Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 68


__ADS_3

Dio merasa terganggu ketika perempuan di sebelahnya sudah beberapa kali terbatuk disaat tidur. Tak hanya itu saja gangguannya, Shena juga sering bergerak gelisah yang akhirnya membuat Dio merasa tidak nyaman.


Dio akhirnya bangun. Ia berdecak pelan melihat Shena yang batuk lagi. Perempuan keras kepala itu masih belum mau juga minum obat.


“Duh Shena, minum obat sana!”


“Hmm,”


Shena hanya bergumam dengan matanya yang terpejam erat. Dio berdecak, dan tangannya inisiatif bergerak menyentuh kening Shena yang ternyata panas.


“Shen, kamu demam juga tuh. Minum obat sana, jangan susah kalau dikasih tau. Kamu mau makin parah? Mau dirawat lagi? Hah?”


“Diam, Mas. Aku ngantuk banget ini,”


“Kamu udah nyambung diajak ngomong berarti udah bangun itu cuma masih merem aja matanya. Mumpung bangun, mendingan minum obat, Shen,”


Melihat Shena hanya diam, dan napasnya kembali teratur, Dio menghembuskan napas kasar. Secepat itu istrinya tidur lagi padahal sebelumnya baru saja bersuara.


“Kalau bisa gue suntik itu obat, udah gue suntikin dari tadi. Susah banget disuruh minum obat. Nunggu sakit parah dulu kali ya,” batin Dio sambil menatap istrinya penuh rasa kesal. Shena sulit sekali disuruh minum obat. Ia sudah kehabisan cara untuk membujuk perempuan itu.


“Gue harus gimana nyuruh dia minum obat? Keras kepala banget. Gue baru tau Shena bisa keras kepala juga,”


Dio beranjak mengambil obat tablet untuk demam dan flu setelah itu Ia juga mengambil air putih.

__ADS_1


Setelah keduanya ada di tangan, Ia membangunkan Shena lagi. Kali ini dengan cara yang sedikit ekstrem yaitu mencubit pipi Shena yang akhirnya membuat perempuan itu terbangun.


“Bangun terus minum obat! Buruan!”


Dio menatap Shena dengan matanya yang tajam. shsna akhirnya menyerah juga. Tidurnya akan terus diganggu oleh Dio kalau Ia tidak segera mengonsumsi obatnya.


“Buruan bangun!”


“Iya sabar,”


“Kamu susah banget ya disuruh minum obat. Pengen dirawat di rumah sakit lagi ya kamu? Hah?”


“Ya karena aku biasanya kalau belum parah-parah banget tuh langsung sembuh setelah istirahat. Tapi ini kok malah rasanya demam,” ujar Shena seraya menyentuh keningnya.


“Ya udah makanya minum obat, harusnya tuh dari tadi pas ngerasa mau demam. Ini mah nggak, kamu susah banget disuruh minum obat,”


“Makasih ya,”


“Hmm,”


Dio menjawab hanya dengan gumaman. Setelah itu Ia meletakkan obat dan gelas di atas nakas dan kembali berbaring di tempat tidur teoatnya di sebelah sang istri yang sedang kurang sehat itu.


“Duh, kok jadi pengen sate ya,”

__ADS_1


“Lah tadi ‘kan udah makan,”


“Iya tapi aku mendadak pengen sate. Ya udahlah mendingan lanjut tidur aja daripada mikirin sate. Malam-malam gini bukan waktunya makan nanti aku gendut,”


Akhirnya Shena juga memutuskan untuk kembali berbaring tepat di sebelah sang suami yang sudah memejamkan mata lebih dulu.


Dalam hati Dio harap-harap cemas. Kalau Shena sakit seperti ini, Ia jadi ragu mau memaksakan kehendak pulang. Masalahnya demam Shsna cukup tinggi, bila Ia rasakan dengan kulitnya.


“Kamu nggak bawa termometer, Shen?”


“Nggak, aku nggak kepikiran bawa itu. Cuma bawa obat-obatan aja,”


“Kayaknya demam kamu tinggi tuh, panas banget aku pegang kening kamu tadi,”


“Nggak apa-apa, nanti juga sembuh kok. Soalnya ‘kan udah minum obat. Ini mungkin karena kecapekan aja kali jadinya demam deh,”


“Kalau nggak sembuh gimana?”


“Kita tetap pulang, aku ‘kan cuma sakit demam aja,”


“Kamu yakin? Kepala kamu pasti pusing banget. Orang yang cuma hangat aja kepala udah terasa berat, apalagi kalau dibawa jalan, kamu panas banget itu,”


Dio bicara dengan matanya yang terpejam dan Ia tak sadar kalau sedang diperhatikan oleh istrinya.

__ADS_1


“Kamu khawatir ya? Ciee,”


“Ya wajarlah aku khawatir, kamu itu istri aku kalau kamu sakit, udaj pasti aku merasa khawatir,”


__ADS_2