Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 135


__ADS_3

“Mas, tumben nggak mau mandi? Emang kenapa?”


“Nggak apa-apa, males aja, eh tapi mau mandi deh, kayaknya nggak bakal betah,”


“Aku kira Mas lagi kurang sehat makanya nggak mau mandi,”


“Aku sehat, Bee, tapi nggak tau kenapa malas aja gitu,”


“Tumben, malas kenapa?”


“Nggak tau,”


“Lemes, Mas? Kecapekan kali ya,”


“Kayaknya sih begitu,”


“Ya udah nggak usah dipaksa kalau emang malas, tapi ganti baju aja biar enakan,”


Shena langsung bergegas mengambilkan baju ganti untuk Dio yang tidak biasanya malas mandi selepas bekerja. Biasanya dia rajin sekali karena tidak nyaman tidur dengan badan yang tidak bersih.


Suara ketukan pintu membuat Dio terkesiap. Suara bundanya memanggil dari luar kamar dan itu langsung membuat Dio beranjak meninggalkan sofa untuk membuka pintu kamar.


“Kenapa, Ma?”


“Itu ada undangan dari Jerry, siapa Jerry?”


“Jerry temannya Shena itu? Undangan apa, Ma?”


“Undangan sunat!”


Dio terbahak karena sang bunda menyakitinya dengan ketus. Seharusnya Dio sudah bisa menebak bahwa undangan yang diberikan kepadanya adalah undangan pernikahan. Undangan sunat sangat kecil sekali kemungkinannya.


“Undangan nikah lah, Di,”


“Oh dia mau nikah ternyata. Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu,”

__ADS_1


Ardina menatap anaknya dengan aneh. Dio kelihatan senang sekali yang namanya Jerry menikah.


“Kamu kenapa girang bener? Emang kenapa?”


“Dia ‘kan pernah deket sama Shena, Ma, waktu masih kuliah sih, kalau sekarang mah temenan aja,”


“Ya ampun, segitunya kamu ya. Senang banget temannya Shena nikah?”


“Senang lah, Ma, aku kurang saingan. Tinggal si Arun lagi nih yang belum kawin-kawin juga,”


“Nikah! Baru kawin,”


“Iya maksudnya nikah, tau deh kapan dia nikah tuh. Padahal aku nggak sabar juga dia nikah, biar nggak ada lagi tuh yang deket sama Shena,”


“Jadi temenan sama Shena pun nggak boleh?”


“Ya boleh, Ma, tapi mereka itu kan pernah deket sama Shena, jadi otomatis beda lah sama temen yang lain,”


“Oh iya paham-paham,”


“Astaghfirullah Mama lupa. Masih di bawah undangannya, nggak kebawa sama Mama,”


“Ya udah nggak apa-apa, nanti aku ambil, Ma. Terimakasih untuk infonya ya, Ma,”


“Okay, Mama turun dulu,”


Dio langsung masuk lagi ke dalam kamar dan mengunci pintunya sementara Shena baru saja selesai mengambil baju di walk in closet.


“Aku mandi duluan ya, Mas,”


“Okay silahkan,”


“Makasih ya,”


Shena akan masuk ke dalam kamar mandi namun suaminya memanggil hingga Ia menahan langkah kakinya.

__ADS_1


“Jerry mau nikah tuh,”


“Jerry siapa? Temennya si Tom?”


“Tom siapa lagi? Kamu punya temen deket namanya Tom?”


“Maksud aku Tom and Jerry, Mas. Kok jadi bahasa yang lain sih,”


“Oh lagi ngajak bercanda rupanya. Aku lagi serius nih, bee. Jerry nikah. Aku seneng banget deh, akhirnya sebentar lagi dia punya pasangan juga,”


“Mas tau darimana?”


“Tadi nggak denger Mama ngomong apa?”


Shena menggelengkan kepalanya polos. Ia tidak sempat mendengar ibu mertuanya mengetuk pintu setelah itu tidak mendengar apa-apa lagi. Ternyata Ardina datang ke kamar ingin memberikan kabar bahagia itu.


“Dia antar undangan, Bee. Dia nikah sama siapa tuh? Yang pernah dia ceritain ke kamu lagi pedekate?”


“Nggak tau, Mas. Dia ‘kan belum cerita apa-apa,”


“Kita hadir atau nggak kira-kira?”


“Kata aku, hadir aja, Mas. Dia baik soalnya,”


Dio menganggukkan kepalanya setuju. Justru kali ini Ia senang sekali ingin datang ke acara pernikahan Jerry yang akhirnya mau melepas masa lajang.


“Kamu senyum aja, Mas. Kenapa sih? Kayak yang antusias gitu pas cerita kalau Jerry mau nikah,”


“Iya biar saingan aku berkurang,”


“Ya Allah, emang selama ini kamu merasa punya saingan?”


“Iya kalau sama yang aku anggap terlalu mepet sama kamu pasti aku agak-agak cemburu. Ya wajarlah, namanya juga cinta, iya nggak?”


“Kalau dia udah nikah gitu, kamu tetap cemburu?”

__ADS_1


“Ya nggak sih kayaknya, asal menurut aku nggak berlebihan aku pasti nggak akan cemburu,”


__ADS_2