Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 45


__ADS_3

“Ini hari minggu, lo mau ikut gue nggak?”


Selepas menunaikan sholat subuh bersama, Dio punya inisiatif untuk mengajak Shena pergi pagi ini. Tapi Ia harus tahu dulu Shena bersedia atau tidak. Mengingat Shena ini jadwalnya lumayan padat kalau tidak kuliah.


Ya, walaupun belum punya anak, Shena tetap sibuk menjadi ibu rumah tangga tak peduli ada asisten di rumah atau tidak. Ia akan turun tangan untuk masak, membersihkan rumah, menyiram bunga di taman, dan lain-lain. Dio diam-diam mengamati itu.


“Mau pergi kemana kira-kira?”


“Ya…paling lari pagi aja. Gimana? Lo mau atau nggak?”


“Mau deh, aku mau ikut,”


“Ya udah ayo siap-siap, jangan pakai baju tidur,”


Shena mengamati penampilannya sekarang yang masih dibalut dengan busana untuk tidur yaitu tidur baju dan celana panjang.


“Menurut aku ini sopan, harus ganti ya?”


“Emang lo mau keluar pakai baju tidur? Nggak malu apa?”


“Ini nggak keliatan baju tidur sebenarnya. Tapi okay lah aku ganti sekarang,”


“Gue aja mau ganti,”

__ADS_1


Dio langsung bergegas membuka lemari dan mencari celana joger atau training. Apa saja yang penting cepat ditemukan oleh mata, dan mudah diraih oleh tangan.


Ketika Ia sudah melihat celana joger watna abu kesayangannya, tanpa pikir panjang Ia segera menarik celana itu yang posisinya ada di tengah-tengah.


“Cara ngambilnya jangan langsung ditarik ya-“


“Sambil ditahan pakai tangan satunya lagi,” sebelum Shena menyudahi ucapannya, Dio sudah menyelak. Dio tahu apa yang akan dikatakan oleh istrinya itu karena Ia sudah hafal sebab berulang kali Shena mengingatkannya. Jadi Ia hafal apa yang dikatakan oleh Shena.


“Wah kamu ingat ya?”


“Ingat lah orang lo sering ngomong gitu ke gue,”


“Woh hebat bisa ingat. Makasih ya,”


“Kok makasih?”


“Sok tau,”


“Lah buktinya lemari masih suka acak-acakan. Itu karena apa? Karena kamu ngambilnya nggak hati-hati ‘kan? Nggak sabaran,”


“Lo kayak ibu-ibu yang lagi nasehatin enaknya deh,” Dio protes ketika istrinya bicara seperti itu. Dan sontak itu mengundang tawa Shena.


“Ya udah deh aku minta maaf,”

__ADS_1


Shena segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok giginya, mencuci mukanya dengan sabun. Tadi sebelum Ia sholat, belum sempat melakukan itu sebab takut terlambat sholat. Dan Dio juga sudah menunggu.


Sekarang mereka sudah terbilang cukup sering melakukan sholat bersama selagi sama-sama ada di rumah. Shena senang karena ada perkembangan ke arah yang positif di dalam hubungannya bersama Dio. Yang biasanya sangat-sangat jarang mau sholat dengannya, belakang Dio jadi mau.


“Dah bersih deh,”


Shena langsung mengganti pakaiannya dengan gerak cepat karena Dio sudah memanggil dari luar kamar mandi.


“Gue mau masuk kamar mandi, Shen,”


“Iya-iya tunggu sebentar ya,”


Shena langsung keluar dari kamar mandi setelah pakaiannya terganti, kemudian masuklah suaminya yang sudah tidak kuat menahan desakan untuk buang air kecil.


Shena menggunakan parfum, merapikan rambutnya, barulah Ia siap untuk pergi bersama suaminya.


“Dio, ini aku belum mandi lho, nggak apa-apa ‘kan? Tapi aku udah cuci muka, gosok gigi, dan pakai parf—hmmpp,”


Mulut Shena langsung dibungkam oleh Dio menggunakan bibirnya. Setelah dua menit mereka tenggelam dalam suasana hening tapi intim, akhirnya Shena melepaskan tautan bibir mereka.


“Kamu kenapa sih tiba-tiba cium aku?”


“Ya emang harus bilang dulu?“

__ADS_1


“Aku udah bilang kalau aku belum mandi!”


“Ya terus kenapa? Masalahnya dimana? Lo wangi kok, cantik juga,”


__ADS_2