tas nya supaya diperiksa oleh Dio namun Dio menggelengkan kepalanya.
“Apalagi yang harus aku periksa? Semua udah kamu keluarin kok. Lagian aku percaya sama kamu. Sekali lagi aku minta maaf ya,”
“Iya,”
Dio berdiri dan duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Shena yang masih duduk di sofa.
“Aku tiba-tiba mau pizza,” gumam Dio.
“Hah? Mau pizza? Ya udah tinggal pesan,”
“Tapi mau beli sendiri,”
“Ya udah pergi, Dio,”
“Sama lo lah,” jawab Dio sambil menatap istrinya itu.
Shena mengangkat salah satu alisnya bingung. Ia diajak membeli pizza. Tidak biasanya Dio mau repot. Kalau menginginkan sesuatu biasanya Dio lebih sering pesan online.
“Kamu yakin mau pergi ke restoran pizza nya langsung? Nggak pesan aja? Biasanya juga lebih suka pesan online ‘kan,”
“Nggak, aku mau pergi ke sana,”
“Tapi sama aku?”
“Iya sama lo. Ayo buruan,”
“Beneran sama aku?”
“Astaga, masa gue bohong. Ya beneran lah. Ayo pergi sama gue,”
“Tapi aku lagi capek nih. Nanti aja ya maleman dikit,”
Shena mengeluh sambil menyentuh pinggangnya yang memang butuh diistirahatkan. Ia tidak menolak ajakan suaminya tapi Ia minta waktu sebentar untuk istirahat.
“Ya udah baringan aja dulu,”
Dio menepuk salah satu sisi tempat tidur mempersilahkan istrinya itu untuk segera berbaring di atas tempat tidur.
Shena langsung berbaring menghadap suaminya yang kini sudah duduk bersila di sebelahnya.
“Kamu kayaknya belum benar-benar sehat ya? Masih suka keliatan lemas,”
“Udah sehat kok, ‘kan batuk flu aku nggak ada lagi,”
“Ya bener sih, cuma kayak belum sehat aja gitu, lemes, terus kalau aku perhatiin nafsu makan kamu juga kadang susah deh. Kenapa begitu ya?”
“Ya namanya juga manusia kadang nafsu banget, kadang biasa aja, kadang nggak nafsu. Kamu juga pernah begitu ‘kan apalagi aku baru abis sakit jadi wajar kalau belum balik nafsu makannya,”
“Jangan sakit lagi, Shen,”
“Kenapa?”
“Khawatir lah,”
“Makasih,”
“Makasih doang?”
“Oh kamu minta imbalan? Apa tuh imbalannya kalau aku boleh tau?”
Dio terkekeh dan spontan mencubit pipi Shena. “Nggak lah, aku cuma bercanda kok,”
“Duh aku tiba-tiba pengen es campur juga deh. Ntar sekalian beli sama pizza ya,”
“Kamu tumben mau ini mau itu,”
“Iya nggak tau kenapa. Dari tadi di kampus tiba-tiba kepengen banget sama pizza bahkan kebayang-bayang. Aneh banget ‘kan?”
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Wajar kalau lagi mau sesuatu jadi kebayang-bayang,”
“Ingetin ya beli es campur pas beli pizza nanti,”
“Okay,”
“Sekarang aku mau istirahat sebentar ya?”
Dio menganggukkan kepalanya. Dan tangannya spontan mengusap kepala istrinya yang langsung membuat Shena nyaman dan tidak lama kemudian jatuh terlelap.
Dio terkekeh pelan melihat Shena secepat itu tertidur. “Ini nggak salah lo udah tidur, Shen? Kok cepat amat sih? Nyaman banget kayaknya gue usap-usap,”
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Dan ternyata mamanya yang mengetuk. “Kenapa, Ma?”
“Shena udah pulang ya?”
“Udah, Ma,”
“Ajakin makan,“
“Tidur, Ma,” jawab Dio seraya menunjuk ke arah Shena yang berbaring dan memejamkan mata.
“Oh tidur, yah belum makan Shena,”
“Ntar mau aku ajakin beli pizza aku tiba-tiba pengen banget pizza, Ma,”
“Kapan?”
“Nanti malam,”
“Ih kelamaan, dia belum makan siang kali tuh,”
“Terus gimana, Ma? Baru aja tidur dia. Kasian aku nggak tega mau bangunin Shena,”
“Shena tadi kemana? Dia jelasin kenapa kamu cariin di kampus nggak ada?”
“Ke rumah temannya, Ma,”
“Oh, tumben nggak bilang-bilang,”
“Lupa katanya, dan mungkin buru-buru juga kali,”
“Ada perlu apa di rumah temannya?”
“Kerjain tugas kali ya? Aku lupa deh tadi Shena bilang apa,”
“Ah kamu, belum juga tua udah pelupa,”
“Heheh maaf, Ma,”
“Belum juga punya anak udah pelupa,”
“Kayaknya belum siap juga untuk punya anak, Ma,”
“Kenapa belum siap?”
“Ya nggak tau, aku merasa belum siap jadi ayah. Aku takut nggak bisa,”
“Orang lain aja bisa, masa kamu nggak bisa? Jalaninnya dengan enjoy aja, jangan dijadikan beban. Semua ayah di dunia ini juga awalnya nggak yakin bisa jadi ayah, tapi setelah hadir anak mereka jadi belajar dan akhirnya bisa kok,”
Dio menghembuskan napas kasar. Ia tahu semua ayah di dunia ini juga pasti melakukan yang namanya proses untuk bisa menjadi ayah yang baik, dan setiap harinya mereka belajar. Tapi Dio tidak yakin bisa seperti mereka. Belum ada keinginan juga untuk menjadi ayah. Ia masih ingin hidup seperti ini bersama Shena.
“Aku sama Shena ‘kan nggak pacaran tapi dijodohin dan aku pengen pacaran dulu deh sama Shena,”
“Ya emang kalau udah ada anak nggak bisa pacaran ya? Mama nggak maks akaluan punya anak secepatnya sih, cuma kalau alasannya nggak bisa pacaran ya itu agak aneh. Malah menurut Mama dengan hadirnya anak, pacaran kalian tuh lebih seru,” ujar Ardina pada Dio. Tanpa mereka sadari, perempuan yang berbaring di atas ranjang itu mendengar semua pembicaraan mereka.
Ia semakin yakin untuk menyiapkan hatinya dulu sebelum bicara pada suaminya kalau Ia sudah mengandung. Ia sudah bisa menebak reaksi suaminya nanti dan Ia perlu mempersiapkan hatinya dengan baik.
“Ya udah kalau gitu mama turun deh. Kalau Shena bangun suruh makan,”
“Iya, Ma. Tapi kayaknya dia mau langsung makan pizza sama aku deh,”
“Ya coba aja disuruh dulu nanti,”
“Siap, Ma,”
Setelah Ardina pergi, Dio langsung menutup pintu kamar dan kembali ke ranjang. Ia lihat istrinya masih terlelap. Ia berbaring di sebelah Shena dan merengkuh Shena dengan lembut tidak ingin mengganggu Shena.
Dio tidak ingin tidur, Ia hanya ingin memeluk Shena saja. Tangannya bergerak mengusap perut Shena, entah dapat dorongan darimana Ia melakukan itu. Shena langsung membeku begitu mendapat perakuan suaminya itu.
“Kenapa Dio ngusap perut aku? Iseng aja kali ya?” Batin Shena.
Dio terus menggerakkan tangannya dia tas perut Shena sampai Ia bosan sendiri kemudian Ia berbaring memunggungi Shena.
Shena kecewa karena Dio berhenti mengusap perutnya. Shena membuka matanya sedikit untuk melihat kegiatan suaminya sekarang. Ternyata Dio berbaring memunggungi dirinya.
“Yah kenapa berhenti? Aku senang dio ngusap perut aku, rasanya nyaman, dan aku yakin anak aku juga ngerasain hal yang sama,”
Akhirnya Shena yang memeluk suaminya sekarang untuk mencari perhatian barangkali Dio kembali memeluknya lagi dan mengusap perutnya tanpa Ia minta. Dio yang tidak tidur tentunya kaget karena tiba-tiba Shena memeluknya dari belakang.
“Shen, lo udah bangun?” Tanya Dio dengan suara pelan. Sengaja Shena tidak menjawab, Shena mempertahankan matanya yang terpejam tapi sebenarnya Ia tidak tidur.
“Shena—-“
Shena sengaja melenguh sambil mengeratkan pelukannya. Dan dari situ Dio tahu kalau istrinya masih terlelap.
“Bisa gantian gini, barusan gue yang meluk Shena, sekarang Shena yang meluk gue. Harusnya gue aja yang meluk lo, Shen,”
Dio melepaskan tangan Shena yang melingkari perutnya. Dan Ia tidak lagi memunggungi Shena ia memutar badannya supaya berhadapan dengan Shena kemudian Ia langsung merengkuh Shena dan mendekatkan kepala mereka hingga kening dan hidung mereka bersentuhan. Shena menahan senyumnya supaya tidak ketahuan kalau Ia tidak benar-benar tidur. Dio peka sekali. Dio tahu kalau Ia tidak mau dipunggungi tapi sayang Dio tidak mengusap perutnya lagi.
“Kalau Shena nyenyak kayak gini, jadi nggak tega mau ngajak dia pergi,”
“Ajak!”
“Eh?”
Duo kaget bahkan spontan menjauh karena kaget mendengar Shena tiba-tiba menyahuti ucapannya.
“Astaga, lo udah bangun? Sejak kapan? Kok gue nggak tau sih?” Tanya Dio pada Dhena yang terkekeh meringis.
“Maaf ya aku bikin kamu kaget,”
“Kapan bangunnya, Shen? Buset kaget banget gue. Lo kenapa nggak bilang sih kalau udah bangun,”
“Hehehe maaf, aku bikin kaget, nggak ada niat. Tadi spontan aja jawab. Aku pengen ikut kamu beli pizza kan tadi kamu juga udah mau ngajakin aku kenapa tiba-tiba berubah pikiran,”
“Ya karena gue liat lo nyenyak banget, Shen. Makanya gue nggak tega bangunin lo. Ternyata lo denger omongan gue ya?”
“Ya dengar makanya aku jawab,”
“Sejak kapan kamu bangun?”
“Sejak—ya itu—aku dengar kamu ngomong nggak tega mau ajak aku karena aku masih tidur,”
“Nggak, udah nggak ngantuk,”
“Ya ampun, baru juga bentar. Oh iya kata Mama tadi kalau lo bangun, gue harus suruh lo makan. Sana makan, biar perut nggak kosong, belum makan siang ‘kan?”
“Udah kok, di kantin aku makan sama teman aku,”
“Beneran?”
“Iya beneran dong; masa aku bohong,”
“Makan apa?”
“Makan—nasi bakar sama minum es jeruk,”
“Terus abis nggak?”
“Abis dong,”
“Syukur deh kalau gitu. Nggak pernah muntah lagi ‘kan, Shen?”
“Nggak dong, aman kok aman,”
“Beneran nih?”
“Iya beneran lah,”
“Kalau muntah kasih tau aku ya,”
“Lho, kenapa?”
“Ya—nggak apa-apa biar aku tau aja,”
Shena tersenyum mendengar ucapan suaminya. Justru Ia sengaja tidak pernah bilang pada suaminya kalau Ia masih suka mual, dan itu pagi-pagi sekali ketika Dio belum terbangun dari tidurnya.
“Tadi mama ngomongin soal anak,”
Shena mengernyitkan kening, pura-pura bingung padahal tahu kalau Ardina tadi memang sempat membahas perihal anak dengan Dio.
“Apa kata Mama?”
“Aku bilang belum siap punya anak, aku sama kamu ‘kan nikahnya karena dijodohin. Dan aku pengen pacaran aja dulu sama kamu, biar bisa ngerasain pacaran itu kayak gimana sih. Tapi ini pacarannya udah halal alias setelah nikah. Kata Mama masih bisa kok pacaran setelah punya anak. Tapi entah kenapa aku belum siap, Ehen. Aku ragu bisa jadi ayah atau nggak,”
“Orangtua di bumi ini semuanya nggak ada yang langsung bisa, Dio. Pasti melewati proses belajar dulu, harus terbiasa dulu, ya intinya nggak langsung bisa jadi ayah atau jadi ibu,”
“Iya benar, tapi tetap aja aku nggak bisa deh kayaknya. Kalau sekarang terlalu cepat. Aku masih mau hidupmu kayak gini, aku masih mau berdua aja sama kamu,“
“Kenapa? Emang punya anak itu bikin repot ya?”
“Aku nggak mengelak kalau punya anak itu bikin repot, tapi bukan itu intinya,”
Shena merasa terluka mendengar kalimat itu. Ya seperti itulah kalau memang tidak menginginkan. Dianggap merepotkan, atau menyulitkan.
“Tetap aja bagi kamu punya anak itu ngerepotin, nggak ada inti yang lain. Udah itulah intinya, ngerepotin,” ujar Shena dengan menekan kata terakhir.
“Shen, tapi kalau udah siap, ya nggak bakal nganggap kalau anak tuh ngerepotin. Ini karena belum siap aja sebenarnya,”
“Iya aku paham. Ya udah lah nggak usah bahas itu, toh aku belum punya anak juga,”
“Ya kalau kamu punya anak, aku juga punya lah, itu bukan anak kamu sendiri,” ujar Dio dengan lugas.
“Kalau sekarang aku bilang aku punya anak, kamu senang atau sedih?”
“Hah?”
Dio terperangah bingung mendapat pertanyaan itu dari istrinya. Ia bingung Shena serius atau tidak bertanya seperti itu.
“Kamu kenapa nanya kayak gitu? Serius nih nanya—“
“Iya aku serius,”
“Lho kalau kamu nanya kayak gitu, berarti kamu lagi hamil dong sekarang?”
“Ya—-nggak—aku—aku cuma pengen nanya aja,”
“Kalau kamu hamil sekarang?”
Shena menganggukkan kepala. Ia harap-harap cemas mendengar jawaban Dio. Ia berharap jawaban Dio tidak membuat hatinya terluka.
“Ya…mau gimana, ‘kan kamu udah hamil, masa iya kita tolak. Tapi kenapa secepat ini?”
Ada ketidakterimaan di mata Dio. Ini adalah gambaran kalau nanti Shena benar-benar jujur soal kehamilannya.
Menerima seperti terpaksa, lalu mempertanyakan kenapa secepat ini? Reaksi Dio itu benar-benar tanda kalau Dio memang belum menginginkan kehadiran anak di tengah-tengah mereka saat ini.
“Kenapa nggak nanti aja tunggu aku sama kamu benar-benar matang? Paling aku cuma bingung kayak gitu aja sih, tapi aku nerima,”
“Ya kalau kamu mau nanya kayak gitu jangan nanya ke aku. Kamu nanya ke pencipta. Tanya kenapa secepat ini dikasih anak? Kamu berani nanya langsung ke Allah? Emang kamu nggak takut ya dianggap Allah manusia nggak bersyukur? Disaat yang lain di luar sana banyak yang mau dikasih keturunan tapi kamu malah nolak,”
“Kita kenapa jadi bahas soal anak sih? Udah lah nggak usah bahas itu dulu nggak penting toh kamu belum hamil juga ‘kan. Mending bahas yang lain,”
Entah Shena yang terlalu perasa atau memang ucapan Dio yang berlebihan. Ketika mendengar ‘tidak penting’ keluar dari mulut Dio, Shena merasa sedih.
“Dio benar-benar bakal susah nerima anak di dalam kandungan aku ini kayaknya. Aku harus gimana ya? Cepat atau lambat Dio harus tau karena ini anak dia,” batin Shena.
“Ayo makan, tadi disuruh Mama makan,”
“Aku mau makan pizza aja nanti,”
“Itu ‘kan nanti malam. Emang kamu nggak lapar?”
“Aku udah bilang tadi kalau aku udah makan, emang kamu nggak dengar omongan aku?”
“Ya udah biasa aja jangan ketus gitu,”
“Aku nggak ketus kok, aku biasa aja,”
“Mood kamu lagi nggak bagus ya? Kenapa? Mau datang bulan?”
“Apa sih? Jangan sok nebak-nebak deh tapi salah,”
Dio terkekeh sambil mencubit pipi Shena yang merengut. Ia semakin yakin suasana hati istrinya lagi kurang baik. Telat Ia mengajak Shena keluar nanti malam.
“Kayaknya beneran kamu mau datang bulan. Galak amat, kamu kesal sama aku karena apaVl
“Ya karena aku nggak senang dengar jawaban kamu. Aku sakit hati! Kenapa kamu nggak bisa nerima anak kita dengan baik sih, Dio?! Jawaban kamu itu nggak enak didengar tau nggak!” Batin Shena sambil menggertakkan rahangnya.
“Udah ah, aku mau turun nih. Aku bakal nyemil di meja makan. Kamu mau ikut?”
__ADS_1
“Nanti aku nyusul aja,”
“Okay kalau gitu,”
Dio langsung beranjak meninggalkan tempat tidur. Ia keluar dari kamar. Setelah Dio tak ada lagi di kamar Shena menghembuskan napas kasar laky mengusap oerutnya dnegan kembut.
“Nggak apa-apa, masih ada waktu kok. Aku yakin dia bisa nerima kamu. Tenang ya, Sayang,” gumamnya.
“Oh iya aku belum minum vitamin yang dari dokter. Minum sekarang deh,”
Shena lupa belum melaksanakan kewajibannya sebagai ibu. Ia langsung bergegas mengambil air minum di atas nakas lalu Ia duduk di sofa untuk mengambil vitamin yang Ia simpan di dalam saku kecil tasnya.
Ia buru-buru-buru membuka kemasan vitamin tersebut kemudian Ia telan setelahnya Ia meneguk air minum. Bertepatan dengan selesainya Shena minum vitamin tiba-tiba Dio masuk ke dalam kamar dan mengernyit ketika melihat istrinya di sofa padahal tadi masih di ranjang lalu Ia juga lihat istrinya itu memegang segelas air, di pangkuannya ada tas yang tadi sempat Shena bongkar untuk mengeluarkan isinya dengan tujuan membuat Ia percaya bahwa Shena tidak menyembunyikan apapun di dalam tasnya.
“Kamu ngapain, Shen?”
“Hmm? Nggak ngapa-ngapain,”
“Tau-tau duduk di sofa padahal tadi masih di tempat tidur,”
“Iya mau di sini, tiba-tiba aku mau pindah. Emang kenapa?”
“Ya nggak apa-apa sih, cuma bingung aja,”
“Kamu kenapa masuk lagi? Tadi udah keluar dari kamar,”
“Aku mau ngajakin kamu bareng aja,”
“Ya udah bentar,”
“Kamu abis minum apa, Shen?” Tanya Dio seraya menatap gelas yang dipegang oleh istrinya itu.
“Aku minum air putih doang kok,”
“Oalah aku kira abis minum obat,”
“Nggak, aku nggak minum obat,”
Shena berusaha menghilangkan kegugupannya. Entah kenapa Dio bisa tahu kalau Ia bukan sekedar minum air putih.
“Nggak, aku minum air putih doang kok,”
Shena beranjak meninggalkan sofa setelah itu menghampiri suaminya yang berdiri di depan pintu.
“Ayo kita turun ke bawah,”
“Okay,”
Dio menggenggam tangan Shena dan itu membuat Shena bingung. “Nggak usah pegangan, emang kita mau nyebrang,”
“Ya kali aja kamu mau oleh g ‘kan abis bangun tidur,”
“Hahaha oleng? Emang aku mobil,”
“Ya kalau abis bangun tidur terus langsung jalan ‘kan kadang suka oleng, Shen. Emang lo nggak pernah begitu ya?”
“Nggak, aku sejauh ini selalu aman kalau bangun tidur,”
“Tapi emang sebaiknya kalau abis bangun tidur tuh jangan langsung berdiri. Kadang badan kita suka kaget terus akhirnya oleng. ‘Kan biasanya pusing tuh langsung. Gue suka kayak gitu lho, makanya duduk dulu bentar sebelum berdiri,”
“Iya memang harusnya begitu, biar nggak kenapa-napa,”
“Apalagi orangtua, yang udah kakek nenek gitu lho. Suka mau oleng ‘kan kalau langsung berdiri abis bangun tidur. Terus ibu hamil juga tuh kayaknya. Makanya harus hati-hati. Abis tidur tuh jangan langsung berdiri. Duduk dulu, santai dulu, ngumpulin nyawa dulu. ‘Kan selama tidur nyawa kita pada terbang tuh ke langit-langit,”
“Hadeh kamu ada-ada aja sih. Mana ada nyawa terbang ke langit-langit,”
“Kalau kita tidur, nyawa kita emang terbang. Lo nggak percaya?”
“Nggak,”
“Yeh, coba aja liatin nyawa lo waktu terbang pas nanti tidur,”
Shena berdecak mendengar omongan random suaminya itu. Ia langsung mencubit lengan Dio yang tertawa alih-alih meringis kesakitan. Karena memang tidak sakit.
Begitu mereka tiba di ruang makan, aroma menggoreng ayam langsung sampai ke hidung Shena dan tiba-tiba Shena merasa mual.
“Duh bentar ya aku ke kamar mandi dulu,” Shena berusaha mati-matian menahan mualnya. Sambil Ia izin pada suaminya untuk ke kamar mandi. Ia pilih kamar mandi atas karena tidak akan terdengar kalau Ia mual.
“Lah kok—“
Dio melihat istrinya berjalan cepat ke lantai atas, alih-alih ke kamar mandi yang letaknya ada di dekat tangga.
“Kenapa nggak di sini aja sih? Kenapa harus ke kamar mandi yang ada di atas? ‘Kan bukannya jadi lama ya?”
Dio akan menyusul istrinya tapi Ia dipanggil oleh Papanya. “Ntar malam badminton nggak?”
“Aku mau jalan-jalan sama Shena, Pa. Emang papa mau malam ini?”
“Besok malam aja deh kalau gitu,”
“Okay, Pa,”
“Temenin Papa ngopi yuk,”
“Ngopi, Pa?”
“Iya,”
“Dimana? Di rumah ‘kan nggak di kafe?”
“Nggak dong, di rumah aja. Teras yuk, kita ngopi di sana, sambil makan bolu pisang buat Mama,”
“Ya udah boleh. Shena juga lagi di kamar mandi tuh. Nggak tau deh dia balik lagi atau nggak ke bawah,”
Dio membuat kopi untuk dirinya sendiri dan juga sang Papa. Di dapur Ia melihat mamanya sedang menggoreng ayam.
“Shena belum bangun?” Tanya Ardina.
“Udah, Ma. Barusan naik lagi katanya mau ke kamar mandi. Tapi dia nggak mau makan, katanya ntar makan pizza aja, paling cuma mau ngemil doang kali itupun kalau dia turun lagi,”
“Kenapa nggak ke kamar mandi bawah aja? Udah di bawah tapi malah naik lagi,”
“Iya aku juga bingung. Biarin aja deh suka-suka Shena,”
“Aku mau ke teras ya, Ma. Ngopi di sana,”
“Nggak temenin itu istri kamu? Dia mau makan kali,”
“Nggak katanya, Ma. Ya paling kalau pun turun cuma mau ngemil aja, bukan makan. Dia udah makan siang katanya. Ntar makan pizza bareng aku,”
“Ya biar nyemil ditemenin lah,”
“Udah gede, Ma. Shena nggak ditemenin juga nggak apa-apa,”
“Ih jangan cuek-cuek gitu, ntar giliran Shena sakit lagi baru deh panik, giliran dia sehat nggak perhatian,”
“Ya ampun aku tetap perhatian, Ma. Tadi aja aku peluk dia waktu tidur lho,”
“Perhatian macam apa itu?”
“Hahahaha, aku perhatian ‘kan?”
“Kalau kamu belum liat dia makan, suruh dia makan, kamu belum liat dia istirahat ya suruh dia istirahat, itu namanya perhatian,”
“Udah kayak gitu kok, Ma. Aku nggak ngomong aja ke Mama,”
Ardina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Mama harap kamu udah berubah ya, jangan kayak waktu itu lagi. Baik-baik lah sama istri. Nanti nyesal lho,”
“Nyesal kenapa?”
“Ya kalau Shena nggak kuat lagi sama kamu, bisa-bisa dia mau pergi dari hidup kamu. Terus kamu galau tujuh hari tujuh malam ditinggal sama Shena,”
“Mama jangan ngomong gitu lah,”
Dio langsung menoleh dan raut wajahnya berubah murung. Langsung terbayang di otaknya bila seandainya Shena benar-benar pergi. Ia pasti akan sangat kehilangan perempuan baik dan sabar itu. Dio ragu ada perempuan seperti Shena lagi di dunia ini.
“Emang mama mau anaknya ditinggalin sama istrinya?”
“Ya makanya kamu itu harus bersyukur punya Shena! Jangan sia-siain dia lagi. Harus baik, perhatian, sayang, dan cinta ke dia. Kalau nggak ya dia pergi lah. Masih banyak laki-laki baik yang mau sama dia. Daripada bertahan sama kamu yang nggak bisa menghargai dia,”
Dio menghela napas pelan, membayangkannya sudah tidak sanggup apalagi bila itu benar terjadi.
“Kayaknya aku udah cinta sama Shena deh, Ma,”
“Jangan cuma ngomong. Buktiin kalau emang kamu udah cinta sama Shena. Cara buktinya gimana? Ya bersikap baik sama Shena, hargai Dhena, jangan kamu sia-siain dia lagi, ingat lho,”
“Iya, Ma,”
Dio langsung membawa kopi buatannya ke teras rumah. Di sana sudah ada papanya. Kedatangannya itu disambut dengan senyuman senang sang papa.
“Pa, aku boleh naik bentar nggak?”
“Boleh kok, emang kenapa?”
“Nggak apa-apa cuma pengen manggil Shena aja,”
Dio langsung bergegas meninggalkan papanya di teras untuk kenghampiri istrinya. Ia ingin tahu apalah istrinya baik-baik saja atau tidak, dan Ia ingin tahu juga apakah Shena akan turun lagi atau tidak.
“Shen, kamu baik-baik aja? Nggak turun lagi?”
“Aku baik-baik aja, males turun lagi,”
“Ah udah aku duga,”
“Emang kenapa?”
“Ngemil di bawah,”
“Nggak ah,”
“Makan nasi nggak mau, ngemil nggak mau. Terus maunya apa dong?”
“Ya nggak mau apa-apa,”
“Apa aku ambilin aja bolu pisang di bawah sama makanan-makanan ringan?”
“Nggak usah, jangan. Aku nggak mau,”
“Serius? Kok nggak mau sih?”
“Nggak nafsu,”
“Tadi kamu kenapa tiba-tiba naik ke atas? Kamu mau buang air kecil atau gimana?”
“Iya aku mau buang air kecil?”
“Kok nggak di kamar mandi bawah aja, Shen?”
“Ya nggak apa-apa, aku pengennya kamar mandi atas,”
“Kenapa malah milih yang susah sih? Padahal yang gampang ada,”
Shena terkekeh melihat Dio mengusap tengkuknya sambil menatap ke arahnya dengan bingung.
“Ya nggak apa-apa, aku sukanya yang susah,”
“Kamu harus buru-buru naik ke atas berarti ‘kan? Terus kalau kamu jatuh gimana? Mending pilih yang dekat aja sih, ‘kan ada kamar mandi di bawah tangga tuh. Jadi kalau udah ngedesek banget pengen buang air kecil atau besar ya tinggal ke sana aja kalau posisi kamu lagi di lantai bawah. Beda cerita kalau kamu nya lagi di atas. Ya pasti lah milih kamar mandi atas,”
“Ya udah lah masalah kamar mandi nggak usah diributin, nggak penting,”
“Penting, kalau di bawah ya pakai kamar mandi bawah jangan atas. Aku takut kamu jatuh karena buru-buru, paham?”
Shena terpaksa mengangguk patuh. Tadi kebetulan saja mualnya datang saat Ia berada di bawah, daripada ketahuan kalau Ia mual, lebih baik Ia ke kamar mandi atas.
Ia juga bingung kenapa Ia mual setelah mencium aroma ayam goreng padahal selama ini Ia tidak pernah ada masalah dengan itu.
Setelah ingat kalau Ia sedang hamil, barulah Shena merasa kalau itu wajar, tidak perlu membuatnya bingung. Ia sudah dipastikan hamil jadi kalau ada gelagat aneh, makanan yang tadinya disuka lalu tiba-tiba tidak suka, suasana hati susah ditebak, pegal pinggang dan lain sebagainya, itu wajar dialami oleh wanita yang sedang mengandung.
“Tapi kamu beneran nggak apa-apa ‘kan?”
“Iya aku baik-baik aja kok,”
“Nggak mual ‘kan?”
“Nggak, kenapa kamu mikirnya aku mual?”
“Cuma tanya aja,”
“Jadi beneran nih kamu nggak mau makan atau nyemil?”
“Nggak,”
“Eh Mama lagi masak ayam goreng lho. Kita berdua ‘kan suka, mau aku ambilin nggak?”
“Nggak-nggak, aku lagi nggak pengen,”
Shena buru-buru menolak dan itu membuat suaminya bingung. Yang Ia tahu Shena menyukai ayam goreng, sama juga dengannya. Tapi sekarang menolak dengan tegas.
“Kamu yakin?”
“Iya yakin,”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Ya nggak apa-apa, aku nggak mau aja,”