
“Kamu dan Shena udah saling terbuka soal perasaan masing-masing atau belum?”
“Udah kok, Pa. Aku udah mengakui semuanya sama Shena begitupun Shena. Kami saling cinta dan udah terbuka juga. Nggak ada yang aku tutupin,” ujar Dio.
“Hmm okay, tapi kayaknya maish dingin aja hibungan kalian? Telponan kayak sama teman tuh barusan Papa dengar,”
Dio terkekeh, papanya seperti baru mengenal Ia dan Shena saja. Interaksi Ia dan Shena sekaramg malah jauh lebih baik daripada sebelumnya tapi menurut sang Papa masih kurang hangat ternyata.
“Pa, aku sama Shena ‘kan emang begitu. Malah ini udah jauh lebih hangat daripada sebelumnya. Kalau yang sebelumnya ‘kan Paoa tau sendiri lah ya kayak gimana. Aku boro-boro sering nelpon Shena kalau lagi jauhan, kirim chat pun benar-benar jarang banget. Kalau ketemu juga aku selalu bawaannya sinis ke Shena. Nah sekarang udah jauh lebih baik malah, Pa, daripada yang sebelumnya,”
__ADS_1
“Iya sih Papa sadar soal itu. Tapi eknapa eksannya maish dingin aja hubungan kalian ya?”
“Nggak kok, Pa. Sejauh ini hubungan aku sama Shena tuh udah jauh lebih baik bangetd aripada sebelumnya,”
“Ya udah Alhamdulillah kalau begitu, Nak. Jaga haik-baik kerukunan hubungan kalian ya. Tetap dipertahankan kehangatannya, jangan membesarkan ego. Apapun masalahnya Insya Allah bsia selesai kok,”
“Nggak, Paoa ngomong kayak tadi sekedar mengingatkan aja. Jadi kalau namti kalian punya masalah, ingat sama kata-kata Papa. Terutama kamu sebagai suami. Jangan besarin ego, jangan keras kepala. Kalau salah ya jangan gengsi minta maaf. Kalau istrimu lagi keras ya kamu usaha untuk bikin luluh. Gimana caranya? Papa rasa kamu lebih jago,”
Dio terlekeh dan menganggukkan kepalanya kemudian lanjut mengunyah makanannya lagi. Pergi berdua dengan Papanya seperti ini, Dio merasa punya banyak waktu untuk bicara dari hati ke hati dengan Papanya. Dan sudah jarang mereka memiliki waktu kebersamaan seperti ini. Menyenangkan sekali mengobrol dengan papanya tentang hal yang tidak penting sampai penting sekalipun.
__ADS_1
“Kalau udah punya anak nanti apalagi ya, Dio. Nggak ada itu yang namanya menangin ego. Jarus jauh lebih dewasa daripada sekarang, bukan hanya usia tapi pola pikir juga,”
“Iya, Pa. Tapi aku belum mau deh punya anak sekarang. Aku takut nggak bisa jadi ayah yang baik deh, Pa,”
“Terus kalau udah dikasih, kamu bakal nolak gitu? Hah? Artinya kamu nggak mensyukuri anugrah yang udah Allah kasih ke kamu sama Shena. Di luar sana banyak lho pejuang garis biru, kalau kalian dikasih itu artinya kalian harus bersyukur karena nggak semua pasangan suami istri bisa mendapatkan keturunan, dan keturunan itu anugrah yang luar biasa, jadi kehadirannya harus diterima dengan senang hati, penuh haru, dan tangan harus terbuka lebar menyambut kehadirannya,”
“Tapi aku belum siap, Pa. Aku takut nggak becus. Aku jadi suami aja belum becus gimana jadi ayah?”
“Hei memangnya semua ayah di dunia ini ketika dapat anak posisinya udah siap jadi ayah? Hmm? Nggak! Nggak semuanya, Dio. Ada yang kaget juga lho karena tiba-tiba dipercayakan untuk jadi ayah tapi mereka bisa tuh jadi ayah yang baik. Karena setelah jadi orangtua nanti, kamu bakal belajar setiap harinya gimana cara supaya kamu bisa jadi ayah yang baik, yang bisa diandalkan, yang bisa jadi contoh, intinya kamu bakal belajar terus untuk jadi figur ayah yang sempurna di mata anak kamu. Nanti lama-lama juga bisa, lama-lama terbiasa,”
__ADS_1